THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
ORANG BAIK



"Jadi, Tuan Maxwell menginap?" tanya Luien tak percaya.


"Memang kenapa sayang?" tanya Wina yang juga baru turun dari lantai dua.


Luein menatap ibunya tak percaya. Seumur hidupnya, kedua orang tuanya tak pernah meminta orang lain menginap di mansion mereka.


"Mom, are you serious?" tanyanya tak percaya.


Deon terkekeh begitu juga Alex.


Luein bermaksud ingin pindah apartemen. Gadis itu mengatakan pada kedua orang tuanya


'Jadi kamu mau pindah, ke apartemen yang sudah Daddy siapkan?" tanya Deon.


"Iya, Dad. Sepertinya, aku pindah saja," jawab Luien lalu memakan rotinya.


"Pindah di apartemen mana?" tanya Alex yang ikut juga sarapan.


Pria itu sudah dari pagi datang ke mansion Deon. Tentu saja Wina senang dengan kedatangan pria itu. Ia sangat yakin jika Alex mencintai anak gadisnya.


"Penthouse Boulevard unit 114," jawab Deon.


Alex tertegun. Ia juga tinggal di sana, tetapi di unit yang tidak bisa dinikmati sama sekali pemandangannya.


"Aku juga tinggal di sana. Walau di sini juga ada mansion," sahut pria itu.


"Nggak jadi pindah, ah," sahut Luien tiba-tiba.


"Loh, kenapa sayang?" tanya Wina heran.


"Mending aku berkelahi setiap hari berkelahi dengan Frank. Jadi melatih otot-otot ku!" jawab Luien dengan mencibir Alex.


"Astaga, Luien!" tegur Deon.


Luien terdiam. Alex yang merasa tersinggung menyudahi sarapannya. Pria itu meletakan kunci mobil Luien di atas meja makan.


"Nyonya Philips, terima kasih atas sarapannya, enak sekali," ujarnya lalu pria itu berdiri.


"Nak," panggil Wina memegang tangan pria itu.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Mungkin saya harus berhenti mengharapkan anak gadis anda. Saya juga masih bisa mencari yang lain," ujar pria itu lagi.


Alex pun melangkah lebar dengan hati marah. Luien yang merasa bersalah mengejar pria itu.


"Tuan!" panggilannya.


Alex tak berhenti. Pria itu merasa sia-sia mencintai Luien. Luien memeluk pinggang pria itu.


"Lepas Luien!" pinta Alex.


"Tidak," sahut Luien.


Deon dan Wina membiarkan sepasang kekasih itu menyelesaikan masalahnya.


Luien yang memeluk Alex, baru merasakan kehangatan. Ia merasa nyaman. Gadis itu mempererat pelukannya.


"Jangan pergi," pintanya.


"Bukankah kau tadi barusan memintaku berhenti?" Luien merengek.


Alex melepas pelukan gadisnya. Ia membalik dan menatap Luien. Kedua netra berbeda itu saling menatap. Iris hijau Alex memandang iris abu-abu Luien. Di netra cantik itu terlihat jika Luien juga memiliki rasa untuknya.


"Apa kau mau menikahiku?" pinta gadis itu.


"Kau bersungguh-sungguh sayang?" tanya Alex bersemangat.


Luien mengangguk, lalu ia menoleh ayah dan ibunya. keduanya mengangguk, mereka menyetujui. Alex mengangkat dan memutar gadisnya hingga terpekik. Lalu dengan cepat mencium bibir Luien. Gadis itu pun langsung menenggelamkan wajahnya yang memerah di ceruk leher pria itu.


Alex menurunkan Luien. Deon berjalan bergandengan dengan istrinya. Keduanya tersenyum. Luien langsung memeluk ibunya. Wina memberinya kecupan begitu juga Deon.


Deon berangkat bersama supir sedangkan Luien bersama Alex. Rico tengah dilamarnya, bayi itu belum bangun jika masih pagi begini. Bayi itu akan rewel jika dipaksa bangun.


Sedang di tempat lain. Frank kini menjadi bulan-bulanan para preman. Uang di dompet pria itu diambil paksa. Frank tergeletak tak berdaya. Setengah mati pria itu keluar dari gang di mana ia dihajar dan dirampok oleh beberapa preman. Ia meminta tolong, beberapa orang menolak menolong pria itu, hingga Armira yang tengah berjalan dan berbelanja, wanita itu baru dapat donasi dari gereja untuk kelangsungan hidupnya. Wanita begitu terkejut melihat tetangga satu apartemennya terluka.


"Frank, kau kenapa? Siapa yang melakukan ini padamu?" tanyanya panik.


Dengan sekuat tenaganya, wanita itu membawa Frank ke unitnya. Pria itu masih sadar hanya saja tubuhnya lemah karena dipukuli sepuluh preman.


Setelah bersusah payah membawa Frank ke apartemennya. Wanita itu membuka unitnya, karena kunci unit Frank hilang. Mira meletakkan pria itu di ranjangnya. Dengan penuh kasih sayang. Wanita tua itu membersihkan semua luka, bahkan mengganti baju pria itu.


"Ssshhh ... Aku di sini, Nak. Tenanglah," ujar Armira menenangkan pria itu.


Frank pun tenang. Mira mengusap wajah tampan yang kini babak belur. Ia pun membiarkannya tidur, kemudian ia menelepon Chen mengatakan jika Frank kehilangan kunci setelah dipukuli para preman.


Chen bergegas datang bersama istrinya. Pria baik itu memeriksa keadaan Frank. Tak ada luka serius kecuali babak belur.


"Kita bawa ke rumah sakit, Mira, aku takut, jika ia mengalami luka dalam," ujar Chen menyarankan.


"Baiklah kita bawa dia," ujar Armira menyetujui.


Para tetangga juga ikut mengantarkan pria itu ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Chen.


"Pasien harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Ada luka serius di bagian tubuhnya, kami akan melakukan pengecekan. Tetapi untuk itu, anda harus melunasi biayanya," jelas dokter.


Chen mengangguk. Semuanya ke bagian administrasi.


"Biayanya delapan ratus euro," sahut petugas administrasi.


Chen sedikit terpana mendengar biayanya. Mira meraba kalungnya.


"Chen, ambil ini untuk biaya Frank!' ujarnya memberikan kalung emas.


"Mira, ini adalah pemberian almarhum suamimu," ujar Chen.


"Tidak apa-apa, ini lebih berguna untuk Frank dari pada aku," ujar Mira lagi.


Chen meminta waktu untuk menjual kalung itu. Pihak rumah sakit mempersilahkannya. Hanya butuh lima menit, pria itu membawa uang senilai seribu euro. Setelah membayar, uang sisanya diberikan pada Mira.


"Ambillah untuk membayar sebagian hutangku, Chen," ujar Mira lagi. "Selama ini kau selalu membebaskan sewa unit yang kupakai. Walau tak seberapa, terima lah."


Istrinya pria itu memeluk Mira yang tulus. Memberikan ciuman sayang pada wanita tua itu.


"Pulanglah kalian, biar aku menunggu Frank di sini," ujar Armira lagi.


Mereka semua pulang' ke apartemen. Mira tinggal untuk menunggui pria yang kemarin baru saja berbuat ulah.


"Mira?" panggil Frank tersadar.


"Kau sudah bangun?" Mira langsung memberitahu dokter.


Para medis lalu berdatangan. Frank heran, kenapa ia bisa di rumah sakit. Akhirnya ia pun mengingat ketika ia dipukuli sepuluh preman.


"Bagaimana Dok?" tanya Mira.


"Luka di wajah tidak seberapa. Tapi ada beberapa luka di tubuhnya yang cukup serius, kami akan memeriksanya dengan ronsen," ujar dokter.


Frank di bawa ke ruang ronsen. Setelah memeriksanya. Tidak ada luka serius hanya saja terjadi memar di limpa dan ginjal Frank.


"Limpa dan ginjalnya memar. Pasien harus dirawat secara intensif agar tidak ada peradangan dan infeksi," jelas dokter.


Setelah kepergian dokter. Perawat membawakan makanan dan obat. Frank menolak makanan tak enak itu.


"Frank, ayo makan!" titah Mira.


Wanita tua itu memaksa pria tampan itu makan dengan menyuapinya. Makanan sisa setengah, dan pria itu sudah tak sanggup memakannya lagi.


"Mira, aku sudah kenyang," rengeknya.


"Baiklah. Minum obatnya jika begitu," ujar Mira kini lalu memberi beberapa butir obat yang harus diminum Frank.


"Mira, siapa yang membayar rumah sakit ini? Kita pulang saja, yuk," ajak Frank sembari bertanya.


"Diamlah dan jangan pikirkan macam-macam. Istirahat lah!" titah Mira.


Wanita itu mengusap sayang kepala Frank. Pria itu pun langsung tertidur. Sedang di apartemen Luien tidak melihat keberadaan Mira pun bertanya.


"Kemana Armira?"


"Ah, dia menjaga Frank di rumah sakit. Kasihan pemuda itu sepertinya habis dirampok. Oh, kau tau, Mira sampai harus menjual kalungnya untuk melunasi biaya rumah sakit. Kamu semua tak punya uang untuk itu," ujar istri Anton menjelaskan.


bersambung.


ah ... Mira baik sekali ...


next?