THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
KONSPIRASI MESUM



Di negara yang lain. Seorang wanita pemimpin negara monarki. Sebuah negara berbasis kerajaan yang dipimpin oleh seorang ratu. Raja mereka sudah berpulang tiga tahun yang lalu. Ratu Victoria Philips. Tak memiliki anak dan keturunan sah. Hanya memiliki saudara sepupu. Usianya yang sudah sembilan puluh tiga tahun. Ia sudah terlalu lelah memimpin kerajaan.


"Perdana Menteri Huberg, minta Lazuard Deon Philips menghadap. Ia harus menggantikan kedudukanku. Memimpin negara ini menjadi raja!" titahnya dengan suara lemah.


"Yang mulia ratu masih bisa memimpin kerajaan ini!" ujar perdana menteri.


"Apa kau sudah membantah titahku, perdana menteri?"


"Ampun Ratu! Hamba tak berani!'


Perdana menteri langsung bersimpuh dan menunduk. Pergantian raja akan berimbas dengan kariernya. Sudah separuh hidupnya ia menjadi perdana menteri.


"Enam puluh tahun aku mengabdi, dari usia dua puluh lima tahun. Jika kepemimpinan diganti. Aku pasti lengser!' gumamnya ketakutan.


"Tidak ... aku tak mau pergi dari Windsor yang kutempati bersama turunanku!' ujarnya menolak pergantian.


"Tetapi, Ratu sudah memberi perintah. Jika sampai ia mengeluarkan plakatnya, maka itu lebih menyeramkan!"


Pria beruban itu memulai rencana. Ia akan meminta dana perjalanan untuk mencari calon raja mereka.


Wajah pria itu masih tampan di usia senjanya. Ia akan pergi ke sebuah vila tersembunyi dan memadu kasih dengan wanita simpanannya.


"Satu juta euro untuk mencari Prince Philips?" ujarnya tak percaya.


"Mana cukup!" serunya protes.


"Maaf, perdana menteri. Sesuai dengan peraturan, jika dana perjalanan dipotong karena keuangan kerajaan sedang buruk. Badai sepanjang tahun kemarin menurunkan penghasilan dan pajak kerajaan!" jelas staf keuangan kerajaan.


"Ya, sudah kalau begitu mana uangnya?'' ujarnya lemah.


"Ini," staf keuangan memberinya kartu limited warna biru.


"Apa-apaan ini!" bentak Arthur marah.


"Ini peraturan baru Sir. Jadi semua data perjalanan anda akan tercatat langsung di transaksi kami!" sahut staf keuangan.


"Aarrgh!"


Arthur merampas kartu itu. Ia begitu kesal. Keinginannya bercumbu dan bersantai dengan simpanannya gagal. Padahal, ia sudah memberitahu jika akan bersama wanita cantik itu selama beberapa minggu dan menghabiskan uang.


Pria itu berjalan dengan gusar. Ia sudah menyiapkan kopernya dan ada di bagasi mobilnya. Ketika keluar dari pintu istana. Satu supir membungkuk hormat padanya.


"Siapa kamu!" tanyanya membentak.


"Saya Willy, supir yang akan mengantar anda mencari Prince Philips," ujarnya.


"Saya tak butuh supir!" bentaknya menolak.


"Maaf, Tuan. Ini sudah ada undang-undang kerajaan. Semua perjalanan kebutuhan istana harus memakai supir!' ujar Willy.


Arthur hanya bisa menahan amarahnya. Ia tak bisa melakukan apa pun, karena semua geraknya akan dibatasi. Pria itu terpaksa menelepon simpanannya.


"Halo, sayang. Aku langsung pergi, tidak pulang lagi," ujarnya lalu langsung menutup ponselnya.


Arthur yakin. Kini wanita cantik itu pasti sedang menangis. Padahal, di sebuah rumah yang cukup mewah, seorang wanita cantik hanya mengendikkan bahu.


"Ya, siapa juga sedih jika kau tak datang?!' ujarnya mencibir.


Tiba-tiba wanita cantik itu memekik kegirangan. Ia hanya menggunakan lingerie warna merah mencolok yang begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Sosok pria tengah mengendusi tengkuknya. Lalu terjadilah pergumulan panas di sana.


Arthur dalam perjalanan. Satu map data tempat yang harus dia kunjungi. Pria itu tak perlu mencari, tetapi memberi plakat pada pangeran mahkota atas mandat sang ratu.


Kotak itu ada di bangku depan. Pria itu berdoa agar mobil ini dirampok dan plakat itu dicuri.


Sayang, kepergiannya itu rahasia, bahkan mobil yang dipakai juga mobil keluaran lama dan murah.


"Bisakah kita berhenti di salah satu villa, aku sedikit pusing," ujarnya.


"Silahkan istirahat saja di mobil, Sir. Saya akan membawa mobil ini nyaman untuk anda istirahat," jawab Willy santai.


Arthur mendengkus kesal. Ia padahal ingin memperlambat prosesi penyerahan plakat.


"Ayolah, kita sudah sampai kotanya. Toh, Prince Philips tak akan kemana, bukan?" sahut Arthur mencoba negosiasi.


"Iya juga, ya," sahut Willy membenarkan.


"Iya, kita bisa istirahat sejenak, minum kopi atau ke klub paling mahal di sini, aku mentraktirmu, bagaimana?" tawarnya.


Willy terdiam. Tetapi, ia sudah dimandatkan oleh yang mulia ratu untuk segera melaksanakan perintah dengan baik.


"Tidak udah pikir panjang. Ratu tidak ada di sini. Aku yakin di sini pasti banyak tempat yang indah, apa kau tidak ingin mencobanya?'


Arthur terus menghasut Willy, pria muda yang menjadi supir kerajaan.


"Aku bisa memesankan beberapa wanita untuk memuaskan dirimu," rayu Arthur lagi.


"Kita cari yang bisa menghisap, mengocok dan mendesah manja. Kita akan terbang melayang, menumpahkan semua dahaga kita sebagai lelaki!' ujar pria tua itu vulgar.


Willy tersenyum, sesuatu di dalam dirinya bangkit. Ia pun merasa pusing.


'Apa salahnya, bersenang-senang sebentar?' gumamnya.


"Kita bisa mencari wanita yang begitu mahir memainkan lidahnya. Dari atas hingga bawah, depan dan belakang. Dengan uang di kartu ini, kita bisa menikmati lebih dari satu."


Arthur tak berhenti menggoda dan merayu pria muda di depannya. Ia begitu paham dengan gelagat pemuda yang sudah naik libidonya. Ia tersenyum miring.


"Jangan bilang kau masih perjaka, Willy!' sindir pria tua itu.


Arthur memang lah sudah gaek. Tetapi jangan salah. Ia mampu mengimbangi wanita muda ketika bercinta, bahkan wanita itu berteriak keras kenikmatan di bawah kukungannya. Ia sangat yakin, jika seorang laki-laki jika dikatakan perjaka akan melukai harga dirinya.


"Aku sudah pernah melakukannya dengan kekasihku, Sir!" aku Willy gusar.


"Ah, begitu ... bukankah rasanya nikmat?" ujar pria tua itu lagi.


Willy benar-benar tegang. percakapan mesum ini mampu membuat celananya sesak. Pusatnya mencuat hingga membuatnya ngilu.


"Baik Tuan. Kita akan ke hotel itu, hanya untuk beristirahat!' ujar Willy pada akhirnya.


Arthur tersenyum senang. Ia memasang wajahnya datar. Willy memasuki basemen untuk memarkir mobilnya. Pria itu membawa koper berisi plakat asli. Sedangkan Arthur sudah turun depan lobby hotel berbintang lima. Pria tua itu memesan dua kamar bersebelahan.


"Apa di sini ada ...."


Arthur memberi kode. Resepsionis cantik itu mengangguk dengan kerlingan mata nakalnya.


"Aku butuh dua atau lebih," ujar pria itu.


"Gabungkan pembayarannya dengan kartu ini, tulis keterangan tambahan layanan spesial," ujar pria itu lalu mengedipkan matanya. "


Kunci sudah di dapat. Ia melihat Willy membawa kopernya. Sedang koper Arthur sudah diturunkan dari tadi. Resepsionis tadi mengantarkan dua tamu spesial itu bersama tiga rekan yang lain yang tak kalah cantiknya.


Keduanya menaiki lift dan sampai di lantai delapan. Mereka masuk di satu kamar. Keempat gadis cantik itu tak terlihat lagi keluar dari kamar setelah mengantar masuk dua pria beda usia itu.


bersambung.


ketika loyalitas kalah dengan napsu.


Next?