
“Junior Lu?” panggil Yin Kiew suatu hari.
“Hmm?”
Keduanya tengah berlatih memasak di dapur ketika kepergian Bing Lian untuk pertama kalinya mengerjakan misi keluar sekte. Mereka nampak tidak terganggu oleh asap hitam pekat nan tebal pada sekeliling masing – masing.
Sedangkan Tan Minjie cuma mampu bertahan kurang lebih sepuluh menit kemudian muntah saking busuknya aroma ruangan tersebut. Dia segera meminta anak – anak menjauhi lokasi ini jika masih ingin bertahan hidup.
“Apakah kau menyukai Junior Bing?”
TEK!
Gerakan Lu Xiulan sedang mengaduk cairan berwarna ungu yang ia sebut sebagai sup terhenti sesaat, dirinya terlihat berpikir sebentar terus menjawab sembari menoleh ke arah seniornya itu.
“Huum, benar” Xiulan menganggukan kepala tanpa keraguan.
“Sudah kuduga.....”
“Apa jelas sekali?”
“Tidak, makanya aku bertanya”
Yin Kiew membuka tutup panci miliknya lalu memasukan lima genggam penuh bubuk cabai, perlahan air dalam wadah tadi berubah menjadi merah pekat layaknya lava gunung berapi.
“Kebanyakan menurutmu?” celetuknya polos.
“Ahh....santai saja. Aku dengar anak laki – laki menyukai makanan pedas” Lu Xiulan menyahut cuek.
“Akupun berpikiran sama”
“Hehehe....namun Senior Yin....mungkin....Lian membenciku....”
“Kenapa?”
Lu Xiulan selanjutnya bercerita tentang masa kecil mereka di Windless Heights Valley, mulai dari kisah Lian menyelamatkannya ketika terperosok sewaktu bermain petak umpet. Rasa jijik yang perlahan tapi pasti berubah jadi kagum dan suka tapi sayang harus terhalang perbedaan kasta sosial.
Meskipun ayahnya tak pernah sekalipun komplain mengenai siapa juga apa pekerjaan laki – laki idaman Xiulan kelak, kepalanya dipenuhi pikiran perkataan orang – orang jika sampai memaksakan hubungan bersama Lian. Lu Xiulan ragu merusak nama baik keluarganya.
Itulah alasan mengapa dia berniat menjadi Cultivator setelah diakui mempunyai bakat kemudian meninggalkan Windless Height Valley serta kenangannya terhadap Lian. Xiulan mengira semuanya telah selesai saat dia memberikan hadiah perpisahan kepada bocah petani tersebut.
“Kupikir Junior Bing tidak membencimu hanya karena masalah sepele begitu” ujar Yin Kiew pelan.
“Hah....Senior tak mengerti.....”
“Aku pernah mencoba memenggal kepalanya dan dia malah mengajarkanku cara berpedang supaya lebih baik. Apakah itu masuk akal bagimu?”
“Pfft!? Hihihi.....hahahaha....iya juga sih.....” Lu Xiulan terkikik geli.
“Dia sedikit....unik....?”
“Senior Yin sendiri? Bagaimana pendapatmu soal Lian?”
Giliran Yin Kiew yang terdiam, si putri Patriach mengelus dagunya nampak berpikir keras sebelum mengangkat kedua bahu kebingungan. “Entahlah.....aku tidak mengerti perasaan aneh ini”.
“Ahh....sepertinya aku paham. Aku bertaruh Senior Yin sama persis sepertiku”
“Maksudnya....???”
“C....I...N....T....A.....” eja Xiulan pelan.
“Sungguh? Karena....aku belum pernah jatuh cinta kepada siapapun sebelumnya” Yin Kiew memiringkan kepala polos, ia hanya mengenal kasih sayang keluarga tidak lebih tidak kurang.
“Kalau begitu sepertinya Lian beruntung menjadi yang pertama—“
“Eeee.....gadis – gadis?”
“Hmm?”
“Apa kalian melupakan sesuatu?” peringat Tan Minjie melalui balik pintu, ia sudah mengenakan semacam kain untuk menutupi bagian mulut maupun hidungnya.
“Ada apa Minjie?”
“Lihat kedepan....”
“Kede—WAAA....!? PANCINYA MELELEH?!!!” Lu Xiulan dan Yin Kiew berseru kaget.
------><------
Ingatan barusan melayang kembali memenuhi kepala Yin Kiew seakan baru terjadi kemarin. Ketika akhirnya pamannya, Yin Jiang sang Grang Elder menyebut namanya sebagai kontestan final. Tubuhnya terasa ringan, dia melangkah penuh percaya diri memasuki arena diikuti sorak sorai meriah penonton.
Terlihat dikejauhan Bing Lian berjalan melalu sisi seberang, senyuman khasnya menenangkan hati Yin Kiew. Waktu keduanya tiba pada tengah arena, seperti biasa Grand Elder menjelaskan peraturan secara singkat, padat, dan jelas.
“Tidak diperbolehkan memulihkan diri memakai pil selama pertandingan, sisanya silahkan saja. Kalian mengerti?”
“Baiklah, pertandingan final sekaligus terakhir seleksi Legacy Disciple White Crow Sect antara Bing Lian melawan Yin Kiew.....dimulai!!!”
------><------
Yin Kiew segera menarik pedangnya begitu aba – aba diberikan, tetapi belum sempat dia melakukan apapun. Sebelah alisnya mengangkat penuh tanda tanya, Lian nampak masih berdiri santai disana menutupi masing – masing tangannya menggunakan lengan jubah.
“Junior Bing? Kau meremehkanku?”
“Eh? Tidak tidak tidak! Kenapa Senior bisa berpikir begitu?” Bing Lian buru – buru menetralisir situasi.
“Dimana pedangmu?”
“Senior Yin? Kau tau sebenarnya aku bukanlah seorang pendekar pedang, aku tidak akan memakainya kali ini”
“Hmm? Maksudmu....?” ujar Yin Kiew berusaha mencerna ucapan tadi.
“Bukannya meremehkan, malahan sekarang aku benar – benar serius. Kemampuan utamaku adalah....pertarungan tangan kosong....”
“Hah—!?”
SYUUU!!!
Gerakan Lian teramat cemat hingga seperti menghilang begitu saja dari arena, detik berikutnya dia sudah berdiri dihadapan Yin Kiew dengan telapak tangan memancarkan energi Qi dingin. Yin Kiew memaksa tubuhnya merespon secepat mungkin agar siap menerima serangan tersebut.
“Metal Magic – Strong Foundation!”
“Ice Spear Strike”
DENGGG!!! WUUSHHHH!!!
Sentuhan pertama babak final mengejutkan semua orang, Yin Kiew berhasil bertahan. Tetapa pada kedua sisi tubuhnya terbentuk semacam bongkahan es raksasa yang menempel sampai podium penonton, turunya suhu udara membuat napas mereka mulai terlihat.
“Bagaimana caranya ia menggunakan teknik elemen es sekuat ini!?”
“Anak itu....menyembunyikan kemampuan aslinya hingga sekarang!”
“Qi miliknya murni sekali.....”
Yin Kiew memanipulasi bagian bawah anggota tubuhnya agar tidak terlempar keluar, meskipun ia sadar betul kalau Bing Lian sengaja mendaratkan jurusnya tadi ke bilah pedang miliknya. Jika telak mengenai Yin Kiew langsung, entah bagaimana nasipnya.
“Sebaiknya jangan tertegun sekarang Senior, kita baru mulai” tegur Lian lembut.
“Ckk!?”
WUSH! SLASH!
Yin Kiew langsung berputar lalu melakukan tebasan mengincar kedua kaki Bing Lian, tapi pemuda berambut putih itu berjungkir balik mudah untuk menghindari bahaya. Ketika hendak menjaga jarak antara mereka, Yin Kiew menyerang dengan tubuh diselimuti Qi angin.
Dalam sekejap sang Putri Patriach mengelilingi arena supaya Lian terperangkap ditengahnya, tiupan angin kian bertambah kencang menyebabkan rambut – rambut para penonton berantakan. Bing Lian berdiri tenang seolah tidak terganggu akan tindakan lawannya.
Tiba – tiba puluhan Wind Blade ditembakan dari segala arah menuju tengah arena disaat yang bisa dibilang bersamaan. Hujan tebasan pisau angin gesit nan tajam menerjang tanpa ampun.
“Wind Goddess Dance!”
Lian tersenyum tipis sebelum melangkahkan kaki secara tidak beraturan, seluruh pasang mata takjub dibuatnya ketika dia sangat luwes menghindari tiap serangan. Belum ada satupun yang sukses mengenai dirinya, Bing Lian membersihkan debu pada pundaknya sembari mengedarkan pandangan.
WUSH! WUSH! WUSH! JDUAARR!
‘Hilang....? Kiri? Kanan? Depan? Belakang? Bawah? Atas!?’
Lian tepat waktu menyadari serangan kejutan Yin Kiew, gadis itu menerjang cepat melalui udara berusaha melayangkan tebasan akurat. Pedangnya memancarkan cahaya putih penuh energi. “White Crow Flock!”.
SET! BRUAAKKHH!!!
Bing Lian hanya membutuhkan satu gerakan kecil supaya lolos dari teknik Yin Kiew, pertukaran serangan telah tak dapat dihindari lagi. Senjata Yin Kiew dan tangan Lian mulai beradu, tiap pertemuan antara keduanya menyebabkan tiupan angin kencang serta suara memekakan telinga.
BANG! BANG! BANG!
Yin Kiew melompat mundur sebab merasa tubuhnya terus bertambah kaku akibat hawa dingin disekeliling badan Lian, namun saat baru berhenti tuk mengatur napas. Dia terlambat mendeteksi kelengahannya, Bing Lian telah membentuk mantra tangan.
“Gray Tallisman Art; Iron Ball, Blue Tallisman Art; Flood Prison, Yellow Tallisman Art; Qilin”
SRRTTTT.....JGERRR!!!
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.