
Lucillia mendatangi kerajaan. Berita meninggalnya sang ratu ia pergunakan sebaik mungkin. Gadis itu memakai gaun terbaiknya. Berdandan begitu cantik memantaskan diri sebagai ratu. Ia membawa amplop warna merah dengan simbol kerajaan. Semua staf dan para pengawal harus membungkuk hormat pada simbol kerajaan yang dibawa oleh Lucillia.
"Katakan Dukes Lucillia Vermont datang membawa amplop tanda kerajaan!" ujar gadis itu pada Kasim istana..
"Yang Mulia Dukes Lucillia Vermont datang membawa amplop kerajaan!" seru Kasim memberitahu.
Deon yang tengah memakai baju hitam simbol kedukaan istana. Permaisurinya duduk di sebelahnya. Sedang Rico dan Hendrick bersama Luien dan Alex. Ken berdiri di belakang singgasana.
"Suruh dia duduk!" titah Deon.
Lucillia masuk dan membawa amplop itu. Gadis itu menekuk kaki dan memberikan amplop pada Kasim.
"Bacakan Ken!" titah pria itu.
"Simbol ini khusus raja yang membuka yang mulia!" sahut Kasim.
Amplop memang diberi stempel khusus dan hanya raja yang boleh membukanya. Deon mengikat pita hitam pada lengannya. Ia membaca surat itu lalu dengan cepat meremas kertas dengan stempel khusus itu.
"Yang Mulia, anda tak boleh melakukan itu!" teriak Lucillia.
"Surat itu tak berlaku Nona Dukes. Jangan mempermalukan dirimu sendiri!" tekan Deon mulai marah.
Tatapan tajam langsung ia layangkan pada Lucillia.
"Tapi, itu adalah titah paduka terdahulu jika menginginkan perjodohan antara keluarga Duke Vermont dan Raja!"
"Memang tapi di kertas itu tertulis nama Dukes Aurora Mariana Vermont. Bukankah beliau sudah berpulang?" tanya Deon.
"Hamba bisa menggantikannya!" seru Lucillia.
"Jangan bercanda Nona Dukes. Surat itu tak menyatakan pergantian perjodohan! Lagi pula surat itu berlaku jika kakak anda tidak menikah!" sahut Deon santai.
"Surat itu tak berlaku sama sekali, Lagi pula ketika dulu aku dijodohkan dengan mendiang kakakmu, keluarga kalian menolaknya langsung?" sahut Deon lagi mengingat.
Lucillia tak bisa berkata apa-apa. Ia malu luar biasa. Ludwina hanya bisa menggeleng tak percaya.
"Ken buka plakat terakhir mendiang Ibu Ratu!" titah Deon.
Satu kereta terbuat dari perak didorong ke tengah aula. Ken melakukan penghormatan pada plakat ratunya.
"Aku sebagai Ratu tertinggi menyatakan jika satu-satunya ratu di kerajaan ini hanyalah Ratu Ludwina Elizabeth Thompson!"
Lucillia terdiam. Ia tak bisa memakai surat perjodohan untuk menjerat sang raja. Gadis itu benar-benar tak memiliki senjata ampuh untuk menggeser kedudukan sang ratu.
"Walau pun tanpa plakat dari ibu ratu. Aku sebagai raja menolak selir dan ratu lain di Istanaku!" tukas Deon sang raja.
"Lalu, bagaimana dengan kedudukan ayahku di sini? Apa Yang Mulia lupa jika kedudukan ayahku sangat penting dalam pengangkutan Yang Mulia sendiri!"
"Kau lupa aku dari independen? Aku keturunan asli raja dan tak ada yang bisa menggantikanku!" seru Deon.
"Kedudukan ayahmu tak ada artinya bagimu, Nona!" lanjut pria itu.
Sang raja mulai malas. Ia meminta Lucillia untuk pulang dan memberikan proposal kerja jika masih ingin berkecimpung di kerajaan.
Lucillia memilih pergi tanpa hasil. Ia berjalan dengan kepala tertunduk.
"Sayang," panggil Deon pada permaisurinya.
"Yang Mulia!" sahut Ludwina.
"Berikan mandatmu pada beberapa dayang untuk membantu pekerjaanmu," titah sang Raja.
"Jika hanya masalah rumah tangga. Aku masih bisa mengerjakannya Yang Mulia," sahut Wina menolak.
"Maaf Daddy. Lusa aku dan Alex ingin ke kota A, Hugo akan menikah," ujar Luien menyela.
"Oh, jadi pria itu benar-benar menikah dengan gadis pilihan ibunya?" tanya Deon penasaran.
"Ya, siapa lagi? Gloria bukan wanita rumahan yang bisa menjaga ibu dan adik-adik Hugo yang banyak itu," jawab Luien sedikit menyesal untuk Gloria.
"Aku sudah menyiapkannya Daddy," sahut Alex.
Deon mengangguk. Pria itu memanggil Ken untuk pekerjaan selanjutnya.
"Aku hampir lupa. Rico aku bawa ya," ujar Luien.
"Tidak boleh!" sahut Wina menolak langsung.
"Mama," rengek Luein.
"Tidak Luien. Perjalanan itu jauh sekali, lagi pula kau pasti bukan hanya sekedar pergi ke pernikahan Hugo!" tolak Wina beralasan.
"Mama, Ico itut bistel Win!" pinta bayi itu.
"Baby, ke sana itu jauh, kasihan jika kakakmu harus menjagamu. Lagi pula di sini Mama nggak ada yang tolongin jaga adikmu," ujar Wina merayu Rico.
"Solly pistel ... Ico sama Mama!"
Rico menolak ikut. Ia kasihan pada ibunya yang tak.ada menjaga adiknya.
"Baby," rajuk Luien.
"Sudah, jangan ajak adikmu Luien!" titah Deon. "Kau bukan ingin menjaganya tapi ingin bermain saja!"
Luien cemberut. Ia memang gemas sekali dengan Rico. Bayi itu sudah banyak tahu benda dan cerewet.
"Waktunya makan siang!" ujar Kasim.
Semua pun beranjak ke ruang makan. Alex menggendong Rico. Ia juga yang menyuapi bayi itu. Padahal sudah ada meja dan tempat makannya sendiri.
Sementara di tempat lain Lucillia kini berada di kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. Ia benar-benar murka dengan amplop perjodohan yang tak berfungsi sama sekali.
"Siapa yang menyuruhmu memakai amplop tak berguna itu!" hardik Edward Vermont.
"Surat itu sudah lama sekali dan tak berlaku setelah penolakan itu dan Kakakmu menikah, apa kau tak membacanya?"
"Kau membuat malu ayah saja!" sentak pria itu.
"Cukup Ayah, cukup! Aku sedang berpikir untuk kembali menaikan pamor kita sebagai bangsawan. Makanya aku ambil resiko dengan amplop perjodohan bisa memudahkan semuanya. Aku tak menyangka jika itu berlaku untuk kakakku yang sudah tiada!" teriak Lucillia.
"Makanya jika ingin melakukan sesuatu. Kita diskusi dulu, jangan asal ambil keputusan!" sela Edward Vermont kesal.
"Aaarrghh! Kau membuatku pusing saja!" sentak Lucillia tak terima di salahkan.
Vermont meninggalkan putrinya. Memang semenjak raja baru mengubah sistem monarki yang ada. Keluarga bangsawan kehilangan pamor mereka. Terutama mereka yang tak memperlihatkan kinerja mereka terhadap kerajaan. Berbeda bagi mereka para bangsawan yang mau bekerja dan loyal pada kerajaan.
"Keluarga Thompson makin berkuasa terlebih salah satu putri mereka menjadi ratu kerajaan ini. Kenapa sih kalian menolak perjodohan itu dulu?" tanya Lucillia heran.
"Yang Mulia Dereck Philips mengganti langsung perjodohan dengan keluarga Thompson. Kau tau sendiri Ludwina adalah gadis paling cantik di antara semua gadis bangsawan juga pendidikannya paling tinggi," jawab Vermont.
Lucillia sudah kalah telak sebelum berperang. Ia melawan sesuatu yang sudah digariskan. Ludwina memang dipersiapkan untuk dijadikan seorang istri bangsawan ternama. Rumor gadis paling menurut itu sudah ada sejak gadis itu lahir ke dunia.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk bertahan menjadi bangsawan?" tanya Lucillia dengan pandangan menerawang.
"Tidak ada kecuali kau memiliki program kerja untuk membangun kerajaan ini," jawab Vermont dengan helaan napas panjang.
Lucillia duduk di kursi riasnya. Beberapa pelayan mulai membereskan kekacauan di kamarnya.
"Berpikir lah! Mulai sekarang, kita tak bisa mengandalkan kebangsawanan lagi. Kita harus bekerja dan memiliki wawasan luas demi kemajuan kerajaan," jelas Vermont.
bersambung.
makanya mikir Lucillia ... mikir!
next?