THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
HAMIL SIMPATIK



Alex merasa pusing ketika bangun pagi. Pria itu mendadak ingin muntah. Lalu ia berlari ke kamar mandi dan muntah di atas closed. Tak ada yang keluar kecuali cairan bening yang terasa pahit di mulutnya.


Luien terkejut mendengar suaminya muntah. Wanita itu langsung bangun dan mendatangi suaminya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanyanya khawatir.


Alex tak menjawab, ia hendak muntah kembali. Tapi, tak ada yang keluar dari mulutnya. Pria itu sampai mengeluarkan air mata karena kepayahannya pagi ini.


"Sayang, kita ke dokter ya?" ujar istrinya sedih dan khawatir.


Alex mengangguk lemah. Lalu, Luien membantu suaminya bangkit dari lantai kamar mandi. Alex memeluk istri lalu mencium bibirnya.


Pagutan itu pun terjadi lama dan sangat panas. Decapan terdengar dari aksi bibir yang saling menikmati itu.


"Sayang," panggil Alex dengan suara serak dan napas menderu.


Luien mengangguk. Sang suami langsung menggendongnya ala pengantin ke ranjang. Keduanya pun terlibat penyatuan yang panas.


Beberapa jam kemudian. Keduanya kini duduk di depan seorang dokter laki-laki.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Luein dengan nada cemas.


"Suami nyonya tidak apa-apa. Bahkan tekanan darahnya juga normal," jawab dokter Robert.


"Tapi, tadi pagi ia muntah parah sekali, katanya yang keluar juga hanya cairan bening yang rasanya pahit," jelas Luien dengan nada kekhawatiran tinggi.


Dokter Robert tersenyum. Pria itu mengangguk tanda mengerti lalu menuliskan sebuah resep.


"Apa Tuan Maxwell sudah sering muntah seperti ini?" tanya pria itu.


"Baru kali ini, Dok!" jawab Alex.


"Begini, jika mualnya terus menerus. Periksakan istri anda," saran Robert.


"Loh, kok malah istri saya yang diperiksa? Kan yang sakit saya?" tanya Alex keheranan.


"Kemungkinan istri anda tengah hamil dan kini anda sedang mengalami kehamilan simpatik," jelas dokter itu.


Alex dan Luien terbengong. Keduanya tampak seperti tak percaya. Masalahnya Luien pun tak merasakan apa pun jika ia memang hamil.


"Istri saya hamil Dok?"


Pria berjas sneli itu mengangguk membenarkan.


"Kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom Couvade terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung. Itu biasa terjadi karena pengaruh hormon dan stress berlebihan. Jika dilihat dari kasus anda, kehamilan simpatik ini terjadi karena faktor hormon," jelas dokter panjang lebar.


"Periksa saja istri anda dan lihat. Apa benar dugaan saya, jika istri anda hamil, Tuan!' jelas dokter itu lagi.


Kini keduanya pun beranjak keluar ruang praktek. Dokter Robert adalah dokter keluarga Maxwell. Pria itu berdinas di salah satu rumah sakit besar di kota itu.


"Apa kita langsung periksa saja dirimu sayang?" tawar Alex sedikit berharap.


Luien mengangguk setuju. Keduanya kembali mendaftar. Ada dua belas orang mengawal mereka. Banyak yang sudah mengenali mereka. Para pengawal menutupi keduanya.


"Yang Mulia, di kerajaan kita memiliki dokter istana. Kita bisa melakukan pemeriksaan di sana," ujar salah satu staf istana yang selalu mengikuti Luien.


"Aku hanya memeriksa saja Dorothy. Jangan khawatir, aku tetap mematuhi protokol istana!" sahut Luien.


Dorothy membungkuk hormat. Ia melaporkan pada divisi kerajaan tentang kegiatan tuan putrinya di luar.


Luien dipanggil ke dalam. Seorang dokter perempuan menanganinya. Luien diminta cek melalui tespek yang diberikan padanya.


"Bisa anda buang air seni anda di sini, Nyonya. Tapi, maaf, anda sebelumnya sarapan apa?" tanya dokter itu.


"Tadi saya sarapan sandwich dan jus buah," jawab Luien.


Dokter itu mengangguk setelah melihat jam di dinding. Luein ke kamar kecil dan membuang air seninya di alat itu sesuai petunjuk dokter.


Setelahnya ia menyerahkan alat itu. Dokter menunggu sebentar lalu ia tersenyum lebar.


"Selamat Nyonya anda hamil," ujarnya lalu menyerahkan alat yang bergaris dua.


Luien dan Alex tercenung. Mereka masih tak percaya.


"Apa benar dokter?" tanya pria itu.


"Benar Tuan. Istri anda kini sedang mengandung," jawab dokter cantik itu.


Alex langsung memeluk istrinya erat. Ia menciumi wajah Luien dan mengucap banyak terima kasih.


"Thank you ... thank you!"


"Apa anda ingin melakukan pemeriksaan menyeluruh?" tanya dokter dengan ramah.


"Tidak Dok. Terima kasih," jawab Luien.


Dokter cantik itu mengangguk tanda mengerti. Luien dan Alex pun keluar dari ruangan dengan wajah bahagia.


"Kita pulang ke istana, Dorothy," ujar Luien.


Dorothy membungkuk hormat. Mereka pun pergi dari rumah sakit dengan pengawalan ketat.


Kedatangan Luien dan Alex ke rumah sakit di ibukota menjadi trending topik. Foto-foto mereka berdua yang ditutupi para pengawal beredar di portal berita online. Terlebih dua ruangan praktek dokter berbeda. Tajuk dengan judul "Will we have a princess or a prince?"


Banyak para netizen berkomentar tentang hal ini.


"Mereka telah menikah lama. Tak masalah jika Yang Mulia hamil!"


Berita itu menyebar hingga Diana langsung menghubungi sahabatnya itu.


"Halo!" ujar Luien ketika mengangkat telepon dari Diana.


"Luien ... apa benar jika kamu hamil!" pekik wanita yang juga tengah mengandung itu.


Begitu kerasnya suara sang sahabat sampai Luien menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Hei jangan keras-keras! Aku tidak tuli!" protes wanita itu kesal.


"Kau itu ya! Kenapa kau tak memberitahu aku jika kau hamil?!"


Diana berteriak kesal pada sahabatnya itu. Masalahnya ketika ia merasa jika ada yang aneh pada dirinya. Luien adalah orang pertama yang ia beritahu.


"Luien ... aku mabuk ... kenapa kepalaku pusing sekali!"


Dan banyak keluhan-keluhan lain. Diana merasa Luein tak menganggapnya sama sekali.


"Dari mana kau tau jika aku hamil?" tanya Luein heran.


"Hei ... kau ini seorang putri raja. Kau tau paparazi pasti mengikutimu dan menjual foto-foto mu. Aku lihat beritanya di portal berita online!" jawab Diana kesal.


"Aku baru tahu tadi jika aku hamil, Diana!" sahut Luien.


"Bohong. Masa kau tak tahu jika kau hamil. Memangnya kau tak mual-mual dan pusing dulu ketika merasakannya?" tanya Diana heran di seberang telepon.


"Tidak, karena yang merasakan itu adalah suamiku," jawab Luein santai.


"Apa? Jangan bercanda kamu!" teriak Diana tak percaya.


Terjadi obrolan panjang di telepon. Bukan obrolan tetapi lebih tepatnya saling berteriak satu dengan lainnya. Alex sampai harus menyumbat telinganya mendengar suara keras sang istri.


Sambungan telepon terhenti. Luein sudah puas mengobrol dengan sahabatnya. Ia menatap Alex dan supir yang memandanginya heran.


"Apa kalian?" sentaknya galak.


Sang supir tentu merasa bersalah dan kurang sopan melihat majikannya seperti itu. Sedang Alex hanya menggeleng tak percaya.


"Aku baru tahu kau senorak itu," sahut pria itu tak percaya.


Luien menatap suaminya. Mata nyalang sang istri membuat Alex sedikit bergidik.


"Aku memang begitu hanya dengan Diana," jawab Luien santai.


Alex tak mempermasalahkan hal tersebut. Tapi, di tengah jalan pria itu ribut ketika melihat buah strawberry yang dipajang di sebuah toko buah.


"Aku ingin buah itu!" teriaknya semangat.


Luien hanya berdecak. Karena terlewat, mereka harus memutar balik dan berhenti di toko.


"Silahkan Tuan cicipi dulu buahnya," ujar penjual ramah.


Entah berapa buah masuk ke perut Alex hingga pria itu bersendawa.


"Aku sudah kenyang. Ayo pulang," ujarnya lalu meninggalkan toko begitu saja.


Luien dan penjual buah terbengong. Wanita itu akhirnya membeli beberapa kilo buah untuk menutupi rasa malunya.


bersambung.


yah ... dasar si Alex!


next?