The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 6 - Father vs Son



Mao Peng tumbuh sebagai salah satu Demon paling berbakat di sukunya, ilmu praktiknya tergolong mengalami peningkatan sangat pesat ketimbang anak – anak lain yang seumur. Sehingga dalam waktu relatif singkat, Mao Peng mengambil alih kepemimpinan.


Sebenarnya bangsa Demon tersebar luas di seluruh penjuru dunia, mereka terbagi menjadi beberapa suku kemudian berperang tuk menaklukan manusia. Terkadang berhasil menguasai, tetapi bisa juga berakhir musnah.


Mao Peng termasuk ketua suku Demon tersukses, setelah mendapat gelar Demon King. Tidak terhitung berapa benua sudah dihancurkannya. Pasukan Mao Peng dikenal ganas juga kejam, waktu terus berlalu dan sampailah dia ke titik jenuh.


Perasaan puas atas keberhasilan menghancurkan peradaban manusia mulai menghilang, kebosanan perlahan menggerogoti dirinya. Hidup selama ribuan tahun tanpa menemui hal menarik malah mengakibatkan Mao Peng frustrasi sendiri.


Itulah sebabnya ketika secara tak sengaja menemui Hao Ren yang merupakan Cultivator Manusia yang mencapai Deva Realm membuatnya kegirangan bukan main dan memerintahkan para anak buahnya mengacaukan di Huawai.


Berharap jika perang terjadi, suatu hari pria berjuluk Mask Sage tersebut mampu mencabut nyawanya. Namun penantian Mao Peng tidak membuahkan hasil, usia Hao Ren semakin bertambah tua. Perbedaan umur hidup antara bangsa Demon dengan manusia terlampau jauh.


Sehingga persentase kesempatan mati yang Mao Peng dambakan terus menipis, saat mengira semua akan berakhir begitu. Mao Peng bertemu Bing Lian kecil, seorang anak istimewa nan berbakat. Disitulah terbersit sebuah rencana, Mao Peng merasa seolah langit menjawab doanya. Jika tidak bisa menemukan orang untuk membunuh dirinya, bagaimana kalau ia menciptakan sendiri si pembunuh?.


------><------


“Kau nampak tidak terkejut Lian’er, sejak kapan kau menyadarinya?” Mao Peng turun dari singgasan kemudian berjalan menghampiri Lian.



“Waktu membentuk Immortal Foundation, aku bertemu Heavenseal. Dia menceritakan semuanya padaku”


“Ahhh....pak tua itu....tak pernah tau cara menjaga mulutnya”


Ketika pertama kali mengetahui kebenaran hidupnya, Lian biasa saja. Bahkan ekspresi sedih maupun kecewa tidak terlintas sedikitpun. Menyebabkan Heavenseal sendiri bertanya – tanya, karena sesungguhnya Bing Lian menyayangi Mao Peng layaknya anak kepada ayah. Bersyukur Sang Demon King bersedia mengangkat serta mengurusnya saat bayi.


Fakta tersebut malah semakin menguatkan tekad Lian membuka ketujuh gerbang Immortal Foundation dan mencapai tahap tertinggi tingkat – tingkat praktik berikutnya. Agar impian Mao Peng untuk mati dapat ia wujudkan.


“Lagi pula.....senang melihat kalian kalian baik – baik saja. Kak Song Ah, Kak Yin Xia” kata Lian memberi salam ke dua perempuan di antara pasukan Mao Peng.



“Tuan Muda Lian.....”


Sering kala perang, Bing Lian melihat beberapa wajah tidak asing menghuni barisan Demon. Mereka adalah orang – orang yang kadang mengunjungi kediaman Mao Peng dulu kemudian sering bermain bersamanya.


Dengan kata lain, sedari kecil Lian sudah dikelilingi oleh para jenderal bangsa Demon dan tumbuh bersama. Padahal orang – orang tersebut melaporkan segala perkembangan medan pertempuran kepada Mao Peng saat itu.


“Bagaimana dengan Ren? Apa dia mengetahuinya?”


“Iya, setelah melihat Manual Praktik milikku yang tak biasa. Guru langsung menyadarinya”


“Hehh....instingnya memang tajam. Tapi syukurlah ia tetap bersedia mendidikmu, baiklah mari kita selesaikan”


“Inikah Continental Eater? Pedang yang melenyapkan banyak sekali benua, Ayah sungguh ingin menitipkannya padaku dahulu?” Lian memperhatikan senjata hitam pekat di tangan Mao Peng.


Sang Demon King tersenyum hangat, “Wawasanmu luas sekali Lian’er, benar sekali. Jika kau membawanya tidak akan ada Demon di seluruh Huawai berani menyentuhmu. Tapi sayang dia agak sedikit kurang bersahabat.


Dengarkan semua, aku akan bertarung satu lawan satu melawan putraku. Apapun hasilnya kalian harus terima, jangan salah sangka. Aku pasti menggunakan seluruh kemampuan, namun semisal aku mati. Tolong ikuti kata – katanya, entah kedepannya kalian mungkin disegel atau dipindahkan. Ini adalah perintah terakhirku sebagai Raja....”


Selesai Mao Peng mengucapkan kalimat tadi, Lian memasang kuda – kuda. Muncul energi Qi berbentu bunga teratai menghiasi masing – masing telapak tangannya, lalu entah dari mana keluar lima hewan suci mengelilingi tubuhnya.


“Ice Lotus Holy Palm”


“Jurus yang sangat sesuai denganmu” puji Mao Peng.


“Terima kasih, Ayah”


Keduanya maju pada waktu bersamaan, aura hebat memancar ke seluruh penjuru. Waktu serangan antara Demon King dan Ice Emperor bertemu, ledakan dasyat menggetarkan Huawai.


------><------


Di tengah daratan yang luluh lantah, seorang pria berambut putih berjalan terseok – seok sembari memegangi luka menganga pada bagian perut. Tekad kuat biasa mata birunya mulai memudar, setelah berjalan seolah hampir selama ribuan tahun.


Bing Lian kehilangan keseimbangan lalu terjatuh, menggunakan sisa tenaga. Dia menyandarkan diri ke salah satu dahan pohon mati. Pertarungan tiga hari tiga malam melawan Mao Peng benar – benar menguras seluruh kemampuan Lian.


Walau keluar sebagai pemenang, jauh dalam lubuk hatinya Lian sadar jika saja sang Ayah angkat sungguh mau menghabisinya. Banyak sekali kesempatan emas sengaja ia lewatkan, perasaan kasihnya kepada Bing Lian setelah membesarkan dan memantau perkembangan anak itu menjadi penghalang.


“Uhuk....uhuk....waktuku sudah tak lama lagi.....harta – harta suci milikku entah berserakan di mana....maaf membuat kalian cedera, sekarang semua telah berakhir. Pergilah....pulihkan kondisi masing – masing”


Lian membentuk kombinasi segel tangan begitu cepat, lima bola cahaya keluar dari tubuhnya sebelum terbang berpencar. Selesai melakukan tindakan barusan, darah segar merembes keluar melalui mulutnya lalu menetes ke rambut bewarna seputih salju.


Akibat kehancuran Dantian miliknya, Lian tidak bisa lagi menyimpan Qi. Dia terus mengikis masa hidupnya demi menggunakan kemampuan praktik, para abdi Mao Peng tak memberikan perlawanan sedikitpun saat Bing Lian memberitahu akan menyegel mereka.


“Berikutnya giliiranmu.....” ia melirik Continental Eater ditangan kanannya, pedang yang sama digunakan oleh dirinya tuk menusuk jantung Demon King.



Energi gelap perlahan namun pasti menggerogoti sekujur lengan Lian, pria berjuluk Ice Emperor tersebut tertawa pelan. Mengingat perkataan Mao Peng tentang betapa tak bersahabatnya Continental Eater bukanlah bualan belaka.


Bing Lian menarik napas dalam – dalam dan melemparkan pedang tadi tinggi – tinggi, tanah sekitar lokasi tempatnya duduk mulai dilapisi es. Bahkan tubuh Lian lambat laun ikut membeku, dia mendongakan kepala menatap langit sambil tersenyum puas.


“Semoga akhirnya benua ini damai.....tugasku sudah selesai.....”


PRANK!!!


Bertepatan ketika menancapnya Continental Eater, menghilanglah raga Lian bersama seluruh hal yang berhubungan dengan Demon. Hujan turun membasai Huawai selama satu tahun, seakan menangisi kepergian Sang Ice Emperor.


Segel pembungkus markas Emperos Alliance Sect runtuh, menandakan kalau si pembuat membatalkan tekniknya. Tak berselang lama, nampak beberapa sosok keluar kemudian buru – buru terbang beprisah seperti orang mencari sesuatu.


Sementara di benua bagian Selatan, ada Raja menangisi sebuah benda kecil berkilauan yang pecah. Membuat para menteri serta penasehat bingung tujuh keliling.


“Yang Mulia.....”


“TINGGALKAN AKU SENDIRI!!!” aura hebat membuat semua penghuni istana kesulitan bernapas, saat suanan kembali tenang. Dia menempelkan dahi penuh penyesalan kepada kristal sebelumnya sembari berbisik.


“Saudara Bing.....kenapa.....”