THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
MISI



Luien pun kembali menyusup. Gadis itu akan menjadi sosok yang sangat tidak dikenali dan tidak diinginkan di istana itu. Untungnya, sang ayah belum memperkenalkan dirinya.


Ken meminta pengertian istrinya, karena ia adalah pelindung dari nona mudanya. Felicia mengangguk. Malam pertama mereka hanya diwarnai dengan berbagai pelukan dan ciuman karena sang istri tengah mendapat siklusnya.


Mengepel dan menyapu? Luien sudah biasa memegang pekerjaan itu. Bahkan ia bisa mencuci sprei dan selimut tebal, menggunakan tangannya.


Luien memakai baju ala kadarnya. Ia akan tidak dikenali siapapun jika sudah berpakaian seperti ini.


"Eh, siapa dia?" tanya salah satu pelayan.


"menjijikan, ini area istana ada pengemis masuk ke sini?" sindir wanita itu.


Luien melihat pakaiannya. Tak ada yang salah. Hanya bukan keluaran branded ternama.


"Apa ada pengemis memakai baju sebersih ini?" tanya Luien heran.


"Ck, pakaianmu memang bersih. Tapi, tak layak jika berada dan berkeliaran di istana ini!" sindir salah satu pelayan ini.


"Pengawal!" pekik pelayan.


Luien pun memilih pergi meninggalkan tempat itu. Gadis itu ingin pergi ke salah satu perpustakaan istana. Ia akan mulai dari sana.


Gadis itu hanya berjalan kaki menuju sebuah bangunan kastil, banyaknya orang lalu lalang di sana. Ia ingin belajar sejarah kerajaan Philips ini.


Semua orang memandangnya. Karena semuanya adalah orang kaya raya. Pakaian yang mereka kenakan juga yang terbaik dan dari branded ternama.


Sosok cantik dengan mini dress dari butik ternama. Ia melangkah anggun dengan empat pengawal di sisi kanan kirinya. Banyak orang memfotonya dan berdecak kagum.


"Ah, Tuan putri Alicia ... dia cantik sekali," puji salah satu gadis sambil menangkup dua pipinya.


"Tentu saja. Ia baru saja lulus dari universitas ternama. Aku yakin dia sangat cerdas.


Luien tak peduli, gadis itu tetap berjalan menaiki tapak tangga. Perpustakaan itu untuk umum. Di sana ada cafe yang diperuntukan kaum muda borguis. Alicia yang melihat ada salah satu gadis yang tak menggandrunginya sangat kesal luar biasa.


"Hentikan dia!" titahnya angkuh.


Salah satu pengawal langsung menjajar langkah kaki Luien dan menangkap bahunya. Satu gerakan kilat. Tubuh besar itu terbanting dan mulutnya berteriak kesakitan. Luien melakukan gerakan penguncian.


"Apa maumu!' sentaknya marah.


Alicia membola. Gadis itu benar-benar malu. Satu pengawalnya dirobohkan begitu saja. Ia tak mungkin mengerahkan pengawal yang lain. Kini, para gadis yang tadi memujanya mulai berbisik-bisik.


"Ah, kenapa dia menyuruh pengawalnya menghentikan orang tadi?"


Krak!


"Aarrgh!" teriak pengawal ketika Luien menarik tangannya.


Ketiga pengawal yang lain serba salah. Ia hendak membantu rekannya tetapi tak ada perintah dari nona mudanya.


"Lepaskan pengawalku, Nona. Maaf, dia agak agresif jika ada orang lain menyepelekan diriku," ujar Alicia berdrama.


Luien melepas kunciannya. Pengawal itu memegangi bahunya. Ia sangat yakin jika sendinya bergeser.


'Tenaganya kuat sekali!' pujinya dalam hati.


Luien yang memang malas berdebat, lalu hendak masuk ke perpustakaan itu.


"Eh, anda dilarang masuk!" larang Alicia.


Luien menoleh padanya. Ia membuka pintu dengan selebar-lebarnya. Tulisan "For public" tertera jelas terpampang. Alicia terdiam. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan Luien masuk ke dalam.


Dalam hatinya mengumpat habis-habisan gadis yang berpakaian layak gembel itu.


"Ck ... kenapa lagi tulisan itu terpampang begitu jelas di aula umum!' gerutunya kesal.


Luien berjalan memilih lorong history. Gadis itu sangat ingin mengetahui bagaimana kerajaan ini terbentuk. Karena ia yakin, jika Ratu Victoria bukanlah asli penduduk lokal.


"Ah, ini dia!" serunya.


Buku yang ia cari ada di rak paling atas. Ia harus memakai tangga. Di sana ada tangga khusus yang bisa didorong. Ia pun mengambil dan mendorong hingga pada rak yang ia inginkan.


Alicia memilih pergi ke cafe. Di sana para gadis-gadis sosialita berkumpul. Gadis itu duduk di tempat biasanya. Seluruh teman-temannya langsung mengerumuninya. Secara Alicia memang anak orang paling kaya dan memiliki kedekatan dengan ratu. Ayahnya bekerja sebagai wakil perdana menteri istana.


"Hi, Alicia. Apa gaun yang kau pakai adalah rancangan Gucci terbaru?" tanya salah satu gadis dengan wajah kagum.


"Ya, aku dengar, baju ini hanya satu-satunya dan harganya sangat-sangat mahal," sahut salah satunya.


Luien masuk ke cafe tersebut dengan empat buku tebal di tangannya. Ia menuju tempat duduk yang ada di teras atas, teras khusus untuk para pembaca yang butuh ketenangan.


"Hei, kenapa pengemis bisa masuk cafe ini?" tanyanya penuh kesombongan.


Semua menoleh arah Luien. Gadis itu seperti tuli. Ia tetap melangkahkan kakinya menuju teras atas. Alicia marah sekali.


"Berhenti kataku!" bentaknya.


Luien menoleh. Ia menatap datar gadis cantik ini. Dengan langkah gusar ia melangkahkan kaki mendekati Luien.


"Manager, kenapa pengemis ini bisa masuk tempat ini!" bentaknya.


Seorang wanita berlari. Ia adalah manager tempat ini.


"Ada apa nona?" tanyanya dengan wajah pucat.


"Katakan, sejak kapan pengemis bisa masuk cafe bertaraf elit ini?" tanyanya penuh arogansi.


Luien hanya diam menanggapi. Gadis itu meletakan empat buku tebal di salah satu pijakan tangga. Ia menikmati drama ini. Manager cafe melihatnya. Ia juga heran kenapa ada gadis berpakaian sangat-sangat sederhana bisa masuk ke tempat ini dan lolos di pintu masuk cafe.


"Nona, maaf bagaimana anda bisa masuk. Semua memakai sistem kartu member untuk masuk tempat ini?" tanya manager itu sambil menjelaskan.


"Jika saya bisa masuk, berarti saya siapa di sini?" tanya Luien berbalik.


"Mungkin kau merusaknya!" tuduh salah satu gadis dengan banyak perhiasan di seluruh tubuhnya.


"Wah, apa berarti kau beranggapan keamanan tempat ini sangat lemah ya?" sahut Luien santai.


"Bu ... bukan begitu maksudku!' bentaknya.


"Lalu apa?" tanya Luien tak bersemangat.


'Ah, jadi kangen Diana sama Gloria deh,' gumam gadis itu dalam hati.


Luien menatap manager yang serba salah. Jika ia melarang Luien masuk, berarti dia mengamini jika keamanan tempatnya bekerja buruk, hingga ada orang tak berkepentingan bisa masuk.


"Bisa saja, dia mencuri kartu akses masuk!" tuduh Alicia.


Luien tersenyum miring.


"Lalu, kartu siapa yang kucuri?" tanya Luien berbalik.


Alicia terdiam. Semua kasak-kusuk. Hingga.


"Ah, kartuku hilang. Kau lah yang mencurinya!" teriak salah satu gadis langsung menunjuk Luien.


"Oh ya?" tanya Luien makin malas.


"Kapan hilangnya? Jam berapa?" tanya Luien.


"Kapan aku bertemu denganmu? di sini begitu banyak kamera pengintai. Apa kau yakin, aku bisa mencuri kartumu?" cecar Luien.


"Itu ... itu ...!" gadis itu tak bisa menjawab.


"Jika kau kehilangan kartu sebelum kau masuk. Berarti sistem keamanan di sini benar-benar buruk!" ujar Luien lagi.


"Itu tidak mungkin. Setiap minggu, kami selalu memperbaiki data user dan menaikan performanya!" elak manager tak terima.


"Begitu? Lalu kenapa empat pengawal itu bisa masuk? Apa mereka member tempat ini?" tanya Luien.


Alicia pucat. Ia memang mengakses satu kartu sebanyak lima kali agar pengawalnya bisa masuk. Karena satu kartu hanya bisa mengakses satu orang.


Manager sangat paham. Alicia adalah anak dari penguasa setempat. Makanya ia membiarkan Alicia mengakses kartu lebih dari satu kali, dan mengubah datanya.


"Sepertinya, tempat ini harus dilaporkan ke dewan penyeleksi dan merubah sistemnya," ujar Luien santai.


bersambung.


ah ... kalah debat kan?


next?