
"Apa kalian mau kupecat!" bentak Alex murka.
Semua menunduk takut. Luien hanya menyayangkan semua sikap orang. Pakaiannya bukan pakaian tidak layak. Hanya saja dari barang grosiran dan bukan benda branded ternama. Ia sudah dicap pengemis, wanita gila dan pencari sumbangan.
"Sebegitu penting kah penampilan? Hingga harus memperlihatkan jika dirinya orang kaya?" keluhnya.
"Sudah kukatakan, jika ada gadis yang bernama Luiena Elizabeth Philips. Kalian harus menyambutnya!" bentak pria itu lagi.
"Ma ... maaf Tuan muda ... ka ... kami tak ... tak menyangka, ji ... jika Nona Muda Philips berpenampilan sangat sederhana sekali," jelas kepala pelayan.
"Apa kau tidak berpikir, hah!?" sentak Alex semakin kesal.
"Jika dia bisa masuk mansion ini berarti dia adalah majikan kalian!" lanjutnya.
"Kalian semua keluar dan pergi dari mansion ini!" sentaknya lagi mengusir.
"Tuan ...."
"Jangan berlebihan, sayang," sahut Luien menenangkan kekasihnya.
Alex mendengkus kesal. Ia benar-benar sudah mengatakan siapa Luien pada para maid. Tetapi, mereka tak percaya.
"Sayang, aku bersumpah telah mengatakan. Bahkan telah mengirim fotomu,' jelas Alex merasa bersalah.
"Sudah tidak apa-apa. Sekarang, mereka sudah tau," ujarnya.
"Bawa koper istriku!" titah Alex pada para maid.
Dua pelayan wanita menggeret koper sedang milik Luien. Mereka membawanya ke kamar utama, diikuti sepasang kekasih itu. Alex mengakui Luien sebagai istrinya.
"Bagaimana, kau suka?" tanya Alex ketika sampai kamar.
Luien memandang sekeliling. Ia sangat suka designnya. Begitu hangat dan nyaman. Terlebih ada perapian dan balkon di sana.
"Kemarilah!" ajak Alex.
Pria itu e.bawa gadisnya ke balkon. Kamar utama ada di lantai dua. Pemandangan hijau dan danau buatan sangat cantik. Ada pondok kecil di dekat danau.
"Apa kau menyukainya?" tanya Alex lalu memeluk Luien dari belakang.
Dagu pria itu ia letakkan di bahu kekasihnya. Luien memandang takjub pemandangan yang begitu cantik. Belum lagi bunga-bunga liar yang dibiarkan tumbuh. Ia mengangguk.
"Aku mau ke pondok itu!" pinta Luien sambil menunjuk.
Alex mengangguk. Keduanya menuruni tangga sambil bergandengan. Senyuman indah tak mau lepas dari bibir keduanya. Lima menit saja, mereka sudah sampai di tempat yang Luien tunjuk tadi.
Gadis itu melihat ada jembatan sepotong untuk melihat tengah danau yang berwarna biru itu.
Luien melihat dasarnya. Sangat jernih, ia bisa melihat bebatuan yang diselimuti lumut di sana. Danau itu bersih dengan ikan atau binatang lainnya. Gadis itu duduk di atas jembatan dan menurunkan kakinya merasakan dinginnya air danau.
"Uuuh ... dingin sekali!" pekiknya senang.
Alex duduk di sisinya, lalu memeluknya dari samping. Luien meletakkan kepalanya di dada kekasihnya.
Alex mengangkat dagu Luien dengan telunjuknya. Ibu jarinya meraba bibir gadis itu yang kering. Satu pagutan, Alex berikan di bibir sang gadis. Luien membalasnya.
Banyak pasang mata menatap iri pasangan serasi itu. Bahkan menghentak kakinya kesal melihat kemesraan mereka.
"Ck ... sangat tak pantas!" sungutnya kesal.
"Aku yakin, jika Tuan Maxwell diguna-guna!' tuduhnya tanpa alasan.
Alex menyudahi aksi ciumannya. Luien tersenyum. Napas keduanya menderu. Gadis itu kini mengalungkan lengan di leher prianya. Menatap iris hijau itu dengan manik abu-abunya.
"Halo ... suamiku!" sapa Luien usil.
Hidungnya ia dekatkan dengan hidung Alex. Pria itu tersenyum lebar.
"Halo istriku!"
"Aku akan menginap," ujar Alex.
Luein mengendurkan dirinya. Alex langsung menarik tubuh kekasihnya.
"Jangan takut, aku akan tidur di kamar yang berbeda," jelas pria itu.
"Jika kau lakukan itu. Mereka tak akan percaya," sahut Luien, lalu menundukkan kepalanya.
Alex mendekatkan lagi wajahnya pada gadis itu.
"Jadi apa boleh tidur satu kamar?" tanya Alex sangat senang.
"Ada sofa di kamar, aku bisa tidur ...."
"Tidur satu ranjang denganku, Luien!"
Luien diam. Itu seperti perintah yang tak bisa ia tolak. Perlahan, ia mengangguk perlahan. Alex tersenyum senang. Ia pun berdiri dan menarik kekasihnya.
"Aarrghh!"
Luien terpekik kaget. Alex mengajaknya masuk ke pondok. Ketika masuk, ternyata di dalam begitu hangat. Ada ranjang berukuran besar dengan jendela lebar yang menghadap ke danau. Ada dapur kecil dan kamar mandi juga perapian.
Luien meraba ranjang halus yang berisi bulu angsa. Begitu empuk dan sangat nyaman. Ia duduk di pinggir ranjang.
"Nyaman sekali," ujarnya.
Alex tengah membuat satu mug coklat untuk mereka berdua. Cuaca mulai dingin. Luien menatap di luar angin mulai kencang, bahkan salju turun secara halus.
Luien berjalan menuju jendela. Mengeluarkan tangannya, menyentuh salju yang turun.
"Sayang," panggil Alex.
"Sebentar, sayang. Ini sangat bagus sekali," ujar Luien.
Alex menghampiri dan memeluk calon istrinya.
"Sudah mulai dingin. Kita tutup jendelanya," ujar Alex, lalu menutup jendela.
Ruangan yang terang mendadak gelap. Lampu dinyalakan. Alex mendudukkan sang kekasih dipangkuannya.
"Minum ini."
Alex menyerahkan mug cokelat hangat pada Luein Gadis itu menghirupnya. Alex juga melakukan hal yang sama. Pria itu meletakkan mug itu di atas nakas. Luien merebahkan tubuhnya pada pelukan sang kekasih. Dengan penuh kehangatan dan cinta, Alex memeluknya. Hingga mata keduanya terpejam.
Pagi menjelang. Ia telah mengenakan pakaian biasa saja. Setelan formal tetapi bukan dari barang berkelas.
Alex memang menginap dan satu tempat tidur dengan kekasihnya. Tetapi, tak ada yang terjadi kecuali hanya pelukan hangat.
"Apa kau sudah siap, sayang?" tanya Alex.
Luien mengangguk semangat. Ia sudah merencanakan semuanya. Ia pun sarapan bersama dengan calon suaminya.
"Aku pergi dulu, sayang," pamit sang gadis setelah selesai sarapannya.
Gadis itu melajukan mobilnya. Alex memandang kepergian kekasihnya. Ia pun hendak pergi menuju perusahaan di kota A.
"Tu ... tuan ... Anda mau ke mana?" tanya salah satu maid dengan berani.
Alex menatap pelayan itu. Baju seragam begitu ketat, rok pendek dan kancing yang sengaja dibuka hingga memperlihatkan dadanya yang seperti melompat keluar.
"Siapa namamu?" tanya Alex.
"Mo ... Monica, Tuan!" jawab pelayan itu.
Alex tersenyum. Monica begitu senang dengan senyuman yang seberikan tuannya. Ketika tangan Alex hendak menyentuh pipinya. Gadis itu memejamkan mata dan merekahkan bibirnya. Ia benar-benar menggoda tuannya.
Alex bukanlah pria yang begitu gampang masuk perangkap godaan seorang gadis. Ia sangat berbeda dengan dua saudaranya, yang pasti mengambil kesempatan.
Plak! Alex menampar kuat pipi gadis itu hingga terpelanting ke lantai.
"Sergio!" panggil Alex dengan suara meninggi.
Monica bergetar mendengar suara menyeramkan dari mulut tuannya. Sosok tinggi besar datang.
"Bereskan wanita ini!" titahnya.
Sergio menyeret gadis itu. Terdengar teriakan dan permohonan ampun keluar dari mulut Monica.
"Ambilkan aku hand sanitizer dan lap bersih!" titahnya dengan suara keras.
Kepala maid berlarian membawakan benda yang majikannya inginkan. Alex mengelap tangan yang tadi baru menyentuh kulit wanita tadi secara kasar. Lalu menyemprotkan hand sanitizer.
"Jika ada yang berani bermain denganku ... aku tak segan menghabisi kalian!" tekannya memgancam.
bersambung.
ah ... eh ... cakep
next?