
“Senior Bing....?”
“Hmm? Ada apa Saudari Hua?”
Pemuda tampan berambut putih menghentikan meditasinya begitu namanya dipanggil. Mata birunya balik menatap hangat gadis disebrang api unggun yang tengah memeluk kedua lututnya, Hua Zhenya menarik napas dalam – dalam sebelum menggelengkan kepala.
Bing Lian menaikan sebelah alis sebentar sebelum berdiri, Divine Sense miliknya mengamati situasi lima kilometer sekitar mereka. Setelah yakin semua aman, ia duduk dekat adik seperguruannya dan bertanya mengenai isi benak perempuan tersebut.
“Bagaimana cara Senior tetap tenang dalam kondisi sekarang?” bisiknya.
“Apa seharusnya kita mengkhawatirkan sesuatu?”
“Maksudku.....”
Tepat saat itu, Bing Lian bersama Hua Zhenya berada di wilayah musuh. Bangsa Demon, hanya berdua tanpa rekan satupun. Keduanya diberi tugas mengawasi pergerakan lawan lalu mengirim pesan supaya pasukan Cultivator Benua Huawai dapat melakukan antisipasi.
Misi berat sebenarnya, terutama untuk dua remaja berumur 20 tahun. Lian dipercayakan mengemban hal ini karena mempunyai kekuatan besar serta diakui kehebatannya oleh Hao Ren, sementara Zhenya diutus menemaninya agar dapat memberikan bantuan medis. Mengingat kalau kemampuan utamanya adalah pemulihan berkat Spirit Root satu elemennya.
Namun berbeda dengan Lian yang sudah sejak lama terbiasa dalam situasi hidup dan mati, tubuh Hua Zhenya tak bisa berhenti gemetar. Selama di sekte, dia selalu dilindungi serta merasa aman. Seluruh koleganya pasti memprioritaskan keselamatannya terlebih dahulu karena keahliannya dalam bidang penyembuhan.
Cuma memikirkan dirinya disergap lusinan Demon cukup mengakibatkan mimpi buruk hingga dia terjaga selama beberapa minggu. Tanpa diduga Bing Lian malah terkikik geli, menambah kacau suasana hati Zhenya.
“Saudari Hua? Apa kau takut mati?” tanya Lian tersenyum tipis.
DEG! DEG! DEG!
“Tentu saja, Senior tidak?”
“Huum, sejujurnya aku kurang paham mengapa kita harus mencemaskan kepastian macam begitu”
“Eh?”
“Semua orang pasti meninggal Saudari Hua.....bagaimanapun caramu menghindarinya. Hanya waktu dan cara saja berbeda.....semua yang bernyawa pasti mati. Entah manusia ataupun kita, Cultivator”
“Tapi....”
“Kehendak langit adalah suatu hal mutlak dan tidak bisa dilawan, itulah mengapa kita harus menjalani hidup sambil tersenyum”
“Tersenyum?” Zhenya mengulangi pelan.
“Benar, ayo coba lakukanlah. Ini akan membuatmu merasa lebih baiik”
Bing Lian kemudian menggapai kedua pipi Hua Zhenya sembari nyengir lebar, meski awalnya terpaksa. Lama kelamaan sebuah senyuman tulus menghiasi wajah gadis tersebut, Lian menjelaskan kalau dirinya malahan waswas karena ketidakpastian. Bukan kematian.
Seperti misal melihat sebuah takdir yang dipercayai berubah akibat hal tertentu, tetapi justru itulah alasan mengapa ia menarik. Lian mempersilahkan Hua Zhenya tertidur pada pundaknya jika masih cemas, si pemuda berjanji akan menjaganya dan tidak melakukan perbuatan aneh.
“Maaf Tuan dan Nyonya sekalian, saudariku sedang lelah serta tak ingin diganggu” kata Lian begitu Zhenya terlelap.
Ternyata ratusan Demon mulai mengepung lokasi keduanya beristirahat. Bing Lian melirik pasukan ini sebelum menggelengkan kepala, detik berikutnya badan mereka meletup layaknya balon. Semua mati mengenanaskan tanpa sisa hanya berbekal Divine Sense.
------><------
“Guru? Anda tidak apa – apa? Ada yang sakit?”
Kalimat barusan menyadarkan Sang Flower Empress, Hua Zhong, Hua Riyun, bersama ibu mereka menatapnya cemas. Hua Zhenya menggerakan tangan tuk menahan ketiganya, tiba – tiba cairan bening jatuh ke kulit tangannya.
Barulah dia mengerti kalau air matanya tengah menetes tanpa henti, cerita Hua Zhong membawa kembali ingatan masa lalu yang sudah lama dirinya lupakan. Begitu selesai membersihkan wajahnya, Hua Zhenya segera pamit pergi. Meninggalkan ketiga orang berharga baginya saling bertukar pandang kebingungan.
Sejak saat itu Hua Zhong dilarang membahas soal Lian oleh ibunya. Anak laki – laki tersebut akhirnya menurut. Zhenya kembali menuju kediamannya lalu mengurung diri selama beberapa waktu, merenungkan banyak hal.
Dua minggu kemudian dia memegang Jade Slip berisi pesan kepada Moon Empress, Yue Liyi. Pusing, Hua Zhenya bangkit berdiri dan berjalan mondar – mandir dalam ruangannya. Otaknya terus bekerja.
“Apa aku harus menyampaikan kepada yang lain.....kemungkinannya terlalu kecil....sudah lima ratus tahun terlewat....aku tak mau kecewa....bocah berumur sebelas tahun....rambut putih....sihir es.....White Crow Sect....”
------><------
Demonic Beast berwujud anjing hutan penuh duri menghiasi tubuhnya berlari frustrasi mencari jalur kabur. Sayang ia memilih jalan buntu, ketika membalikan tubuh geramannya perlahan mengisi udara. Sepasang pemburu siap dengan senjata masing – masing.
Tidak ada pilihan selain melawan, ketika salah satu maju. Rekannya menghujani pisau - pisau kepada Thorny Hyena tadi, makhluk tersebut berhasil namun terlambat menyadari kalau kakinya telah dibelit tanaman – tanaman merambat berjumlah banyak.
“Wood Magic – Thicket Prison!”
GRRR!!! KAING! KAING!
“Bagus! Sekarang giliranku! Thunder Magic – Stun Zone!”
Pemuda itu berhasil menombak tepat menembus mulut si Demonic Beast kemudian mengeluarkan Core miliknya. Gadis cantik yang bersamanya berkacak pinggang dan mengajaknya segera pulang padahal ia baru saja duduk.
Saat kembaki ke sekte, banyak Cultivator – Cultivator lebih muda memberi salam ketika berpapasan dengan keduanya. Suara bisik – bisik mulai terdengar.
“Bukankah itu Senior Tan dan Senior Lu?”
“Iya, mereka keren sekali....”
“Kak Minjie!? Tolong lihat kemari!!!”
“Nona Lu kaulah mentari yang menyinari hari – hariku...!!!”
“Ugh....apa – apaan teriakan barusan? Bisa kau jelaskan mengapa kau membusungkan dadamu?” Lu Xiulan melirik temanya sambil memasang wajah jijik.
“Oh....ayolah Xiulan, aku harus menikmati momen – momen langka seperti ini” sahut Tan Minjie sebelum melaimbaikan tangan ke arah junior – juniornya.
Lu Xiulan bersama Tan Minjie tiba disebuah gerbang berukuran sedang layaknya pintu masuk kota kecil. Pasti tidak ada satupun orang mengenali tempat itu empat tahun yang lalu, para penjaga segera menyapa begitu melihat keduanya.
“Selamat datang kembali di Snow Feather Dormitory Senior Tan, Senior Lu”
“Halo semua kami pulang....”
Begitu selesai membersihkan diri kemudian memilih pakaian terbaik dari koleksinya, dia berangkat menuju salah satu kediaman termewah. Xiulan berdiri disana kurang lebih selama lima menit baru seorang penghuni lain memberitahunya kalau si pemilik tengah tidak ada.
“Hmm? Memangnya ia kemana?”
“Entah Senior Lu, mungkin bekerja seperti biasa”
“Ohh....baiklah, aku akan menyusul kesana saja. Terima kasih”
Lu Xiulan berangkat meninggalkan asrama sendirian, puluhan pasang mata terpaku ke arahnya. Kecantikannya benar – benar memukau. Terlebih dia memiliki banyak sekali pengagum rahasia, mempunyai praktik Forging Qi tingkat 8 pada umur 15 tahun adalah prestasi besar.
Ketika sampai ditujuan Xiulan menghela napas, perpustakaan selalu ramai beberapa tahun terakhir. Murid – murid saling berdesakan tuk menukar poin kontribusi dengan manual praktik, atau begitulah menurut mereka. Kebanyakan diantaranya merupakan anggota perempuan White Crow Sect.
“Ehem!”
Semua menoleh jengkel mendengar suara batuk tadi, namun seketika itu juga langsung membukakan barisan saat tau sumbernya berasal dari Lu Xiulan. Ketika masuk dia melihat seorang pemuda berambut putih sedang mengangkut tumpukan gulungan juga Jade Slip.
“Butuh bantuan?”
“Tenang saja, maaf aku lupa. Junior barusan kau hendak mencari—Xiuxiu?”
“Hehehe....yo? Apa jam istirahatmu masih lama? Lian?”
-Five Hundred Years Lapse Arc Status : Finished -
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.