The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 22 - Datang



Lu Xiulan sedang melakukan tugas harian bersih – bersih asrama bersama para penghuni perempuan Snow Feather Dormitory lainnya. Kebetulan topik pembicaraan mereka saat itu adalah Bing Lian sang ketua asrama.


Lian semakin menarik perhatian banyak pihak ketika baru sekitar dua hari sebelumnya menembus Forging Qi tingkat 4, sejak mempunyai hunian layak serta sistem distribusi sumber daya terjamin. Tak ada yang menahannya lagi.


Apa lagi efek samping dari sering munculnya nama Snow Feather Dormitory pada papan permintaan Crow Child Division secara tak langsung menambah ancaman bagi anggota – anggotanya, banyak asrama mulai melirik dan mempertimbangkan pengaruh mereka.


Sehingga mau tidak mau sebagai pimpinan Lian mengambil inisiatif meningkatkan kecepatan praktik supaya yang ingin mencelakai anak – anak Snow Feather Dormitory harus berpikir dua kali sebelum bertindak.


Akibat hal ini, penampilan Bing Lian bertambah menarik di mata lawan jenis. Berkurangnya racun – racun dalam tubuh Lian membuat sosoknya semakin gagah, bahkan sekarang kalau boleh jujur tak ada satupun teman – temannya percaya ia hanyalah seorang anak petani miskin.


Fakta tersebut cuma diketahui segilintir murid seperti Lu Xiulan, Chun Ah, dan beberapa anak asal Windless Heights Valley. Kedekatan Lu Xiulan dengan Lian itulah yang membuat beragam pertanyaan mulai bermunculan.


“Kak Xiulan? Sebenarnya hubungan kalian berdua sedekat apa?” tanya salah seorang gadis.


“Eh? Eee....kami tumbuh dan besar bersama di lembah....” Xiulan menjawab sambil berusaha menyibukan diri menyapu halaman.


“Hehh....sungguh? Tetapi aku kadang tak sengaja melihatmu menghabiskan waktu berduaan saja”


“Pfft!? Uhuk! Uhuk! Tidak! Tidak! Tidak Saudari Qiu kau salah paham, aku hanya menanyakan petunjuk praktik saja, Tan Minjie juga terkadang melakukannya bukan?”


“Oh....ayolah Kak Xiulan, Kak Minjie itu laki – laki. Lagi pula senyummu ketika bicara dengan ketua lebar seka—Mmm!!!“


Lu Xiulan sigap mengambil buah apel kemudian menyumpal mulut adik seperguruannya, bisa – bisa dia mati malu jika sampai mendengar ucapan barusan. Waktu masih berumur sekitar tujuh tahun, pandangan Xiulan terhadap Lian hampir sama dengan anak – anak lain.


Lian tak lebih hanya anak petani miskin baginya, dan perlakuannya tidak hangat sama sekali. Bahkan tergolong mirip Chun Ah. Namun semua berubah karena sebuah kejadian, suatu ketika dikala petang hari. Lu Xiulan bermain petak umpet ditemani kawan – kawannya.


Saat mencari tempat persembunyian tanpa sengaja ia terperosok ke salah satu parit sedalam lima meter sehingga menyebabkan kakinya terkilir. Xiulan terjebak kurang lebih selama lima jam, gadis kecil tersebut hanya bisa menangis memanggil Sang Ayah.


Suasana lubang galian kian gelap nan mencekam seiring larutnya malam. Keluarga Lu menggerakan seluruh orang – orang mereka demi mencarinya namun gagal sebab letaknya yang tersembunyi juga pencahayaan terbatas.



Lu Xiulan terus terisak, saat merasa putus asa dan tidak punya harapan lagi. Lian datang membawa sebuah obor serta tangga, dia berhasil menemukan Xiulan akibat memiliki pendengaran tajam. Bocah tersebut melakukan evakuasi seorang diri tanpa masalah.


“Hiks.....! Hiks....! Kaukan....”


“Nona Lu? Mari saya antar pulang” Lian menjulurkan tangan sembari tersenyum hangat.


“Huaaa.....!!!”


Tangisan Lu Xiulan makin kencang, Lian menggendong pulang Xiulan di punggungnya. Begitu sampai, kediaman keluarga Lu segera heboh, Lian menceritakan kepada Ayah Xiulan tentang apa yang terjadi. Lu Cai sangat berterima kasih lalu memberi banyak bantuan ke pertanian karena rasa hutang budi.


“Nona Lu?”


“Hmm?”


“Lain kali tolong hati – hati, saya pamit. Sampai jumpa”


“Terima kasih....”


“Ahh benar, karena telah berhasil menemukan anda. Pada kesempatan berikutnya.....bolehkah saya ikut bermain?” tanya Lian polos penuh harap.



Mulai sejak hari itu Lu Xiulan selalu bersikap ramah terhadap Lian, sampai timbul sebuah perasaan aneh. Namun disebabkan status sosial masing – masing berbeda jauh, dia agak menahan diri. Sayang akhir – akhir ini dorongan tersebut semakin besar dan menyebabkan Xiulan pusing tujuh keliling.


“Benar, ada perlu—anda....“


------><------


Yin Kiew tumbuh besar dengan penuh kasih sayang, seluruh anggota White Crow Sect sangat mencintainya. Bakat praktik luar biasa membuatnya digadang – gadang akan mampu disandingkan bersama murid suci sekte – sekte besar Daratan Tengah.


Terbukti dari kesuksesannya mencapai puncak Forging Qi tingkat 9 padahal belum genap berumur tujuh belas tahun. Pembawaan Yin Kiew terkenal kalem dan dingin, tetapi pada beberapa kesempatan dia menunjukan sikap perhatian yang membuat hati tenang.


Didukung paras menawan, Yin Kiew perlahan tumbuh sebagai primadona sekte. Tidak berlebihan jika mengatakan ia termasuk dalam jajaran dua puluh besar generasi muda tercantik Benua Huawai. Kepopuleran ini menyebabkan dirinya memiliki banyak pengikut.


Salah satunya adalah Chun Lang, walau sebenarnya tak pernah terlalu memperhatikan juga perduli terhadap mereka. Yin Kiew juga seakan tidak terganggu dan membiarkannya saja, sampai surat pemberitahuan mengenai tewasnya Chun Lang datang.


Pria itu sering sekali menimbulkan masalah dalam sekte sampai nama juga wujudnya tertanam jelas diingatan Yin Kiew. Meski begitu Chun Lang tetap anak buahnya, sehingga Yin Kiew merasa agak kurang senang ada seseorang yang membunuhnya.


Oleh karenanya dia memanggil beberapa orang pengikut dan meminta untuk ditemani menemui pelaku. Yin Kiew mengerutkan dahi saat menyadari isi surat mengatakan pembunuhnya merupakan murid baru dengan praktik Forging Qi tingkat 2.


“Bukankah Chun Lang sudah mencapai Forging Qi tingkat 5?”


“Benar Senior”


Setibanya di Snow Feather Dormitory, Yin Kiew menemukan gadis – gadis yang sedang menyapu. Ketika dia bertanya tentang Lian. Salah satu memerintahkan saudarinya yang lain tuk memanggilkan.


“Hmm? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Yin Kiew mengangkat sebelah alis.


“Kurasa belum Senior” Lu Xiulan menjawab sedikit dingin.


Yin Kiew mengabaikan sikap anak perempuan tersebut, tak lama kemudian penghuni – penghuni asrama keluar satu per satu. Seorang bocah berambut putih menarik perhatian Yin Kiew.


‘Apa maksudnya ini? Jelas sekali kalau praktiknya berada di Forging Qi tingkat 4, tetapi kenapa aku tidak mampu meraba lebih dalam kemampuannya?’


“Salam Senior semua, Junior menghadap” kata Lian memberi salam.


Salah satu murid datang terburu – buru memanggilnya ketika dia bersama Tan Minjie tengah membicarakan tentang keuangan Snow Feather Dormitory. Memang sejak memenangkan taruhan berjumlah fantastis, Lian mempercayakan masalah aset kepadanya.


“Kaukah yang bernama Bing Lian?”


“Benar, boleh aku tau mengapa Senior Yin mencariku?”


“Kau mengenaliku?”


“Tentu, aku berhutang—“


SRANG!!!


Lian gagal menyelesaikan kalimatnya sebab Yin Kiew sudah mencabut pedang, bilah dingin terasa jelas menyentuh kulit lehernya. Para anggota Snow Feather Dormitory menahan napas, pandangan mata Lu Xiulan dan Tan Minjie berubah seketika. Tetapi keberadaan sepuluh pengikut Yin Kiew membuat keduanya belum mengambil tindakan.


“Kau tau aku, namun berani membunuh salah satu pengkutku? Aku kemari untuk menuntut balas” Yin Kiew berbisik pelan.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.