THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
KEMARAHAN DEON



Don memaki habis-habisan Jessy. Ia tak mengira jika harus berurusan dengan Maxwell terlalu jauh seperti ini. Semua anak buahnya kemarin habis dan ditangkap oleh pasukan hitam. Ia tak tau siapa yang menggerakkan pasukan itu.


"Siapa itu Luien!" bentak Don murka.


"Luien hanya gadis miskin!" teriak Jessy.


Tubuh gadis itu memar dan bahkan bibirnya berdarah karena habis ditampar begitu keras oleh pria yang membayarnya. Entah bagaimana ia bisa kabur dari penjara rumahnya.


Gadis itu kini menyesali semuanya. Ia berandai-andai, jika saja ia tak nekat kabur dan ditangkap lagi oleh Don. Padahal baik Brenda dan Anneth tidak berani keluar rumah karena diancam oleh kedua orang tuanya.


Sedang ayah Jessy Fillerman, yakni Edward Fillerman berlutut di depan Deon. Pria itu memohon pertolongan pria. itu.


"Putriku disandera Tuan ... hiks ... hiks ... tolong dia. Dia ... dia masih labil dan terlalu manja!" pinta Edward menghiba.


"Putrimu sudah keterlaluan, Edward!" Deon bermuka tebal mengindahkan pengharapan pria itu.


"Tuan ... saya mohon. Kasihanilah dia Tuan. Anda juga punya seorang putri," rajuk Edward masih memohon.


Deon menghela napas panjang. Ia juga memikirkan hal itu. Selama ia tak menggubris Luien. Gadis itu menerima banyak hinaan dan tak ada satu pun yang membelanya.


"Baik lah. Tapi, setelah ini. Kau bawa putrimu jauh-jauh. Sebelum aku ratakan perusahaanmu dengan tanah!" ancam pria itu dengan tatapan dingin..


"Saya akan lakukan Tuan!" ucap Edward dengan ungkapan rasa terima kasih.


Deon hanya mengibaskan tangannya agar pria itu pergi dari hadapannya. Edward pun membungkuk hormat lalu berjalan mundur sepuluh langkah lalu ia pun berdiri tegak.


Deon berdiri dan membenahi jas mahalnya. Mengambil senjata yang ada di laci. Dengan seringai sadis. Pria itu berjalan dengan aura membunuh yang kuat. Ken sampai tertunduk takut.


"Tuan," panggilnya takut-takut.


"Aku yang akan membereskan sendiri, Ken. Kau urus sisanya!" titah Deon tak bisa terbantahkan.


Ken hanya menunduk hormat. Beberapa pengawal membungkuk ketika ia lewat. Deon memasuki mobilnya dan membawanya ke suatu tempat. Ia sudah tahu di mana markas Don berada. Para anak buah juga sudah mengatasi hal-hal kecil lainnya. Ken, berjalan dan masuk mobil mengikuti atasannya.


Butuh waktu dua puluh menit, Deon sudah datang di sebuah gedung berlantai dua. Seorang pengawal berlari dan membuka pintu untuknya.


"Bagaimana?' tanyanya datar.


"Semua sudah beres Tuan?' sahut pengawal itu.


Deon melangkahkan kaki panjangnya lebar dan kokoh. Semua pengawal yang dilewatinya membungkuk hormat. Sedang di sisi lain, beberapa pengawal asik menghajar pengawal Don.


Deon makin mendekati sebuah ruangan. Pintu terbuka perlahan. Dua insan tengah melakukan oral ****. Keduanya tak mengetahui jika ada yang datang.


"Wah ... asik sekali kalian!"


Don mengumpat. Padahal sedikit lagi lahar gairahnya akan muncrat. Namun, sejurus kemudian wajahnya pucat ketika melihat sosok yang ada di sana melihat ia yang sedang asik menikmati percintaan.


"Philips!" Jessy langsung tersedak.


Gadis itu sudah tanpa busana, begitu juga Don. Philips duduk di kursi kebesaran milik pria berambut hitam pekat itu. Ken masuk dengan wajah datar.


"Jessy, jika kau masih ingin hidup benar dan layak. Pergi kau dari negara ini bersama ayahmu," ancam Deon dengan nada datar.


Jessy yang mendengar ancaman itu langsung ketakutan. Ia pun bergegas memakai semua bajunya.


"Ken ... pastikan dia pulang ke rumahnya!" titah Deon masih bernada datar.


Ken hanya mengangguk hormat..Ia memberi kode kepada salah satu anak buahnya. Sang anak buah pun membungkuk hormat dan melaksanakan perintah atasannya. Jessy hanya diam dan menurut.


"Don Mortego!" Deon berdiri lalu ia duduk di atas meja.


"Kau tau siapa gadis yang beberapa hari lalu berseteru denganmu, bahkan kau ingin memilikinya?" lanjutnya bertanya dengan tatapan tajam.


"Ga-gadis itu hanya ... hanya gadis miskin seperti kata Jessy!" jawab Don gugup tangannya menutupi *********** yang terbuka.


Bug!


"Aarrgh!" Don terjatuh ke lantai.


Deon pun membabi buta menghajar wajah Don yang memang tampan, tetapi kini nyaris hancur karena dipukuli oleh Don. Hidung dan rahang patah, pelipis, bibir dan beberapa bagian muka sobek dan kini berdarah. Pria itu pingsan.


Ken langsung mengangkat Tuannya yang sudah kelelahan. Deon kesal karena ternyata ia tidak lagi sekuat dulu.


"Berengsek!" makinya.


"Tuan hanya kurang olahraga saja," ucap Ken menenangkan tuannya.


Deon menghela napas kasar. Mengusap keringat yang membasahi keningnya. Buku jari tangannya lecet karena memukuli wajah pria telanjang yang kini sudah tak sadarkan diri.


"Urus dia, pulangkan ke negaranya dan letakan semua bukti kejahatannya di depan pintu kepresidenan!" titah Deon mutlak. "Dan pastikan semua orang tau!"


"Baik Tuan!" sahut Ken dengan seringai kejam.


Don dipulangkan ke negaranya dalam keadaan bugil. Pria itu terbangun di depan pintu istana presiden dan satu kotak bukti kejahatannya. Presiden Sergio Van Roots merupakan masih kerabat dekatnya. Pria itu juga menutupi semua kebusukan saudaranya itu.


Dengan bukti sebanyak itu di hadapan semua publik, membuat Sergio harus mundur dari jabatannya sebagai Presiden. Para Intel menemukan juga aliran dana hitam ke rekening pribadi milik Sergio dari hasil kejahatan Don Mortego.


Seluruh dunia tercengang dengan kasus yang terkuak. Mereka semua bertanya-tanya. Siapa orang yang begitu kuat kekuasaannya hingga mampu menundukkan kewibawaan sebuah negara, karena berhasil mengungkap kejahatan orang yang memiliki jabatan tertinggi, yakni seorang presiden.


Deon menatap Jessy dan Edward Fillerman, ayahnya. Dua orang itu berdiri dengan kepala tertunduk di hadapan pria terkuat dan terkaya di kotanya.


"Sayang, masuk lah," titah Deon lembut pada seseorang.


Luien datang, Jessy terbelalak. Ia menelan saliva kasar. Bibirnya bergetar. Luien mendekatinya dan menatap wajah gadis yang suka menghinanya itu sudah lebam dan bahkan ada beberapa tanda kekerasan di seluruh tubuhnya.


"Kau tau. Sebenarnya, aku ingin sekali menamparmu, karena membuat Gloria jatuh seperti itu. Tetapi melihat kondisimu seperti ini, kurasa cukup untuk memberi pelajaran untukmu!" tekannya dengan tatapan dingin dan menusuk.


Jessy menitikkan air mata penyesalan. Sungguh, ia benar-benar menyesal. Hanya demi sebuah tas limited yang ayahnya tak mampu belikan, ia bisa berurusan dengan mafia kelas berat macam Don. Beruntung nyawanya bisa diselamatkan.


"Pergilah!" usir Deon.


"Terima kasih Tuan ... terima kasih!" ujar Edward lalu menunduk hormat.


Ayah dan putrinya pergi dengan rasa malu yang luar biasa. Luien memeluk ayahnya dan menangis.


"Tenang sayang. Semuanya sudah berakhir. Don tak akan bisa menampakkan batang hidungnya di sini. Bahkan di dunia ini," ujar Deon menenangkan putrinya.


Sedang di mansion Gloria. Gadis itu menolak bertemu gadis yang mengaku sahabatnya.


"Aku minta maaf, Glor!" pinta Jessy menyesal dan menangis.


Pintu tak terbuka. Ageele ingin sekali mencekik gadis ini karena membuat putrinya jadi sosok yang penuh ketakutan.


"Pergilah Jess. Sebelum aku gelap mata!' sergah Ageele dengan napas berat.


Jessy pun sedikit berlari dengan berurai air mata. Bukan saja Gloria yang tak ingin bertemu dengannya. Bahkan Anneth dan Brenda juga tak mau bertemu, karena diancam oleh kedua tuanya.


Sementara Alex yang mendengar kehebohan berita terkuaknya kejahatan presiden sebuah negara karena menerima aliran dana dari mafia, langsung berdecak kagum dengan sosok yang mampu membongkar sindikat itu.


"Siapa pun dia. Pasti memiliki kekuasaan tertinggi juga sangat kaya raya!" gumamnya kagum.


bersambung.


aaaaghh ... othor puas dengan ini.


next?