The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 20 - First Blood



“Blue Talisman Art ; Water Cannon”



Sosok Lian berdiri santai mulai nampak diantara kepulan asap yang terbentuk akibat pertemuan api dan air. Para penonton semakin tidak bisa tenang, satupun dari mereka tak pernah berpikiran kalau Lian akan memiliki atau bahkan mengaktifkan talisman demi melawan Daoist Magic Chun Lang.


Water Cannon adalah Daoist Magic elemen air paling dasar, hampir satu level dengan Fire Ball Chun Lang. Dulu sekali ketika masih berada di Forging Qi, Bing Lian muda mempelajari teknik pembuatan talisman tingkat tinggi. Hal ini sangat berguna sebab pada masa itu ia belum mampu menguasai Daoist Magic selain elemen es.


Meski semua Cultivator mempunyai Spirit Root tertentu dalam tubuhnya tidak menjadi hambatan untuk menggunakan elemen lain, walau kekuatannya tak sebesar orang – orang pemilik elemen tersebut, contohnya Lian sendiri. Dia dapat menggunakan sembilan jenis sihir unsur alam namun kualitasnya dibawah Cultivator dengan Spirit Root elemen terkait.


Salah satu Tetua Prime Holy Lantern merupakan pria yang berjasa mengajarkan ilmu menyeluruh mengenai talisman pada Lian. Ia dijuluki sebagai Talisman Expert karena pemahaman mendalam miliknya, banyak sekali cara pembuatan khusus serta menarik diciptakan oleh orang ini.


Beliau tidak pernah menurunkan ajaran kepada siapapun, Lian juga sebenarnya tak sempat diangkat menjadi murid secara langsung dikarenakan kala itu dia lebih difokuskan mendapat didikan Hao Ren sang Mask Sage. Sehingga menyebabkan banyak sekali teknik penciptaan talisman punah dari Benua Huawai dan cuma tersimpan diingatan luar biasa Bing Lian.


‘Tetua Qin, aku berhutang banyak sekali. Terima kasih, beristirahatlah dengan tenang’


Melihat Lian memakai talisman menimbulkan beragam pertanyaan di benak penonton, bukan hanya murid – murid saja. Para Instruktur termasuk Instruktur Gong merasa tertarik, ilmu talisman bisa dikatakan terlampau mahal bagi kalangan Cultivator.


Walaupun efektif, harga mereka begitu tinggi. Jadi kebanyakan lebih memilih menghabiskan dana demi menaikan praktik secepat mungkin menuju Forging Qi tingkat 4 supaya mampu menggunakan Daoist Magic.


Rata – rata mereka penasaran bagaimana cara seorang anak berusia sebelas tahun mempunyai talisman serta terlihat mahir mengaktifkannya seolah telah bermain bersama kertas – kertas ajaib tersebut sepanjang hidupnya.


‘Apalagi keputusannya membawa talisman sihir air sangat tepat, seakan sudah membaca elemen Spirit Root milik Chun Lang’ batin Instruktur Gong mengelus janggut putihnya.


Bing Lian memang belum bisa menggunakan Divine Sense untuk sekarang, tetapi jangan lupa kalau dia mempunyai mata mantan Deva Realm. Jika membaca praktik tiga Crow Feather Elder saja dirinya mampu, Chun Lang yang hanya Forging Qi tingkat 5 jelas bukan apa – apa.


“Masih ingin lanjut Senior?” Lian bertanya sopan.


“Jangan banyak tingkah cuma karena mampu menahan sihirku dengan alat bantu! Kita lihat sampai kapan kau mampu bertahan! Daoist Magic Element Fire ; Fire Ball!!!”


“Haiyoyo.....”


Lian menghela napas kemudian melemparkan sepuluh lembar kertas biru, masing – masing talisman melayang di udara membentuk formasi mengitarinya. Mata semua orang membelalak tidak percaya, salah satu lagi – lagi menembakan air dan memadamkan bola api Chun Lang.


“Apa – apaan ini.....dia menghamburkan talisman layaknya daun kering!?”


“Kalau begitu mari beradu mana yang lebih dahulu habis, Qi Senior atau talisman milikku?” ujar Lian tersenyum tipis.


------><------


“Hah.....hah....hah....hah.....”


Hanya terdengar suara napas terengah – engah Chun Lang memenuhi arena, belum ada tanda – tanda sedikitpun kalau Bing Lian kehabisan talisman. Ia terus mengganti kumpulan kertas sihir itu setiap kali jumlahnya sudah mulai berkurang.


Sementara dilain sisi kecepatan Chun Lang mengumpulkan Qi terus menurun, fisik maupun mentalnya telah mencapai batas. Hal ini diperburuk oleh sikap musuhnya yang tak nampak kelelahan atau berkeringat.


Chung Lang menggertakan gigi lalu sekali lagi maju sembari mengangkat pedangnya, energi berbentuk pusaran angin menyelimuti ujung bilah besi tersebut. “Berani sekali kau menatap rendah diriku bocah miskin!!! Daoist Magic Element Wind ; Wind Blade!!!”.


‘Kena kau’


Sebuah pisau Qi transpraran menghujam ke arah Lian berdiri, namun si anak berambut putih cekatan mengeluarkan sesuatu melalui balik lengan jubahnya. Itu adalah talisman lain, tapi kali ini warnanya berbeda dari yang sebelumnya.


“Red Talisman Art ; Fire Ball”


“Celaka!?”


“Uhuk! Uhuk! Hoek!!!”


“Kakak!?”


Untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai, Chun Ah merasa cemas. Bukan cuma dia, orang – orang yang mempertaruhkan uang mereka kepada kemenangan Chun Lang makin memucat. Sedangkan Tan Minjie membuka mulut lebar membayangkan hasil perolehannya jika pertarungan berakhir begitu.


Bing Lian tidak menyerang, melainkan membiarkan Chun Lang mengatur napas serta mengumpulkan Qi kembali. Beberapa merasa kalau tindakannya sangat terpuji, namun para penonton tertentu sadar jika hal tersebut menunjukan betapa percaya dirinya Lian tuk memenangkan pertarungan ini. Setelah menghela napas sebentar dia melirik Instruktur Gong.


“Instruktur? Semisal ada murid tewas dalam duel antar anggota White Crow Sect. Apa konsekuensi bagi si pembunuh? Akankah ia mendapat hukuman?”


“Tidak, apalagi jika pertandingan resmi. Karena kedua belah pihak sama – sama setuju”


“Ahhh begitu rupanya....”


“Kenapa kau bertanya?”


“Mmm....hanya memastikan saja.....” gumam Lian sambil lalu.


Saat Chun Lang berdiri, Lian perlahan berjalan ke arahnya sembari berterima kasih. Kotoran – kotoran berwarna hitam melapisi kulitnya seketika, menandakan dia mengalami kenaikan tingkat praktik. Dengan satu hentakan tangan semua itu hilang bak debu tertiup angin.


“Senior.....kesempatan terakhir.....menyerahlah atau semua akan terlambat....”


“Hah?! Hentikan omong kosongmu pecundang!”


“Haih....sudah kuperingatkan lho.....”


Tanpa terduga sebuah daun terjatuh tepat dihadapan Lian, bocah tersebut mengambilnya menggunakan jari sebelum melemparkannya ke arah Chun Lang. Awalnya dia biasa saja, namun segera berubah siaga ketika menyadari kepadatan Qi pada benda itu sangat tinggi.



KRANKK!!!


Orang – orang menahan napas melihat pedang besi Chun Lang terpotong, ia sendiri beruntung berhasil menghindari lemparan daun tadi. Senjatanya memang bukan Spirit Tool, tetapi melihatnya terbelah layaknya kertas tipis membuat warna wajah Chung Lang menghilang.


“K...ka....kau....!??”


“Sebagai pendekar pedang kau seharusnya tau apa yang barusan kulakukan bukan?”


“Sword Without Form!?”


“Eee.....meleset sedikit, ini satu tahap diatasnya. Kita biasa menyebutnya Sword Intent”


Puluhan daun mulai megitari tubuh Lian, kontrol Qi miliknya sampai menyebabkan para Intrukstur terheran – heran. Seiring suara jentikan jarinya terdengar, masing – masing langsung membidik ke arah Chun Lang seperti memiliki pikiran sendiri.


Putra kedua keluarga Chun itu berusaha melarikan diri, sayang gagal. Kumpulan daun menghujam seluruh bagian tubuhnya hingga akhirnya Chun Lang berlutut dengan jubah bersismbah darah. Matanya menatap ngeri Lian yang terus mendekat.


Waktu sampai dihadapan Chun Lang, Bing Lian menangkap lembar hijau lainnya dari udara kemudian melemparkannya tepat menembus leher Chun Lang. Cairan merah deras bak air mancur membasahi arena selesai Lian memenggal kepala lawannya tanpa berkedip sedikitpun.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui **********. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.