
Ternyata Xiulan telah menanamkan semacam akar yang meyatu dengan tanaman pengikat Yin Kiew, begitu teknik elemen apinya diaktifkan. Hawa panas langsung merembes cepat menuju target, kobaran melalap semuanya sampai hangus kemudian meledak hebat ketika mengenai ujung dari kayu tersebut.
JDUAARRR!!!
Asap membumbung tinggi ke angkasa, bahkan saking besarnya dampak jurus barusan. Penonton ikut berkeringat, semua bertanya – tanya bagaimana nasip Yin Kiew selesai menerima serangan dahsyat gabunan elemen api dan kayu.
Ketika masing – masing orang masih berandai – andai, secara mengejutkan pilar api di tengah arena mulai bergerak. Kobaranya mulai berputar seolah sedang megelilingi sesuatu, nampak siluet berjalan santai seakan tidak terpengaruh oleh api disekitarnya.
Semua menarik napas kencang menyadari Yin Kiew berhasil selamat tanpa mengalami luka sedikitpun. Tiupan angin kencang mengitari tubuhnya berfungsi layaknya pelindung yang mempunyai pikiran sendiri.
“Tak mungkin....” Lu Xiulan menggertakan gigi, jika teknik sekuat barusan tak mempan. Ia harus melakukan apa lagi supaya bisa mengalahkan Seniornya itu.
“Wind Goddess Shawl”
“Angin disekitarnya membuat tubuh Senior Yin seratus persen aman dari jurus api Xiulan” jelas Bing Lian melihat tatapan bertanya Tan Minjie.
Lu Xiulan memegangi bagian perutnya akibat tebasan pertama Yin Kiew yang menyebabkan dirinya terpental, darah segar mengalir keluar. Kalau terus dibiarkan dalam hitungan menit pasti dia tidak dapat bergerak seleluasa sekarang.
“Berdirilah Xiulan!” Yang Wei bangkit terus menyorakinya agar tetap bertarung.
“Senior Yang.....kau tau pertandingan hampir berakhir.....kualitas Yin Kiew masih berada satu level diatasnya, andai tingkat praktik keduanya sama mungkin masih ada kesempatan” komentar Liao Mei pelan.
“DIAM!”
Yin Kiew mengatur napasnya sesaat sebelum melesat, tiupan angin besar nan kencang menghempas arah bagian belakang tempatnya berdiri sebelumnya. Menyebabkan teriakan kaget penonton pada lokasi tersebut.
Lu Xiulan berusaha sekuat tenaga untuk mundur lalu melemparkan sepuluh pisau demi menghambat laju musuhnya. Sewaktu benda tajam itu hampir menancap pada dahi Yin Kiew, tubuh si putri Patriach menguap seperti asap kemudian terpecah menjadi lima.
Posisi Xiulan dalam bahaya karena sudah siap disergap oleh masing – masing tiruan Yin Kiew, dia tidak tau diantara mereka mana yang asli. Kelimanya bergerak bersamaan sembari mengayunkan pedang dengan tatapan serius.
SRAT!!!
“Akhhh....!!!”
“Fake Crow Clone!”
Xiulan lagi – lagi harus rela badanya mendapat luka tebasan pedang, namun kali ini cukup dalam. Yin Kiew belum mau berhenti, permainanya semakin cepat menunjukan niatnya tuk memenangkan pertandingan. Sementara Lu Xiulan meskipun mengalami cedera parah tetap berdiri menggenggam kuat senjatanya.
TRANG! TRING! TRANG!
“Hentikan kumohon hentikan....!!! Lian!?” Minjie mengguncang tubuh sahabatnya.
Tetapi Bing Lian cuma menggeleng pelan, walaupun sorot mata birunya khawatir. Dia tidak bergerak pertanda kalau dirinya menolak ide Tan Minjie tadi. “Jika kita menghentikannya, itu sama saja menghina kerja keras Xiulan”.
“Tapi.....tapi.....kalau dibiarkan Lu Xiulan akan....”
“Keparat!—“
“Hei?! Kau mau apa?” tanya Fan Li sigap menghadang Yang Wei.
“Menghentikan semua omong kosong ini!”
“Jangan gegabah, kau tak sedang berada di Legendary Sword Valley. Lagi pula Grand Elder menjadi pengadilnya, beliau pasti menghentikan pertandingan kalau sudah diluar kendali”
Yin Jiang memperhatikan pertarungan itu dengan cermat, sebenarnya sejak Yin Kiew berhasil melukai Lu Xiulan menggunakan Fake Crow Clone ia sudah berniat mengakhiri pertandingan. Tapi tatapan penuh tekad Xiulan menghambatnya.
“Kenapa Senior Yin begitu kejam!”
“Bukan kejam, begitulah caranya menunjukan penghormatan kepada semangat pantang menyerah lawannya” Lian memberitahukan kebenaran kepada Minjie.
“Beak King Crow!”
SLASH!!!
“Hah....hah....hah....”
Tak ada sorakan kemenangan, semua penonton terbius atas betapa kerasnya usaha Xiulan bertahan. Ketika Yin Jiang mengangkat tangan hendak mengumumkan hasil dari pertandingan tadi tiba – tiba. “Pemenang semi final pertama Seleksi Murid Suci White Crow Sect adalah—“.
“Belum....ugh....hah...Grand Elder....aku....masih bisa.....”
“Xiulan!?” teriak Tan Minjie dan Yang Wei bersamaan.
Dengan tubuh dipenuhi keringat serta bermandikan darah, Lu Xiulan bangkit berdiri. Membuat takjub para penonton maupun petinggi sekte yang menyaksikan. Dia mengangkat pisaunya siap bertempur sekali lagi.
“Xiulan....” Yin Jiang menggelengkan kepala.
“Tenang saja, aku mampu....Senior Yin majulah....aku harus melawan dirinya di final.....”
“Junior Lu kau sudah....”
“Tidak!!! Jangan berlagak seolah mengerti! Akulah yang paling paham mengenai tubuhku sendiri! Lihat in—“
PLUK!
Ketika Xiulan mencoba melemparkan pisaunya, pijakannya oleng akibat kehilangan keseimbangan sehingga tubuhnya hampir terjerembab. Namun sebelum menghantam lantai, gadis tersebut menabrak sesuatu. Aroma tubuh khas memancar dari kain dihadapannya.
“Kau telah bekerja keras.....istirahatlah”
“Lian....?”
Bing Lian muncul di tengah arena menopang badan Xiulan agar tidak terjatuh, mata Lu Xiulan perlahan berair. Pipinya mulai dibasahi cairan bening bercampur darah, dia menangis sejadi – jadinya pada pundak sang pemuda berambut putih.
“Hiks.....maaf.....aku tidak bisa menepati janjiku....padahal kau sudah membuatkanku makanan tadi pagi.....hiks....maaf....”
“Kau tak perlu meminta maaf.....perjuanganmu tadi sungguh hebat, aku bangga padamu....”
“Maaf....hiks....Lian...aku....hiks.....aku ingin menang....agar.....hiks....pantas berada disisimu....” isaknya sendu sebelum pingsan.
Lian tersenyum tipis kemudian merangkulnya supaya tidak tergelincir, Yin Kiew mengeluarkan sebuah pil dari balik jubahnya dan melemparkanya ke arah remaja laki – laki itu. “Junior Bing, tolong berikan untuk Junior Lu”.
SYUU!!! CTAK!!!”
“Terima kasih Senior Yin, Grand Elder silahkan dilanjutkan. Biar aku yang membawanya” Lian menangkap pemberian Yin Kiew lalu menggendong tubuh terkulai lemas Lu Xiulan keluar arena untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Suara tepuk tangan mengiringi jalan mereka, semua hadirin berdiri sebagai tanda penghormatan atas pertarungan menakjubkan tersebut. Bagaimana cara Xiulan terus bertarung tanpa lelah melawan Yin Kiew meskipun perbedaan praktik keduanya terbilang cukup jauh.
PROK! PROK! PROK!
“Dengarlah.....semua orang sangat menghargai tekadmu.....” bisik Bing Lian lembut sembari menatap wajah terpejam gadis ditangannya.
Setelah memasukan pil dari Yin Kiew ke mulut Lu Xiulan dan memastikan kondisinya membaik, barulah Lian meninggalkan si anak perempuan tadi kepada tabib – tabib White Crow Sect. Ia mengikat rambut putihnya ketika kembali menuju arena menunggu namanya dipanggil.
Yin Jiang mengambil keputusan tuk beristirahat sebentar, kurang lebih tiga puluh menit sebelum memulai pertandingan semi final kedua. Saat akhirnya para peserta diminta masuk, Bing Lian bersama Tan Minjie berjalan melalui sudut berbeda.
Keduanya saling memberi hormat kemudian memasang sikap siap tempur, pakaian Minjie perlahan dibasahi keringat dingin. Hanya dengan keberadaanya, Lian dapat memberikan tekanan begitu besar. Sekarang dia memahami mengapa lawan – lawan pemuda ini sebelumnya kebanyakan mengundurkan diri.
“Minjie?”
GLEK!
“Yaa....” jawab Tan Minjie setelah menelan ludah berat.
“Sebaiknya kau jangan lengah, aku sedang tidak ingin membuang – buang waktu. Jika kau tak serius, pertarungan bakal berakhir dalam hitungan detik.....” Bing Lian menarik keluar Last Iron, Qi berkepadatan tinggi melapisi bilahnya hingga sulit dikenali.
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.