
Suara jepretan kamera menyadarkan Gracia. Wanita itu cukup terkejut dengan kedatangan Diana, kemenakannya.
Gracia adalah adik sepupu dari Veronica Lambert. Ayah dan ibu mereka bersaudara kandung. Makanya, Diana sangat kenal dengan wanita yang membuat ibunya menderita ini.
"Diana!"
"Kenapa Bi ... kau kaget melihatku di sini?" tanya Diana.
Adrian mendatangi asisten magangnya itu. Pria itu memeluk dan mencium Diana dihadapan Gracia.
"Kau tau Gracia ... Diana jauh lebih merangsang ku dibanding kau yang sudah keriput itu," sindir Adrian masih memeluk Diana.
Diana menatap tajam atasannya itu. Adrian melepas pelukannya. Gracia tersenyum miring.
"Kelakuan kita sama. Menggoda lelaki kaya," sindirnya menghina.
Diana tertawa.
"Salah besar, kau lah penggoda murahan itu Gracia. Sedang Diana adalah kekasihku!' bela Adrian pada wanita yang ada di sisinya.
Gracia diam. Ia pun mengambil kemeja yang ia lepas tadi dan langsung memakainya. Wanita itu buru-buru pergi dari perusahaan Maxwell. Keberadaan Diana mengancam kedudukannya sebagai pemegang kekuasaan.
"Diana, kita ke pengacara ayahmu. Vic sudah menghubunginya, jika putri dari Adam Cloum masih hidup. Soal berita perselingkuhan ibumu pun sudah dibereskan," jelas Adrian.
Diana memeluk atasannya spontan, ia begitu berterima kasih telah banyak dibantu oleh pria itu. Luien tersenyum bahagia. Akhirnya semua hak sahabatnya akan kembali padanya.
Alex merengkuh pinggang ramping Luien. Gadis itu langsung kaku. Alex terkekeh mendapat respon kaku dari kekasihnya itu.
"Aku masih menunggu kau memberikan hadiah taruhanmu," bisik pria itu.
Luein meremang jantungnya berdetak kencang. Kedua netra itu saling menatap. Tak ada yang mau mengalah. Pupil Alex melebar karena memperbesar daya tangkapnya. Hidung keduanya salin bersentuhan. Luein menahan napas.
"Jangan tahan napasmu seperti itu, sayang, jika kau pingsan, aku sih senang-senang saja memberimu napas buatan," ucap Alex lalu mengecup pucuk hidung Luien.
Kini, Luien, Alex dan Vic tengah menjenguk Gloria. Mereka mendatangi mansion Ageele. Mansion yang luas tanahnya satu hektar itu juga memiliki ranch di belakang halaman mansionnya. Selain ranch, pria itu juga memiliki pacuan kuda sendiri.
"Selamat datang Tuan, mari masuk," ujar Sabrina Revans ibu dari Gloria.
"Luien, kau datang sayang?" tanya Sabrina.
Wanita itu memang mengenal Luien karena dulu gadis itu adalah teman dekat putrinya. Ia belum tahu jika gadis itu sudah tidak bersahabat lagi dengan temannya.
"Kenapa kau jarang datang?" Alex dan Vic heran melihat kedekatan nyonya rumah dengan gadis magang itu.
Luien menelan saliva kasar. Tiba-tiba Gloria datang bersama perawat yang mendorongnya di kursi roda.
Gadis itu masih lemah dan ketakutan. Luien sedih melihat rivalnya ketakutan seperti itu. Luien duduk mendekatinya, memegang tangannya yang gemetar.
"Gloria, kau tau. Ayahmu akan melindungimu, Kau bisa mengadukan semuanya. Aku akan membereskannya untukmu," ucapnya pelan.
Gloria meneteskan air mata. Gadis itu menggerakkan mulutnya. Luien mendekatkan telinganya. Gadis itu nampak mengepalkan tangannya.
"Jessy ingin menjual keperawanan mu, untuk membeli tas limited terbaru," ujar Luien.
Gloria meneteskan air matanya lagi. Ia menggerakkan mulutnya. Luien mendekatkan lagi telinganya.
"Jadi kau menolak ikut karena ada pria yang sama di malam ketika kau dibius?" Gloria mengedip dua matanya kuat-kuat, menyatakan kebenaran.
"Kau mengenalnya?" Gloria hanya menggerakkan tangannya, mengatakan tidak.
"Tuan?" pintanya pada Alex.
"Aku sudah mengecek semua kamera pengintai. Sosok pria yang memanggul Gloria tak begitu ketara karena blur!" jawab Alex.
"Jessy tak mau mengatakan apa-apa bahkan ketika ia diancam oleh ayahnya sendiri akan membuangnya," jelas Vic kemudian.
"Bagaimana dengan transfer rekening?' tanya Ageele tiba-tiba. Pria itu baru pulang dari kantornya, ia buru-buru pulang karena ada tamu agung yang datang.
"Aku yakin jika pria itu mentransfer uang," ujar Ageele.
"Sayang, aku tak memiliki wewenang.untuk memeriksa transaksi bank," lanjutnya dengan wajah menyesal.
"Tapi, jika ini termasuk kriminal, apa pihak bank tidak memberi keringanan?" tanya Vic.
"Jika ini negaraku. Akan kubuat dia bangkrut, sebangkrut-bangkrutnya!" ucap Alex geram.
"Semua masalah ini bisa jika Tuan Lazuard Deon Philips ikut turun tangan," jelas Ageele lagi.
"Tuan Lazuard Deon Philips? Pemilik perusahaan terbesar di kota ini?" Ageele mengangguk.
Luien menunduk. Pria itu meyakini jika Luien benar-benar sudah tak diakui lagi, seperti rumor yang beredar. Tetapi, karena berkat Luien, putrinya selamat.
Kini ketiganya kembali ke perusahaan. Semua hening dalam perjalanan. Luien harus meminta ayahnya untuk turun tangan. Ia merasa resah jika pria itu masih berkeliaran mencari mangsa.
Sedang di tempat lain. Jessy yang terkurung di kamarnya, sudah mulai bosan. Gadis itu mencari cara agar ia keluar dari kamarnya.
"Aku nggak bisa di kurung terus!" pekiknya tertahan.
Melihat jendela, ia berada di ketinggian tiga meter dari tanah. Jika nekat meloncat ia akan celaka. Mencoba menyimpul kain hingga bisa menjadi tangga untuk ia turun. Gadis itu tak tahu caranya menyimpul kain-kain itu.
Tidak ada pelayan yang datang. Semua makanan dan minuman terletak di depan pintunya, jadi ia tak bisa membujuk pelayan itu menjadi dirinya, hingga ia berhasil menyelinap keluar dari rumah, seperti yang sudah-sudah.
"Lagian Gloria payah amat sih, pake lapor-lapor polisi segala!" runtuknya kesal.
"Kan enak, tinggal bobo bareng sambil menikmati keindahan surga, aku juga nggak bakal diem aja kok, hasilnya bisa kita nikmatin. Tas itu bisa kamu pinjem," ujarnya bermonolog.
"Lagian aneh banget, hari ini ada gadis masih perawan!" lanjutnya.
Ponselnya berdering. Sebuah nama tertera di sana.
"Tuan Don Mortego!" ia pun mengangkatnya.
"Halo!' ujarnya berbisik.
"......!"
"Aku nggak bisa keluar. Bagaimana kalau phone S ex aja?" tawar gadis itu.
"......!"
"Polisi di sini juga mulai mencarimu Tuan!" tekannya meminta pengertian.
".......!'
"Baiklah kita lakukan Video call," ujar Jessy.
Ia pun membuka laci dan mengambil benda yang mirip anatomi tubuh laki-laki itu. Gadis itu pun memulai aksinya.
Diana sudah kembali, bahkan ia bahagia sekali. Gadis itu berhasil mendapat bibinya. Pengacara sang ayah membantunya melaporkan pada kepolisian dengan tuduhan penggelapan kekuasaan dan pembiaran manusia.
Adam ditemukan nyaris seperti kerangka manusia. Pria itu tak diobati. Perawat di sana hanya duduk menunggu dan membersihkan kotoran pria itu.
"Aku akan pulang lebih dulu, Luien dan memberitahu Mama soal ini," ujarnya semangat.
"Selamat, Sis. Kamu layak mendapatkannya," ujar Luien terharu.
Sementara di sel tahanan Gracia mengutuk Diana habis-habisan. Wanita itu terus mengumpat dengan kata-kata kasar.
"Hai, berisik!" bentak salah satu penghuni sel.
"Apa kau!" tantang Gracia.
Wanita yang menghardik Gracia tadi bangkit dari ranjang. Ia menatap datar penghuni baru itu. Melihat dandanan Gracia.
"Kau bisa menjadi pelayan kami!' ujarnya dengan seringai menyeramkan di bibir.
Gracia pun menelan saliva kasar. Ia salah cari lawan.
bersambung
sukooorrr
next?