THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
KARNAVAL



Satu minggu berlalu. Parade kesenian diselenggarakan. Banyak masyarakat tumpah ruah turun ke jalan untuk menikmati pagelaran yang diselenggarakan setiap tiga bulan sekali. Terlebih, kali ini kerajaan juga mengikuti karnaval sekaligus membuka pintu istana untuk umum.


Parade ini juga sekaligus memperkenalkan calon raja baru, yakni Lauzaed Deon Phlilips beserta permaisuri Ludwina Elizabeth Thompson. Banyak petinggi negara dan para bangsawan yang hadir di sana.


Mereka memakai pakaian mewah dan berkelas.


Karpet merah digelar. Ratu Victoria Aurora Phlips berjalan dengan gaun indah warna broken white dan selempang kebesarannya. Mahkota cantik menghias kepalanya. Semua menekuk kaki ketika wanita berusia sembilan puluh tahun lebih itu berjalan.


“Yang Mulia Ratu Victoria Aurora Philips!” seru pembicara istana.


Wanita itu berjalan dengan anggun, kepalanya mengangguk untuk membalas hormat pada para hadirin yang datang. Setelah ratu melewati para tamu, disusul Deon dan istrinya. Rico digendong Ken yang juga berjalan dengan sang istri.


“Yang Mulia Putra Mahkota Lazuard Deon Philips dan Lady Dukes Ludwina Elizabeth Thompson!” seru pembicara istana lagi.


Semua menekuk kembali kaki mereka dalam-dalam. Banyak mata memandang iri dengan Ludwina, terlebih para wanita. Dulu, Deon memang sangat tampan. Tapi sikap dingin dan tak tersentuh membuat semua gadis menolaknya kecuali Ludwina.


“Prince Ken Rafael Guzardy Philips dan Lady Felicia Anastasia Walace !”


“Prince Edrico Lazuard Thomas Philips!”


Mendengar namanya dipanggil, bayi dalam gendongan Ken bertepuk tangan dan tersenyum lebar. Semua gemas melihat tingkah lucunya. Lalu kemana Luien?


Gadis itu berada di antara masyarakat dengan dress sederhana sepanjang lutut berwarna biru dengan motif bunga-bunga kecil. Kakinya dihiasi sepatu kets, rambutnya yang kemerahan dikepang satu. Tak ada yang mengenalinya sebagai seorang putri.


Keluarga Maxwell hadir menjadi tamu kehormatan. Pesona Alexander Maxwell Junior, Adriano Maxwell Junior, dan Victor Dambaldore menjadi daya tarik para kaum hawa. Terlebih ketiganya memegang tampuk pimpinan tertinggi. Vic tak lagi bersama Adrian, ia sudah memiliki perusahaannya sendiri, peninggalan dari kedua orang tuanya.


“Selamat datang Tuan Maxwell!” sambut Ken yang masih menggendong Rico.


Tangan bayi itu menjulur ke arah Alex. Pria itu pun langsung menyambut Rico dalam gendongannya.


“Baby!” tegur ken


“Pidad papa, bodel Ten!” sahut Rico enteng.


Alex gemas sekali dengan bayi pemberani ini. Ia menciumi wajah Rico hingga protes. Tania juga sangat gemas. Sudah lama ia tak menimang bayi.


“Sini, sama Mama!” ajaknya.


“No ... pyu not Mama!” tolak bayi itu tegas.


“Hei ... i become your Mama, as soon as your sister be my daughter in low!” protes Tania kesal dan gemas bersamaan.


Rico memiringkan kepalanya. Tentu bayi itu tak mengerti apa yang dikatakan oleh wanita dewasa itu.


Horton melihat keluarga Maxwell tengah berbincang dengan Ken.


Horton Walles mendatangi mereka, Alicia tengah bercengkrama dengan para gadis bangsawan lainnya.


“Tuan Maxwell, Prince!” sapanya.


Ken menoleh begitu juga yang lainnya. Semua mengangguk hormat.


“Tuan Horton Walles," sapa mereka.


Rico menatap pria itu lalu membuang muka.


"Bodel ... pesana!" titahnya pada Alex.


Tania terbahak. Tak ada yang berani memberi perintah pada putra dinginnya itu. Hanya Rico yang dengan santainya memerintah Alex.


"Hei, bayi ... kau berani denganku?" tanya Alex gemas.


"Anak-anak jaman sekarang memang tidak sesopan anak jaman dahulu," cibir Horton tak suka.


Felicia memilih mengambil bayi itu dari tangan Alex. Ia tak begitu suka dengan pria yang menjadi wakil dari ayahnya itu.


"Biar saya yang membawanya, Sir," pinta wanita itu.


Rico tadinya menolak. Alex juga enggan melepas bayi menggemaskan itu.


"Prince mau coklat?" tawar Felicia.


"Boplat?" tanya Rico sambil memiringkan kepalanya.


"Maaf, saya membawa Rico ke ruangan anak-anak," pamit Felicia.


Horton mencibir. Dari dulu, ia tak menyukai gadis itu. Kemarin, ia begitu kesal Ferdinand bergerak cepat menjodohkan keduanya. Bahkan Ratu sendiri yang menikahkan mereka.


"Tidak sopan," protesnya pelan ketika melihat kepergian sepasang suami istri dan bayinya itu.


Maxwell sebenarnya tak begitu menyukai kedatangan pria ini. Tetapi sebagai tamu, ia menghormati Horton, pemegang salah satu jabatan penting di istana.


"Apa kabarmu, Tuan Walles?" tanya Maxwell basa-basi.


"Kabarku baik. Sudah lama tak bertemu dengan kalian. Bagaimana, kelihatannya anda sekeluarga baik-baik saja," jawab Horton juga tak kalah basa-basi.


Alex, Adrian dan Vic tak begitu menyukai, Horton. Terlebih Alex sendiri yang memergoki Alicia tengah bercinta dengan pria yang menjadi sahabat Alex.


"Oh, bukan kah ini Victor, anak asuhmu?" tanya Horton memandang rendah Victor.


"Ya, Tuan. Saya adalah Victor Ignatius Dambaldore!" sahut Vic tegas.


Alex dan Adrian menatap tajam pria yang hanya berlaga tak bersalah. Pria itu lupa dengan kasus memalukan yang dilakukan putrinya beberapa tahun lalu.


"Maaf, aku akan pergi. Beberapa kolegaku mengatakan jika mereka ada di sini," pamit Adrian.


"Aku ikut!" sahut Vic.


"Ah, kau masih menjadi bayangan Tuan Maxwell Junior, Vic?" sindir Horton dengan senyum mengejek.


"Tapi, bukankah mendiang Tuan Dambaldore memiliki harta berlimpah, bahkan perusahaannya juga tergolong besar," lanjutnya dengan mimik menyindir pada Maxwell.


"Kau tidak memakan semua harta Vic yang sudah yatim ini, bukan?" lanjutnya menuduh.


Maxwell sangat marah. Rumor tak benar itu benar-benar sangat membuatnya serba salah. Pria itu memang mengambil alih semua aset kekayaan saudara sepupu Tania, istrinya. Hanya untuk menyelamatkan semua harta Vic dan akan memberikan semuanya ketika memang sudah saatnya. Victor sangat geram mendengar tuduhan dari pria paru baya tersebut.


"Diam, jika kau tak tau apa-apa, Tuan Walles!" tekannya.


"Loh, aku hanya mengemukakan apa yang kulihat. Jika tak benar, jangan marah!" kekeh Horton santai.


"Oh ya, apakah Alicia sudah menikah dengan Gergorio Saldas?"


Pertanyaan Tania membungkam sindiran Horton pada keluarganya. Pria itu tampak begitu marah.


"Alicia masih gadis!" tekannya.


"Jangan bercanda, Tuan. Dengan apa yang aku lihat, bahkan video mesumnya begitu jelas mereka bercinta, dan Alicia mengakui jika dia sudah tak suci lagi pada Gergorio!" tekan Tania dengan tatapan dingin.


Adrian dan Alex tersenyum mencibir pria itu.


"Jangan merendahkan putriku!" sentak Horton murka.


Semua menoleh padanya. Tania menantang pria itu dengan berani. Alex langsung menghalangi pandangan sang ibu dengan tubuhnya.


"Tuan, kau tau. Aku bisa melakukan apapun, tanpa peduli tempat?" ancam Alex.


Horton mendengkus kesal. Semua menatapnya dan berbisik-bisik. Pria itu meninggalkan keluarga Maxwell.


Alex sangat ingin memukuli pria tua itu. Tania memeluk putranya. Ia sangat paham, Alex adalah seorang pendendam. Jika saja Tania tak turun tangan. Mungkin nasib Alicia dan Gergorio sudah berada dalam tanah.


"Tenangkan dirimu, Nak," ujar Tania.


Sedang di tempat lain. Luien yang lelah berada di luar. Gadis itu memilih kembali ke istana. Ia berjalan santai di antara orang-orang penting. Karena untuk umum, pakaian biasa gadis itu tak menjadi perhatian orang. Hingga ketika ia memasuki ruangan khusus.


Segerombolan gadis-gadis bangsawan menoleh padanya. Alicia ada di sana.


"Hei ... kenapa pengemis bisa masuk sini?" sentaknya.


bersambung.


ah ... ah ... ah ... cari perkara.


next?