
“Amithaba....terima kasih Saudara Bing.....”
“Tidak tidak tidak, akulah yang seharusnya bilang begitu karena Saudara Wu repot – repot membacanya demi melindungi kami. Kau tak perlu sungkan Saudara Wu, silahkan lakukan tugasmu sebagai biksu membasmi jiwa – jiwa jahat....” Lian membalas ramah.
“Aku tidak pernah tau kau mengetahui banyak mengenai hal – hal seperti ini Lian’er” komentar Yin Jiang kagum.
“Sama....” Yin Kiew ikut nimbrung.
Percakapan Bing Lian dan Wu Kang mengalir bak air, layaknya kawan yang sudah lama tidak bersua. Keduanya bergiliran menghabisi Demonic Beast pengganggu perjalanan mereka sehingga membuat Yin Jiang maupun Yin Kiew bisa bersantai.
Wu Kang bakal melakukan gerakan sederhana kemudian mengakibatkan biji tasbih berukuran besar disekitar lehernya mengeluarkan cahaya. Kumpulan benda berbentuk bulat tersebut lalu melesat kesana kemari menghantam para makhluk jahat sampai menjadi bubur.
Sementara Lian cukup mengeluarkan energi dingin dari tubuhnya untuk membekukan lawan, terus menjentikan jari agar badan Demonic Beast yang terlapis es hancur berkeping – keping. Dia juga tinggal mengangkat tangan sebelum masing – masing Demonic Core melesat menuju genggamannya.
Bing Lian menawarkan sebagian kepada Wu Kang namun sang biksu menolaknya, Lian menjelaskan kalau ia menjualnya maka Wu Kang akan mendapat ribuan Spirit Stone. Tetapi Wu Kang tak bergeming sedikitpun.
“Saudara Bing....kami bukan membasmi Demonic Beast tuk mengumpulkan uang....”
“Hehehe....aku tau, hanya sedikit tes saja. Jika Saudara Wu menerimanya aku bakal bertanya – tanya apakah dirimu sungguh berasal dari Pure Heart Temple....” semua inti monster – mosnter barusan menghilang dalam sekejap ketika Lian memindahkannya ke Spatial Ring miliknya.
Wu Kang menggeleng – gelengkan kepala heran, jelas sekali kalau jalan pikirannya dan Bing Lian berbeda seratus delapan puluh derajat. Tapi entah mengapa ia punya perasaan dekat terhadapnya, Wu Kang merasa seolah tengah berbicara dengan Mahagurunya di Kuil.
Ada semacam kebijaksanaan tingkat tinggi tersembunyi dibalik sosok misterius si pemuda berambut putih. Hal yang jarang ditemui Wu Kang pada pribadi kebanyakan orang, bahkan Yin Jiang meski terbilang paling senior diantara mereka tidak memilikinya. Wu Kang menebak kalau Lian punya kemampuan membuat banyak individu mengikutinya.
“Bagaimana kabar Mahaguru Wu Zheng?”
Pertanyaan tiba – tiba Lian mengejutkan Wu Kang, dia tak pernah mengira akan mendengar nama Mahagurunya terucap dari bibir Bing Lian. Namun Wu Kang segera menjawab jika beliau baik – baik saja.
“Syukurlah.....” Lian mengangguk puas, pikirannya mulai melayang kemana – mana.
“Hehehe....”
“Kenapa kau tertawa Saudara Wu?”
“Ahaha maaf, soalnya Saudara Bing berbicara seakan mengenal Mahaguru....” ujar Wu Kang menundukan kepala hormat.
Lian terdiam sebentar, ingatanya mulai nampak kembali. Bing Lian pertama kali bertemu Wu Zheng saat masih berada pada tingkat Foundation Realm, waktu itu Wu Zheng sang biksu muda sedang memberikan ajaran di Ibu Kota Seoris Kingdom. Sayang warganya tidak terlalu menerimanya sehingga pria berkepala pelontos tersebut terkadang diusir, namun lemparan sampah atau telur busuk tak pernah menurunkan semangatnya.
Sewaktu Lian menemani Bai Wen berkeliling kota, si Tuan Putri melihat kejadian tadi lalu memarahi habis – habisan para pelaku. Dia juga membelikan beberapa selimut beserta makanan hangat kepada Wu Zheng, mulai dari sana hubungan ketiganya bertambah dekat. Perlahan Pure Heart Temple mendapat peluang membuka kuil disana.
Namun ketika masa tersebut, Pure Heart Temple tidaklah sebesar sekarang. Mereka hanya setingkat sekte bintang 6. Sehingga tak mampu berbuat apa – apa saat kehancuran Seoris Kingdom terjadi, gambaran Wu Zheng bersujud penuh penyesalan dihadapannya selama satu minggu penuh mengisi kepala Lian. Kata maaf terus mengalir sampai Bing Lian memohon balik supaya dia mengangkat wajahnya.
Hubungan Bing Lian dan Wu Zheng terjalin sangat baik, siapa sangka sekarang pria muda waktu itu telah menjadi biksu kepala Pure Heart Temple. Bing Lian cuma berharap agar Wu Zheng tak hidup dalam penderitaan karena gagal juga menolong dirinya menghadapi Demon King.
“Dia sosok hebat....siapa yang tidak mengenal Faith Pillar?”
“Amithaba....aku menghargainya Saudara Bing, tapi pujianmu terlalu berlebihan.....”
“Hey!? Kalian berdua!”
“Mmm...?”
“Kita hampir sampai.....” Yin Kiew menunjuk antusias gerbang tinggi kota Hoerju dikejauhan.
------><------
SRAT! SRET! SROT!
Nampak diantara pepohonan rindang tiga orang sedang menghabisi Demonic Beast menggunakan senjata berupa bilah besi tajam. Remaja laki – laki berpakaian jubah hitam terlihat paling menonjol, memanfaatkan pedang berbeda warna ditangannya dia mencincang daging Demonic Beast sampai menjadi serpihan kecil.
Pria paruh baya yang seperti pemimpin mereka hanya menyerang sesekali dan membiarkan kedua anak muda barusan menangani para Demonic Beast, jika situasi membahayakan muncul. Ia baru mengambil tindakan, semua demi memberi pengalaman kepada dua murid tadi.
“Hmm....ada yang aneh, seharusnya jumlahnya tak sedikit ini....” gumamnya sembari mengelus jenggot.
“Tetua Yang? Kupikir sudah semuanya.....”
“Iya, tolong kumpulkan Core mereka tetapi jangan turunkan kewaspadaan kalian En’er, Ye’er....”
Di En dan Tian Xiaoye mengangguk kemudian menuruti perintah Yang Xuefeng, masing – masing bergerak gesit memungut tiap benda berkilau diantara tumpukan mayat Demonic Beast. Rombongan Twin Sword Mountain baru memasuki Air Crawler Phantom Forest kurang lebih dua jam setelah diantar memakai Spirit Boat kebanggaan sekte.
Langkah mereka dihadang kawanan Demonic Beast sesuai perkiraan Yang Xuefeng, salah satu Tetua Twin Sword Mountain ang ditugaskan mengawal Di En serta Xiaoye ke Hoerju. Lamunan Yang Xuefeng pecah sewaktu keduanya kembali membawa puluhan Demonic Core.
Ia memasukannya kedalam Spatial Ring terus mengajak dua murid sektenya itu melanjutkan perjalanan. Selagi Di En asyik berbicara dengan Xiaoye, Yang Xuefeng masih diam seribu bahasa. Mencari penjelasan logis atas berkurangnya Demonic Beast secara drastis sekitar pintu masuk hutan.
“Kemampuan berpedang Senior Di sepertinya semakin hebat saja....” puji Xiaoye lembut.
“Hahaha....berhenti membuatku tertawa, aku bukanlah tandingan Junior Tian....” Di En membantah namun jelas senang menerima sanjungan barusan.
Gelombang serangan Demonic Beast berikutnya kuantitasnya kian sedikit, cuma berkisar antara satu hingga lima ekor. Sehingga kebanyakan cukup Di En seorang untuk menangani mereka, rasa penasaran Yang Xuefeng semakin memuncak.
“Kau ingin melakukan apa sesampainya disana Junior Tian....?”
“Aku mau berkeliling melihat kota memakai gaun baru milikku....” jawab Tian Xiaoye manis.
“Ide bagus, mari pergi bersama! Kudengar Hoerju mempunyai banyak sekali tempat ind—“
“Berhenti!!!”
Di En maupun Xiaoye langsung bersiaga mendengar seruan peringatan Yang Xuefeng, mata ketiganya melebar menyaksikan pemandangan dihadapan mereka. Serpihan daging juga es tercecer memenuhi tanah Air Crawler Phantom Forest, dari jumlahnya. Yang Xuefeng memperkirakan ada ratusan Demonic Beast sudah dihabisi oleh siapapun yang melewati jalan ini sebelumnya.
“Sebaiknya kalian berhati – hati waktu menjelajah Dimension Realm, nampaknya banyak generasi muda hebat tersembunyi bakal hadir di Hoerju nanti....” Yang Xuefeng memijat keningnya lelah.
“Iya! Kita berdua pasti waspada, iyakan Junior Ti—Xiaoye? Xiaoye!? Kamu sedang apa?”
Panggilan cemas Di En tidak digubris si gadis, Tian Xiaoye malah berjongkok sebelum memungut beberapa pecahan es kecil. Dia memperhatikan kristal – kristal itu penuh rasa ingin tau, Di En datang kemudian menepuk pundaknya.
“Kau tidak apa – apa?”
“Huum, aku hanya berpikir kalau serpihan es ini.....indah sekali” Xiaoye berkata dengan mata berbinar – binar.
Author Note :
When I read silly comments, I remember Jackie Chan's words in Rush Hour. If I'm not mistaken he said this:
Carter (Chris Tucker) : Lee? How do you manage to stay cool all the time?
Lee (Jackie Chan) : Because I don't get into arguments with stupid people, I just cut it short and say 'You are right'
Carter (Chris Tucker) : But that's completely irrational and wrong!
Lee (Jackie Chan) : You are right
Yahhh.....you are right dude....thumbs up!
^^^
Kalian bisa mendukung Author melalui **********. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.