THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
BEKERJA



Hari senin datang. Luien sudah bersiap. Ia berangkat dari mansion kedua orang tuanya. Sebelum berangkat gadis itu menciumi Edrico sampai bayi berusia tiga belas bulan itu kesal bukan main.


"Mamamamam!" protes bayi itu marah.


"Apa kau!" ujar Luien menciumi bayi itu lagi.


"Mamamama!" teriak bayi itu.


"Luien, kau apakan adikmu!" tegur Wina kesal.


"Abis gemes, Ma!" sahut Luein gemas.


"Sarapan dulu sayang," ujar Deon lalu duduk di kursinya.


Mereka pun sarapan bersama. Seperti biasa Wina membawakan bekal untuk putrinya.


"Aku pergi dulu, ya Ma, Pa!" pamit Luien mencium pipi keduanya lalu perut ibunya.


Kehamilan Wina kali ini tidak begitu berat. Bahkan, ia tak mengidam sama sekali. Deon lah yang mengidam, pria itu membeli banyak buah, seperti strawberry, mangga, juga leci.


"Sayang, aku juga pergi ya," ujar Deon lalu mencium bibir istrinya.


Ada pagutan kecil di sana. Setelah merasa cukup, baru lah pria itu menyudahi perbuatannya.


"I love you," ungkap pria itu.


"I love you too," balas sang istri tulus.


Sementara Luien kini memakai mobil Porsche terbarunya. Gadis itu juga memakai setelan formal terbaiknya. Ketika, sampai, Luien menjadi sorotan para karyawan, begitu juga Diana, Hugo dan Brandon. Gloria yang datang terlambat juga sangat terpesona dengan kecantikan Luien hari ini.


"Apa kau baru menang lotre?" tanya Gloria takjub.


"Hanya ingin saja," jawab Luien santai.


Mereka kembali bekerja, Gloria masih takut dengan getaran ketika lift mulai bergerak. Tangannya menggenggam erat tangan Hugo.


Hugo pun menyalurkan kehangatan dan kenyamanan pada gadis itu. Mereka pun masuk ke lantainya masing-masing.


Mereka pun kembali bekerja di divisi yang sebelumnya mereka bekerja. Diana dan Luien kembali menjadi bulan-bulanan Adrian dan Vic.


Sementara Tania kini sedang menemani ketiga gadis yang kemarin akan dijodohkan dengan ketiga putranya.


"Tante, bagaimana dengan perjodohan kami. Kenapa berhenti begitu saja?" tanya Ana sedikit tidak setuju.


"Tante tak bisa memaksa kehendak Alex, Adrian dan Victor!" sahut Tania dengan nada menyesal.


"Tapi, Tante kan ibu mereka, mestinya ucapan Tante mesti dituruti," ujar Cecilia menimpali.


"Iya, Tante. Apa Tante tau, kemarin kami dibawa ke tempat kumuh. Gloria juga gadis miskin," ujar Davina berbohong.


Tania menatap ketiga gadis itu. Ia tadinya mengira ketiga gadis ini begitu berpendidikan, tetapi mereka tidak tahu siapa Gloria Nothon Ageele.


"Kau tidak tau, siapa itu Gloria, bagaimana kau sembarangan mengatakan jika putri seorang Ageele, gadis miskin?" desisnya bertanya.


Davina tampak terkejut, ia tak menyangka jika itu adalah Gloria yang sama. Sementara yang lainnya pun tampak terdiam mendengar siapa itu Gloria.


"Tapi, apa iya, seorang Ageele mau berteman dengan gadis gembel seperti Luien?" tanya Davina lagi.


"Kita tidak tau siapa Luien, Tante. Aku juga tak percaya itu mobilnya, tetapi ia meminjam dari orang lain," sahut Ana kini.


"Ingat Tante, kita ini dari keluarga terpandang. Jangan membiarkan semua putra Tante menikah dengan wanita yang tak jelas asal-usulnya!" hasut Ana lagi.


Tania seperti termenung. Kini ketiganya kembali memaksa wanita itu membawa mereka ke perusahaan putranya.


"Sebentar, Tante akan melakukan janji untuk makan saja di restauran," ujarnya kemudian.


Wanita itu pun mengambil ponsel miliknya. Ia menelepon ponsel putra pertamanya Alex.


"Halo, Lex!"


"......!"


"Mama ingin mengajak makan siang di restauran di hotel tempat di mana Ana, Cecil dan Davina menginap," ujarnya.


".......!"


"Iya, sayang. Mama tunggu ya, ... love you!" ujar Tania lalu menutup sambungan teleponnya setelah mendengar jawaban putranya.


Sementara di kantor, Alex meminta Luien memindah janji temu dengan perusahan Philips Co. di restauran di mana ibunya berada.


"Halo selamat siang Tuan Ken, kami minta maaf jika ada perubahan janji temu. Tuan Maxwell menginginkan janji temu di restauran hotel Grand Palace!"


"........!"


"Baik Tuan, jam temu seperti awal janji tadi," sahut Luien.


"........!"


"Baik Tuan terima kasih. Selamat siang!"


Sebenarnya, Tania tinggal di mansion keluarganya. Ia tak membawa ketiga gadis itu menginap di sana karena ada tiga anak laki-laki. Ia tak mau sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Makanya, ia membuka kamar dengan kelas presidential suite room, masing-masing.


"Jadi bagaimana, apa Tuan Philips mau pindah lokasi?" tanya Alex.


"Iya Tuan. Tuan Philips bersedia, asal di jam yang sama," jawab Luien.


"Baiklah. Pesan ruang VVIP untuk sepuluh orang, karena ibu saya juga ingin makan siang bersama," titah Alex kemudian.


"Baik Tuan!" sahut Luien langsung mengerjakan apa yang diperintahkan atasannya.


Sementara Rodrigo begitu kaget ketika mengetahui jika ada yang ingin membeli perusahaan mendiang kemenakannya.


"Bernard, cari tau siapa yang membeli perusahaan Xavier!" titahnya pada sang putra.


Pria berusia dua puluh lima tahun itu memutar mata malas. Ia sangat kesal dengan ayahnya.


"Dengan apa kita mencari tahu, Dad?" tanyanya datar.


"Ya gunakan otakmu, bagaimana kau harus tau siapa pembeli perusahaan itu!" bentak Rodrigo murka.


"Dad, jika otak ku tak diimbangi uang mana bisa!" teriak Bernard lebih keras.


"Kau pikir mulut-mulut itu mau terbuka tanpa adanya uang?!" lanjutnya lagi.


"Kemarin, semua pengawal yang bekerjasama dengan kita sudah mulai menuntut pembayaran. Jika saja otakku tak kupakai, kita akan dikejar-kejar oleh mereka!" lanjutnya marah.


Rodrigo terdiam, hartanya sudah nyaris ludes gara-gara kurang management. Mengira dapat merampas semua harta milik mendiang kemenakannya, malah ia tak bisa mencairkan sedikit pun. Kecuali saham yang ia pegang sebanyak lima persen.


"Kalau begitu. Biar aku sendiri yang mencari tahu," putus Rodrigo. "Tetapi, jika ini berhasil. Kau jangan meminta apa pun!"


"Silahkan, Dad, dan kau akan masuk bui seumur hidup mu," sahut Bernard balik mengancam.


Rodrigo terdiam. Ia pun mendengkus kesal, lalu ia pun. pergi begitu saja. Ia masih memiliki beberapa kolega yang bisa diajak kerjasama.


"Aku pastikan, pembeli itu membeli via perantara aku!" ujarnya.


Sementara di sebuah restauran Deon kini tengah mengkaji proposal kerjasama. Ia sangat puas dengan semua review dan program yang tertulis. Ia telah yakin jika putrinya telah belajar banyak.


Sedangkan Tania begitu terpesona dengan penampilan Luien hari ini. Gadis itu tampak memperlihatkan kelasnya. Sedang ketiga gadis itu menatap sinis.


"Aku heran denganmu, Luien. Penampilanmu hari ini kau unjukkan ke siapa?" sindir Ana.


"Maaf, Nona. Saya tak mengerti maksud anda," jawab Luien tak mengerti.


"Tentu saja kau tak mengerti. Otak bodohmu kan memang standar dengan kemiskinanmu!" sindir Davina kini.


Deon yang mendengar putrinya dihina langsung mengepal tangannya erat. Ia menatap putrinya yang tak menanggapi hinaan itu.


"Ana, Davina!" tegur Tania tak suka.


"Tante, apa kamu nggak tau maksud Luien memakai baju sebagus ini?" tanya Ana pada wanita itu mulai berani.


"Dia hanya ingin mensejajarkan diri dengan kaum bourguis!" sindirnya menatap sinis pada gadis yang memandanginya dengan tatapan datar.


"Aku yakin kau terlahir tanpa ayah!" lanjutnya menghina.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus itu.


bersambung.


ayooo siapa yang nampar dan kena tampar?


next?