The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 83 - Kemampuan Green Poison Lake



Percakapan juga saling lempar hinaan sengit antar Hua Riyun dan Tie Mu membuat Bing Lian mengerti hubungan keduanya. Tie Mu adalah salah satu keturunan langsung adik seperguruan Lian dulu, yaitu Tie Jin sang Sturdy Emperor.


Sikap mereka benar – benar mirip saat berada diusia yang sama, meski sekarang Tie Jin terkenal paling tenang nan bijaksana dibanding anggota Emperors Alliance Sect lainnya. Perangai pria itu sebelumnya lebih kikuk juga mudah cemas.


KYAAK!!!


“WOAAA!?”


“Kau sudah melihat mereka sekitar sepuluh kali dan masih terkejut!? Menjauh sana!” Riyun menatapnya menghina kemudian meremukan Demonic Beast berwujud kelelawar mungil ditangannya.


“Hei!? Akukan hanya kaget! Jantungku lemah kau tau....” balas Tie Mu cepat – cepat keluar dari balik punggung Lian.


“Heh!?”


“Lagi pula aku bersembunyi dibalik Saudara ini bukan kau!”


“Dan kau pikir dirimu keren?” Hua Riyun mencibir.


“Ahh aku malas meladenimu, Saudaraku? Bagaimana caraku memanggilmu....?” tanya Tie Mu mengubah fokusnya ke pemuda disebelahnya.


“Saudara Tie boleh memanggilku Lian....” Bing Lian menyahut pelan.


“Lian? Nama unik, jarang orang yang memiliki nama sepertimu Saudaraku....”


Keduanya mulai bicara satu sama lain, Lian berusaha mengorek informasi melalui Tie Mu tentang bagaimana sebenarnya hubungan antara generasi muda sekte para kaisar. Wajahnya berubah sedikit murung, sembari tersenyum pahit Tie Mu memberi gambaran sederhana kepada Lian mengenai ia dengan Riyun.


Bisa dibilang mereka semua saling bersaing ketat untuk menunjukan siapa lebih baik, selain demi diri sendiri. Hal tersebut juga berkaitan menjaga muka pendahulu masing – masing, alasan Tie Mu tak bermalas – malasan berlatih supaya Tie Jin beserta Tough Hammer Altar tetap terpandang oleh para Cultivator Benua Huawai.


“Pasti berat ya....?”


“Hah....sangat....”


“Itukan karena kau saja yang lemah.....” celetuk Hua Riyun tiba – tiba.


“Berisik!”


“Jujurlah, juniormu Feng Ai perlahan – lahan nantinya menggeser posisimu padahal dia bukan siapa – siapanya Sturdy Emperor.....”


“Riyun.....kau boleh menghinaku tapi jangan pernah bawa – bawa nama kakekku dalam—“


“Baiklah – baiklah tenang Saudara Tie, Saudari Hua. Bukan saatnya kita bertengkar, mari keluar dulu dari sini....”


Setelah Bing Lian berkata demikian, tidak ada lagi satupun bicara. Semua berjalan lancar, paling sesekali langkah ketiganya berhenti akibat gerombolan Demonic Beast kelelawar menyerbu. Namun bukanlah sesuatu masalah berarti untuk mereka.



Tie Mu sedikit lagi memasuki Forging Qi tingkat 12, nampaknya bakat si anak laki – laki memang cuma sampai disana. Berbanding terbalik dengan Hua Riyun yang menyamai praktik Yin Kiew padahal usianya semuda Lian sekarang, jika sukses menemukan sumber daya berharga. Mungkin sebulan lagi dia bakal melakukan latihan tertutup membentuk Heaven Foundation.


Kemampuan mereka bukanlah tandingan makhluk penghuni gua jadi – jadian tersebut, ketika berjalan kurang lebih dua jam. Cahaya biru pada telapak tangan Lian yang berfungsi sebagai penerangan meredup, bukan disebabkan Qi miliknya habis melainkan terdapat pintu keluar lain diujung jalan.


Sehingga kegelapan makin berkurang, ketiga remaja ini saling pandang satu sama lain. Tie Mu memuji firasat tajam Lian sedangkan Hua Riyun walaupun diam saja, jauh dalam hatinya gadis itu ikut merasa kagum. Mereka bergegas keluar ingin melihat bintang indah di angkasa.


Sewaktu jarak dengan pintu keluar hanya terpaut beberapa meter, ledakan besar mengakibatkan gua bergetar hebat. Masing – masing segera mengambil posisi merunduk, muka ketiganya menegang waspada. Sepertinya tengah berlangsung pertarungan sengit sekitar lokasi.


“Kalian merasakannya?”


“Qi mereka membuat bulu kudukku berdiri” Tie Mu menunjukan lengannya.


“Duel antara Cultivator Foundation Realm....” bisik Hua Riyun serius.


“Ohh menga—“


CTAK!


“Hmmm!?”


Tanpa aba – aba kedua telapak tangan Bing Lian menutup cepat hidung maupun mulut Hua Riyun dan Tie Mu. Riyun telah siap menyerang balik karena menganggap dia diserang, tapi peringatan Lian berikutnya membuat gerakannya berhenti.


Mata mereka melebar, Bing Lian melepaskan genggamannya. Jika bukan sebab pernah menghadapi ahli racun pada kehidupan pertama mungkin ia juga tidak mengenali gas beracun tak berwarna juga beraroma itu. Siapa sangka ada generasi muda mampu menggunakannya.


Tie Mu serta Hua Riyun bertukar pandang, tentu mereka sulit mempercayainya. Tapi racun berjenis sulit dideteksi memang ada, raut khawatir wajah Lian juga meyakinkan keduanya. Insting Bing Lian terbukti tajam usai benar memprediksi gua mempunyai satu lagi pintu masuk.


Terlambat sedetik saja, maka Hua Riyun juga Tie Mu akan mati dalam beberapa tarikan napas. Ketiganya membentuk mantra tangan bersamaan, menciptakan pelindung Qi yang melapisi sekujur tubuh mereka terutama wajah. Lian memimpin jalan hati – hati untuk keluar tapi Riyun memegang erat tangannya.


“Saudari Hua?”


“Eee.....terima kasih, nyawa kami mungkin sudah melayang jika bukan karenamu....”


“Huum, sama – sama”


“Kenapa?”


“Eh?”


“Kenapa kau menyelamatkan kami?” Hua Riyun menatap mata dibalik topeng giok hitam tersebut dalam – dalam.


“Apa aku harus memiliki alasan supaya boleh menolong orang lain? Ayo cepat, sebaiknya segera tinggalkan tempat ini. Takutnya nanti seluruh racun berkumpul disana....” ujar Bing Lian balik menarik lengan Riyun.


“WOAA!??”


‘Hehehe bagus Saudara Lian, pertama kalinya aku melihat wajah angkuh Hua Riyun hancur berantakan hihihi......’ Tie Mu membatin senang.


------><------


Benar saja, tak jauh dari pintu masuk gua. Bing Lian, Hua Riyun, dan Tie Mu berhasil menyelinap lalu menyaksikan dua pemuda yang tengah berhadapan. Lian mengenali salah satunya, laki – laki berpakaian hitam bersenjatakan pedang pada masing – masing tangannya.



Sementara lawannya mengenakan seragam berwarna hijau khas, Bing Lian membutuhkan waktu lebih lama tetapi akhirnya mengingat juga dimana pernah melihat baju sekte barusan. Kondisi keduanya masih bugar, hanya sedikit kotor. Nampaknya pertarungan cukup berimbang.


“Saudaraku? Jangan pernah berpikir mengusik yang satu ini.....” saran Tie Mu menepuk pundak Lian.


“Heh?”


“Aku setuju dengan Tie Mu....” Hua Riyun mengangguk.


“EH!?” kedua pemuda didekatnya terlonjak kaget.


“Kenapa kau juga ikut terkejut dasar bodoh!”


“M...mak...maksudku....mereka berdua adalah anggota Seven Young Lord. Di En dari Twin Sword Mountain dan She Baoshi asal Green Poison Lake....”


“Ternyata Green Poison Lake....tunggu Twin Sword Mountain? Berarti gadis waktu itu....” gumam Lian mengelus dagunya.


“Mereka memperebutkan peti harta karun disana....” Riyun menunjuk.


“Hah....? Sebentar.....nampaknya dibagian sana ada pertarungan lain....”


Celetukan Tie Mu mengalihkan perhatian Bing Lian maupun Hua Riyun, dikejauhan terlihat seorang gadis tengah menangis diatas jasad rekannya. Darah mengguyur deras dari setiap lubang dikepalanya, berdiri dekat situ perempuan berseragam hijau persis seperti pria yang menghadapi Di En.


“Ohh....kasihan sekali, dia menjadi incaran Xie Jingyi. Aku bertaruh tubuhnya telah terkena jarum beracun....padahal gadis itu cukup manis” kata Tie Mu berdecak kesal.


“Xue Yi?” Hua Riyun menyipitkan mata.


“Xue Yi!? Maksudmu.....Frozen Swan Princess!?”


“Benar, siapa lagi?”


Saat Hua Riyun dan Tie Mu masih bicara, Xie Jingyi melakukan gerakan kecil pada ujung jarinya. Lian menyadari hal tersebut terus melesat, ia muncul dihadapan Xue Yi kemudian menghilang dalam sekejap. Waktu tubuhnya terlihat kembali, puluhan jarum beracun berjatuhan melalui genggaman tangannya. Bing Lian berhasil menangkap semuanya agar tidak mengenai Xue Yi.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.