
"Kita tuntut negaranya!" tekan Deon.
"Sayang," panggil Mira.
Deg!
Hati Deon berdetak kencang saat Mira memanggilnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia memang memiliki orang tua yang harmonis dan hangat. Tetapi, sama dengan Ludwina, hanya formalitas saja. Terlebih dirinya adalah putra mahkota yang disembunyikan. Tekanan dan semua rutinitas harus ia lakukan. Diajari menjadi raja, walau hal itu mungkin saja tak pernah ia dapatkan. Menikahi wanita yang tak ia cintai awalnya, walau kini ia cinta mati dengan istrinya.
Kehilangan Luiena menjadi berkah, ia mengenal orang-orang baik, seperti Chen dan Armira. Orang-orang langka.
"Untuk apa kita menuntut sebuah negara?" tanya Mira.
"Mereka melanggar hak asasi manusia, Mira," jelas Deon.
Armira menggeleng. Ia menolak. Dengan senyum indah, ia mengelus pipi pria yang memandangnya penuh kelembutan.
"Jika kau bisa memindahkan makam putraku, itu lebih baik dari pada kau menuntut, aku ingin mengunjungi makam Betrand," pinta Armira.
"Mira, dengan kita menuntut, kau bisa mendapat lebih dari ini!" ujar Deon.
Semua mengangguk setuju. Mira tetap menggeleng.
"Untuk apa? Aku sudah memiliki semuanya di sini," jawab Mira memandang semua orang dengan lembut.
Rico menaiki wanita tua itu. Bayi itu membuka mulutnya lalu menciumi Mira hingga basah oleh liurnya. Wanita renta itu terkekeh geli. Ia menciumi gemas Rico hingga tergelak. Semua senang mendengar tawa bayi itu. Frank sangat sedih, ia merasa bersalah ketika membunuh dua kakak dari bayi itu.
'Mungkin lebih baik aku menyerahkan diri,' gumamnya dalam hati.
"Kau akan membuat Mira bertambah sedih dan merana jika kau melakukan itu," bisik Ken.
Frank menatap pria di sebelahnya. Ia sangat terkejut jika Ken dapat membaca pikirannya.
"Tentu saja aku tau apa yang kau pikirkan, walau semua kamera pengintai tak menyorotmu. Namamu ada di kesatuan pengaman Tuan Xavier Thomas yang tidak ditangkap dan tewas terbunuh karena racun," bisik Ken lagi.
Frank terdiam. Pria itu melupakan satu hal, datanya masih tersimpan rapi sebagai pengawal dari mendiang pamannya itu.
"Berterima kasihlah, ayahmu mengakui semuanya dan menyatakan jika dia pelaku tunggal," bisik Ken lagi.
Frank menelan saliva kasar. Ia tak mampu berkutik lagi. Tapi, ia memang ingin merubah dirinya. Ia meninggalkan semuanya demi bersama Armira.
"Jadi, kau hanya ingin makam putramu dipindahkan?" Mira mengangguk.
Deon menatap Ken. Pria itu pun langsung berdiri dan membungkuk hormat. Armira bingung.
"Apa iya, kau bisa melakukan itu?" tanyanya.
"Makanya, tadi aku menawarkan diri untuk menuntut negara A karena telah mengorbankan hak warga sipil, terlebih Betrand bukan seorang militer yang terlatih," jelas pria itu.
Mira menatap Luien, kini ia melihat kemiripan antara Deon dan gadis tetangganya itu. Hanya beda mata saja.
"Katakan, siapa kalian?" tanya Mira mulai takut.
"Jangan takut, Mira. Kami bukan siapa-siapa, hanya bisa membantumu sebisa kami," ujar Wina menenangkan.
Mira pun tersenyum. Ken berlalu melaksanakan tugas dari tuannya.
"Mira, mereka adalah kedua orang tuaku," sahut Luien memberitahu.
"Ya, aku percaya, kau mirip sekali dengannya," ujar Mira sambil menatap Deon.
"Kami pulang, Mira," pamit Wina.
"Antar mereka Luien," titah Mira pada gadis itu.
Luien mengecup pipi wanita itu, begitu juga Deon dan Ludwina bahkan Rico. Bayi itu kini berada di gendongan ayahnya.
"Hati-hati di jalan," ujar Wina sambil melambaikan tangan.
Pintu unit tertutup. Frank memeluk ibu angkatnya erat, ia begitu beruntung mendapatkan Armira. Ia akan belajar berbuat baik, seperti wanita renta ini.
"Aku akan membahagiakanmu, Mom," janji Frank.
Mira tersenyum. Ia mengelus tangan kekar pemuda itu.
"Belum," rengek pemuda itu.
Armira terkekeh geli, begitu juga Frank.
"Ayo, bantu aku masak," ajak wanita itu.
Frank pun mengikuti ibu angkatnya. Keduanya pun kini sibuk dengan peralatan dapur dan bumbu.
Semenjak ada Frank. Chen lebih sering memberi wanita itu bahan makanan yang bisa dimasak. Walau terkadang Frank menolak kebaikan pemilik apartemen itu.
Sedang di tempat lain, Deon meminta Luien ke rumah Chen.
"Untuk apa Daddy?" tanya Luien yang kini menyetir.
Deon yang berada di sisi putrinya itu kini berada dalam mobil gadis itu. Mobilnya tadi dipakai Ken untuk mengurus semua keperluan untuk memindahkan makam Betrand.
"Kau akan tau nanti, sayang," jawab Deon.
Rico sudah tertidur di pangkuan ibu nya. Wina sibuk mencium pipi gembul putra angkatnya.
"Kenapa kau menggemaskan begini," ujarnya geregetan.
Luien terkekeh begitu juga Deon. Mereka juga gemas dengan bayi yang sudah mulai menampakkan kenakalannya itu.
Butuh waktu dua puluh lima menit untuk sampai ke rumah Chen. Rumah sederhana dengan halaman hijau dan penuh dengan bunga. Wina langsung menyukai suasana rumah sederhana itu.
Seorang pria tergopoh-gopoh membuka gerbang. Mobil Luien masuk dan terparkir di sebelah mobil Chen.
Chen sudah keluar dan menyambut mereka. Luien sudah memberitahunya via pesan singkat.
"Astaga, mimpi apa aku didatangi raja bisnis, Tuan Philips," sambutnya ramah.
Deon menyalami pria baik itu. Mereka diajak masuk. Luien menggendong bayi gembul itu.
Sarah, Veronica, Eduardo, dan Daniel Chen adalah empat anak Chen. Mereka juga sangat baik, istri pria itu juga sangat baik.
"Aku ingin membeli unit Mira untuknya," ujar Deon langsung.
Chen tertawa. Ia menggeleng.
"Mira sudah kubebaskan untuk tidak membayar unitnya, Tuan. Tapi, ketika ia hendak membayar, aku suka menerimanya karena tidak ingin melukai harga dirinya," jelas Edward.
"Tapi, ini adalah bisnis. Kau harus menghitung untung dan rugi,," ujar Deon.
"Tidak ada bisnis untuk Armira, Tuan," sahut Edward dengan senyum lebar.
Deon menatap pria berbangsa Asia itu. Ia benar-benar sangat beruntung mendapat orang sebaik Chen.
"Dua puluh lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengenal Armira. Mendiang orang tuaku yang pertama kali mengenalnya, hingga aku menikah dan memiliki empat anak. Armira adalah penyewa unitku yang paling setia," jawab Chen.
Deon menjabat erat pria itu ketika pamit pulang. Wina memeluk istri pria baik itu.
"Jika Sarah lulus. Suruh ia menghadapku, aku butuh staf eksekutif yang kompeten dan aku yakin Sarah adalah orang yang tepat," pinta Deon.
Sarah tersenyum lebar. Ia memang sangat ingin bekerja di perusahaan raksasa itu. Kini ia mengerti kebaikan ayahnya pada Armira.
Chen menatap putri pertamanya. Ia tersenyum bahagia. Kini, sang putri tak perlu sibuk melamar kesana-sini untuk melamar pekerjaan.
"Terima kasih, Pa," ujarnya memeluk ayahnya.
"Berterima kasihlah pada Armira sayang, berkat kebaikannya pula, seorang raja mau mampir dan memberi kebahagiaan untuk kita," sahut Edward.
Sarah mengangguk. Ia sedikit menyesal karena terkadang ia suka mengeluh ketika ayahnya menyuruh mengantarkan makanan untuk Mira. Kini, ia tau apa alasan untuk berbuat baik itu.
"Tanamlah bibit baik. Padi akan tumbuh padi, walau ada rumput di sekelilingnya, tapi padi tetaplah padi."
Petuah Edward, sang ayah akan diingat oleh Sarah dan ketiga adiknya yang lain.
Bersambung.
next?