THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
TERUNGKAP



"Ini dia gembel yang berani-beraninya menaiki lift khusus!" tuding seorang pria langsung menunjuk gadis itu.


Luien menatap pantulan nya pada dinding lift. Ia tadi sempat menyisir rambut dan menguncirnya. Memang hanya pakaian saja yang bukan dari branded ternama. Tapi, jika dikatakan gembel maka sama sekali tidak. Pakaiannya bersih dan semua orang pakai.


Netra abu Luien yang polos memandang semua orang yang menahannya di lantai tiga.


"Maaf Nona, lift ini hanya khusus untuk kalangan bangsawan!" ujar salah satu staf rumah sakit.


"Oh, lalu apa aku harus pindah lift agar bisa naik ke lantai empat? Ibuku sedang melahirkan," ujar Luien memberitahu.


Semua terdiam. Hanya ada satu wanita yang melahirkan di lantai empat. Yakni sang ratu yang baru saja dinobatkan. Mereka saling pandang kemudian tertawa terbahak-bahak. Luien makin mengerutkan dahinya bingung.


"Nona, jangan bercanda. Di lantai atas adalah para kalangan bangsawan. Dan yang melahirkan di atas saat ini adalah Yang Mulia Ratu!" tandas staf rumah sakit.


Sedang di bawah beberapa pengawal istana tengah mencari keberadaan tuan putri mereka.


"Kita ke lantai paling atas. Di sini terlihat jika lift ini berhenti di lantai tiga. Kita menaiki lift khusus ini, kemungkinan Yang Mulia Tuan Putri tersesat!" ujar salah satu pengawal.


Kedua pria itu menaiki lift untuk menuju lantai di mana Luien terhenti dan dipaksa keluar.


Sedang di tempat Ken dan Felicia menunggu. Suara tangisan bayi pecah memenuhi ruangan. Sepasang suami istri itu tersenyum. Sedang Edrico sudah terlelap di gendongan Ken.


Salah satu Dokter keluar ruangan. Ken dan Felicia mendatanginya. Dokter sedikit cemas.


"Kami butuh donor darah Rh-null A," sahut dokter memberitahu.


Ken terdiam hanya nonanya yang memiliki darah itu.


"Bayinya berubah golongan darah begitu dilahirkan," jelas sang dokter.


Pria itu pun menelepon Luien. Butuh waktu lama untuk sambungnya tersambung.


"Halo ...."


beberapa menit sebelumnya.


"Tapi, ibu saya memang melahirkan di lantai empat, Tuan!' sahut Luien setengah putus asa, ia merasa tidak enak.


"Sudah lah Nona. ini sudah tak lucu lagi. Silahkan anda pergi ke lantai satu dan cari lah ibu anda di sana!"


Petugas rumah sakit akhirnya sudah bosan melihat betapa wanita ini keras kepala. Dari penampilan saja, mereka tak yakin Luien mampu memasukan ibunya ke rumah sakit ini.


"Tapi ...!"


"Nona, tolonglah kerjasamanya!" sentak staf rumah sakit kesal.


"Tolong realistis dan jangan banyak berkhayal!" lanjutnya dengan muka memerah menahan amarah.


"Tu ...."


"Sudah cukup!" bentak petugas keamanan rumah sakit itu pada akhirnya.


"Kau memang keras kepala. Aku terpaksa menyeretmu keluar dari rumah sakit ini!" lanjutnya marah.


Pria itu menarik Luien. Sayangnya, gadis itu bukanlah sosok gadis yang sembarangan bisa ditarik.


Luien malah melawan petugas. Gadis itu mendorong petugas hingga pria besar itu nyaris saja tersungkur.


"Bangsat! Kurang ajar!" bentaknya murka.


"Nona, perbuatan anda melawan petugas itu melanggar hukum!" bentak staf rumah sakit.


"Sudah kubilang, aku mau ke lantai empat di sana ibuku membutuhkanku!" tekan Luien dengan mata menggelap.


Aura intimidasi keluar. Sosok polos dan lembut berubah menjadi beringas dan sangat menakutkan. Petugas keamanan dan staf rumah sakit menelan saliva. Keringat dingin keluar, aura yang dikeluarkan Luien benar-benar kuat.


"Sekarang biarkan aku naik dan menemui ibuku!" ujar gadis itu lagi.


Luien melangkah menuju lift kembali. Tapi, sepertinya staf dan penjaga keamanan masih berusaha menghentikan Luien. Mereka berempat menarik Luien hingga terjadi orang tarik menarik. Luien memberontak. Keempat pria nyaris kualahan menangani satu gadis. Ponsel gadis itu terjatuh. Pintu lift khusus terbuka. Dua pengawal istana tampak terkejut melihat tuan putri seperti hendak dilecehkan.


"Apa yang kalian lakukan!" bentak salah satunya.


Keempat pria yang menangani Luein terdiam. Sedang Luein langsung melepaskan diri dari cengkraman empat pria tadi.


"Apa katamu? Siapa yang gembel?" tanya pengawal istana.


Baru saja staf rumah sakit hendak membuka mulut. Ponsel Luien yang terjatuh berdering.


Semua menoleh. Pengawal makin mengernyit dengan ponsel yang dibawa tuan putri mereka. Ponsel keluaran terlama, pengawal itu menatap satu nama di layar kecil ponsel poliponich itu "Ken".


"Dia mengaku jika ibunya sedang melahirkan di lantai teratas, Tuan. Sedang yang kami tau, lantai atas hanya untuk petinggi negara, bangsawan sekarang Yang Mulia Ratu tengah melahirkan," jelas staf nyinyir.


"Halo!" petugas menjawab telepon yang ia ambil dari lantai.


".......!"


"Yang Mulia Tuan Putri tertahan di lantai tiga, Prince!" jawab pengawal itu.


Para staf dan petugas keamanan rumah sakit saling pandang. Mendengar jika ada tuan Putri tertahan di lantai tiga. Sedang, yang ada bersama mereka hanya gadis berkhayalan tinggi jika ibunya tengah melahirkandi lantai paling atas.


"Baik Prince, akan saya bawa Yang Mulia Tuan Putri ke atas segera!" sahut pengawal lalu memutuskan sambungan telepon.


"Yang Mulia Tuan Putri, harap segera ke lantai atas!" aju pengawal istana sambil membungkuk hormat pada Luien.


Keempat pria dengan seragam khusus mereka terperangah mendengar perkataan pengawal istana. Mereka menatap gadis yang baru saja mereka anggap gila dan gembel. Luein tak memperdulikan keempat pria tadi. Gadis itu memilih mengabaikan kejadian yang memang sebagian adalah salahnya.


Pintu lift tertutup. Empat pria tadi langsung luruh ke lantai. Dada mereka berdegup kencang hingga jantungnya seperti mau melompat keluar.


"Sepertinya, kita akan menjadi gelandangan sebentar lagi," ujar staf rumah sakit ketakutan..


Luien meremas jemarinya. Ketika sampai lantai atas. Gadis itu melangkah cepat. Ken ada di sana dengan wajah khawatir.


"Yang Mulia, adik anda butuh darah anda!' ujarnya memberitahu.


Luien mengangguk. Gadis itu langsung dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Begitu dinyatakan sesuai. Dua kantung darah dibawa ke ruang bersalin.


Deon menatap miris putranya yang tangan kecilnya ditembus jarum. Darah putrinya mengalir.


Pergantian golongan darah pada bayi baru lahir sangat langka terjadi. Semua bisa dijelaskan secara ilmiah. Beruntung, darah yang diperlukan sama dengan darah Luien.


"Aku ingat, putriku juga mengalami perubahan golongan darah dan waktu itu mendiang ayahnya atau Kakek Luien yang memberikan darahnya untuk gadis itu ketika baru lahir.


"Daddy!" panggil gadis itu.


Deon menoleh. Pria itu seketika menghela napas panjang ketika melihat tampilan putrinya. Memang tak ada yang salah. Tapi, penampilan menunjang keseluruhan dan rasa hormat pada mereka yang melihat.


"Nak, sudah waktunya kau muncul pada khalayak. Daddy tidak mau lagi kau terhina hanya karena pakaianmu," putus pria itu tegas.


Luien menunduk. Ia tak pernah berpikiran untuk memperbaiki apa yang ia pakai. Selama tubuhnya terbungkus rapi dan nyaman. Ia tak keberatan.


"Yang Mulia Ibu Suri datang!" sambut staf pembicara istana.


Pintu terbuka. Wina masih terpengaruh obat bius. Ia belum bangun dari tidurnya.


"Ibu Suri!" sambut Deon dan Luien bersamaan.


Victoria menatap penampilan Luien. Ia tampak tak suka dengan tampilan sembrono cucunya itu.


Luien hanya menunduk. Walau pada akhirnya, ketika Deon menjelaskan dari awal kenapa Luien bisa seperti itu. Victoria malah memukul Deon.


"Apa yang pernah kau lakukan?" sentaknya tak suka.


Kini Deon yang menunduk merasa bersalah. Sedang Luien langsung merajuk dan manja pada neneknya itu.


"Ck ... kau suka sekali melihat Daddymu dimarahi!" gerutu Deon.


Luien terkekeh geli, walau kemudian ia meringis kesakitan ketika telinganya ditarik pelan oleh Victoria.


Bersambung.


Nah loh ... hayo loh.


next?