The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 57 - Babak Delapan Besar



WUSH! WUSH! WUSH!


Tan Minjie menyapu lantai arena berbekal tombaknya dengan kecepatan tinggi untuk merusak keseimbangan Chun Ah, namun hal itu malah dijadikan kesempatan bagi Chun Ah melompat tinggi kemudian melepaskan serangan Wind Blade.


JGER!


Minjie menghindarinya lalu maju memanfaatkan ilmu meringankan tubuh miliknya, Flash Crow Glide. Muncul semacam bekas tebasan pedang lebar menghiasi tempat ia berdiri sebelumnya akibat sihir angin Chun Ah.


Sebelum Tan Minjie sampai, Chun Ah sudah siap menyambutnya. Adu senjata kembali terjadi, meski nampak tak mengalami perkembangan berarti. Sebenarnya pertandingan cukup menyita perhatian sebab terhitung sangat alot, kedua pihak sama – sama kuat dan tidak mau mengalah.


Begitu sukses mendorong mundur Tan Minjie, musuhnya melakukan gerakan memutar terus mengarahkan mata pedangnya menuju pergelangan kaki Minjie. Dia berjungkir balik cepat lalu melepaskan tusukan sebagai serangan balik.


TRANG!!!


Masing – masing terdorong mundur oleh kekuatan lawan, tetapi belum saja terhitung satu tarikan napas. Tan Minjie maupun Chun Ah menerjang sekali lagi, suara besi memekakan telinga menghiasi udara. Senjata keduanya terlempar tinggi, seakan tidak perduli baku hantam mulai terjadi.


BAKH! BUKH! BAKH!


Mereka seolah berkata ‘tanpa alat bantupun aku pasti bisa menang!’. Kemampuan bela diri tangan kosong Tan Minjie dan Chun Ah berada di level yang sama, tak ada hal khusus dalam pukulan atau tendangan dua pemua tersebut.


“Lightning Magic – Lightning Bolt!”



Saat berhasil mendaratkan tendangan telak mengenai perut Chun Ah, Minjie membentuk mantra tangan. Petir keemasan menyambar melalui jari jemarinya, Chun Ah menyadari datangnya bahaya buru – buru mengaktifkan sihir perlindungan.


“*Wind Magic – Vortex Shield*!”


Jurus listrik Tan Minjie terpental gagal mengenai target, Chun Ah memanfaatkan sisa angin disekitarnya untuk menambah daya hancur serangan semburan api miliknya. Fire Ball berukuran dua kali lipat tercipta, Minjie berpikir cepat sembari menarik napas panjang.


“Water Magic – Tidal Wave!”


SSSSHHHH!!!


Chun Ah menggebrak tanah sehingga muncul semacam pilar batu dari titik dia berdiri yang menyelamatkan dirinya atas gelontoran air berdebit luar biasa. Seketika arena pertandingan seperti tergenang banjir, kabut juga mulai menutupi pandangan tuk kesekian kalinya disebabkan hawa panas maupun dingin saling bertemu.


“Belum selesai! Water Magic – Fairy Fountain!”



Lima semburan terbang keatas mengincar lawan, Chun Ah terlambat mengenali ancaman akibat semua asap putih disekelilingnya. Meskipun begitu dia tidak menyerah dan tetap berusaha membuat bola tanah menyelimuti tubuhnya.


“Earth Magic – Stone Cage!”


“Kena kau! Lightning Magic – Lightning Arrow Hit!” seru Tan Minjie penuh konsentrasi.


JDUARRR!!!


Panah petir bergabung dengan sihir lima air mancur Minjie kemudian menghantam perlindungan elemen tanah Chun Ah. Ledakan hebat terjadi, kabut perlahan mulai menipis. Memperlihatkan tubuh Chun Ah yang tergeletak basah kuyup ditengah lokasi pertandingan.


WOOO!!!


Teriakan semangat nan antusias pecah, hampir semua penonton bangkit dari tempat duduk masing – masing. Pertarungan barusan benar – benar menghibur serta menakjubkan, meski hanya sebatas duel antara Forging Qi.


Tan Minjie menangkap tombaknya yang akhirnya terjatuh ke tanah sebelum menopang badannya supaya tak tumbang terjerembab, senyum puas menghiasi wajahnya. Inilah saat – saat paling dia nantikan, ketika tatapan mata dan sorakan diarahkan kepadanya.


Lu Xiulan menanyakan pendapat Bing Lian mengenai pertandingan tadi masih sambil bertepuk tangan, Lian cuma terkekeh pelan sebentar. Sesudah duduk kemabali barulah pemuda tersebut menjawab.


“Sebenarnya kemampuan mereka berimbang, elemen petir Minjie akan dikalahkan oleh elemen angin Tuan Muda Ketiga. Sementara api Chun Ah dapat dinetralisir air Saudara Tan, dia beruntung memiliki lebih banyak variasi sihir dari musuhnya. Sekarang mari sambut Sang Pemenang dengan senyuman....”


------><------


Ketiga pertandingan berikutnya tidak sesengit duel antara Tan Minjie melawan Chun Ah, meskipun tetap seru karena akhirnya musuh Yin Kiew dan Bing Lian tidak mengundurkan diri. Sehingga kedua anak yang diprediksikan akan menjadi finalis itu turun menunjukan kebolehannya.


“Junior Bing....aku minta maaf, mohon bimbingannya....” sapa seorang pemuda memberi hormat.


“Ahahaha....kenapa Senior meminta maaf? Jangan sungkan, mari kita bertarung secara jujur serta adil” Lian tertawa canggung sembari menggaruk – menggaruk kepalanya bingung harus merespon bagaimana.


Bing Lian menarik keluar Last Iron dari sarungnya, seketika ribuan pasang mata terkunci kesana. Pusaka tersebut memiliki aura tak biasa melapisinya, Yang Wei disertai rombongan Legendary Sword Valley pernah menghadapi langsung kehebatan senjata perak barusan jadi bersikap biasa saja.


Musuh Lian ternyata juga adalah sesosok pendekar pedang sehingga tanpa basa – basi maju mengarahkan bilah tajam ke sekujur tubuh si pemuda berambut putih. Namun sayang setelah lima menit berlalu, belum ada satupun luka sayat menghiasi tubuhnya.


TRANG! TRING! TRANG!


Lian hanya berlindung dan membelokan setiap arah serangan musuhnya, tiap sihir yang dilancarkan pun ikut sia – sia karena Bing Lian selalu berhasil menangkal semuanya dengan tepat. Napas laki – laki tersebut perlahan tapi pasti mulai memburu, pandangannya juga terasa kabur.


Melihat lawannya telah kepayahan, Lian bergerak cepat menggunakan First Snow Step untuk mendorong pria tadi keluar arena. Kejadian hampir sama terulang sewaktu giliran Yin Kiew, seorang junior perempuan yang menjadi musuhnya melakukan serangan membabi buta.


Tepat ketika merasa sukses mengenainya, cengkraman tangannya tembus mengenai tubuh Yin Kiew seolah tengah berusaha menangkap udara kosong. Sebelum gadis itu sempat bereaksi, Yin Kiew menghantam tengkuknya menggunakan gagang pedang hingga kehilangan kesadaran.


Dilain sisi Lu Xiulan agak berusaha lebih keras menghadapi lawannya, sang lawan menggunakan senjata berupa tombak seperti Tan Minjie jadi sulit untuk maju. Jangkauan serangannya terlampau luas menyebabkan Xiulan harus berpikir dua kali waktu mendekat.


Melempar pisaupun terbilang percuma sebab respon remaja laki – laki disana cukup baik, akhirnya Lu Xiulan mengaktifkan sebuah sihir elemen kayu demi membuat semacam hutan mini menyelimuti arena. Ia memanfaatkan dahan – dahan tanaman tersebut tuk berkamuflase juga berpijak.


Dalam hitungan detik darah segar melapisi tubuh lawannya, dia jelas kesulitan membaca gerak gerik Lu Xiulan. Memotong habis seluruh pohon disekitarnya bukanlah pilihan tepat karena hanya akan membuang – buang tenaga sebab Xiulan dapat segera menambal kehilangannya secepat kilat.


Seakan mengalami jalan buntu mengakibatkan musuhnya merasa frustrasi kemudian menyerah, kehilangan banyak cairan menambah tingkat stres dirinya. Dengan begitu kursi peserta semi final dipastikan milik Tan Minjie, Bing Lian, Yin Kiew, dan Lu Xiulan.


“Apa kalian serius mengikuti seleksi ini?” celetuk Tan Minjie kepada tiga sahabatnya menyadari pertandingannya sangat berat sementara mereka melewatinya hampir tergolong santai.


Babak berikutnya diputuskan untuk diadakan besok karena hari sudah mulai gelap, para penonton meninggalkan stadion sambil saling berdiskusi seru. Kebanyakan membahas kemungkinan pada duel pertama empat besar, yaitu Lu Xiulan melawan Yin Kiew.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.