
"Apa tidak ada yang mau mengaku?!"
Suara keras Deon menggelegar. Kaki mereka gemetaran. Satu penjaga istana maju. Ia ingat sekali apa kesalahannya pada gadis yang berdiri dengan anggunnya. Padahal, ia sudah melihat aura hebat yang keluar dari Luien. Tapi, ia terus menghinanya. Pria itu pun bersimpuh di hadapan rajanya.
"Yang Mulia ... ampuni hamba ... hamba sangat tidak tahu kalau ...."
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi penjaga itu.
"Alasan busuk!" bentak Deon.
Victoria kini mulai mengerti apa maksud Luien memakai baju sederhana. Gadis itu ingin membuka topeng semua orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang benar-benar tulus yang lolos.
"Apakah kau merasa lebih hebat dan merasa pantas menghina orang miskin?" tekan Deon dingin.
Petugas itu hanya bisa menahan tangisnya. Ia tau dirinya sangat bersalah.
"Seragammu, makanmu dan kebutuhanmu dibayar dari pajak masyarakat!"
"Ampuni hamba yang mulia!" pinta petugas itu langsung menyembah rajanya. "Hamba pantas dihukum!"
Deon mengangkat bahu pria itu. Menepuk bahunya.
"Aku salut akan kejujuranmu. Pergilah dan menghadap pada Prince Ken. Ia akan menjelaskan semuanya," ujarnya melanjutkan.
Petugas keamanan itu menunduk hormat. Ken memintanya menunggu di sebuah ruangan. Pria itu pun berjalan dengan kepala tertunduk.
"Apa hanya satu orang saja? Sudah kubilang aku mencatat semuanya?" tekan Deon lagi.
"Jika tak ada yang mau mengaku. Baik, bersiap lah keluar dari istana ini dan jangan harap bisa bekerja di mana pun!" ancamnya.
Hanya sepuluh orang yang maju. Deon yang mulai murka. Karena yang ada di catatannya hampir seluruh staf dan maid istana menghina putrinya.
"Ferdinand!" panggilannya.
"Saya yang mulia Raja!" sahut Ferdinand mendatangi rajanya.
Ferdinand kini menjabat sebagai perdana menteri bidang ketertiban istana. Pria itu yang akan mengambil langkah tegas bagi siapapun yang menghina kerajaan dan kedaulatan rakyat.
"Seret mereka ke publik dan biarkan masyarakat yang menghukum mereka!" titah Deon tegas.
"Baik Yang Mulia!" sahut Ferdinand lagi.
Deon pun meminta maaf pada semua tamu kehormatan atas sebuah peristiwa yang kurang mengenakan tadi terjadi.
"Tidak apa-apa Yang Mulia. Sebenarnya mereka juga tidak berlaku hormat pada kami jika tidak memberi mereka senyum atau tips," adu salah satu tamu kehormatan.
Pria itu juga memakai baju sederhana. Deon mengepal tangannya kuat-kuat. Luien langsung mendatangi pria itu dan memohon maaf sebesar-besarnya.
"Kalau begitu, mari kita ke ruang hidangan. Kita makan siang bersama," ajak Luien ramah.
"Anda sangat cantik Yang Mulia Tuan Putri, juga sangat ramah dan terlihat baik hati," puji pria itu.
"Saya hanya manusia biasa Tuan. Mari!"
Luien mengajak para kolega dan tamu istana untuk ke ruangan aula lebih besar. Di sana sudah ada beberapa meja bulat dan kursi-kursi yang dihias cantik. Luien juga sudah menyewa ribuan pelayan restauran yang ia seleksi sendiri. Para tamu juga dipersilahkan untuk memilih menu yang disediakan.
Ribuan koki terbaik didatangkan dari seluruh kota. Lagi-lagi Luien yang menyeleksi mereka.
"Sayang," panggil Alex.
Luien menoleh dan mendatangi kekasihnya itu. Betapa pria itu begitu bangga akan gadisnya. Diana dan Gloria mendatangi mereka.
"Apa Mama Vero sudah duduk di tempatnya?" tanya Luien pada Diana.
"Sudah Yang Mulia Tuan Putri!" jawab Diana.
Luien cemberut mendengar panggilan itu. Sedang kan Gloria sangat mengerti. Diana tentu akan didahulukan oleh teman sekerjanya itu.
"Hai, Glor ... apa ayah dan ...."
"Sudah Yang Mulia Tuan Putri," potong Gloria cepat.
"Hei, dilarang memotong perkataan Yang Mulia Tuan Putri. Itu pelanggaran!" tegur Diana setengah berkelakar.
"Ish ... tidak ada itu!" sanggah Luien cepat.
Luien mengajak pada meja di mana Veronica, ibu sahabatnya itu berada. Mereka didatangi pelayan memberi menu. Usai memesan mereka pun bercengkrama.
Deon datang bersama istrinya. Sang raja itu menggendong Rico sedang Ricky berada dalam gendongan Ludwina..
"Bistel!" panggil Rico keras.
Bayi itu meminta turun. Deon menurunkannya. Beberapa pengawal mengikuti langkah tertatih bayi itu. Hari ini hari ulang tahunnya.
"Ah, aku lupa," goda Luien.
"Tenata pisa pupa! Ico nehbshqhgwhja!" dumal bayi itu menggemaskan.
Semua terkekeh mendengar ocehan bayi itu.
"Hei ... bayi, ke sini kamu!" titah Alex memanggil.
Rico yang tengah marah hanya menoleh saja lalu membuang muka. Gloria tertawa terbahak-bahak.
"Gloria!" tegur Adrian tak suka.
"Maaf ... habis, baru Rico yang berani menolak titahnya Tuan Maxwell Junior," kekeh gadis itu.
Luien memberi nasihat pada bayi yang kini mulai berair matanya. Ia sedih. Ayah dan ibunya belum mengucap selamat ulang tahun padanya.
"Daddy bidat pinat bulan pahun tuh! Mommy buja!" adunya sedih.
"Oh baby ... sini sama Aunty Diana. Aunty punya coklat loh," rayu Diana..
Mendengar salah satu makanan kesukaannya itu. Membuat Rico hendak turun dari pangkuan Luien. Tapi, memang gadis itu ingin menggoda adik angkatnya itu. Ia menahan laju Rico.
"Tidak ... coklat itu untukku!"
Rico terdiam. Ia menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Lalu satu persatu air matanya jatuh.
Luien yang melihat air mata Rico merasa bersalah. Diana memukul Luien.
"Kau keterlaluan dengan anak bayi!"
"Ehem!" salah satu pengawal menegur Diana.
"Ah ... maaf Yang Mulia Tuan Putri!" ujar Diana tersadar.
Luien tak mempermasalahkannya. Gadis itu sibuk membujuk Rico yang menangis sedih.
"Baby ... maafkan aku ... aku hanya bercanda," ujarnya lalu menciumi bayi itu.
"Bistel pahat ... hiks ... hiks ... hiks!"
"I'm so sorry!" ujar Luien.
Hingga tiba-tiba. Sebuah kue coklat ukuran besar datang. Ken datang mengambil bayi itu dari pangkuan Luien. Rico yang tengah ngambek langsung mau berpindah tangan. Biasanya, tak ada satu pun yang bisa mengambil bayi itu jika bersama Luien.
"Baby," panggil Luien.
"Happy birthday Prince Edrico!" sambut semuanya.
Semuanya bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu happy birthday. Rico tersenyum kembali. Ia menatap penuh binar pada kue coklat yang begitu menggodanya itu.
Deon mengambil bayi itu dari rengkuhan Ken. Pria itu meminta Rico meniup lilinnya. Bayi itu pun menyemburnya. maka padam lah lilin tersebut.
Semua bahagia. Rico kembali tertawa dalam gendongan Luien. Tadi, ibu mereka memarahi gadis itu karena telah membuatnya menangis. Bahkan Victoria pun tak ketinggalan memarahi Luien.
"Kue pertamamu untuk siapa, Baby?" tanya Wina.
Rico menyerahkan pada wanita itu.
"Mommy ... i love you," ujarnya.
Wina terharu. Lalu kue kedua pada ayah angkatnya lalu Ken dan istrinya terakhir Luien. Rupanya bayi itu masih marah padanya.
"Baby, maafkan aku, oke," pinta Luien penuh penyesalan.
"Opey," sahut Rico begitu menggemaskan.
Luien menciumi bayi itu gemas hingga Rico tergelak. Semua senang mendengar tawa bayi itu.
"Saya juga akan mengumumkan pernikahan Putri saya dengan tunangannya Tuan Alexander Maxwell Junior!" ujar Deon mengumumkan.
"Apa?" teriak Alicia tak percaya.
Semua menoleh pada gadis itu. Ternyata Alicia masih bertahan dan mengikuti acara.
bersambung.
hmmm ...
next?