THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
PERNIKAHAN HUGO



Hari ini Luien mendatangi sebuah acara pernikahan. Hugo akan menikah dengan gadis yang dijodohkan dengannya. Gadis bernama Mariana adalah masih sepupu jauh Hugo.


"Mama sakit, kau terlalu sibuk dan adik-adikmu masih terlalu kecil untuk mengurusku," ujar sang ibu.


Walau kini perekonomian Hugo mulai naik secara perlahan. Rumahnya sudah tak pernah bocor. Bahkan adik-adiknya kini semuanya bersekolah di tempat yang terbaik.


"Menikahlah dengan Mariana. Gadis itu anak Paman Samuel, ia akan merawatku," pinta sang ibu.


Hugo mengangguk setuju, Ia pun hari ini menikah dengan Mariana.


Semua rekan kerja hadir. Brandon menjadi pengiring pria. Luien dan suaminya duduk sebagai tamu kehormatan. Ibu Hugo sangat kenal dengan Luien.


"Oh, pernikahan putraku dihadiri seorang putri raja," ujar Lea, ibu dari Hugo.


"Saya hanya manusia biasa, Ibu," sahut Luien merendah.


Sementara Gloria tampak tak hadir ketika upacara pemberkatan pernikahan Hugo. Luien mencarinya. Ia sampai meninggalkan Alex.


"Sayang, kau cari siapa?" tanya sang suami.


"Gloria tak hadiri," bisik wanita itu.


"Sudah lah. Sebentar lagi acara dimulai!" ujar Alex.


Luien akhirnya duduk. Pendeta pun hadir. Hugo begitu tampan dengan balutan jas formal warna putih. Pengantin wanita masuk pintu utama gereja, didampingi ayahnya.


Hugo mengamit tangan calon istrinya. Pendeta memulai acaranya. Semua khusuk dalam beribadat.


Kidung-kidung suci dimainkan. Pendeta memulai kutbahnya. Pengantin laki-laki mengucap sumpahnya, lalu menyusul pengantin perempuan yang mengucap janjinya.


"Sematkan cincin di jari istrimu. Kalian sudah sah menjadi suami istri. Apa yang dipersatukan Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia!" ujar pendeta!


Hugo menyematkan cincin di jari manis istrinya. Pendeta memintanya untuk mencium sang istri. Hugo pun melakukannya.


Sementara itu Gloria menatap pemberkatan itu dari jauh melalui video. Ageele yang membuat live streaming untuk putrinya. Gloria tak sanggup mengikut acara itu. Ia menangis sepanjang hari.


"Sayang, sudah cukup, Nak. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik," sahut sang ibu menenangkan putrinya.


Gloria hanya bisa menangis meratapi pernikahan Hugo. Padahal ia sudah memiliki rasa pada pria itu.


Acara pernikahan pun dilanjutkan dengan resepsi sederhana di rumah Hugo. Luien dan Alex memberi selamat pada sepasang pengantin baru.


"Wah selamat ya, ku kira Brandon lebih dahulu menikah, ternyata kau yang menikah duluan," ujar Alex tersenyum.


Hugo hanya mengangguk dan tersenyum. Mariana juga tersenyum menanggapi. Keduanya menekuk kaki ketika Luien dan Alex mendatangi mereka dan mengucap selamat.


"Adrian dan Diana akan datang sebentar lagi. Apa kau ingin menunggu mereka?" tanya Alex pada istrinya.


"Iya, tentu saja. Aku sudah lama tak bertemu Diana. Katanya, Mama Veronica menikah kembali dengan Adam Cloum, ayah Diana," ujar Luien.


Keduanya diminta duduk di ruang VVIP. Adrian dan Diana pun datang bersama Victor. Pria itu mencari Gloria.


"Apa Gloria tak datang?" tanya Vic.


Luien menggeleng. Diana memeluk sahabatnya.


"Apa kita perlu mendatanginya?" Luien menatap suaminya.


Alex mengangguk setuju. Luien pun mengangguk.


"Ya, kita akan mendatanginya. Aku kasihan padanya. Semoga ia mendapat jodoh yang terbaik," ujar wanita itu.


Vic terdiam. Pria itu masih saja meragukan perasaannya. Padahal Tania sudah memintanya untuk segera menikah.


Sementara itu, Ageele menatap sedih pada sepasang pengantin baru. Ia mendatanginya dan mengucap selamat.


"Selamat untuk pernikahan kalian berdua!"


"Terima kasih, Tuan," sahut Hugo menjabat tangan pria itu.


Pria itu pun meninggalkan pesta dengan langkah berat. Ia menatap bangunan rumah sederhana milik Hugo dan keluarga besarnya.


Ageele ingat ketika sehari sebelum menikah. Ia mendatangi pria itu.


"Padahal aku menunggu kau melamar putriku," ujar Ageele kecewa pada Hugo.


Ageele terdiam. Pria itu memang tak berpikiran ke sana. Ia tak mungkin meminta Gloria menjadi sosok istri patuh, terlebih selama ini ia terlalu memanjakan putrinya.


"Mungkin Hugo dan Vic bukan jodohmu," ujarnya lalu menghela napas panjang.


Pria itu meminta supir untuk pulang ke mansion. Pria itu tak tahu jika Luien dan lainnya juga menuju tempat tinggal pria itu.


Ketika sampai mansion. Barulah Ageele melihat mobil mewah yang berjejer di halaman rumahnya.


"Siapa yang datang?" tanya pria itu.


"Yang Mulia Tuan Putri Luien dan suaminya Prince Maxwell datang berkunjung," jawab pengawal.


Pria itu pun bergegas masuk. Ia merasa tersanjung karena huniannya dikunjungi seorang putri raja.


"Yang Mulia!" sapanya.


Luien tengah memeluk Gloria yang menangis. Diana tengah mengusap punggung gadis itu.


"Hugo bukan jodohmu, Gloria!" ujar Luien sedih.


Gloria mengangguk pasrah. Ia hanya belum siap menerima kenyataan jika pria yang ia sukai memilih menyerah dan tak mau memperjuangkan cintanya.


"Nanti, ayah akan cari kan jodoh untukmu, Glo," ujar Ageele menenangkan.


"Aku yang akan menikahinya Tuan!" sahut Vic tiba-tiba.


"Jangan bercanda, Tuan Dambaldore! Putriku hanya gadis biasa, bukan model terkenal ataupun artis papan atas," sahut Ageele setengah menyindir.


Vic memang dikabarkan dekat dengan seorang artis papan atas. Pria itu mencari gadis dari kalangan selebriti.


"Itu hanya gosip, Tuan," elak pria itu.


"Aku tak mengijinkan putriku untuk berpacaran terlalu lama, Tuan!" sahut Ageele lagi.


Gloria hanya diam saja. Ia sudah malas menanggapi ucapan Vic yang selalu saja berubah setiap waktu.


"Sudah lah, aku tidak apa-apa. Nanti juga ada pria yang mau denganku," sela gadis itu.


Vic terdiam. Ia menatap Gloria dengan pandangan tak suka. Pria itu memeluk gadis itu dan mencium bibirnya.


"Apakah kau tak percaya aku bisa menikahimu?" ujar Vic dengan napas menderu, ia melepas ciumannya.


Ageele terkejut dengan aksi spontan Victor. Sementara yang lain juga sama terkejutnya.


"Jangan mempermainkan sahabatku, Tuan Dambaldore!" sela Luien tak suka.


"Aku serius Yang Mulia Tuan Putri!" sahut Vic serius.


"Aku tak suka jika kau akan bermain-main saja, Vic!" sahut Alex memperingati.


"Aku serius Kak!" sahut Vic yakin.


"Jika kau yakin. Aku tunggu kalian dua minggu dari sekarang untuk melamar putriku!" putus Ageele tegas.


"Aku akan datang sesuai keinginanmu Tuan!" sahut Vic tegas.


"Kalau begitu kami pulang dulu, untuk mempersiapkan lamaran untuk Gloria Tuan Ageele!" ujar Adrian menengahi.


Ageele mengangguk lalu mengantar tamunya ke halaman mansion. Mereka pun naik mobil mereka.


"Vic, aku akan menyeretmu ke mansion ini jika kau berlaga lupa dua minggu lagi!" ancam Adrian pada saudara sepupunya itu.


"Aku akan datang. Makanya, nanti aku minta Daddy dan Mommy mengantarku!" ujar Vic meyakinkan.


"Dua minggu waktu yang sangat singkat. Aku akan tinggal di mansion mertuaku. Yang Mulia Raja memerintahku untuk memeriksa mansion di sana," Luien mengangguk membenarkan.


"Aku yang akan mengawasi Vic, Kak. Dan memastikan tak ada satu wanita datang mengganggu pikiran bodoh Vic!" sahut Adrian memastikan.


Semuanya pun menutup ponselnya. Alex dan Luien ke mansion orang tua Luien sedang Adrian dan Diana pulang ke mansion Maxwell bersama Vic untuk memberitahu persoalan tentang lamaran pada Gloria.


bersambung.