The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 47 - Besi Terakhir



Hari – hari penuh penghinaan Chun Ah terlewati sejak dirinya diangkat menjadi Core Disciple oleh Chun Tao, perlahan pandangan orang – orang kembali membaik terhadapnya. Meski disana dia hanyalah pelengkap dan tidak terlalu dianggap.


Tetap saja sebagai murid langsung salah seorang Crow Feather Elder Chun Ah dihormati kebanyakan anggota White Crow Sect terutama Outer Disciple dan Inner Disciple. Si tuan muda ketiga keluarga Chun ini cukup beruntung bakatnya terbilang lumayan, berbekal gelontoran dana dari ayahnya. Berbagai sumber daya diberikan sehingga ia mencapai Forging Qi tingkat 8.


Menyaingi Lu Xiulan maupun Tan Minjie yang sama – sama dikenal jenius sebenarnya dalam generasi mereka. Membicarakan masalah itu Chun Ah berarti harus mengingat satu sosok lainnya, bocah petani keparat pembunuh kakaknya.


Alasan utamanya berguru ke Chun Tao adalah membalaskan dendam kesumat tersebut, walau sekarang sikapnya sudah lebih dewasa. Sekali biang onar tetaplah biang onar, sesekali dia akan menjahili para juniornya untuk bersenang – senang.


Namun sayang beberapa mengetahui kelemahannya, jika mereka mulai menyebutkan nama si brengsek itu mau tidak mau Chun Ah segera pergi menjauh. Layaknya anjing penakut berlari terbirit – birit melihat patroli petugas pengawasan hewan liar.


Dan tepat sekarang, orang paling dirinya benci tengah berdiri dihadapannya dengan senyuman hangat. Hal yang membuat Chun Ah muak bukan main, dia menghentikan langkah kelompoknya sambil menatap sinis pemuda berambut putih tersebut.


“Kau mau apa?”


“Tidak ada, cuma menyapa. Kau keberatan?” Bing Lian balik bertanya.


“Menyingkir, aku tak punya kewajiban menjawab juga niat meladenimu”


“Sungguh? Apa kau mau mencoba berlatih tanding tuk melihat hasil latihanmu bersama Tetua Chun?”


“Heh?! Kau pikir aku akan terpancing tipu muslihatmu? Jangan harap kau bisa mencuri beberapa teknik bagus” sahut Chun Ah mendengus kesal.


“Kau takut? Wahai Tuan Core Disciple?”


“BRENGSEK! JAGA MULUT—“


Salah satu pengikutnya langsung membisu ketika Chun Ah memberikan tanda, ia menyuruhnya diam kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Begitu tubuh masing – masing saling berpapasan, Chun Ah berhenti. Menolehkan kepala lalu berbisik.


“Teruslah mengoceh, aku habisi kau satu bulan lagi.....”


“Ohh....bagus, kuanggap kata – kata barusan sebagai penjelas dirimu hendak mengikuti seleksi Murid Suci. Aku penasaran seberapa kuat sebenarnya Core Disciple itu kau tau?”


“Cukup untuk membungkam mulutmu”


“Wahhh....begitukah? Tapi sebelum tesnya dimulai sedikit saran dariku, jaga lehermu supaya tidak putus Saudara Chun....” desis Bing Lian menyebabkan seluruh tengkuk kelompok barusan bergidik pelan.


Lian memberi hormat sebelum menghilang, Chun Ah menggepalkan tangan kuat – kuat. Berjanji membalas semua tindakan kurang ajar anak sialan tadi saat seleksi dilaksanakan, dia yakin dengan arahan Chun Tao bocah petani miskin itu bukan apa – apa.


Tan Minjie masih melanjutkan ceramah panjang lebarnya mengenai percintaan sewaktu Lian tiba kembali ke sisinya tanpa ia sadari. “Jadi jika seorang gadis bicara tentang hal yang dibenci maka....Saudara Bing....kau dengar aku tidak sih?!”.


“Maaf Minjie nampaknya ini bukan saatnya membicarakan kisah fiksimu”


“Kau bilang ap—“


“Ayo kita harus bersiap, banyak kerjaan mengantri dilakukan. White Crow Sect bakal kedatangan banyak tamu sebentar lagi! Siapa tau ada murid perempuan manis dari sekte tetangga menyadari daya tarikmu” Lian merangkul pundaknya riang.


“Kau pasti pura – pura mendeng—hmm....benar juga. Matamu tajam sekali Saudara Bing, bagaimana mungkin kita berdua memiliki pikiran sama? Sebaiknya aku meminta ayahku mengirimkan beberapa baju baru dan mas kawin pernikahan....akan kukabari kalau dia segera mendapat menantu hahaha.....”


------><------


TOK! TOK! TOK!


“Lian!?”


“Hmm?”


“Ada tamu” ucap Tan Minjie dari luar rumah.


“Siapa?”


“Kurir Noble Treasure Shed kurasa—“


“Aw!? Hidung mancungku!!!”


“Maaf Saudara Tan!? Sedikit bantuan demi kebaikanmu hahaha”


Selesai membanting pintu kediamannya ke wajah Minjie, Bing Lian cepat – cepat menuju ruang tunggu tempat orang luar dipersilahkan duduk. Tepat sekali perwakilan Noble Treasure Shed datang sekarang.


Baru saja tadi ia menyelesaikan lembar terakhir jatah penjualan Tallisman bulan ini, ketika sampai seorang pria paruh baya berumur sekitar empat puluh tahunan menyambutnya dengan berdiri sembari tersenyum. Pakaianya berwarna emas mencolok, sejujurnya agak menyebabkan mata Lian ngilu melihatnya.


“Halo, apa kau membawa pesananku?” tanya Lian akhirnya setelah memberi salam.


“Benar Tuan Muda, Manajer Teng memintaku mengantarkannya pada anda”


Begitu mengucapkan kalimat barusan, sebuah peti kayu berukuran sedang muncul dari udara kosong. Waktu dibuka, Qi kuat mengalir keluar. Sebuah senjata berbentuk pedang indah keperakan terlihat dilapisi kain merah mewah mengisi kotak kayu tersebut.



“Noble Treasure Shed memang punya barang – barang bagus” Lian mengangguk senang.


“Sesuai permintaan anda Tuan, Spirit Tool Earth Low – Tier. Ringan, tajam, dan tentu saja mematikan jika berada ditangan yang tepat”


“Bolehkah?”


“Silahkan, anda juga dapat mengalirinya dengan Qi elemen apapun tanpa perlu takut rusak. Kami menyebutnya Last Iron, pembuatnya berkata dia membuatnya dari bilah pedang yang telah mematahkan seribu senjata lain sebelumnya” ujar sang kurir menjelaskan antusias.



“Nama bagus....berapa Spirit Stone harus kubayar untuk memilikinya?”


“Tidak perlu Tuan Muda, Manajer Teng berpesan menjadikan Last Iron sebagai hadiah bagi anda dalam mengikuti seleksi Murid Suci”


“Hehhh....pria itu baik sekali, tolong sampaikan terima kasihku. Ini jatah seribu Tallisman bulan sekarang” Bing Lian menyerahkan sebuah Spatial Bag.


Lian bertanya apakah Noble Treasure Shed cabang Qiying berencana hadir dalam acara akbar White Crow Sect nantinya, dia tersenyum ketika mendengar kalau Teng Lim sendiri besar kemungkinan datang menonton.


Selesai berbincang – bincang sebentar, laki – laki itu pamit undur diri. Lian mengantarnya keluar Snow Feather Dormitory, ia menghela napas lega. Berpikir kelak harus membalas kebaikan si Manajer Teng entah dengan sesuatu berharga lainnya.


Meskipun mempunyai tabungan berjumlah besar, Lian tau harga Spirit Tool Earth Tier pasti membutuhkan dana tidak sedikit. Prediksinya minimal menghabiskan 500.000 Spirit Stone, bisa – bisa semua kekayaannya hilang dalam sekejap.


Waktu berjalan menuju tempat tinggalnya, Bing Lian melihat Lu Xiulan sedang memberikan petunjuk dan arahan kepada beberapa murid – murid junior. Mata keduanya bertemu kurang lebih lima detik, baru saja ia mengangkat tangan mau menyapa.


Xiulan sudah membuang muka, Lian tersenyum pahit menerka – nerka kalau gadis itu masih marah kepadanya atas kejadian terakhir. Dia harus berpikir cara supaya mereka dapat berbaikan secepatnya, Lian tidak mau bertengkar dengan Lu Xiulan selama pemilihan Murid Suci.


Tan Minjie sendiri dikejauhan nampak tengah memijit – mijit hidungnya di depan cermin, memastikan kalau yang menurutnya aset paling berharga miliknya tersebut tak mengalami cedera parah.


Begitu memasuki rumah, Lian berdiri tanpa bergerak sedikitpun selama kurang lebih satu menit karena menyadari suatu kejanggalan. Bing Lian buru – buru membuka pintu kamarnya dan mendapati seorang gadis cantik duduk pada jendela ruangan disana, ia menoleh sambil memasang wajah datar.


“Hai....?”


“Senior....? Kalau kau tidak keberatan....bangunan ini memiliki yang namanya pintu”


Author Note :


Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca TROIE, dua minggu lagi sebelum penilaian berakhir. Mohon kerja sama dan bantuanya supaya karya ini mendapat hasil terbaik. Sekali lagi terima kasih banyak, kalian luar biasa.


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.