
Hari berganti berita kelahiran tiga pangeran menjadi buah bibir di masyarakat. Bahkan ketika pembaptisan mengira kaum bangsawan yang membaptis para pangeran.
Semua terkejut ketika Ken dan Felicia yang menjadi orang tua baptis ketiga pangeran itu. Pembaptisan William, Henry dan Alexander bersamaan dengan pembaptisan putri dari Ken, Eilina Guzardi Rafael. Princess Eillie begitu cantik dengan balutan baju putih mengembang. Deon dan Wina menjadi ayah baptis dari cucunya tersebut.
Banyak wartawan datang ketika pengenalan tiga pangeran dan satu putri. Bayi Luien barulah tiga minggu. Ken menggendong dua bayi Luien dan satunya digendong oleh Felicia.
"Yang Mulia, apa ada rencana pendidikan dini untuk tiga pameran?" tanya salah satu wartawan.
"Tidak!" jawab Luien tegas.
"Saya ingin ketiga putra saya bebas dan tidak terbebani pendidikan formal. Karena percuma, mereka juga tak mengerti!" lanjutnya.
"Tapi pendidikan dini akan membentuk karakter Yang Mulia!" sahut salah satu wartawan.
"Memang. Tapi, biar ajaran awal semua anakku berasal dari diriku, ibunya!" tukas Luien tegas.
"Tuan Maxwell, bagaimana perasaan anda memiliki keturunan langsung empat?"
"Ralat, sembilan ya. Karena bayi Vic ada lima," sahut Maxwell dengan senyum lebar.
"Tuan dari silsilah anda. Tuan bukanlah memiliki keturunan kembar!"
"Besan saya keturunan kembar. Perlu anda tahu mendiang kakek Vic juga ada garis kembarnya!" jawab Maxwell menerangkan.
Perayaan pembaptisan tiga pangeran dan satu putri berlangsung meriah. Sedang Gloria yang tengah mengandung delapan bulan tampak seperti orang yang membawa tambur besar.
"Aku tak bisa melihat lantai bahkan kakiku sendiri."
Semua terkekeh mendengar selorohan wanita cantik itu. Diana juga memamerkan putra tampannya. Netra amber milik Adrian juga wajah pria itu tercetak di raut bayi berusia empat bulan itu.
"Lihat putraku. Ia hanya numpang di perutku. Aku yang kesusahan dan ngidam selama tiga bulan lalu melahirkan bertaruh nyawa. Eh, begitu keluar malah tak.ada satupun yang mirip denganku," keluh wanita itu sebal menatap putra yang pipinya bulat kemerahan.
Semua tertawa lirih. Banyak para wanita yang memiliki anak mengeluhkan hal yang sama dengan Diana. Begitu kesusahan hamil dan melahirkan, begitu keluar malah wajah sang suami yang tercetak jelas di rupa putra mereka.
Hari berlalu. Kini giliran Gloria yang berada di rumah sakit. Wanita itu sudah satu minggu dirawat untuk melihat perkembangan janin. Operasi Caesar akan dilakukan mengingat banyaknya jumlah bayi. Gloria tak akan kuat melahirkan secara normal semua bayi itu.
"Aarrghh!" teriak kecil Gloria ketika merasakan mulas pada perutnya.
Pinggangnya terasa panas dengan perut yang melilit hebat. Ia sudah tak memakai dalaman lagi karena memang diminta oleh tim dokter. Kini, Vic membantunya memakai baju OK dan menopang tubuh istrinya yang menungging 90 derajad.
"Ya Tuhan ... sakit sekali!" rintih wanita itu.
Tetesan air mata membasahi pipi mulus Gloria. Ageele ikut menangis mendengar rintihan kesakitan putrinya. Ia dan Samantha berpelukan sedang Maxwell dan Tania juga saling menguatkan besannya.
"Putriku ... hiks ... hiks!" isak Ageele.
"Tuan ... tenanglah!" ujar Maxwell menguatkan walau dengan suara tercekat.
Dua menantunya kemarin juga ia menangis seperti ini. Maxwell dapat melaluinya ketika Luien melahirkan tiga bayi secara normal.
"Tuhan ... selamatkan menantu dan cucuku!" doanya memohon.
Wajah dua pasang suami istri itu dilanda kecemasan. Sementara Luien dan Diana berada di mansion mertua mereka. Mereka menunggu kabar bersama suami mereka.
"Bagaimana kondisi di sana Luien?" tanya Wina dalam sambungan telepon.
"Kami masih menunggu kabar Mam!" jawab Luein dengan wajah cemas.
"Baik lah. Cepat kabari Mama jika ada apa-apa ya!" ujar Wina mengakhiri sambungan teleponnya.
Kembali ke rumah sakit. Gloria dibaringkan di brankar dan didorong ke ruang operasi. Vic selalu ada di sisinya.
Gloria tak dapat lagi merespon. Hanya air mata yang mengiringi mendengar panggilan cinta pertamanya.
Ageele menangis ketika putrinya berwajah pucat dan masuk ke dalam ruang operasi. Maxwell memeluk besan erat.
"Tolong tenangkan dirimu Tuan!" pinta pria itu lirih.
Ageele mengangguk. Ia menenangkan diri. Mereka pun pergi menuju ruang pemindai. Ada ruang khusus untuk melihat langsung proses melahirkan baik secara normal atau pun cecar.
Mereka duduk dengan nyaman. Rumah sakit milik Deon ini memang begitu eksklusif. Berada di lantai paling tinggi dengan fasilitas mewah dan lengkap. Semua dokter ada bahkan bagian spesialis didatangkan dari negara-negara ternama.
Harga untuk masuk ke rumah sakit itu sangat tinggi. Untuk kalangan biasa mencapai 700 dolar permalam. Sedang untuk bangsa menengah mencapai 1000 dolar. Tapi untuk bangsa elit dan ekslusif seperti keluarga Maxwell, bisa mencapai 2000 dolar permalamnya.
Tingginya harga ditunjang dengan fasilitas mewah dan layanan ekslusif. Tentu saja, hal itu lumah bagi orang yang memiliki kekayaaan tak berseri seperti keluarga Ageele, Maxwell terlebih sosok seperti Deon Philips.
Operasi masih berlangsung. Gloria merasakan bagaimana perutnya geli karena ada yang diputar dan diaduk. Butuh dua jam proses persalinan. Gloria nyaris tak sadarkan diri karena ia terlalu lelah dan kehabisan tenaga. Padahal, ia tak mengejan sama sekali.
Tiga bayi berjenis kelamin laki-laki dan dua bayi berjenis kelamin perempuan lahir dengan selamat. Gloria langsung tak sadarkan diri setelah bayi terakhirnya keluar dari perutnya.
Penanganan dilakukan cepat. Gloria harus disadarkan segera. Hanya dua menit saja, wanita itu tak sadarkan diri.
"Sayang, anak kita sayang," ujar Vic penuh haru.
Gloria menatap box inkubator yang ada di sisi kirinya. Bayinya masih kecil-kecil hingga perlu penghangatan.
"Semua bayi sehat. Ibu juga sehat. Selamat ya," ujar dokter lalu memberi tepuk tangan pada Gloria.
"Anda hebat Nyonya. Rumah sakit ini menangani kasus kelahiran bayi paling banyak berkat Nyonya!" puji para tim medis.
Pujian dan tepuk tangan itu membantu Gloria agar terus bangkit dan semangat. Dokter menemukan sindrom mental akibat hormon yang tiba-tiba turun drastis. Penanganan dengan membangkitkan semangat pada pasien sangat dibutuhkan. Makanya, tim medis memberi asupan motivasi bagi Gloria.
"Kamu hebat sayang. Aku makin mencintaimu," bisik Vic mesra.
Gloria menitik air mata haru. Kini tumbuh dalam dirinya ingin merawat semua lima anaknya di tangannya sendiri.
"Sekarang, waktunya para bayi disusui!" ujar dokter ketika melihat perubahan ekspresi pasiennya.
Tim dokter bedah cecar memang melibatkan banyak dokter salah satunya dokter syaraf, dokter jaringan kulit dan dokter kejiwaan dan yang pasti dokter bedah dan dokter kandungan juga ada di sana.
"Wah, mereka tampan-tampan dan cantik-cantik, Nyonya!" puji salah satu perawat.
Semua menyusu dengan kuat. Gloria sampai meringis kesakitan, tapi ia begitu bahagia melihat tiga putra dan dua putrinya sehat.
"Apa kau sudah menyiapkan nama, sayang?" tanya Gloria lemah.
Vic mengangguk pasti. Ia sudah menyiapkan nama untuk ke lima anak kembarnya.
Satu jam persalinan. Gloria sudah ada di ruang rawat inap. Ia melakukan video call dengan Luien dan Diana memperkenalkan tiga jagoan dan dua putrinya.
"Ah ... mereka menggemaskan sekali!" ujar Diana terlihat gemas di layar ponsel.
"Akhirnya, the fifth Dambaldore's lahir!" seloroh Luien yang ditanggapi kekehan semua orang.
Tamat.
akhirnya semua bahagia dengan anak-anak mereka.
happy ending.
makasih para readers ba bowu ❤️❤️