The Rebirth Of Ice Emperor

The Rebirth Of Ice Emperor
Chapter 43 - Surat Edaran Penting



“Ahahaha....aku tidak tau harus bilang apa tapi....bukankah ini sedikit berlebihan” Lian tertawa hampa menyaksikan isi gudang persediaan Snow Feather Dormitory.


Dia baru tiba di White Crow Sect tengah malam tadi setelah menempuh perjalanan sekitar lima hari dari Hangshan. Tanpa disangka seluruh penghuni masih terjaga kemudian menyambutnya penuh antusias, terutama Yin Kiew dan Lu Xiulan yang berlomba – lomba menyajikan satu hidangan buatan mereka sendiri.


Bing Lian mengangkat sebelah alis menyadari daging bahan masakan tersebut adalah milik Demonic Beast, Serpent Tail Poultry. Terlepas bagaimana rasa pemberian kedua gadis itu, Lian cukup puas. Meski harus rela sakit perut pagi berikutnya.


Entah mengapa Yin Kiew memiliki kecenderungan memasukan bubuk cabai sementara Lu Xiulan agaknya bingung membedakan gula dengan garam sehingga membuat Lian terpaksa minum tujuh guci air putih sebelum tidur.


Saat hendak menyiapkan sarapan, Lian disambut oleh tumpukan daging Serpent Tail Poultry sewaktu memeriksa gudang. Mulutnya membuka beberapa menit untuk mencerna keadaan ini, Tan Minjie tiba – tiba muncul sembari mengendap – endap seolah sedang bersembunyi dari sesuatu lalu memberikan penjelasan lengkap.


“Apa kalian berencana membuat punah populasi mereka?”


“Tentu bukan! Xiulan dan Senior Yin terus menerus bersikeras berburu Demonic Beast sambil memaksaku untuk ikut!!!” desis Tan Minjie dengan leher berurat.


“Bagus kalau begitu, nampaknya hubungan kalian bertiga semakin erat”


“Erat matamu! Lian jika kau belum kembali sampai kemarin, aku bahkan berencana menjemputmu ke Hangshan! Kondisi di sini benar – benar mengerikan! Aku selalu disuruh mencicipi mahakarya tidak bermutu mereka!!! Huhuhu!!!”


“Hah? Maksudnya?” Lian sedikit penasaran.


Ternyata Lu Xiulan maupun Yin Kiew berlatih memasak selama beberapa waktu terakhir, masalahnya mengolah daging Demonic Beast bukanlah hal mudah nan sederhana. Salah sedikit maka malah bisa bertranformasi dari berkhasiat meningkatkan praktik menjadi beracun.


Meski efek paling sering terjadi hanyalah sakit perut, sialnya Tan Minjie yang disodorkan setiap hari mulai merasa ajalnya makin dekat. Bing Lian menelan ludah, kemudian menyiapkan siasat agar meminimalisir kesempatan dua gadis bahaya tersebut menyentuh dapur lagi sejak detik ini.


“Minjie!?” suara panggilan Lu Xiulan membuat kedua anak laki – laki tadi terlonjak kaget.


“Wawawa....!!! Dia datang! Katakan padanya kalau aku hanya mitos!!!”


“Tunggu sebentar dasar bodoh! Jangan kabur sendirian! Lebih baik kau membantuku, bawakan aku sepuluh kilogram daging ke dapur supaya hidup semua orang terselamatkan! Cepat!!!” desak Lian buru – buru mengikat rambutnya.


Berkat pergerakan sigap mereka, makanan pagi hari itu layak tuk dimakan. Walau wajah Bing Lian dan Tan Minjie terlihat agak pucat dengan napas terengah – engah, Lu Xiulan sempat menawarkan diri membantu di dapur namun segera mendapat penolakan keras oleh Tan Minjie.


Ia yakin jika sekarang gagal menikmati masakan Lian, umurnya dipastikan berkurang sepuluh tahun. Satu per satu anak memasuki ruang makan Snow Feather Dormitory, semua semangat mengingat sudah cukup lama terakhir kali masing – masing menyantap hidangan buatan Lian.


“Kenapa kau memberiku tatapan menusuk begitu Senior?” Lian bergidik pelan sebelum menoleh ke arah pintu masuk, dimana Yin Kiew hanya memperlihatkan sebagian mukanya.


“Uhhh....”


“Kau penasaran mengapa aku tidak membawakan jatah menuju kediamanmu?”


“Huh huh!” Yin Kiew memberikan anggukan antusias.


“Senior memangnya berapa lama kau tinggal disini? Sudah saatnya kita makan bersama, kemarilah” kata Lian lembut sambil menepuk – nepuk lantai.


Walaupun memasang wajah cemberut, akhirnya dia menurut lalu mengambil posisi disebelah Lian. Membuat takjub para penghuni asrama lainnya yang bisa dibilang jarang sekali mempunyai kesempatan melihat langsung Sang Putri Patriach.


Tan Minjie tanpa basa – basi disingkirkan Lu Xiulan padahal lebih dulu menempatkan diri duduk pada sisi lain tempat Lian berada. Selesai berdoa bersama, sarapan akhirnya dimulai. Suasana pagi itu dipenuhi tawa dan sukacita.


“Ahhh....ini baru namannya hidup” Minjie mengusap air mata bahagia dari wajahnya setelah suapan pertama.


“Kok aku jadi kesal ya?” Lu Xiulan maupun Yin Kiew meliriknya geram. Mengakibatkan si bocah tersedak lalu memohon minuman.


“Oh iya, ngomong – ngomong selamat atas kenaikannya ke Forging Qi tingkat 10 Senior Yin. Dirimu akan selalu menjadi panutan bagi kami semua”


“Hmm? Terima kasih, kau menyadarinya?”


“Begitulah, apa Senior berencana memberitahukannya langsung padaku?” goda Lian jahil.


NYUT!!!


“Aww!? Xiulan?! Apa – apaan barusan itu?!”


“Ahh? Maaf, sepertinya aku salah mengarahkan sumpitku” Lu Xiulan menjawab sambil tersenyum manis tanpa dosa.


Mereka segera berangkat menuju gerbang asrama, satu anggota White Crow Sect memberi hormat sebelum menyerahkan selembar pengumuman untuk Yin Kiew. Mata gadis tersebut melebar ketika usai membaca sampai akhir.


Belum sempat salah satu dari Bing Lian, Lu Xiulan, atau Tan Minjie bertanya. Dia menyerahkan kertas barusan. Ketiga sahabat itu membaca berbarengan, ekspresi masing – masing ikut berubah tidak menentu. “Seleksi Murid Suci White Crow Sect....diadakan empat tahun lagi!?”.


------><------


“Jadi aku dan Saudara Bing....”


“Iya – iya kak, aku mengerti. Kau telah menceritakannya ratusan kali” gerutu seorang gadis muda berparas cantik dengan praktik Forging Qi tingkat 6.


Hua Zhong bersama adiknya, Hua Riyun. Sedang jalan berdua pada halaman kediaman mereka di Heaven Flower Garden. Sorot mata Hua Zhong berubah sinis, ia kemudian melipat lengan dan bertanya pelan.



“Apa kau memang cuma menginginkan hadiah dariku saja? Wahai adikku sayang?”


“Tentu tidak, aku berterimakasih atas Spirit Tool berbentuk hiasan rambut bunga pemberianmu. Tetapi aku lelah mendengar celotehan kakak....”



“Dasar menyebalkan....”


“Hei hei hei? Ada masalah apa? Mengapa kalian bertengkar, baru beberapa hari lalu aku senang Zhong’er bertindak layaknya kakak dan memberi Yun’er kado ulang tahun”


Perempuan berpakaian indah datang menengahi keduanya, meski sudah agak berkurang dimakan waktu. Namun nampak jelas kecantikan Hua Riyun menurun darinya, kedua anak tadi mulai memberi penjelasan kepada ibu mereka agar mendapat dukungan buat masing - masing.


“Hehehe....kenapa ribut sekali?”


“Guru....?”


“Nenek....!!!” seru Hua Zhong juga Hua Riyun antusias.


Hua Zhenya memeluk keduanya penuh kasih sayang, walau hanya keturunan muridnya. Dia memperlakukan Hua Zhong maupun Hua Riyun seperti cucunya sendiri. Dan memang hampir pada tiap kesempatan, dua anak ini selalu bersikap manja kepada dirinya.


“Zhong’er dan Yun’er makin besar saja ya hihihi.....”


“Nenek!? Nenek!? Kakak....”


Hua Riyun mulai mengadu soal betapa bisingnya Hua Zhong, tentu si kakak protes lalu menceritakan perjalanannya secara menyeluruh di Hangshan. Bagaimana ia bertemu anak laki – laki misterius yang membantunya hingga berhasil mendapat cukup Spirit Stone untuk membelikan hadiah bagi adiknya.


“Hmm....maksudmu perjalanan ketika pergi bersama Saudara Wu?” tanya ibunya.


“Benar, ketika Hundred Nights Tower berusaha membunuhku”


“Zhong’er? Bisa kau sebutkan lagi ciri – ciri bocah ini?”


“Ahh....ia mempunyai rambut bewarna putih indah serta mata biru, jujur wajahnya sedikit cantik”


“Siapa namanya?” Hua Zhenya berbisik.


“Lian, Bing Lian”


PRANK!


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seluruh ingatan Zhenya seakan ditarik kembali. Ketiga orang didekatnya terkejut bukan main saat gelas ditangannya tiba – tiba terjatuh. Tangan kanannya terlihat gemetar hebat, hal yang belum pernah disaksikan oleh siapapun sebelumnya beberapa ratus tahun terakhir.


‘Senior....?’


^^^


Kalian bisa mendukung Author melalui Karyakarsa. com/AryaFP, hanya dengan memberikan kopi. Para pembaca mampu memberikan energi ektra untuk menulis dan berpikir (imajinasi). Mulai dari harga Rp.5000,- saja, pembayaran dapat dilakukan via Gopay, Ovo, Transfer Bank, juga Alfarmart.