THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
DALANG PEMBUNUH KELUARGA THOMAS



Sudah satu tahun kebebasan Rodrigo. Penjahat sesungguhnya sudah ditangkap bahkan telah dijatuhi hukuman berat. Masih ingat diingatan Rodrigo wajah-wajah orang yang menekannya, hingga ia gelap mata membunuh keluarganya.


Flashback.


"Semua bukti ada di buku itu!" ujar Rodrigo ketika masuk tahanan pada Deon.


"Ken!" titah pria itu.


Sosok tampan langsung membungkuk hormat. Ken melaksanakan titah atasannya.


"Kenapa kau tak langsung menyeret mereka sekarang?"


"Dan hanya membuat mereka melenggang tanpa hukuman berat? Anda adalah hakim agungnya Tuan Philips!"


Deon pun pergi setelah mendengar kabar jika Ken mendapatkan flashdisk yang disembunyikan Rodrigo.


"Jadi Walikota Edie Gilbertson, adalah otak semua ini!"


Deon menatap layar komputer berisi data-data ketimpangan. Memang di sana perusahaan Rodrigo yang paling banyak memiliki utang berjangka. Tapi, nilai saham masih stabil di tangan kepemimpinan pria itu.


"Ken ... siapkan pengadilan tinggi, kita seret orang-orang itu ke tiang gantungan!" seru Deon dengan mata berkilat.


Ken membungkuk hormat. Sebagai pria paling berkuasa, Deon memiliki hukum tersendiri pada para koruptor negara. Pria itu tak main-main, belajar hukum hingga master dan menjabat sebagai hakim agung tertinggi dan memiliki satuan khusus untuk menangkap para penjahat kelas kakap.


Berita penangkapan walikota menjadi tajuk berita utama semua koran di ibukota. Terlebih. sang walikota ditangkap di kawasan prostitusi The Madamossa, kawasan bordil terbesar dan paling terkenal di wilayah selatan kota.


Selain Edie sang walikota, menteri perpajakan dan keuangan negara ditangkap di lokasi yang sama hanya beda kamar.


"Jadi Tuan Borton dan Tuan Joenson ditangkap di tempat yang sama?"


"Benar, tuan! Bahkan mereka ditangkap dalam keadaan menyatu dengan wanita bayaran mereka!" lapor Ken.


Deon mengepalkan tangannya. Ia begitu geram, melihat tingkah pejabat publik mencoreng hukum.


Penangkapan itu dimuat di berita bersama foto syur mereka. Banyak yang berang dengan tindakan amoral para pejabat terpercaya itu.


"Kami mau kawasan prostitusi itu juga ditutup!" teriak masyarakat.


Tapi, tempat itu memiliki landasan hukum, jadi tak bisa ditutup. Karena semua tahu, titik kejahatan berawal dari daerah itu, maka akan lebih terkontrol dibanding tempat itu dibubarkan.


Edie duduk di kursi pesakitan. Semua bukti sudah lengkap. Semua berdiri ketika hakim itu datang. Pria itu terkejut ketika melihat hakim yang kini duduk di kursi ketua pengadilan.


"Tuan Philips?"


"Hadirin ruang sidang silahkan duduk kembali!" titah notulen.


Semua yang hadir duduk. Dakwaan dibacakan. Rentetan bukti dipaparkan. Tim pengacara terdakwa tak bisa memberi sanggahan. Alibi mereka lemah. Bahkan semua rekaman cctv dan rekam jejak digital juga pesan singkat tak bisa dihilangkan.


"Kami juga punya rekening asing, yang kami duga adalah milik terdakwa, yang mulia!" seru penuntut umum.


"Terdakwa juga memiliki harta yang tak dilaporkan selama ia menjabat delapan tahun kepemimpinan sebesar tiga triliyun euro!"


"Keberatan yang mulia, penuntut hanya mengarang!" interupsi penasehat hukum tersangka.


"Kami memiliki bukti yang mulia!" teriak penuntut umum.


Beberapa berkas dan juga foto-foto yang menjelaskan seorang pria yang diduga sebagai terdakwa, tengah mendatangi beberapa hunian mewah.


"Kami juga menemukan beberapa pakaian yang diduga adalah pakaian dari terdakwa untuk menyamar dan mengelabui semua orang ketika mendatangi hartanya!" teriak jaksa penuntut.


"Keberatan yang mulia, bukti itu tidak bisa dijadikan bahan utama karena kepemilikannya tak jelas, hanya foto buram dan itu bisa saja orang lain!" tolak penasehat hukum.


"Kami juga memiliki sidik jarinya yang mulia!"


Penasehat hukum tak bisa berkutik. Edie hanya tertunduk. Jika sudah di tangan pria yang duduk di kursi utama pengadilan. Maka tak ada satu penjahat bisa lolos.


"Sidang ditunda untuk pembacaan pledoi dari terdakwa!" putus Deon.


Ketuk palu terdengar satu kali. Notulen meminta semua yang hadir berdiri. Hakim agung keluar. Semua ribut. Edie mendatangi delapan pengacaranya. Ia hanya duduk dengan wajah pucat.


"Kita tak akan bisa melakukan apa-apa jika sudah melibatkan hakim agung," keluh salah satu pengacara Edie.


"Aku tak percaya itu. Bagaimana pun Tuan Philips adalah manusia biasa! Ia pasti tertarik dengan uang dan wanita!" sanggah salah satunya lagi.


"Aku tak yakin, tapi bisa dicoba. Panggil semua kolega yang ikut bermain dalam penyelewengan pembunuhan Xavier Thomas!" titah Edie. "Seret lagi Rodrigo!"


Edie hanya bisa menghela napas panjang. Ia tak bisa menarik dan melempar semua bukti pada pria itu.


"Kalau begitu, hubungi semua kolega yang memiliki kekuasaan sama dengan Deon!" titah Edie tegas.


"Baik!"


Mereka membubarkan diri. Beberapa penasehat hukum Edie melakukan loby pada para kolega yang berpengaruh. Edie juga memiliki keluarga yang duduk di parlemen.


"Kita bawa ormas untuk memprotes penangkapan itu!" ide salah satu pengacara.


"Tempat yang didatangi Tuan Edie Gilbertson adalah legal jadi dia berhak mendatangi tempat itu!" teriak para ormas yang menuntut berita media.


"Berita itu terlalu berlebihan, terlebih mereka memposting foto vulgar yang semua mata bisa mengaksesnya termasuk anak di bawah umur!"


Deon menggeleng kepala. Ia tak habis pikir dengan tuntutan para ormas. Jika Edie bukan pejabat publik, mungkin bisa dimaklumi.


"Seret ketua ormas itu!" Ken membungkuk hormat.


Seorang pemuda berusia sekitar sembilan belas tahun. Berpenampilan acak-acakan. Deon langsung memberondong ribuan pertanyaan pada pemuda itu. Yang tentu tak bisa dijawab oleh sang ketua ormas.


Beberapa orang mencoba melobi Deon, bahkan mereka adalah orang-orang yang menjabat di parlemen.


"Kami akan mengusungmu sebagai presiden!" janji mereka.


"Kekuasaanmu akan berlipat jika menjadi presiden!" rayu mereka.


Deon menggeleng dan langsung menolak.


"Kau tau, aku memiliki putri cantik, ia adalah mantan Miss kecantikan kota ini. Kau pasti suka," tawar salah satu pebisnis.


Deon tertawa sumbang. Istrinya Ludwina adalah wanita tercantik yang pernah ada. Tak akan bisa dikalahkan oleh siapa pun.


"Apa ada tawaran yang lebih menggiurkan?"


"Saham The Tower lima puluh persen jadi milik anda, ditambah yatch pribadi dengan dua gadis cantik perjalanan karabia-eropa!"


Deon terbahak mendengarnya. Sungguh, kekayaannya lebih dari apa yang pria itu tawarkan.


"Plus saham perusahaan Gold Glory milikku sebesar tiga puluh persen!"


Deon diam. Ia menatap pria di depannya dengan senyum penuh kemenangan.


"Ken!"


Pria itu tergagap. Ken datang bersama tiga polisi khusus dan sebuah rekaman percakapan keduanya.


"Tuan Davin Gilbertson, anda ditangkap dengan tuduhan penyuapan!"


"Berengsek kau Deon!" teriak Davin murka.


Sebuah tinju nyaris melayang. Sayang, tangan itu ditangkap dan tubuh gempal pria itu dibanting oleh satuan kepolisian khusus.


"Lepaskan aku!" teriak Davin murka.


Pria itu diseret paksa oleh dua orang perwira dengan tubuh tegap. Davin meronta sekuat tenaga, mulutnya tak habis mengumpat Deon.


"Tuan!"


"Bawa semua bukti, kita akan dengar pledoi Edie!"


Ken membungkuk hormat. Dua pria itu pun berlalu dari sana.


Waktu berlalu. Pembacaan pledoi sudah dilakukan. Tak ada perlawanan berarti. Hukum kini mulai ditegakkan.


"Hukuman mati!"


Palu diketuk. Edie berteriak dan meminta banding. Edie diseret bukti yang kuat tak bisa memberinya keringanan bahkan banding tak dianggap.


Kini pembunuh dari orang tua Edrico Thomas berhadapan dengan eksekutor. Jam delapan malam, pria itu ditembak tepat di jantungnya dan langsung tewas di tempat.


end


akhirnya otak pembunuh sebenarnya terungkap.