
Kurang dari lima tahun Bing Lian tumbuh menjadi pemuda tampan yang membius hampir semua perempuan di White Crow Sect. Tidak ada satupun pria tahan berlama – lama jalan dekat dirinya bahkan sahabatnya sendiri Tan Minjie cuma berani sekitar tiga puluh menit sampai satu jam kemudian pergi.
Namanya makin terkenal dengan pencapaian – pencapaiannya dalam menyelesaikan misi sulit serta jalan praktik mulus. Meski hanya seorang Inner Disciple, Lian cukup terpandang dihadapan para Core Disciple dan mantan Legacy Disciple generasi sebelumnya.
Banyak percaya beberapa waktu kedepan posisi Holy Son akan jatuh antara kepadanya atau Yin Kiew. Mengingat kalau kemampuan mereka sekarang tak terlalu berbeda jauh, fakta – fakta tadi juga menyebabkan timbulnya berbagai isu aneh.
Termasuk sebutan membingungkan dari anak – anak White Crow Sect, yaitu LianXiu Couple dan LianKiew Couple. Ketika pertama kali mendengarnya Lian cuek saja karena merasa tidak memiliki keterkaitan apapun soal ini.
Saat intensitasnya semakin meningkat, ia akhirnya memutuskan melakukan interogoasi terhadap Tan Minjie. Kepala Bing Lian pusing hebat selesai mendengar penjelasan singkat itu, ternyata para anggota sekte mulai mencarikan pasangan ideal buat dirinya.
Kehidupan pribadi Bing Lian mempunyai daya tarik tersendiri bagi beberapa orang, sehingga mereka perlahan memilah – milah murid gadis yang pantas bersanding dengan Lian. Munculah dua nama mencuat sebagai kandidat terkuat.
Siapa lagi kalau bukan Lu Xiulan dan Yin Kiew. Hubungan keduanya terbilang cukup dekat bersama Lian, masing – masing juga berparas luar biasa. Sulit mencari saingan untuk dua anak perempuan tersebut dalam generasi mereka.
Yin Kiew sebagai putri Patriach White Crow Sect tidak diragukan lagi kemampuan serta bakatnya, sementara Lu Xiulan meski kecantikannya tergolong dibawah Yin Kiew. Namun potensinya teramat besar, tetua – tetua setuju meliriknya lalu berencana menyerahkan masa depan ilmu Alchemist sekte kepada dirinya.
Akibat perbedaan pendapat kian sengit, terbentuklah dua kubu berbeda yang Lian pun tidak tau apa untungnya orang – orang itu mempermasalahkan ini. Padahal ketiganya juga selalu memberitahu kalau tak ada hubungan spesial diantara mereka.
“Jangan bilang padaku kalau kau juga ikut dalam pertaruhan apa lagi menjadi bandarnya?” Lian mendelik ke arah Tan Minjie.
“Ohh...ayolah Saudaraku, kau seperti baru mengenalku kemarin saja” balas Tan Minjie bersiul pelan sebelum melangkah pergi sambil menyembunyikan lencana LianKiew Couple miliknya.
------><------
Pria bertampang sekitar usia tiga puluhan berjalan cepat menuruni tangga ruangan rahasia sektenya dengan penerangan obor, pencahayaan remang – remang menambah suasana mencekam lokasi tersebut. Dia adalah Yin Wuya, Patriach White Crow Sect sekaligus ayah kandung Yin Kiew.
Ia baru saja selesai melaksanakan rapat bersama Grand Elder dan para Crow Feather Elder lainnya tuk membahas masalah pemilihan Legacy Discpile generasi baru, atau yang biasa disebut Holy Son maupun Holy Daughther.
Mengingat putrinya merupakan salah satu kandidat, membuat Wuya mendapat dukungan banyak pihak agar tidak perlu melaksanakan seleksi karena membutuhkan biaya tidak sedikit. Namun mesikpun begitu Sang Patriach tau mustahil melakukannya.
Sebab utamanya terletak pada sebenarnya dia menyadari kalau ada murid lain pemilik bakat diatas Yin Kiew, terlebih bocah ini mendapat perhatian khusus Cloud Ghost Crow. Spirit Beast penjaga sekte mereka, juga Old Matriach. Ibu Yin Wuya sendiri.
Sehingga sembilan puluh persen suara hasil pertemuan bisa tidak berpengaruh sama sekali, Wuya sampai didepan sebuah pintu geser. Suara ringkih terdengar tepat sebelum ia mengetuk demi mengabarkan kedatangannya.
“Masuklah”
“Ibu....” Yin Wuya menurut kemudian segera bertekuk lutut, membentang sebuah tirai tipis menghalangi pandangannya. Dibalik sana Old Matriach beristirahat sambil mengawasi perkembangan White Crow Sect.
“Apa tujuanmu kemari? Jangan katakan kau ingin meminta pendapatku soal percakapan sia – sia kalian saat pertemuan barusan”
“Tentu tidak, aku tau Ibu menyaksikan semuanya menggunakan Divine Sense....”
“Bagus....jadi ada perlu apa?” nada bicara Old Matriach melunak.
Yin Wuya lalu memberitahukan kalau undangan ke beberapa sekte terdekat serta yang bekerja sama dengan mereka sudah mulai dikirimkan. Jadi menurut prediksinya, White Crow Sect akan ramai pengungjung dalam beberapa waktu kedepan.
“Haruskah kita memperketat keamanan?”
“Tenanglah. Selama aku, kau, Yin Jiang, serta Baiya masih ada. Mereka tidak mungkin bertindak gegabah”
“Baiklan, langsung aku kabari ke tetua – tetua lainnya”
“Hmm?” Patriach menolehkan kepala sewaktu mau undur diri dari sana.
“Kau melakukan tugas baik, kulihat kau juga masih rajin berlatih. Teruskan”
“Terima kasih bu”
“Bagaimana kabar cucuku?” tanya Old Matriach lembut.
“Dia sedang bersiap – siap melaksanakan ujian, tetapi nampak ada yang mengganjal dikepalanya akhir – akhir ini sehingga Kiew’er kurang tenang”
“Begitu rupanya, baiklah aku mengerti. Sampaikan salamku untuknya”
Wuya memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan rahasia, Old Matriach menghela napas panjang. Ingin sekali pergi berjalan – jalan keluar sekte tapi penjagaan adalah kepentingan utama baginya. Bisikan telepati pelan menyadarkan si wanita tua.
‘Kau sudah memutuskan memilih siapa?’
‘Belum, kita lihat saja bagaimana hasilnya’
‘Pasti sulit memilih antara cucu dan pahlawanmu bukan?’
‘Jangan bodoh Baiya, kalau dia meminta White Crow Sect sekalipun. Akan kubuerikan tanpa berpikir dua kali’
------><------
“Ngomong – ngomong apa kau bertemu Senior Yin beberapa waktu terakhir?”
Celetukan Lian membuat langkah Xiulan terhenti, gadis itu melepaskan gandengannya dan berdiri diam. Menciptakan jarak yang memisahkan dirinya dengan sang pemuda berambut putih, karena semakin tertinggal. Bing Lian pun ikut stop.
Muka Lu Xiulan berubah merah padam, jelas sekali tatapan murka plus tidak senang menghiasi wajahnya. Disanalah Lian tersadar sepertinya telah salah berucap, belum sempat dia mencoba memperbaiki keadaan. Xiulan meneriakinya keras. “Dasar Lian bodoh!!!”.
WUSH!
Kemudian dalam sekejap menghilang memakai Blown Flower Petals, berbekal ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi tersebut. Sosoknya telah tidak nampak lagi hanya hitungan tarikan napas, Lian menggaruk – garuk kepalanya bingung harus berbuat apa. Para murid yang menonton mulai berbisik – bisik penuh semangat.
“Ada apa? Kenapa Xiulan seperti ingin menyembelihmu?” Tan Minjie mendekat penasaran sebab ikut menyaksikan kejadian tadi.
Bing Lian menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu, ketika selesai Minjie menatapnya tak percaya. “Kau membicarakan Senior Yin Kiew saat jalan bersama Lu Xiulan?!“.
“Aku cuma bertanya apakah mereka pernah bertemu akhir – akhir ini”
“Tetap saja, saudaraku. Wanita mana yang suka kau membicarakan gadis lain sewaktu sedang berduaan dengannya?! Biar Tuan Tan si berpengalaman menjelaskan kepadamu....”
Lian memutar – mutar kedua bola matanya ketika Tan Minjie mulai berceloteh soal caranya menjalani hubungan dan bersikap kepada mantan – mantan kekasihnya. Percayalah, Bing Lian tau pasti kalau semuanya adalah omong kosong belaka.
Dia tidak lebih tau mengenai cara bertingkah depan anak perempuan dari pada Lian, karena beberapa kali Lian sempat melihatnya mengalami penolakan namun selalu dia coba lupakan agar tak melukai harga diri bocah besar kepala tersebut.
Segerombolan murid dikejauhan menarik perhatian Bing Lian, pemuda yang berada di tengah sangat ia kenal. Lian menyelinap meninggalkan Tan Minjie untuk menyapa mereka, kemunculan mendadaknya membuat kelompok tadi memekik kaget.
“Halo Tuan Muda Ketiga, nampaknya terburu – buru? Hendak kemana?” Lian tersenyum hangat.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.