The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 82 - Si Pengecut



Hua Riyun menatap punggung pria bertopeng dihadapannya curiga, mendapat bantuan bukannnya malah membuatnya senang tapi menambah perasaan waswas. Soalnya jarang sekali ada bantuan tanpa pamrih dalam dunia Cultivator, tindakan Lian terlalu konyol baginya.


“Benar, tidakkah melihat seragamku sudah cukup untukmu?” jawab Riyun akhirnya ketus.


“Aku hanya ingin memastikan....”


Dia melangkah mendekati tubuh tak bernyawa Demonic Beast demi memungut beberapa Core mereka, Hua Riyun memanfaatkan kesempatan tersebut mengkonsumsi pil tuk memulihkan kondisinya. Ia mengutuk kesialannya hari ini.


Bagaimana bisa gadis terhormat sepertinya muncul di tengah – tengah sarang monster dimensi lain?, semua pasti karena dia pergi bersama Xu Bai. Keberuntungannya diserap oleh bocah sialan itu, Lian kembali kemudian menyerahkan sebagian hasil jarahan tadi.


“Ambil semuanya, lagi pula kau yang menghabisi mereka. Heaven Flower Garden tidak kekurangan Demonic Core tingkat Forging Qi” tolaknya membuang muka.


“Eee....hehehe....tapi aku berhasil melakukannya karena bantuan Nona, jika perhatian mereka tak tertuju padamu akan sulit mengatasinya. Ini, aku repot harus membawanya sendiri....” Lian meletakannya dekat kaki Hua Riyun.


Riyun semakin merasa ada yang aneh dengan kepala pemuda tersebut namun akhirnya memasukan Demonic Core pemberiannya ke dalam Spatial Ring, perlahan ia mulai bangkit hati – hati. Jarak antara keduanya berdiri sekitar lima kaki.


“Siapa kau sebenarnya? Kenapa menanyakan Heaven Flower Garden?” tanya Riyun menyipitkan mata, dia tau meskipun sektenya aliran putih banyak Cultivator diluar sana memiliki kebencian terpendam terhadap mereka.


“Aku mempunyai seorang kenalan disana....”


“Siapa?”


“Hua Zhong namanya.....” Bing Lian tersenyum tipis.


“Kakak....?”


Sepersekian detik kewaspadaan Hua Riyun runtuh, ia tidak menduga bakal mendengar kakak laki – lakinya disebut dalam pembicaraan ini. Sementara itu dilain sisi Lian menganggukan kepala, dia memang sempat menduganya sih sebenarnya.


“Berarti Saudari pasti Hua Riyun? Adik Saudara Hua?”


“Benar, dan kau....?”


“Perkenalkan namaku Bing Li—“


“Bing Lian?! Kau si Bing Lian yang selalu diocehkah kakak?! Saking seringnya ia menyebutmu aku sampai mengira dirinya jatuh hati kepadamu....” Riyun memotong cepat sambil memasang ekspresi cemberut.


“A....hahaha....mungkin dia memang sedikit berlebihan, mari kita bicara di tempat lebih aman” kata Lian menganjurkan.


“Jangan sentuh! Aku bisa jalan sendiri....”


Hua Riyun menepikan tangan Bing Lian tapi akhirnya ikut juga, walau sosok si pemuda berambut putih masih misterius. Ia yakin kalau Lian tidak berbahaya mengingat hubugannya dengan Hua Zhong, Lian memimpin jalan menuju sebuah gua yang sempat dilihatnya sewaktu bergerak ke lokasi Hua Riyun tadi.



Lian mematahkan beberapa dahan pohon lalu menyerap esnya hingga kering, Bing Lian mengumpulkannya menjadi satu terus menyalakannya menggunakan Qi. Udara hangat mengakibatkan Riyun memejamkan mata nyaman, jujur ia muak terkena terpaan angin dingin diluar.


Bing Lian mengeluarkan sebuah selimut dari ruang hampa ketika menghentakan tangan kemudian menyerahkannya kepada gadis tersebut, Hua Riyun mengangkat sebelah alisnya bingung. Saat mau bertanya Lian langsung menjelaskan.


“Saudari Hua mempunyai Spirit Root satu elemen, iklim ini tidak sesuai untukmu jadi sebaiknya tetap jaga suhu tubuh Saudari....”


“Bagaimana kau mengetahuinya? Informasi Noble Treasure Shed cuma rumor belaka, kau juga tidak pernah memeriksa telapak tanganku?” Riyun membantah.


“Penolakanmu malah seperti mengkonfirmasi kalau perkataanku barusa benar adanya hehehe....” balas Lian terkekeh geli.


“Brengsek!”


“Hihihi anggap saja berkat kecerdikanku serta tebakan beruntung.....”


Beberapa waktu berselang tidak banyak pembicaraan diantara Bing Lian dan Hua Riyun, Lian hanya memberikan kesempatan bagi Riyun memulihkan kondisinya. Gua ini lebih aman karena masing – masing mampu mengambil tindakan cepat jika Demonic Beast menyerang melalui pintu masuk.


Hua Riyun memperhatikan Lian baik – baik, ia berusaha memanggil lagi ingatanya tentang ucapan sang kakak mengenai Bing Lian. Lian menolehkan kepala akibat pandangan menusuk Riyun menyebabkan tengkuknya bergidik pelan.


“Eee....ada perlu sesuatu? Saudari Hua?”


“Tidak....maaf, aku tau tindakanku kurang sopan sebelumnya”


“Santai saja, aku mungkin melakukan hal sama jika berada diposisimu. Bagaimana kabar kakakmu? Dia ikut datang kemari?”


“K...ka...kau...!? Kau malahan menanyakan soal kakakku saat tengah berduaan denganku!? Hua Riyun Sang Heaven Flower Princess! Kalian benar – benar saling menyukai satu sama lain atau apa hah!?” Hua Riyun bediri sambil menunjuk wajah Lian, dia mengembungkan pipi pertanda kesal.


“Eh?” gumam Lian bingung harus menjawap apa karena tidak merasa sedikitpun tindakannya salah.


“Kau pikir berapa laki – laki diluar sana bermpimpi menjadi dirimu sekarang!? Huh!?” Riyun membuang muka selesai berkata demikian. Ia sulit percaya kecantikannya tak memiliki dampak apapun terhadap Bing Lian, ini pertama kalinya Riyun merasakan penghinaan sebesar itu.


“M..ma...maaf?”


“Ah....waktu berjalan cepat sekali y—ada sesuatu mendekat!”


Keduanya mengambil sikap siaga seteleh merasakan tanah bergetar, dikejauhan mata tajam Bing Lian menemukan seorang pemuda bersenjatakan tongkat besi dikejar – kejar sekelompok Demonic Beast yang sama dengan penyerang Hua Riyun.


Melihat mereka menuju ke arah gua, Lian bergerak keluar pintu masuk sembari mengeluarkan Tallisman berwarna merah. Lima kertas sihir tersebut melayang membentuk formasi layaknya bintang dihadapan Bing Lian.


“WAAA....TOLONG!” teriaknya memelas.


“Menunduk!” Lian memberi perintah.


“Eh?”


“Red Tallisman Art; Crimson Star!”



Sebuah garis cahaya muncul menyatukan tiap Tallisman sebelum mengeluarkan semburan api raksasa, para Demonic Beast gagal menyadari kedatangan bahaya hingga harus rela terpanggang hangus sampai ketulang.


Bukan hanya itu saja dampak yang terjadi, pohon – pohon hutan sekitar sana ikut menyala. Mengakibatkan asap hitam membumbung tinggi ke udara. Si laki – laki berhasil memasuki gua dengan selamat, dia berbaring sambil terengah – engah.


“Hah....hah....hah....terima kasih Saudaraku....makhluk – makhluk keparat tadi benar – benar tak ada habisnya.....”


“Sama – sama....”


“Tapi.....hah....lain kali tolong....jangan memakai teknik mengerikan seperti barusan....”


Lian mengangkat kedua bahunya sembari tersenyum canggung, pemuda tersebut berdiri kemudian membersihkan jubahnya dari salju. Dia menjabat tangan Bing Lian penuh rasa syukur, sewaktu mengedarkan pandangan kesekeliling gua tiba – tiba dirinya mematung.


“Heave Flower Princess!?”


“Hah....harusnya barusan aku bilang mending kau membiarkan saja dia mati, ternyata Si Pengecut Tie Mu....”


------><------


“Riyun? Kenapa kau disini!?”


“Jangan memanggilku seolah kita dekat dasar kurang ajar!”


CTAK!


“Aww!”


Hua Riyun mengambil sebuah kerikil pada lantai gua lalu melemparkannya secepat kilat mengenai dahi pemuda bernama Tie Mu. Sehingga kurang dari satu detik, jidatnya telah memerah layaknya langit senja.


“Hei!? Kakekku merupakan Saudara dari Guru Ibumu ya!?”


“Apa perduliku!?”


“Sudah – sudah....kalian berdua tolong tenang....”


Bing Lian berusaha melerai perdebatan konyol keduanya, ia berkata kalau asap hitam barusan pasti nampak hingga ratusan kilometer. Sebaiknya mereka meninggalkan tempat ini karena dapat mengundang bahaya, Hua Riyun maupun Tie Mu setuju tapi bertanya kemana harus pergi.


Lian menunjuk kebelakang punggung masing – masing, dimana kegelapan gua telah menanti ketiganya. Tie Mu segera menolak ide Lian sementara Hua Riyun penasaran kenapa Bing Lian bisa berkata begitu.


“Aku punya firasat kalau ada pintu masuk lain diujungnya....”


“Firasat!? Saudaraku!? Bagaimana jika nun jauh disana adalah sarang Demonic Beast Core Formation!?”


“Mana mungkin Demonic Beast yang mengejarmu berani kemari kalau memang benar demikian otak udang!” bentak Hua Riyun kesal.


“Kau sebut aku ap—“


“Cukup! Kalau kalian tidak mau biar aku saja, permisi....” Lian bergegas meninggalkan keduanya.


“Aku ikut....”


“Hei tunggu dulu kalian berdua!? Jangan tinggalkan aku sendiri!!!”


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.