
Bing Lian melanjutkan perjalanan sembari melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal terhadap Lu Cai juga BlackThunder, ia tiba di pintu sebuah bangunan mewah. Tidak kalah megah dengan kediaman Keluarga Lu.
Para pengawal menatapnya terkejut sebelum saling berpandangan satu sama lain, Lian memberitahu keperluannya datang kesitu. Salah satu dari mereka kemudian masuk memanggil seorang pelayan untuk mengantar Lian.
Lian dibawa ke sebuah ruang tamu besar, kursi – kursinya sangat empuk nan nyaman. Dia duduk disana tenang. Berterima kasih saat minumannya telah diantarkan, si pelayan memintanya menunggu sebentar karena tuannya masih bersiap – siap.
Bing Lian memberi anggukan menenangkan, sekitar dua minggu lalu. Tepat sewaktu para pasukan Sky Jewel Kingdom pergi meninggalkan Windless Heights Valley menyeret bandit serta anggota Savage Crocodile Tribe.
Lu Cai maupun Guan Qianda mengajak Lian berdiskui, keduanya bercerita tentang bagaimana tindakan yang diambil Keluarga Chun ketika berita mengenai Chun Lang sampai ke telinga mereka. Chun Jiao benar – benar murka, dirinya bahkan menyewa beberapa tentara bayaran demi membumihanguskan ladang pertanian keluarga Lian.
Namun beruntung gabungan bantuan Keluarga Lu dan Guan mampu menangani masalah tersebut, Chun Jiao terus berambisi melakukannya hingga penyerangan Savage Crocodile Tribe terjadi. Lu Cai juga Guan Qianda khawatir pria paruh baya itu bakal mencari gara – gara dengan Lian sehingga memperingatinya.
Tetapi ada hal tak terduga beberapa hari sebelumnya, Bing Lian mendapat undangan tuk bertamu ke kediaman Keluaga Chun. Jika seseorang mempunyai akal sehat, mereka pasti langsung menyimpulkan kalau jelas sekali semuanya adalah jebakan. Sayangnya Lian sedikit berbeda, dia datang tanpa keraguan sedikitpun.
Kalau semisal Keluarga Chun hendak memicu masalah, belum terlambat menghapuskan keseluruhan klan mereka dari lembah ini menurut Lian. Pintu ruangan tiba – tiba terbuka, menunjukan pria berpakaian mewah berjalan penuh wibawa. Bing Lian berdiri lalu memberi hormat.
“Kepala Keluarga....” sapanya sopan.
“Huum....” Chun Jiao memberikan anggukan kecil sebelum duduk.
Keheningan terjadi cukup lama, sang kepala keluarga akhirnya memecahkannya menggunakan deham pelan. “Terima kasih sudah bersedia memenuhi undanganku”.
“Tentu, memangnya ada perlu apa?”
Chun Jiao nampak kesulitan memilih kata – kata, tapi mau tidak mau ia menguatarakan isi hatinya kepada Lian. Chun Jiao meminta tolong sebagai seorang Ayah agar Bing Lian membantu perkembangan Chun Ah kedepannya, mengingat kalau Tetua Chun yang adalah gurunya dikeluarkan dari sekte.
Bing Lian menaikan sebelah alisnya, pura – pura memasang wajah bingung. Meski sebenarnya batinya terkekeh geli. Lian telah menebak sejak lama, hanya saja prediksinya tak secepat ini. Menandakan betapa tidak tau dirinya Chun Jiao.
“Aku mohon....kemurahan hatimu....” ujar Chun Jiao menundukan kepala memelas.
TEK!
Lian terenyuh, entah kenapa dia merasakan deja vu. Pemandangan dihadapannya pernah terjadi dulu, ketika Lingxin memohon keringanan pembayaran hutang terhadap Keluarga Chun. Tetapi sekarang posisinya tertukar, Bing Lian menggaruk – garuk kepalanya kemudian menghela napas.
“Kepala Keluarga? Anda tau kalau akulah pembunuh putra keduamu bukan? Tidakkah anda berpikir permintaanmu terdengar konyol?”
“Aku tau....namun Chun Zhu entah kemana....hiks.....kami tinggal mempunyai Ah’er....aku sadar tidak bagus mendidik anak....maafkan aku....”
Isakan Chun Jiao menyadarkan Bing Lian betapa besarnya kasih sayang Ayah terhadap putranya, Chun Zhu adalah anak pertama keluaga Chun. Tetapi kabarnya sudah tidak pernah terdengar lagi sejak sepuluh tahun terakhir. Dengan meninggalnya Chun Lang, tersisa putra bungsu mereka saja. Yaitu Chun Ah.
“Baiklah baiklah begini saja.....”
Bing Lian menyanggupi permintaan tersebut tapi dengan beberapa syarat, Keluarga Chun harus merubah sikap mereka. Tak boleh bertindak sesuka hati seperti dulu, jika Lian mendapat laporan maka ia akan langsung bertindak. Lu Cai dan Guan Qianda bakal mengawasi mereka secara langsung.
“Terima kasih! Terima kasih! Aku akan memegang janjiku sampai nyawaku meninggalkan raga!” Chun Jiao menjabat tangan Lian penuh syukur.
“Sepertinya aku tau harus melakukan apa terhadap Snow Feather Dormitory.....”
------><------
Hari terakhir keempat murid White Crow Sect di Windless Heights Valley pun tiba, para penduduk mengarak rombongan mereka layaknya pahlawan nasional. Lu Xiulan berpamitan dengan haru kepada Ayah dan Ibunya.
Pemuda – pemuda desa menangisi kepergian Yin Kiew, sementara Bing Lian menyalami semua kenalannya sembari tersenyum lebar. Guan Qianda menutup acara berbekal pelukan erat meremukan tulang bagi manusia normal.
Ketiganya melambaikan tangan untuk mengucapkan selamat tinggal. Lian, Xiulan, juga Yin Kiew harus menyeret kerah baju Tan Minjie yang tidak rela meninggalkan gadis – gadis desa impiannya. Menurutnya sulit sekali menemukan perempuan sadar akan pesona miliknya.
Mereka menempuh perjalanan kembali hanya menggunakan ilmu meringankan tubuh supaya lebih cepat. Gerbang masuk White Crow Sect sudah terlihat dalam waktu setengah hari, Yin Kiew memisahkan diri dan pergi menuju King Crow Pavillion.
“Aku bakal menunggumu disana....” ujarnya serius.
“Iyaa....” Lian menyahut lembut.
Lu Xiulan bersama Tan Minjie pulang terlebih dahulu sementara Bing Lian menghilang entah kemana selesai berkata ingin mengurus sesuatu. Ia juga meminta agar Xiulan maupun Minjie mengumpulkan penghuni asrama.
Ketika usai berkemas kemudian menunggu bersama, satu jam berselang Lian muncul diikuti seorang yang sangat mereka tidak duga. Bahkan saking terkejutnya Lu Xiulan bersama Tan Minjie langsung memojokan Lian di sudut ruangan. Bing Lian menjelaskan tentang ucapannya beberapa hari lalu.
“Dia!? Kau mau menyerahkan kepemimpinan Snow Feather Dormitory kepadanya?!” kata keduanya sambil menunjuk Chun Ah.
Chun Ah membuang muka tak tau harus merespon bagaimana, dia sendiri terkejut saat Lian mengunjunginya lalu menyampaikan semua rencananya. Memang akhir – akhir ini Chun Ah lebih menganggap Lian sebagai rival yang hendak digapai dari pada musuh.
Penghuni asrama lain sama bingungnya, tetapi masing – masing sadar Bing Lian pasti memutuskan bukan tanpa pertimbangan matang. Lian memberitahu Chun Ah cukup berpengaruh diantara Outer Disciple dan Inner Disciple, tidak ada Cultivator muda White Crow Sect ingin menentangnya.
Sementara untuk anggota diatas posisi barusan, mereka akan memperhitungkan keberadaan Lian, Xiulan, dan Minjie sebagai murid langsung petinggi sekte. Ekspresi keduanya perlahan melunak namun tetap menunjukan raut kurang setuju.
“Kau yakin mau melakukan ini?” Chun Ah menyeletuk tiba – tiba.
“Aaaa, lagi pula kalau kau berulah Saudara Chun. Penghuni Snow Feather Dormitory dapat melaporkanmu kepada kami, jadi kusarankan jangan bertindak bodoh.....”
“Terima kasih.....”
“Jangan mengucapkan hal tersebut padaku, aku adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian kakakmu. Berbaktilah kepada kedua orangtuamu karena merekalah semua ini dapat terwujud” balas Bing Lian menegaskan.
Dengan begitu jabatan kepala asrama jatuh ke tangan Chun Ah. Lian, Xiulan, serta Minjie berpamitan dan berjanji bakal berkunjung kemari sesekali. Para junior mereka mulai menangis kemudian memeluk mereka satu per satu, ketiganya meninggalkan tempat tinggal selama lima tahun bersama.
Kemudian berpisah saat sampai pada persimpangan jalan, masing – masing menganggukan kepala sebelum berangkat menuju tiga arah berbeda. Berusaha mengejar mimpi juga harapan baru bagi diri pribadi, untuk pertama kalinya sejak bergabung dengan sekte. Bing Lian, Lu Xiulan, dan Tan Minjie menempuh jalur milik sendiri.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.