
Pesta besar selesai. Semua hiasan dan umbul-umbul kerajaan dicopot dan dibersihkan. Ornamen-ornamen kerajaan pun di simpan. Jalanan mulai normal.
Sepasang pengantin baru kini masih menikmati kemesraan mereka. Alex begitu memuja dan bangga, ia mendapatkan sesuatu yang Luien jaga selama ini.
"Selamat pagi sayang," sambut Alex dengan suara serak.
Pria itu mengecup kening sang istri penuh cinta. Luien melenguh manja.
"Uugghh ... badanku remuk semua. Sakit sekali," keluhnya.
"Kalau begitu, aku antar kau ke kamar mandi dan berendam air hangat ya, biar semuanya rileks," ujar Alex.
Pria itu langsung menggendong istrinya yang polos ala pengantin ke kamar mandi. Luien begitu malu, ia menutupi sebagian dadanya.
"Jangan kau tutup, sayang. Aku sudah lihat semuanya semalam," goda pria itu terkekeh.
"Sayang," cicit Luien, malu..
Alex merebahkan istrinya di bathtub yang sudah diisi air hangat dan busa sabun. Pria itu menyalakan lilin terapi. Ia pun ikut berendam bersama istrinya.
Merasa rileks, keduanya pun keluar dari bak itu dan melilitkan tubuh mereka masing-masing dengan sehelai handuk.
"Bagaimana. Pijatan ku enak kan?" tanya Alex.
Luien mengangguk. Ia merasa rileks dan tak begitu sakit. Terlebih di area intimnya. Walau masih terasa sesuatu yang aneh di sana.
"Kenapa wajahmu seperti itu, sayang?" tanya Alex penasaran.
"Tidak ... hanya saja ...."
Luien membisikkan sesuatu di telinga suaminya. Pria itu tersenyum lebar.
"Nanti juga kau terbiasa dan akan memintanya ulang," godanya mesum.
Luien hanya mengerucutkan bibirnya. Pintu diketuk dari luar. Alex memakai bathropenya, lalu membuka pintu.
"Pangeran dan Yang Mulia Tuan Putri ditunggu sarapan oleh Yang Mulia Raja, Permaisuri dan ibunda ratu," ujar maid sambil membungkuk.
"Kami akan turun sebentar lagi," ujar Alex.
"Baik, pangeran!"
Alex menutup pintu. Maid menegakkan tubuhnya lalu berjalan menuju ruang makan dan melaporkan jika keduanya akan turun sebentar lagi.
Alex dan Luien turun dengan bergandengan tangan. Sepasang suami istri itu memakai baju dengan warna senada. Alex mengenakan kemeja lengan pendek warna biru dengan celana denim warna kakhi. Sedang Luien memakai dress setinggi lutut warna biru dan sepatu kets warna kakhi.
"Selamat pagi Yang Mulia," sapa Alex dan Luien sambil menekuk kaki mereka.
"Selamat pagi, sayang. Ayo, duduk dan sarapan!" sahut Victoria.
Alex menarik kursi untuk Luien. Gadis yang telah menjadi wanita itu mengucap terima kasih dengan bingkai senyum indah di wajah.
Sedang salah satu maid pria menarik kursi untuk Alex. Pria itu pun mengucap terima kasih. Ken dan Felicia juga ada di sana. Rico tampak ngambek tak mau makan.
"No!" tolak bayi itu.
"Sayang, kenapa kau buang makananmu?" tegur Wina pada bayi itu.
"Bistel hate me!' tuduhnya.
"Hei, I'm not!' sanggah Luien.
"Dali temalin ... Ico tat poleh syama pistel. Eundat didendon ... eundat dipelut!" ujarnya mencebik.
"Oh, sayang. Sini," Luein berdiri dan mengambil bayi itu dan menggendongnya.
"Mama, dia hangat," ujar Luien ketika menyentuh tubuh bayi itu.
"Benarkah?" tanya Wina langsung meraba Rico.
"Ken? Dari kemarin ia bersamamu?" tanya Wina.
"Memang Yang Mulia permaisuri. Rico bersama saya. Tadi pagi, tubuhnya tidak sehangat itu," jawab Ken.
"Mungkin dia merindukanmu Luein," sahut Deon.
"Kau tak memperhatikan dia seharian kemarin," lanjutnya.
"Maafkan aku sayang," ujar wanita itu mencium pipi bulat Rico.
Ketika Alex hendak menyentuh kepalanya. Bayi itu memalingkan wajahnya. Pria itu langsung terkikik geli.
"Ah, dia cemburu padaku?" Luein tersenyum.
Setelah drama Rico. Kini bayi itu duduk di pangkuan Alex. Bayi itu pun sudah makan sarapannya dengan lahap.
"Sayang, apa kau jadi bulan madu dalam jangka waktu dekat?" tanya Wina.
Luein menatap suaminya. Alex pun menjawab.
"Aku sih maunya cepat, Ma. Tapi kata Luien ia masih memiliki tanggung jawab dengan program yang baru setengah berjalan. Mungkin, sekitar dua minggu lagi, kami akan berangkat bulan madu."
Wina mengangguk.
Luein terdiam. Ia Ingin menjawab dengan tepat tapi bisa dimengerti Rico.
"Oh ... atuh pahu!" sahut Rico tiba-tiba.
Semua terkejut. Mereka tak percaya jika bayi dua tahu itu tahu apa arti bulan madu.
"Memang apa bulan madu, sayang?" tanya Victoria.
"Pulanna banis taya padu ... hooleee!' jawab Rico senang dan bertepuk tangan.
Semuanya nyaris tertawa. Tapi, mereka bertepuk tangan mengikuti bayi itu. Luien mencium gemas pipi gembul Rico.
"Bolehkah aku membawanya ikut berbulan madu?" pintanya sedikit memohon.
"Luein!" tegur Deon.
Wanita itu pun hanya bisa mencebik kecewa. Alex hanya bisa menggeleng saja.
'Bisa stress aku kalau istri ajak Rico ketika bulan madu,' dumalnya dalam hati.
Pria itu membayangkan momentum kemesraan dan romantisme mereka akan rusak gara-gara bayi menggemaskan ini.
"Bistel ... imi benata lehena pelah?" tanya Rico menunjuk kissmark di leher Luien.
Semua langsung melihat apa yang ditunjuk Rico.
Blush ... muka Luien merona karena malu. Ia pun mencari akal. Melirik Felicia. Wanita itu juga punya bahkan lebih banyak dari miliknya.
"Hei, kau tak menanyakan merah-merah di leher Felicia!" tunjuknya.
Kini semua mata beralih pada Felicia. Bergantian lah fokus.
"Piya, padi Ico banya Mama Sia, benata lehena belah. Pilanna dididit selanda," jawab Rico dengan anggukan kepala.
"Bistel judha dididit selanda?" kini mata bulat jernih tanpa dosa itu bertanya pada Luien.
"Iya, sama ... digigit serangga," jawab Luien lega, ia bisa mencontek jawaban Felicia.
"Banunan pindah tan pesal ini banat selanda?" tanya Rico tak percaya.
"Nenet Latu ... pesot pita pandil olan puntut punuh pemua selanda!" titahnya pada ibunda ratu.
"Astaga ... apa aku baru saja diperintah oleh seorang bayi?" tanya Victoria tak percaya.
Semua mengangguk membenarkan dengan senyum tertahan. Bahkan para maid juga harus membalikkan tubuh mereka karena tak tahan untuk melebarkan mulutnya.
"Kemarikan bayi itu. Aku harus memberikan hukuman!" pinta Victoria gemas.
Akhirnya semua pun tertawa. Hanya bayi itu saja yang bingung kenapa semua orang tertawa.
Sementara itu. Adrian mulai sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Diana. Walau masih terbilang tiga bulan lagi. Tapi, pria bermata amber itu ingin semuanya berjalan sempurna tanpa ada satu pun kesalahan. Undangan pun sudah dicetak.
Diana pun juga sibuk menyiapkan diri untuk menjadi istri seorang Maxwell. Gadis itu berkali-kali bercermin. Ia masih tak percaya jika dirinya akan menjadi istri dari pria paling berpengaruh dalam bisnis.
"Sayang!"
Sebuah suara berat terdengar.
"Boleh Ayah, masuk?"
Diana menghela napas panjang. Ia memang belum berdamai dengan ayahnya itu. Padahal Veronica selalu mengatakan jika ia tak boleh membenci pria itu, walau bagaimana sakitnya pengkhianatan itu.
"Masuk lah," ujar Diana.
Sang ibu tengah ke sebuah yayasan sosial. Wanita itu kerap melakukan bakti sosial pada semua yayasan kemanusiaan. Semenjak putrinya mengambil alih perusahaan suaminya. Wanita itu sering menderma dan berbagi keberuntungannya.
Adam masuk. Pria itu sudah sembuh dari sakit stroke yang menimpanya. Berkat kebaikan putrinya yang memberikan pengobatan dan perawatan yang layak untuknya.
Adam menatap anak gadisnya di cermin. Ia tersenyum.
"Kau cantik sekali, Nak," pujinya kaku.
Diana terdiam. Pria itu tampak kikuk sekali. Setelah nyaris dua tahun ini mereka tak pernah bercakap bahkan untuk saling tegur sapa.
"Katakan saja. Apa yang ingin kau sampaikan ... Yah," sahut Diana yang begitu berat mengatakan kalimat terakhir.
"Aku datang hanya minta maaf."
Adam Scout akhirnya mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata sederhana yang mestinya mudah ia ucapkan. Tapi, sudah lebih satu bulan ia rangkai kata-kata indah untuk menyusunnya.
"Maaf ... Kau minta maaf?"
Diana membalikkan tubuhnya. Menatap pria yang kini kurus dan pucat dan terlihat lebih tua dari usianya. Tubuh pria itu bergetar menahan tangisnya.
"Tak perlu ... aku tak butuh permintaan maafmu!" tekan gadis itu lirih.
bersambung.
Diana masih benci ayahnya?
next?