
“Hah.....aku sebenarnya cukup percaya diri akan kemampuanku menentukan arah tapi.....kalau begini terus bisa – bisa seminggu pun belum tentu berhasil melewati hutan ini” Lian terduduk lesu.
Dia sudah berjalan entah berapa jam lamanya dan jejak kereta kuda milik rombongan White Crow Sect telah tak nampak lagi. Beberapa kali Lian menemukan persimpangan, awalnya hanya ada dua pilihan. Kiri maupun kanan.
Tapi seiring waktu cabang – cabang jalan setapak tersebut bertambah hingga menyentuh angka dua puluh. Frustrasi, Lian akhirnya memutuskan beristirahat sebentar sembari membuat obornya yang ke delapan.
Untunglah ranting pohon juga bebatuan melimpah berserakan pada permukaan tanah hutan, baru saja ia berhasil menyulut api. Suara tawa perempuan saling sahut menyahut membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.
GLEK!
“Aku memang tinggal sendirian di pertanian namun....aku tau pasti bunyi barusan bukan pertanda baik”
Lian bukanlah seorang penakut, tetapi juga tidak sepemberani perkiraan banyak penduduk Windless Heights Valley. Bagaimanapun makhluk halus macam siluman tetap saja mengerikan bagi bocah berumur sebelas tahun.
Dari pertama kali melangkah masuk, dia merasa seperti diawasi oleh banyak mata. Awalnya Lian mengira para hewan buas ini tak berani menyerang karena dirinya membawa api, namun jika sampai ternyata mereka bukan binatang itu akan menjadi fakta yang sangat menyeramkan.
Ketika hendak mengambil langkah seribu, Lian mendapati melalui sudut matanya sesosok anak perempuan mengenakan gaun hijau. Walau cuma terlihat punggungnya saja, Lian yakin sekali kalau gadis tersebut memiliki kecantikan luar biasa.
“Hihihi kejar aku kalau bisa”
“Eh? Hei tunggu!”
Tanpa pikir panjang Lian segera mengikuti arah perginya dan meninggalkan jalan setapak, dia buru – buru menerobos kabut takut jika tak cepat maka kehilangan jejak. Setelah kurang lebih tiga puluh menit mengekor, si gadis berhenti.
“Hah....Nona....maaf sebelumnya.....tapi bersediakah kau memberitahu jalan ke—“
SHAA!!!
Jantung Lian hampir copot sewaktu kepala ular hijau raksasa muncul entah dari mana menelan tubuh anak perempuan barusan. Dia berteriak keras sambil berusa melindungi bagian tubuhnya, Lian memejamkan mata kuat – kuat bersiap menerima kemungkinan terburuk yang tidak kunjung datang.
“Apa – apaan?”
Ternyata begitu berani melihat lagi, ular mengerikan tadi sudah menghilang. Bahkan tak meninggalkan jejak sedikitpun. Lian yakin pasti minimal ada beberapa dahan pohon patah mengingat ukuran tubunya sangatlah besar.
“Hehehe....kemari – kemari! Temukan aku!”
Dari balik kabut, kali ini nampak anak gadis lainnya. Lian bisa tau dari warna gaun serta postur tubuhnya dengan sekali lihat. Karena tidak punya pilihan, dia memutuskan mengikuti sosok baru tersebut. Namun waktu Lian berusaha menyentuhnya, ia berubah menjadi cahaya putih layaknya kunang – kunang.
Kejadian seperti itu terus berulang, ada wanita muda lain yang saat Lian berusaha bicara padanya dibungkus oleh kelopak bunga raksasa lalu menghilang ke dalam tanah. Gadis pemain seruling dengn nada – nada tersendat tapi berkesan indah. Dan terakhir perempuan bertubuh mungil yang dikelilingi hewan – hewan buas bermata merah menyala.
Kelelahan, Lian kehilangan keseimbangan akibat tersandung akar pohon kemudian terporosok jatuh dari tebing tidak terlalu landai hingga tak sadarkan diri. Waktu membuka mata, mulutnya melongo melihat sebuah gerbang indah nan megah dikejauhan.
Ia menoleh ke belakang dan mendapati hutan berkabut sebelumnya, secara ajaib Lian berhasil keluar bahkan tanpa dirinya sendiri tau bagaimana caranya. Dia memberi hormat penuh terima kasih sebelum bergerak cepat menuju pintu masuk White Crow Sect.
------><------
“Ketika yang lain sedang melihat calon – calon murid baru penuh antusias, kita malah terjebak di sini....”
“Kau benar, sialnya aku dengar beberapa memiliki kecantikan yang luar biasa. Walaupun aku cuma bisa memimpikan Senior Yin Kiew, bukankah kesempatan mendapatkan adik – adik manis tersebut masih terbuka lebar. Langit? Mengapa?”
Sepasang pemuda ini adalah anggota White Crow Sect, keduanya ditugaskan menjaga gerbang terluar waktu sekte sedang mengadakan pendaftaran murid baru. Mereka hanya mampu meratapi nasip buruk itu dan menelan bulat – bulat keluh kesah milik masing – masing.
Satu menit kemudian tiba – tiba dua pemuda penjaga gerbang memasang sikap siaga. Meski jaraknya masih terlampau jauh, bukan halangan berarti bagi Cultivator seperti mereka. Ada sesosok anak laki – laki tengah menuju tempat keduanya berdiri.
“Berhenti, katakan siapa dirimu serta tujuanmu kemari” salah satu langsung menodongkan tombaknya.
Lian memberitahukan semua latar belakang juga alasan dirinya datang ke White Crow Sect dengan napas terengah – engah. Para penjaga gerbang saling menatap satu sama lain iba, karena mereka tau perasaan Lian yang ingin menjadi Cultivator tuk mengubah nasipnya. Sebab keduanya pun dulu begitu.
“Maaf Saudara kecil, tapi pendaftaran sudah ditutup semalam. Bahkan beberapa murid telah memulainya sejak dua minggu lalu”
“Oh....ahahaha begitu rupanya.....sayang sekali. Terima kasih atas informasinya Senior, kalau begitu aku permisi”
Pasangan penjaga gerbang merasa tak enak hati tapi mau bagaimana lagi, peraturan tetap peraturan. Sedetik berselang waktu Lian membalikan badan. Muncul dua sosok beraura pekat memanggil, salah satunya pria sepuh berjanggut panjang. Sedangkan temannya adalah laki – laki berwajah tampan dengan mata perak.
“Berhenti”
“Hmm?”
“Patriach!” kedua penjaga segera berlutut, wajah mereka pucat. Tidak menyangka kalau ketua sekte akan menampakan diri di sana.
“Izinkan dia masuk dan ikut serta, Instruktur Gong? Maukah kau mengantarkannya ke lokasi ujian?”
“Tentu Patriach, kemarilah nak. Boleh aku tau namamu?” sang kakek berjenggot tersenyum ramah.
“Nama saya Lian, terima kasih Patriach!” tanpa menunggu bocah tersebut bersujud penuh rasa syukur.
Patriach White Crow Sect cuma mengangguk sebelum menghilang dalam satu tarikan napas, sementara Intrusktur Gong mengajak Lian untuk ikut bersamanya. Ketika hawa keberadaan mereka bertiga sudah hilang, barulah kedua pemuda penjaga gerbang dapat bernapas lega.
“Hah.....hah....hah....apa – apaan itu tadi? Aku tidak percaya melihat Patriach sendiri datang ke gerbang terluar demi bocah tak jelas—“
PLAK!
“Bodoh! Kecilkan suaramu, kau cari mati hah?! Bagaimana kalau Patriach sampai mendengarnya!?”
“Maaf”
“Tapi menurutmu bukankah anak tadi menarik? Dia bilang kalau dirinya mengekor kereta rombongan sekte untuk datang ke sini? Bagaimana bisa?”
“Eh? Setelah dipikir – pikir kau benar juga!? Kok bocah tersebut mampu melewati Illusionary Mist Forest?!”
Illusionary Mist Forest merupakan hutan gaib yang mengelilingi markas White Crow Sect. Sejarah mengatakan kalau para pendiri sekte menggunakan formasi khusus demi membuatnya sangat sulit dilewati.
Siapapun orang bukan anggota White Crow Sect berusaha melewatinya akan tersesat paling sebentar sepuluh tahun. Ini menjadikan Illusionary Mist Forest menjadi tembok pertahanan utama White Crow Sect dari serangan sekte – sekte lain.
“Aku tak tau seberapa beruntung dia, namun lolos dari sana adalah pencapaian tersendiri”
“Hei? Apa kau mengetahui tentang kisah legendaris gerbang terluar ini?”
“Mmm? Yang mana?”
“Katanya setiap kali Patriach atau Matriach White Crow Sect datang menjemput tamu secara langsung kemari. Orang itu mempunyai peran penting dan berpotensi mengguncang dunia Cultivator”
“Kau hanya mengarang cerita”
“Tidak! Kisah barusan tertulis dalam sejarah sekte, ratusan tahun lalu Old Matriach kita pernah menyambut seorang jenius praktik di sini. Kejadianya hampir sama persis seperti yang kita lihat sebelumnya”
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.