
Frank kesal bukan main. Belum pernah ia gagal hingga berkali-kali hanya untuk mendapatkan Luien. Pria itu sangat marah.
"Kau membuatku kesal, Luien!"
Sementara, di rumah sakit. Ageele mengucap terima kasih atas semua perhatian yang diberikan pada putrinya.
"Entah bagaimana nasib putri saya jika tak ada kalian. Mungkin, saya akan meratapi makamnya."
"Tuan!" tegur Diana.
Sedangkan sang istri sedang bersama Gloria yang tengah terlelap karena efek obat bius.
Akhirnya, semua pun pulang. Brandon mengajak Hugo bersamanya. Luien bersama Alex. Sedang Vic bersama Adrian dan Diana. Semuanya pulang ke tempat mereka masing-masing.
Luien turun bersama Alex, menuju unitnya. Frank yang menunggu mengurungkan niat, karena melihat gadis itu datang bersama seorang pria. Frank cemburu. Terlebih, keduanya begitu mesra.
"Baik lah. Terima kasih telah mengantarkanku," ujar Luien.
Alex tersenyum lalu membelai pipi kekasihnya.
"Kau tak memintaku masuk?" tanya Alex.
"Pulang lah Tuan," pinta Luien sambil tersenyum.
Alex mengecup bibir kekasihnya. Luien yang memang tak terbiasa, hanya diam mematung.
"Baiklah. Langsung kunci pintu dan beristirahat. Jangan lupa mimpikan aku," ujar pria itu.
Luien mengangguk. Keduanya saling berciuman lagi. Alex sebenarnya belum puas. Tetapi Luien sudah mendorongnya. Gadis itu pun menutup pintu dan menguncinya. Alex terkekeh.
Tak lama pria itu pun pergi meninggalkan tempat itu. Frank menatap pria itu tajam. Alex yang dipandangi seperti itu heran.
"Ada masalah apa kau?" tanya Alex datar ketika berada di depan pria yang menatapnya tajam.
Frank gugup seketika. Jantung nya berdegup kencang. Belum pernah ia merasa terancam seperti ini. Frank hanya menggeleng. Alex memindainya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan dingin. Lalu ia pun berjalan tegap meninggalkan Frank yang tak mau menatap matanya.
"Siapa dia?" tanya Frank bermonolog.
Seperti yang diketahui jika dirinya memang tak pernah melihat majalah bisnis. Andai dia tahu jika berhadapan dengan raja bisnis dan segala bidang. Mungkin pria itu akan berpikir ulang untuk mencari gara-gara.
Pagi menjelang. Kali ini Luien tak bangun pagi berolahraga, rupanya dia bangun sedikit siang. Lagi-lagi Frank harus menelan kekecewaan. Sudah ketiga kalinya ia menunggu tanpa kepastian. Luien benar-benar diluar jangkauannya. Biasanya jika ia menarik lawan jenis, ia hanya perlu satu kali trik saja, sudah itu para wanita akan berada pasrah di bawah kukungannya.
Luien pun keluar dengan buru-buru. Gadis itu memakai celana kulot warna navi dan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam. Mengenakan ransel hitam dan sepatu warna senada. Ia berlari menuju lift. Frank yang juga keluar tak sempat mengejar Luien. Akhirnya kembali ia menelan kekecewaan, karena tak lagi sejalan dengan gadis incarannya itu.
"Berengsek!" makinya.
Luien menekan pedal gasnya dalam-dalam agar cepat sampai ke kantor. Ia kesiangan hari ini. Setelah pulang dari rumah sakit. Ia mengerjakan beberapa berkas yang diperlukan untuk esok hari. Jadi, ia tidur larut. Ketika bangun, ternyata sudah pukul 07.10 pagi. Ia melompat dari tempat tidur ketika melihat jam wekernya.
"Astaga! Aku kesiangan!"
Makanya dia mandi secepat kilat. Bahkan tak sempat menyisir rambutnya. Hanya memakai asal baju yang ia ambil dari lemari. Tanpa make up dan sarapan. Ia benar-benar terburu-buru.
Butuh waktu sepulu menit ia sudah sampai perusahaan. Ia sedikit berlari. Hugo dan Brandon sudah masuk lift.
"Tunggu!" teriak Luien sambil berlari.
Pintu lift yang tertutup kembali terbuka. Ia lega, karena ada yang masih mau menekan tombol lift. Gadis itu pun masuk lalu mengucap terima kasih.
"Thanks!"
Padahal jika ia mau, ia bisa saja naik lift khusus. Tetapi, begitulah Luien. Terkadang ia lupa siapa dirinya.
"Kenapa kau tak pakai lift khusus?" tanya Brandon melihat gadis yang sedikit terengah-engah.
Setelah melakukan review. Gadis itu akan bersama dua atasannya ke lokasi proyek. Sedangkan Vic berada di divisi administrasi karena menggantikan posisi Gloria.
Menjadi rangkap jabatan, membuat Luien sedikit lelah. Kini, ia tau bagaimana Ken bisa sekuat itu menjadi asisten ayahnya.
"Kak Ken pasti masih single sampai sekarang karena banyaknya pekerjaan," duga Luien ketika melihat catatan pekerjaan yang mesti ia selesaikan.
"Haachi!' sosok tampan bersin.
"God bless you!' ujar Deon sambil menatap pria kepercayaannya.
"Kau sakit, Ken?" tanya Deon sedikit khawatir.
"Tidak Tuan. Hidung saya tiba-tiba gatal," jawab pria itu sambil menggosok hidungnya.
"Oh, begitu. Jika kau memang sakit. Pergilah istirahat. Atau ambillah cuti," ujar Deon memberi saran.
"Tidak Tuan. Saya tidak kenapa-napa, terima kasih," ujarnya sambil mengangguk hormat.
Deon hanya mengangguk. Pria itu kembali memeriksa berkas-berkas yang menumpuk.
"Oh ya, Ken. Bagaimana perkembangan perusahaan Thomas?" tanya Deon.
"Perusahaan sedang dalam proses Tuan. Oh ya, pengadilan bertanya tentang nama kepemilikan perusahaan," ujarnya memberitahu.
"Buat nama Edrico Thomas yang menjadi pemilik perusahaan itu, Ken. Aku ingin tau lagi, apa yang ia lakukan setelah tahu nama pemilik perusahaan," ujar Deon memberi perintah.
"Baik Tuan!" angguk Ken lalu melaksanakan tugas.
Sementara di tempat lain. Rodrigo kembali bertanya pada putranya.
"Hei kenapa ini lama sekali, apa yang kau lakukan?"
"Diam lah! Kau pikir semudah itu, mendekatinya!" bentak Frank yang sudah putus asa bagaimana mendekati Luien.
"Apa susahnya sih?' tanya Rodrigo kesal. "Apa pesonamu sudah tak berguna lagi?"
"Aku tak tahu, tapi sepertinya dia sudah memiliki kekasih. Dan dia tipe gadis yang setia!" jawab Frank kesal.
Rodrigo marah bukan main. Pria itu kini sudah tak tau harus berbuat apa. Ia sudah menjual semua aset untuk menutupi utang-utangnya di Bank. Sebagian sudah lunas. Tetapi, masih ada yang belum. Perusahaan terancam diaudit. Pria itu terlalu gegabah dan buruk management. Banyak tikus ia pelihara, jadinya semua uang dan proyek terbang ke kantung managernya. Mereka pergi begitu saja. Padahal, Rodrigo bisa saja mendapat kembali uangnya jika saja ia melapor pada dinas yang terkait.
"Aarrgghh!" teriaknya setelah sambungan telepon disebut.
Pria itu berpikir pendek, semua orang yang ia percayai mengkhianati nya.
Ia duduk di kursi kebesarannya. Netranya menerawang jauh ke belakang. Ia teringat ketika mendapati putranya menangis memanggil ibunya.
Pria itu pun mencari keberadaan istrinya. Selama dua tahun, ia mencari. Hingga ketika ia menemukan wanita yang telah memberinya satu putra itu menggandeng pria lain.
"Aku ingin bercerai!" begitu pinta wanita yang tidak mau lagi ia ingat namanya.
"Uruslah putra mu, aku tak peduli!' ujar wanita itu lagi dan meninggalkan dirinya begitu saja.
Sejak itu ia pun tak percaya dengan orang lain.
bersambung
hmmm ...
next?