
Pertarungan sengit antara Di En melawan She Baoshi terpaksa berhenti akibat angin kencang yang disebabkan gelombang kejut luar biasa entah dari mana. Mereka segera mengambil posisi siaga, kondisi Baoshi sekarang telah dipenuhi oleh luka sayatan pedang. Semetara wajah Di En memucat karena berusaha menekan racun dalam dirinya.
WUSHHH!!!
“Apa itu barusan?” ujar Di En bingung.
“Duel lain? Efek saling mengadu Qi nya hebat sekali....” She Baoshi menimpali.
“Kau yakin ingin melanjutkan? Kapan kau akan tersadar kalau juniormu dalam bahaya?”
Begitu Di En berkata demikian barulah She Baoshi ingat tidak merasakan hawa keberadaan Xie Jingyi disekitar sana. Dia khawatir namun enggan melepaskan kesempatan mengalahkan Di En, She Baoshi menggertakan gigi kesal kemudian membuka mulut. Tapi sebelum sempat ia mengucapkan satu kalimat, sesuatu melesat cepat terus menabrak pohon dekat keduanya berada hingga tumbang
“Di En aku pasti—“
PSYYUU....! BRUAKKHHH!!!
She Baoshi maupun Di En kaget bukan main, saat mata masing – masing mampu melihat lebih baik. Mereka menemukan seorang gadis yang ternyata Xie Jingyi terkapar di tanah bersalju sembari memegangi lengan kanannya, sekujur anggota badannya tersebut membiru janggal. She Baoshi tanpa menunggu buru – buru menghampiri hendak menolong.
“Junior Xie?! Kau kenapa?!”
Di En membiarkan Baoshi membantu Xie Jingyi, meski membenci pemuda itu dia tidak mungkin menyerangnya dari belakang layaknya pengecut. Xie Jingyi memuntahkan darah berwarna kehitaman. Sepertinya selain terkena jurus elemen es, Jingyi menderita efek samping pemakaian racun berlebih.
She Baoshi memberikan pil penyembuh terus mengalirkan Qi kepada Xie Jingyi agar tubuhnya mampu mengolah obat tadi secara efektif, perlahan kondisi si gadis mulai membaik. Tetapi tangan kanannya masih berwarna biru pucat.
“Katakan padaku siapa pelakunya!?” geram She Baoshi.
SYUU!!! SRASS!
Pertanyaannya terjawab beberapa detik berikutnya, rombongan yang terdiri atas Bing Lian dan kawan – kawan tiba mengejutkan mereka. Hua Riyun bersama Tie Mu membantu Xue Yi bergerak, meski sudah disembuhkan tetap saja dia membutuhkan waktu supaya dapat mampu kembali ke kondisi normal.
Di En menatap tajam laki – laki bertopeng giok hitam pimpinan kelompok tersebut, entah mengapa ia merasa tidak asing. Lian memberi salam kepadanya lalu dibalas anggukan kecil oleh Di En, dilain sisi tatapan She Baoshi berubah ketika jari Xie Jingyi terangkat kemudian menunjuk keempatnya.
BRRR....!!!
Rasa haus darah memancar deras dari sosok She Baoshi, mengakibatkan seluruh orang didekat sana siaga. Baoshi memberikan pandangan murka menuju Xue Yi sebab mengira murid Frozen Swan River tersebutlah alasan Jingyi terluka parah.
“Keparat....!!! Berani sekali kau! Terima ini! Green Posion Lake Special Technique – Snake Hand!!!”
ZUSH!!! SYAAA!!!
Tangan kanan She Baoshi secara mengejutkan memanjang dan berubah bentuk menjadi wujud ular hijau gelap, makhluk berbisa itu membuka mulut sembari mendesis galak mengincar Xue Yi menggunakan taring tajamnya. Baru saja Riyun ingin memberi arahan kepada Tie Mu untuk menghindar, Bing Lian berdiri dihadapan mereka terus membiarkan lengannya tergigit.
Kulitnya yang terlapis Tortoise Shell gagal ditembus, sesudah memasuki Forging Qi tingkat 10 serta memperoleh Blood Essence terus menerus dari Baiya. Hanya serangan kuat tertentu bisa melukainya walaupun lawannya seorang Foundation Realm, She Baoshi kaget menyadari jurusnya tak berdampak apa – apa.
“Saudari Xue? Bagaimana keadaaanmu?” celetuk Lian santai.
“Lebih baik, terima kasih....aku berhutang padamu....” Xue Yi menyahut meski suaranya lemah.
“Tidak usah dipikirkan, syukurlah. Senang mendengarnya....”
Lian merasa beruntung Xue Yi mempunyai Spirit Root elemen es juga dalam tubuhnya sehingga proses penyembuhan dapat semakin cepat. Jika berbeda mungkin Bing Lian bakal kewalahan saat berusaha mengobati gadis ini sebelumnya.
BRRR....!!!
Bing Lian mengalihkan perhatian kearah She Baoshi sebelum mengalirkan balik Qi berjumlah besar, cuma beberapa tarikan napas badan panjang sang ular membeku cepat. Baoshi langsung tergesa – gesa melepaskan Lian, waktu dilihat telapak tangannya perlahan membiru seperti Xie Jingyi.
“Ternyata kau pelakunya....?!”
------><------
Yin Kiew menghentakan pedangnya untuk membersihkan darah pada bilah benda tersebut lalu lanjut berjalan, ratusan potongan tubuh Demonic Beast mengikuti tiap langkahnya. Sejak memasuki Dimensional Realm, Yin Kiew terlempar sendirian entah kemana.
Dia berniat berkumpul kembali bersama Bing Lian namun akhirnya kehilangan arah sebab sama sekali tidak mengetahui jalan di dimensi sekarang, bingung harus melakukan apa. Yin Kiew memutuskan bergerak ketimbang cuma diam saja tak berbuat sesuatu.
Holy Daughther White Crow Sect ini mengalami beberapa kali hambatan, berupa serbuan kawanan Demonic Beast yang mengepungnya penuh rasa lapar. Melihat Yin Kiew seorang diri menjadikannya sebagai incaran utama, tetapi untunglah gadis itu mampu melewati cobaan tadi dengan mudah.
Selama makhluk – makhluk tersebut berada di tingkat Forging Qi, Yin Kiew yakin sanggup meladeni mereka. Makin lama tanpa alasan jelas intensitas kemunculan Demonic Beast terus berkurang, membuat Yin Kiew merasa kurang nyaman tapi tetap melanjutkan langkahnya.
KRETAK! KRETOK! KRETEK!
“Hmm?”
Yin Kiew berhenti disebabkan kemunculan sosok – sosok terbuat dari es, perawakan mereka seperti manusia pada umumnya namun terdiri atas embun beku. Yin Kiew menarik keluar senjatanya demi keselamatan hanya saja tidak terjadi apapun.
Sayangnya saat mencoba terus berjalan mendekat, tiba – tiba semuanya menyerang. Yin Kiew mulai bertarung sengit, menghadapi makhluk es itu nyatanya jauh lebih sulit nan melelahkan jika dibandingkan dengan para Demonic Beast.
“Ugh....kalian sebenarnya apa....? Crow Sword Dance Renewal Fifth Move; White Feather!”
Akhirnya Yin Kiew sukses menghabisi kurang lebih dua puluh musuh sebelum bisa bernapas tenang, ia terduduk lesu kemudian mengkonsumsi pil untuk memulihkan Qi miliknya. Usai merasa cukup Yin Kiew kembali meneruskan perjalanan, ketika masih bertanya – tanya dalam hati tentang sebenarnya apa gerangan sosok sebelumnya gerakan Yin Kiew terhenti.
Matanya melebar menyaksikan pemandangan dihadapanya, penuh kehatian – hatian dia berusaha menjulurkan tangan. Rasa dingin dan keras dapat dirasakan pada telapak tangannya, Yin Kiew menengadah takjub.
“Pintu....?” gumamnya sedikit bingung.
Sebuah gerbang hitam raksasa berdiri kokoh, beragam ukiran emas indah tertera disana. Yin Kiew sempat terdiam beberapa waktu karena kagum, saat tersadar ia cepat – cepat mecari sesuatu dibalik jubah miliknya.
“Aku harus menandai lokasi ini, kalau tak sala arahku berjalan tadi ke Uta—“
ROAARRRR!!!
Raungan keras mengakibatkan wajah Yin Kiew memucat, begitu menoleh tanah berlapis salju dibelakangnya terangkat menunjukan seekor binatang berukuran tidak normal. Sekarang dia tau mengapa jumlah Demonic Beast berkurang secara drastis.
“Demonic.....King Beast......”
WUSHH!!!
Si raksasa mendelik ke Yin Kiew kemudian mengayunkan kencang ekornya untuk menyerang, Yin Kiew memanfaatkan seluruh kemampuanya untuk menghindar. Ingatan soal perbincangannya dengan Lian dahulu kembali tergiang – ngiang.
‘Senior Yin? Menurutmu apa yang harus kita lakukan jika bertemu Demonic King Beast?’
‘Melawannya?’
‘Salah.....’
‘Lalu?’
‘Lari.....’
“Sial.....” Yin Kiew berbisik sembari menoleh kepada longsoran salju dibelakangnya.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.