THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
BERNARD 2



Hari ini hari jumat. Bernard sengaja bangun pagi-pagi. Pria itu sudah mulai berolahraga. Dua hari saja, ia mengamati keseharian Luien. Gadis itu memang suka berolahraga dulu sebelum melakukan aktivitas apa pun.


Benar saja, Luien keluar bersamaan dengan Bernard atau Frank. Pria itu menyapa sang gadis dengan senyum yang menawan. Jika gadis biasa mungkin akan langsung histeris dan terpesona. Bahkan bersedia melakukan apa pun demi senyuman dari Frank. Luien mengerutkan kening melihat senyum itu. Frank sedikit terkejut dengan reaksi sang gadis.


"Wah, senyum Anda manis sekali, Tuan Frank!" puji Luien dengan nada biasa.


"Panggil aku Frank, Luien. Aku bukan Boss mu," sahut Frank sedikit dingin.


"Oh, maaf Frank. Kenapa berubah lagi sikapmu? Tadi kau hangat sekarang kau sedikit beku?" tanya Luien heran dengan perubahan mood Frank.


"Tidak apa-apa. Aku memang seperti ini orangnya, padahal masa remajaku sudah lewat," keluh Frank tentang dirinya yang cepat berubah perasaan.


Luien terkekeh mendengarnya. Frank tertegun melihat Luien. Kecantikan gadis itu memang begitu mempesona. Ia mengakui itu.


"Kau akan berolahraga?" tanya pria itu bodoh.


"Menurutmu?" tanya Luien malas.


Frank terkikik geli. Mereka pun keluar bareng dan berolahraga. Frank pura-pura bertanya tentang pekerjaan dan lowongan.


"Aku baru pindah ke kota ini. Jadi aku tak memiliki pekerjaan tetap," ujarnya berbohong.


"Memang apa yang kau bisa?" tanya Luien sambil berlari.


"Well, aku tadinya bekerja sebagai pengawal pribadi," jelas pria itu mengikuti Luien yang berlari.


Lima putaran mereka berlari. Luien merasa cukup. Ia pun kembali ke unitnya begitu juga Frank.


"Bagaimana Luien?" tanya pria itu lagi.


"Nanti aku tanyakan, ya? Tapi aku tak bisa berjanji," jelas gadis itu.


"Baik lah. Terima kasih sebelumnya," ujar Frank pasrah.


Luien tak enak hati. Ia juga tau bagaimana rasanya jika tak memiliki pekerjaan. Tetapi, ia melihat pakaian yang dikenakan pria di sebelahnya. Semua adalah keluaran branded ternama. Gadis itu tak yakin jika Frank adalah orang tak mampu.


"Kenapa kau tak membuat pekerjaan sendiri, Frank, jika dilihat, kau cukup memiliki kompeten untuk hal itu?!" tanya Luien.


"Hmmm ... bisa jadi karena aku terbiasa diperintah jadi aku tak memiliki gambaran untuk membuka lapangan pekerjaan," jawab Frank mengakui kemampuannya tak seberapa.


"Jangan merendah seperti itu. Kau laki-laki. Pasti kau memiliki semangat juang yang tinggi," ujar Luien memberi semangat.


"Baik lah. Terima kasih semangatnya, cantik!"


Keduanya saling tatap, lalu tersenyum lebar. Frank benar-benar menyukai gadis itu. Debaran jantungnya dari tadi berdegup kencang ketika berdekatan dengan gadis ini.


"Kau sangat cantik Luien," pujinya.


Siapa pun gadis yang dipuji sedemikian rupa pasti akan bersemu merah, begitu juga Luien yang langsung tersipu dengan pujian itu. Apa lagi Frank juga tampan.


"Terima kasih, kau juga tampan," gantian Luien memujinya.


"Oh, kalau itu aku sudah tahu," kelakar Frank.


Luien berdecak dengan kepercayaan diri pria itu. Mukanya sedikit sebal, walau ia pun mengakui jika Frank itu tampan.


Frank sengaja bersembunyi di antara pilar-pilar gedung. Ia melihat untuk apa gadis yang menjadi targetnya itu turun di basemen. Ternyata, sebuah mobil BMW seri dua tahun lalu keluar dari basemen. Setelah itu, Frank tak melihat kendaraan lain lagi.


"Berarti, Luien menggunakan mobil tadi," putus Frank meyakini dugaannya.


Pria itu memakai kacamata hitamnya. Dengan langkah lebar, ia berjalan ke seberang lapangan di mana Lambo-nya terparkir rapih. Ia benar-benar mengakui jika tempat ini aman. Tak sedikit pun mobilnya dicungkil atau lecet sekali pun.


"Hebat. Aku tak bisa membayangkan, di tempat elite, mobil ini sudah dua kali dikutil dan nyaris dibawa lari perampok," ujarnya kagum pada tempat yang sangat aman.


Mobil pria itu dilengkapi sensor khusus. Hanya pemiliknya saja yang bisa mengakses kendaraan tersebut, jika terjadi apa-apa, maka alarm akan berbunyi kencang dan akan menjadi perhatian orang-orang. Tak lama, mobil mewah itu pun meluncur membelah jalan raya.


Bernard ke mansion ayahnya. Rodrigo memberinya pesan dan ingin bertanya perkembangan usaha putranya. Butuh waktu satu jam untuk sampai mansion ayahnya itu. Ibu Bernard entah kemana. Wanita itu meninggalkan dirinya begitu saja di mansion ini hanya bersama para maid ketika ia masih berusia enam tahun.


Rodrigo sangat menghargai istrinya, walau mereka menikah karena perjodohan. Bernard sangat tahu, jika sang ayah termasuk pria setia.


"Mommy pergi dulu ya," begitu pamitnya suatu pagi.


Bernard mengangguk dengan antusias. Ibunya akan selalu membelikannya hadiah setiap pulang. Tetapi, Georgina tak pernah kembali setelah ia pamit pagi itu.


Ia mengira, ibunya lari atau kabur dari rumah. Tetapi, semua baju dan barang berharganya ada semua di kamarnya. Rodrigo sudah mencarinya ke mana-mana. Bahkan ke kalangan sosialita di mana Georgina. Tapi, semua mengatakan jika tak ada pertemuan di hari itu. Bahkan, Rodrigo menyewa detektif ternama, tetapi semuanya tak membawa hasil. Istrinya menghilang bagai di telan bumi.


Bernard seperti anak yang kehilangan kasih sayang setelah ibunya menghilang. Didikan Rodrigo tak membuatnya jauh lebih baik. Terlebih setelah perusahaan sang ayah terkena masalah.


Mereka pun mendekati Xavier Thomas, pamannya. Diiming-imingi pembagian harta berlimpah jika berhasil merebut perusahaan mendiang pamannya itu. Membuat ia harus bekerja menjadi pengawal pribadi. Tak menyangka, jika ternyata tak semudah itu ia merampas harta yang memang bukan miliknya.


Mobil Bernard masuk halaman mansion sang ayah. Pria tampan itu keluar dari mobil dengan wajah datar.


"Tuan muda!" sambut para pelayan yang berjejer rapi.


"Mana ayahku?" tanyanya datar.


"Ada di ruang kerjanya Tuan muda!" jawab kepala pelayan.


Bernard melangkahkan tungkai kaki panjangnya. Menaiki lift dan berhenti di lantai tiga. Ia pun berjalan menuju ruang kerja ayahnya.


Rodrigo tengah memeriksa berkas-berkas. Beberapa hutang sudah jatuh tempo. Ia harus membayarnya, sebelum bank mengaudit perusahaannya.


"Ayah!" panggilnya.


"Duduklah. Ayah sedang memeriksa beberapa aset yang bisa dijual untuk menutupi hutang," titah Rodrigo.


Bernard pun duduk. Perlahan ia menatap lekat ayahnya yang begitu serius. Terkadang, ia tak tahu dari mana sifat jahat sang ayah hingga memiliki rencana luar biasa membunuh adik sepupunya sendiri. Bahkan, Bernard juga membunuh dua adik sepupunya yang masih bayi.


"Jadi bagaimana pendekatan mu pada gadis itu?" tanya Rodrigo pada akhirnya.


"Dia gadis biasa, tetapi sepertinya ada yang disembunyikan. Pakaiannya mirip gembel, tapi memiliki mobil mewah seri class E," jawab pria tampan itu.


"Aku sudah tau itu. Teruslah dekati dia, jika perlu buat ia bertekuk lutut padamu seperti wanita murahan lainnya," ujar Rodrigo sinis.


"Akan aku lakukan Ayah. Dia akan kubuat bergerak di bawahku dan aku merekamnya lalu ... wala ... dia akan jatuh dan mau melakukan apa pun yang aku minta bukan?' Rodrigo mengangguk puas dengan rencana putranya.


Bersambung.


next?