
Sejak ledakan hebat terjadi pada tirai nomor 77 hati Chun Tao tidak bisa tenang, terlebih lagi ketika wujud Lian perlahan mulai nampak kemudian melirik tepat kearahnya dengan senyum tipis. Situasi bertambah gawat saat bocah tersebut berbicara kepada Grand Elder soal masalah yang dihadapinya.
Tanpa menunggu lama, Chun Tao langsung berusaha melarikan diri. Namun belum sempat dia melakukan lima langkah. Segerombolan orang telah mengepungnya, diantaranya adalah Yin Jiang beserta para Crow Feather Elder lainnya.
“Mau kemana Tetua Chun?” celetuk Hou Dai dingin.
“Bisa kau jelaskan apa maksud semua ini?” kali ini Yin Jiang bertanya sambil memancarkan aura Nascent Soul Great Circle – Stage sehingga membuat beberapa generasi muda kesulitan bernapas.
“A...ak...aku....dia hanya memfitnah! Jelas sekali kalau Bing Lian mengada – ada! Aku tak pernah beranjak dari posisiku!” Chun Tao berseru membela diri.
“Ohhh....kau butuh bukti? Baiklah, kalau ingatanku tidak salah. Senior disana yang bertanggung jawab atas tirai milikku”
Suara Lian menarik perhatian semua hadirin, terutama karena dia menunjuk salah satu murid Senior yang terlihat kebingungan. Pemuda itu mengaku kalau memang dirinyalah pemasang formasi sihir bagi tirai milik Bing Lian.
“Nah!? Lalu mengapa kalian malah mengejarku!? Pelakunya disana!!!”
“Tutup mulutmu Tetua Chun, lanjutkan Lian....” Yin Wuya ikut angkat bicara dan mengakibatkan semua mematung ngeri.
“Terima kasih Patriach, aku percaya jika Senior ini hanya melakukan tugasnya. Seperti kebanyakan dari kita tau, formasi sihir Enchanting Moon Mist memerlukan persiapan tidak sebentar. Mungkin sekitar satu hari, jadi aku menyimpulkan pelakunya sudah merencanakan semuanya sejak kemarin.....”
“Hah!? Terus? Kau mau menyudutkanku dengan alasan tak masuk akal begitu?”
“Siapa yang berusaha menyudutkanmu Tetua? Kenapa anda sensitif sekali hihihi.....” Lian terkekeh geli.
Raut muka Chun Tao bertambah buruk dari waktu ke waktu, Bing Lian melanjutkan penjelasannya tentang seharusnya siapapun dalang dibalik semuanya memiliki jabatan cukup tinggi sehingga mampu mengakses informasi tentang tirai mana posisi tiap peserta ditempatkan.
Dengan kata lain hanya para Tetua, semua pendengar mengangguk setuju. Secara logika ucapan Lian ada benarnya juga, si bocah berambut putih lalu menjilati bibirnya sebentar sebelum melepaskan serangan terakhir.
“Jika Tetua Chun masih bersikeras bagaimana kalau kita bertanya kepada salah satu muridmu? Saudara Chun? Kau nampak cemas sedari tadi, ada masalah?”
DEG! DEG!
Chun Tao mengumpat dalam hati karena Lian menyadari mata rantai terlemah pada rencananya, wajah Chun Ah memucat mendengar pertanyaan Lian. Tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar ketika ratusan pandagan dari berbagai penjuru terkunci kepadanya.
Tuan Muda Ketiga keluarga Chun itu menelan ludah berat, matanya bertatapan langsung dengan gurunya. Sang Crow Feather Elder berusaha menggelengkan kepala supaya muridnya tersebut menutup mulut, baru saja Chun Ah hendak merespon. Bing Lian muncul didekatnya kemudian menepuk pelan pundaknya sembari berbisik.
“Ada dua kemungkinan terburuk jika kau sampai membual, pertama. Kau akan didiskualifikasi dalam seleksi Murid Suci padahal sudah melangkah sejauh ini, kedua. Dikeluarkan dari sekte, pilihan berada ditanganmu....kau tau aku tidak pernah berbohong padamu bukan?”
GLEK!
Chun Ah langsung menelan ludah berat, kata – kata Bing Lian layaknya racun yang mempengaruhi pikirannya perlahan tapi pasti. Akhirnya karena tak kuasa lagi menahan tekanan, Chun Ah mengangguk lalu menceritakan kebenaran tentang keinginan Chun Tao menggagalkan Lian pada seleksi tahap kedua.
“DASAR MURID TAK TAU DIUNTUNG—UKH!?”
Hinaan Chun Tao terhenti akibat lima buah rantai Qi muncul mengekang pergerakannya, masing – masing ujung menempel pada jari para Crow Feather Elder yang berada disekitarnya termasuk Yin Jiang. Wuya, Patriach White Crow Sect sudah bangkit berdiri untuk memberi perintah.
“Chun Tao, kau ditahan atas dugaan interupsi dalam pemilihan Murid Suci. Persidanganmu akan dilakukan saat semua acara telah berakhir demi menentukan hukuman, jabatanmu sebagai Crow Feather Elder dicabut sampai waktu yang tidak ditentukan....”
PLOK!
Sebuah telur mentah jatuh ke atas kepala Chun Tao, lemparan sampah segera terjadi dari segala penjuru. Tatapan mencela penonton menusuk pria tua tersebut layaknya mata tombak tertajam di dunia, kata – kata kasar dan kurang enak didengar makin jelas menggema.
WOOO!!!
“Sampah! Mati saja kau!”
“Guru sesat! Kau ajarkan apa muridmu hah!?”
“Enyah kau setan tua!”
Melihat kondisi kian kacau, Grand Elder memerintahkan mereka membawa Chun Tao meninggalkan stadion. Dia memberontak sekuat tenaga, tampangnya yang biasa kalem serta penuh kebijaksanaan hilang seketika digantikan ekspresi penuh kebencian.
“BING LIAN....!!! LIHAT SAJA SUATU HARI KELAK AKU PASTI MEMBUNUHMUUU.....MENGGUNAKAN TANGANKU SENDIRI!!! HEI....!!? KAU DENGAR AK—“
“Iya – iya aku bukannya tuli, dadah....nikmati waktumu di kurungan Tetua....” Lian melambaikan tangan sebelum menenangkan Chun Ah. Ia mengerti kekhawatiran bocah tersebut namun dengan pelanggaran sebesar barusan pastinya Chun Tao mendapat ganjaran sama beratnya.
Murid – murid Chun Tao lainnya juga mendapat beban mental tersendiri, mereka merasa pelajaran yang telah dijalani selama ini menjadi sia – sia. Butuh waktu bagi Yin Wuya maupun Yin Jiang menenangkan masa.
Perbuatan tadi benar – benar membuat gerah siapapun, termasuk kelompok Legendary Sword Valley. Fan Li menghela napas panjang sambil menggeleng – gelengkan kepala keheranan, bagaimana mungkin White Crow Sect mempunyai sampah seperti Chun Tao dijajaran Tetuanya sementara generasi muda seperti Yin Kiew, Bing Lian, Lu Xiulan, dan Tan Minjie menunjukan sikap terhormat sejak dini.
“Dia pantas dieksekusi mati” ujar Yang Wei tanpa rasa kasihan.
“Semoga saja” Liao Mei menimpali.
‘Hah....kalian berdua tak pantas berkomentar....’ batin Tetua sekte mereka berdua sedih.
Yin Jiang sekali lagi terbang ke tengah – tengah stadion untuk menjelaskan ujian tahap terakhir. Kedua puluh peserta juga sudah dikumpulkan, tes ketiga adalah pertarungan satu lawan satu antara kontestan hingga menyisakan seorang pemenang.
Sosok tersebutlah yang nanti dinobatkan sebagai Legacy Disciple White Crow Sect generasi berikutnya. Grand Elder mulai memutar undian tuk menentukan keseluruhan duel, nama – nama mereka mulai bermunculan satu per satu.
Bing Lian memperhatikan semuanya kemudian membuat semacam simulasi dikepalanya bagaimana pertandingan akan berlangsung. Saat masing – masing telah mendapat bagian, bisikan antusias memenuhi arena.
Banyak pertarungan yang menarik hendak terjadi, karena waktu masih cukup. Sepertinya seleksi tahap ketiga dilaksanakan hari ini juga selesai beristirahat selama satu atau dua jam, bagan – bagan pertarungan mulai disebarkan.
Perhatian penonton terpaku pada salah satu bagan tempat dimana kesempatan pertemuan antara Yin Kiew melawan Lu Xiulan sangatlah besar. Kedua gadis itu memang dari babak pertama sampai sekarang menunjukan persaingan ketat.
Beberapa bahkan siap memasang taruhan, tetapi ada yang disesalkan cukup banyak orang. Duel Bing Lian menghadapi Yin Kiew sepertinya harus tertunda cukup lama sebab menurut gambaran sederhana turnamen dua jenius muda ini akan saling bertemu di final jika terus memenangkan jatah pertandingan masing – masing.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.