The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 81 - Masuk



Tian Xiaoye tengah menyisir rambut putih panjangnya didepan cermin yang berada di kamarnya, matanya menatap kosong. Rencana berkeliling Hoerju mereka gagal total akibat dirinya menangis tak terkendali, dia sangat menyesal merusak hal tersebut karena begitu dinantikan oleh Di En. Meski sang senior sudah bilang tidak apa – apa tetap saja Xiaoye merasa bersalah.


Gerakan tangan si gadis terhenti ketika alunan suara seruling perlahan mencapai telinganya, Tian Xiaoye berdiri cepat. Lagu ini entah mengapai familiar baginya, selama setengah jam lantunan itu berlanjut. Xiaoye cuma diam mendengarkan dengan seksama.


Saat menyadari kalau permainan hampir berakhir, dirinya melesat keluar kamar tergesa – gesa. Ada firasat mengatakan jika sampai kehilangan jejak mengenai sosok dibalik musik indah tersebut dia bakal menyesal seumur hidupnya.


BRUAKH!


“Junior Tian? Kupikir kamu telah tidur....”


Selesai membanting pintu hingga terbuka, Yang Xuefeng dan Di En menyambutnnya. Ternyata keduanya bersama hampir seluruh penghuni penginapan Noble Treasure Shed berada diluar ruangan demi menikmati lagu misterius tadi.


Tian Xiaoye tidak menjawab kemudian segera memanfaatkan ilmu meringankan tubuh untuk mencari sumber suaranya. Di En terkejut atas tindakannya, namun Yang Xuefeng sigap menyadarkan pemuda itu supaya pergi menemani Xiaoye.


Panggilan cemas Di En tak digubris olehnya, Tian Xiaoye terus naik cepat menuju puncak bangunan seakan sedang berlomba dengan waktu. Benar saja satu menit berselang bunyi serulingnya menghilang. Bertepatan kaki Xiaoye menginjak atap Noble Treasure Shed.


Sambil mengedarkan pandangan gelisah serta mengatur napasnya kembali, pandangan Tian Xiaoye terhenti ke satu titik. Tempat seorang wanita duduk diantara bunga – bunga bersama sebuah kecapi yang baru usai dimainkan dihadapannya, ia menoleh lalu tersenyum tipis.



“Aku tak menyangka bakal kedatangan tamu penting....”


“Permisi....Senior, aku ingin bertanya apakah lagu barusan milik anda?”


“Tidak...., sama sepertimu. Aku hanya mengiringinya saja.....”


“Apa Senior tau siapa orang dibalik permainan seruling tersebut?”


“Untuk gadis berjuluk Dewi Pedang Kembar, kau terlalu banyak bicara....”


TRING! JDUAR!


Ketika perempuan itu memetik kecapinya, hembusan angin kencang menerjang Xiaoye. Atap disekelilingnya tergores seolah terkena sayatan benda tajam. Untung Di En tiba tepat waktu menepis jurus aneh miliknya, tatapan Di En menajam murka sementara musuh dihadapannya terkikik geli.


“Hihihi....wah wah wah....lihat siapa ini? Anjing Twing Sword Mountain yang mendapat gelar Seven Young Lord....”


“Qiao Yinyue....” geram Di En.


Tian Xiaoye terkejut mendengar kata – kata Di En, setaunya Qiao Yinyue hampir sama dengan Hua Riyun asal Heaven Flower Garden. Putri dari salah satu murid langsung Empress Emperors Alliance Sect, yaitu Tone Empress.


Diketahui Yinyue cukup berbakat sebab sudah mencapai Earth Foundation Late – Stage diumur begitu muda. Meskipun Di En merupakan Heaven Foundation, menghadapi Qiao Yinyue tetap membahayakan nyawanya. Mengingat identitasnya sebagai Cultivator terkemuka generasi muda aliran hitam.


“Aku tak menyangka Death Melody Opera mengirimmu....”


“Huh!? Kau pikir aku berkenan? Sama sepertimu, aku pun mengasuh junior bodoh kemari agar tidak mati konyol di dimensi lain. Lagi pula aku masih seorang Murid Suci” Qiao Yinyue medengus kesal.


“Jangan berpikir kau boleh lolos begitu saja setelah berniat menyerang putri Patriach kami....!”


“Pftt!? Huahahahaha....memangnya kalian bisa apa? Ingat posisimu....sampah....”


Sebelum Di En maju menyerang, Yinyue menghilang bak terrtiup angin malam. Di En berdecak kesal kemudian menanyakan keadaaan Xiaoye, juniornya terdiam seribu bahasa sesaat sambil menunduk terus meminta maaf.


Di En menenangkannya, mereka harus banyak istirahat juga tidak tertekan karena hari memasuki gerbang Dimension Realm semakin dekat. Mengetahui adanya sosok seperti Qiao Yinyue membuat tekad Di En melindungi Xiaoye bertambah besar.


------><------


“Lian?” panggl Yin Kiew lembut sembari mengetuk pintu.


“Sebentar Senior Yin....”


KRIET...!


Yin Jiang, Yin Kiew, maupun Wu Kang mengangkat sebelah alis melihat penampilan baru Bing Lian. Ia memakai sebuah topeng terbuat dari giok hitam menutupi sebagian wajahnya. Benda itu menyelimuti kulit sekitar mata serta hidungnya.


“Kenapa menyembunyikan mukamu?” Yin Jiang menyeletuk tak mampu menahan diri.


“Ahh....tidak guru, cuma mau mencari suasana baru lagi pula aku tak ingin dikenali banyak orang....” balas Lian tersenyum santai.


“Hah....terserahlah, ayo kita pergi.....”


Jarak antara kota Hoerju dengan pintu Dimensional Realm terpaut sepuluh kilometer, cukup jauh. Tapi bukan hambatan berarti untuk Cultivator. Butuh sepuluh menit bagi rombongan White Crow Sect ditambah Wu Kang tiba disana.


Lautan manusia menyambut mereka, peserta ekspedisi memang diperkirakan sekitar lima ribu orang asal berbagai sekte maupun aliran berbeda. Bola mata biru Bing Lian terpaku kepada fenomena layaknya pusaran air raksasa di udara, entah kapan terakhir kali dia menjelajah dimensi lain. Dulu biasanya dia pergi sendirian tanpa rekan ke dalam sana.


Bukan karena tak memiliki kawan, namun ia memang mampu menyelesaikannya seorang diri. Wali Kota Hoerju yang hanya merupakan Core Formation Mid – Stage memberi kata sambutan singkat, ratusan Cultivator Nascent Soul sekitar situ membuat nyalinya ciut.


Yin Jiang sekali lagi mengingatkan kedua murid sektenya agar hati – hati, lalu menepuk pundak Wu Kang dan berpesan semoga beruntung. Lian tidak bisa mengenali siapapun disana sebab memang jumlahnya terlalu membeludak, dia sengaja meminta Yin Kiew juga Wu Kang berdiri didekatnya supaya tak terpisah.


Melihat antusias para Cultivator muda ini Bing Lian menghela napas lelah, karena tau nanti yang akan keluar pasti cuma beberapa saja. Banyak keluarga harus siap kehilangan putra – putrinya demi penjelajahan berbahaya itu, saat aba – aba diberikan. Seluruh peserta bergerak bersama seperti semut mengerubungi gula.


PSSYUUU!!!


Lian merasa tubuhnya berada diatas kapal yang tengah diombang – ambing ombak hebat, saat akhirnya sensasi barusan berhenti. Matanya melihat langit hitam berbintang, muncul perasaan lega aneh dihatinya menyadari tangannya menyentuh benda dingin familiar. Tempat ini entah mengapa tak terasa asing sedikitpun.


“Padang salju....?”


------><------


Bing Lian berjalan tanpa menurunkan kewaspadaan, dia berada di tempat yang berada dalam kondisi malam. Selain langit, hanya ada warna putih sejauh mata memandang. Nampaknya akibat terlempar ke dimensi lain semua peserta dipindahkan menuju titik – titik berbeda.


Itulah mengapa sekarang Lian tidak bersama Yin Kiew maupun Wu Kang, kedua rekannya pasti muncul pada lokasi tak terduga. Bisa dekat atau jauh tergantung kemana mereka dibawa oleh gerbang Dimension Realm Hoerju sebelumnya.


Lian mulai menjelajah santai, mungkin untuk sebagian generasi muda hal ini sangat menakutkan. Tetapi dari sudut pandang Bing Lian sekarang ia tengah menikmati perjalanan dihalaman belakang rumahnya. Cuaca dingin menambah perasaan menyenangkan baginya.


TRANG! BUKH! ROAAARR!!!


Suara berisik mencuri perhatian Lian, memanfaatkan ilmu meringankan tubuh. Bing Lian mencapai hutan berlapis salju, dia berhenti di dahan salah satu pohon. Lian mengamati pertarungan antara seorang gadis seusianya melawan sekumpulan Demonic Beast berwujud semacam beruang buta dengan bulu putih tebal.



Terdapat beberapa tubuh makhluk tersebut tergeletak disana, menandakan kalau si anak perempuan memberikan perlawanan sengit. Namun napasnya mulai memburu, Lian menduga semua karena Spirit Root miliknya kurang cocok pada situasi iklim sekarang.


Waktu para Demonic Beast menerjang bersamaan, Bing Lian menghela napas sebelum muncul dihadapan mereka. Cukup berbekal tatapan mata tajam, gerakan semuanya terhenti seketika. Masing – masing mundur menjaga jarak seolah pemuda itu musuh berbahaya, detik berikutnya kepala kawanan Demonic Beast tadi mulai berjatuhan. Lian menoleh kepada gadis dibelakangnya kemudian bertanya.


“Maaf jika Saudari tersinggung mendapat pertolonganku, tapi.....aku takut nanti menyesal jika berdiam diri saja. Kalau boleh tau.....apa Saudari berasal dari Heaven Flower Garden?”


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.