
Pemberkatan pernikahan usai. Kini sepasang pengantin berjalan keluar dari gereja, Luien dengan wajah cantik luar biasa. Menaiki kereta kencana bersama seorang suami yang begitu tampan dan gagah. Sepanjang perjalanan menuju istana, mereka berdua melambaikan tangan. Rico tadinya ingin ikut bersama Luien tapi Ken berhasil mengalihkan perhatian bayi montok itu pada kuda-kuda yang berdiri. Rico duduk bersama Ken dan Felicia. Mereka juga melambaikan tangan dengan bayi yang berteriak antusias. Semua orang begitu gemas melihatnya.
Masyarakat meneriaki Luien, mengelu-elukan namanya. Banyak yang menangis haru dan mengucap terima kasih, namun tak sedikit yang mencibir iri.
"Hidup sejahtera Yang Mulia Tuan Putri, Pangeran!" sambut para masyarakat.
Luien begitu terharu. Ia melempar cium jauh untuk para masyarakat. Semua menangkap cium jauh itu dan menaruhnya di dada mereka.
Begitu juga ketika Raja dan Permaisuri lewat. Semua masyarakat mengelu-elukan raja mereka. Program sang raja memang belum lama dijalankan. Kebanyakan para masyarakat yang sangat manja akan subsidi sedikit mengeluh ketika harus bekerja lebih giat untuk memenuhi kebutuhannya. Kecanggihan jaman sudah merambah di seluruh dunia. Banyak masyarakat yang belum siap akan kemajuan teknologi. Tapi tak sedikit yang memanfaatkan peluang yang ada dengan menciptakan peluang lain. Memang tidak mudah tapi bukan hal yang sulit jika pemerintah selalu membimbing masyarakat.
'Hidup dan sejahtera, Yang Mulia Raja dan Permaisuri!" seru para masyarakat.
Mereka melempar kelopak bunga pada rajanya. Deon dan Wina melambaikan tangan mereka dengan bingkai senyum indah di wajah keduanya.
Begitu ibu suri lewat, semua bertepuk tangan padanya. Mereka juga memberi sambutan luar biasa.
"Hidup dan sejahtera juga panjang umur yang mulia ibu ratu!"
Victoria melambaikan tangannya. Ia juga melempar senyum indahnya. Tujuh puluh tahun menjadi ratu, bukan waktu yang sebentar. Banyak rintangan ketika awal memerintah menjadi ratu dari kakeknya. Deon yang masih terlalu kecil dan diincar banyak musuh harus dilarikan ke sebuah kota kecil.
Victoria tak memiliki anak. Ada virus yang hidup di rahimnya hingga ia tak bisa memiliki keturunan. Bahkan ia nyaris kehilangan nyawa ketika memaksa hamil di usia yang memang rawan, lima puluh tahun.
Demi kelangsungan monarki. Ratu tidak dibiarkan hamil. Sedang sang suami yakni pangeran Milian Forse juga tak keberatan tak memiliki keturunan dari istrinya.
Hingga usianya delapan puluh tahun, sang suami berpulang terlebih dahulu. Kini usianya sudah sembilan puluh empat tahun. Ia memanggil Deon yang memang keturunan langsung raja.
Selama kepempimpinan Deon. Seluruh bangsawan tak memiliki pengaruh pada percaturan politik yang diusung Deon, walau ada beberapa bangsawan yang masih memiliki andil atas berlangsungnya pemerintahan kerajaan.
Selama satu jam pengantin dan rombongan berkeliling. Diana dan Gloria benar-benar memanfaatkan situasi. Ia juga ikut di rombongan pengantin dan melambaikan tangan..
"Diana. Aku yakin saat ini Anneth dan Brenda, menangis darah karena menyesal," bisik Gloria pada sahabat tuan putrinya itu.
"Ya, beruntung sekali kau cepat bertobat. Jika tidak ...."
"Aku sudah mati, Diana. Pastinya aku sudah mati," potong Gloria lirih.
Diana terdiam. Ia terlupa dengan satu kejadian mengerikan yang menimpa gadis itu. Diana begitu menyesal. Ia memeluk Gloria dan meminta maaf.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku malah bersyukur menjauhkan Leo dari Yang Mulia Tuan Putri," sahut Gloria santai.
Diana terkekeh. Ia kini membayangkan wajah kedua orang tua pria itu. Dulu, mereka pikir Luien hanya seorang anak pengusaha biasa, hingga ketika gadis itu diabaikan keluarganya. Makin bencilah mereka terhadap Luien.
Sementara di tempat lain. Tampak Leo menatap nanar tayangan televisi. Ia baru saja menelan pil pahit. Setelah melihat siapa Luien dan yang ada di sana.
"Ternyata kekasihmu dulu adalah seorang putri raja," sebuah suara wanita terdengar.
"Papa juga baru tahu jika, Philips adalah pengusaha terbesar dan terkuat yang ada di kota ini dan hampir seluruh dunia," kini suara pria mendominasi.
Leo tersenyum miring. Menatap keduanya yang berwajah menyesal. Bahkan Gloria ada di sana. Gadis yang mereka tolak langsung karena perusahaan Ageele kala itu sedang bermasalah.
"Tak selamanya orang yang jatuh itu akan tertindas dan tak selamanya orang sukses itu akan berjaya," sahut Leo datar..
"Sekarang, mau kata apa pun sudah terlambat. Aku tak bisa mendapatkan Gloria apa lagi Luien," lanjutnya.
"Kenapa tak bisa. Bukankah Gloria begitu mencintaimu dulu?" tanya Hernandez.
Leo menggeleng.
"Gloria hanya ingin membuat Luien terluka. Ia tak pernah mencintaiku," jawab Leo lalu tertawa lirih.
Kini, ia menangis. Dua gadis ia sia-siakan begitu saja. Bahkan kepada Gloria, pria itu tak mampu membuat gadis itu mencintainya secara tulus.
Lain di tempat Leo lain juga di tempat Anneth dan Brenda. Dua gadis itu menatap layar kaca dengan penuh iri dan dengki. Keduanya mengumpat habis-habisan Gloria.
"Mestinya kemarin kau menjual dirimu Gloria!" teriak Anneth. "Kau tak pantas di sana!"
"Kau memang licik Gloria!" seru Brenda sinis. "Kau memanfaatkan situasi dan mendapat untung banyak dari semua ini!"
Jessy berkali-kali mencoba menggugurkan kandungannya. Tapi selalu gagal. Janin itu kuat dengan segala obat penggugur yang ada. Bahkan ketika ia mendatangi tempat aborsi. Para dokter angkat tangan karena berbahaya bagi nyawanya sendiri.
Ia sendirian di negara itu. Ayahnya hanya membawanya ke sana dan memberinya uang bulanan tanpa mau melihat keadaan putrinya. Sang ayah benar-benar kecewa.
"Luien ... ternyata kau adalah putri raja. Pantas kau begitu berkarisma dan sangat anggun. Kau menjadi mahasiswi teladan ketika di kampus. Kau begitu tangguh dan sangat kuat," Jessy menangis.
Ia menatap putranya yang tampan beruntung tak ada cacat atau penyakit bawaan setelah usahanya menggugurkan bayi yang kini tertidur lelap dalam pelukannya.
"Mommy janji akan membesarkanmu Junior. Mommy pastikan kau jadi orang yang baik dan jujur. Tidak sepertiku. Mommy pastikan kau akan mendapatkan pendidikan yang layak," ujarnya lalu mencium bayinya.
Kembali ke tempat Luien. Kini sepasang pengantin sudah berdiri di balkon. Para wartawan memfoto mereka.
"Cium suaminya Yang Mulia Tuan Putri!" pinta para wartawan.
Luien mengecup bibir Alex. Pria itu membalas dengan memagut sang istri. Semua bersorak dan bertepuk tangan. Luien merona dan melepas pagutan suaminya.
"Apa Yang Mulia Tuan Putri dan pangeran berencana berbulan madu?" tanya salah satu wartawan.
"Apa langsung memberi keturunan untuk memeriahkan istana?" tanya para wartawan lagi.
"Kami akan berbulan madu di Maldives. Lalu soal anak," Alex menghentikan ucapannya.
"Kami serahkan pada Tuhan," lanjutnya.
Luien tersenyum. Ia menggayut manja pada suaminya. Ia bahagia tak dipaksa langsung punya anak. Walau ia juga tak keberatan jika punya anak langsung dari suaminya.
"Pangeran apa benar Nona Alicia Walles adalah mantan tunangan anda dulu? Sekarang beliau bukan lah seorang bangsawan lagi. Bagaimana tanggapan anda?"
Alex terdiam dan semuanya terdiam. Luien menunggu apa jawaban suaminya.
"Saya tak mengurusi orang yang bukan siapa-siapa saya!" jawab Alex tak suka.
"Soal dia kehilangan kebangsawanannya juga bukan urusan saya!" tekannya lagi.
"Tapi sebagai mantannya, mestinya pangeran berbaik hati atau setidaknya memberi dukungan!"
Kini semua orang menatap wartawan yang bertanya. Mereka memang tak suka dengan pertanyaan itu, tapi penasaran dengan jawaban Alex.
"Tidak ada. Dia bukan siapa-siapa saya. Hubungan kami sudah berakhir lima tahun yang lalu. Seperti yang saya katakan tentang lainnya, itu bukan menjadi urusan saya!" jawab Alex lantang.
"Tapi Pangeran ...."
"Saya rasa cukup. Terima kasih!" ujar Alex menyudahi tanya jawab.
Semua wartawan memfoto mereka. Alex yang kesal langsung membawa Luien masuk istana.
"Sayang," panggil sang istri lembut.
Alex yang berwajah gusar menatap istrinya yang memandangnya penuh dengan cinta.
"Tak usah kau ambil hati pertanyaan sampah itu," ujar Luien.
"Aku mencintaimu," lanjutnya.
"Aku juga sangat ... teramat sangat mencintaimu," balas Alex.
Mereka pun berciuman.
bersambung.
ah ... selalu saja ada yang begitu.
next?