THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
BERNARD 3



Bernard atau Frank kembali ke apartemen yang ia sewa untuk menjalankan tugasnya. Hari ini adalah weekend. Pria itu yakin jika Luien pasti ingin hang out. Ia akan mengajaknya ke tempat-tempat romantis.


Dipikiran Frank, jika Luein akan sangat terkesima dengan persembahannya. Semua gadis pasti tak akan menolak keromantisannya sebagai lelaki. Terbukti, istri dari pamannya saja bisa dibuat tekuk lutut padanya.


"Sandra saja bisa aku nikmati tanpa bersusah payah. Hmm ... sayang sekali aku belum puas bercinta dengannya," keluhnya.


Lalu ia tersenyum miring. Pria itu menyiapkan semuanya.. Pakaian terbaik dan hadiah kecil yang manis. Sebuah gelang sederhana yang bertulis best friend. Ia sangat yakin, Luien akan. senang berteman dengannya.


"Awalnya kita berteman, lambat laun kau akan masuk dalam dekapanku dan menjadi kekasihku. Saat itulah, kau menyerahkan dirimu padaku, Luien," gumamnya bermonolog..


Sementara di kantor, Luien yang begitu banyak pekerjaan sampai lupa makan siang. Alex memintanya berhenti.


"Luien, berhenti lah. Ini waktunya makan siang," ujarnya.


Luien menyudahi pekerjaannya. Adrian kembali ke perusahaan Diana. Kini ada pengukuhan gadis itu sebagai CEO dari perusahaan Diana.


Luien sangat bangga memiliki sahabat yang sudah mendapatkan haknya. Bahkan gadis itu juga merawat ayah yang menelantarkannya dari kecil.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Alex.


Hari ini ia membawa dua bekal untuk Luien dan dirinya. Pria itu memasak masakan khas dari negaranya. Luien begitu antusias dengan makanan itu.


"Ini enak sekali, Tuan. Saya yakin jika suatu saat siapapun istri anda pasti akan sangat beruntung," puji gadis itu.


"Kan yang menjadi istriku adalah kau, sayang," celetuk pria tampan itu.


Luien terdiam, ia lupa jika ia kalah dari pria itu. Bahkan, sampai sekarang Luien belum membayar taruhannya. Walau, sampai sekarang Alex belum memintanya.


"Ck ... berani datangi ayahku lah!" celetuk gadis itu.


"Kau serius?" tanya Alex ingin meyakinkan.


Luien terdiam. Ia memandang pria itu.


"Saya hanya gadis miskin, apa Tuan tak risih dengan perbedaan status kita?" tanya Luien ingin tau.


Alex pun ikut terdiam. Pria itu juga masih takut, membawa gadis itu ke hadapan orang tuanya. Luien adalah gadis yang berbeda dengan gadis yang lain. Luein akan mengungkapkan siapa dirinya tanpa ragu dan malu.


Sedang di mansion Deon. Ludwina telah menghias seluruh bangunan itu. Banyak para wartawan heboh dengan apa yang dilakukan oleh wanita terkaya di kota itu.


"Nyonya ... akan ada pesta kah?" tanya salah satu wartawan ketika wanita itu sedang memeriksa para pekerja yang menghiasi mansionnya.


"Sayang, apa kau sudah meminta Luien untuk pulang?" tanya wanita itu pada suaminya.


Deon juga tak kalah antusias. Ia menggendong Rico dan mencium bibir sang istri. Wartawan heboh dan langsung mengabadikan momen tersebut.


Foto itu diberi caption "Hot Love". Langsung dibanjiri koment para netizen.


"Ih romantisnya!"


"Itu bayi siapa?"


Semua fokus pada bayi yang digendong pria dengan kekuasaan tertinggi di kota itu. Sepasang mata menyipit. Antara percaya dan tak percaya, sosok itu memperhatikan bayi yang digendong oleh pria nomor satu di negara itu.


"Apa itu Edrico?" tanyanya bergumam.


"Semua bayi wajahnya sama," ujarnya kemudian acuh dengan tayangan di salah satu media sosial. Ia pun mematikan layar tab miliknya.


"Apa Bernard berhasil menjerat gadis itu?" tanyanya dalam hati.


Rodrigo melihat jam dinding. Tadi, putranya telah menjabarkan rencananya. Ia akan menjebak Luien dan akan membawanya ke ranjang dan merekam. Dengan begitu, gadis itu akan menuruti kemauan Bernard mengatas namakan perusahaan itu untuknya.


"Jangan terburu-buru, kita harus perlahan agar ia percaya. Aku tak mau rencana kita berantakan karena terlalu terburu-buru," ujar Bernard mengingatkan.


Luien sudah ditelepon ayahnya, memintanya untuk langsung pulang ke mansionnya.


"Iya, Dad. Aku pasti pulang. Ini banyak berkas yang belum ditangani," jelasnya.


"......!"


Alex menatap ponsel gadis itu. Android seri lama bahkan sudah retak layarnya di mana-mana.


"Kau ke mana gajimu kemarin?" tanya pria itu sinis.


Luien menatap ponselnya yang menyedihkan. Ia hanya tersenyum kecut. Alex hanya menggeleng. Ia tak tahu harus apa dengan gadis bawahannya itu.


Jam cepat sekali berputar. Kini semua karyawan pulang. Luien sudah bersiap. Ternyata ayahnya menyuruh Ken menjemputnya. Gadis itu sangat khawatir jika jati dirinya ketahuan.


Ia pun melangkah cepat. Bahkan, Luien tak mendengar teriakan Alex. Saking buru-burunya. Ia memakai akses lift khusus. Alex harus menunggu lift itu kembali ke atas.


"Gadis itu!" geramnya sangat kesal.


Luien setengah berlari menuju halaman parkir. Benar saja. Sosok tampan itu sudah menunggunya.


"Selamat sore, Nona. Kuncinya?" sapa pria itu lalu meminta kunci mobil.


Luien menyerahkan kunci mobilnya. Ken membukakan pintu mobil di bagian penumpang untuk Luien. Gadis itu pun masuk. Baru setelah itu, Ken masuk ke bagian kemudi.


Tak lama mobil Luien keluar dari halaman parkir. Alex berada di sana. Untung kaca mobil Luien gelap. Jadi pria itu tak tahu jika ada pria lain yang menyupiri gadisnya.


"Kenapa dia buru-buru sekali, ada apa?" tanya Alex bingung.


"Tuan!" sapa Vic.


Alex hanya mengangguk. Mobilnya pun sampai di depan lobby. Kali ini Gloria pulang dijemput supirnya.


"Hugo, kau mau ikut kuantar?" tawar gadis itu dengan muka memerah.


"Apa tidak terlalu merepotkan?" tanya pria besar itu.


Gloria menggeleng, bertanda ia tak keberatan sama sekali. Supir gadis itu membungkuk hormat padanya.


"Pedro, kita antarkan Tuan Hugo dulu ya," pinta Gloria pada sang supir.


"Baik, Nona!"


Hugo duduk di sebelah Gloria di jok penumpang. Sepanjang perjalanan keduanya hanya saling curi pandang. Hingga ketika sampai rumah sederhana milik pria itu. Tiga adik Hugo menyambut dan mengelu-elukan mobil yang ditumpangi oleh kakaknya.


"Terima kasih Glor!" ujar pria itu sambil melambaikan tangan dan menutup pintu.


"Kakak, dia cantik sekali!" puji adik perempuan Hugo ketika melihat Gloria.


Pintu tertutup dan mobil itu pergi. Gloria masih menatap kaca belakang mobil hingga sosok pria besar itu hilang dari pandangannya.


Sang supir hanya tersenyum simpul. Ia menatap nona mudanya tersipu sepanjang perjalanan pulang.


Sedang di mansion Luien. Gadis itu kaget melihat ornamen indah yang menghias hunian mewah kedua orang tuanya.


Warna biru dan perak juga emas menjadi warna yang menghiasi bangunan dengan luas 750m² itu. Bunga-bunga juga segar dan sangat indah. Bunga Lily menjadi mayoritas hiasan. Luien sangat suka dengan bunga lily.


"Mama!" panggilnya.


Ia terperangah ketika melihat hiasan di dalam rumah. Benar-benar bak putri raja..


"Sayang, kau sudah pulang?" Wina menyambutnya dan memberi pelukan dan ciuman pada putrinya.


"Ini indah sekali, Ma. Untuk apa?" tanya gadis itu.


"Tak usah kau pikirkan. Besok kau harus bermanja dan melakukan perawatan di rumah, oke!" sebuah perintah yang tak bisa ditolak.


Luien pun hanya bisa menurut saja. Sedang di apartemen. Frank atau Bernard tengah menunggu gadis itu pulang. Berkali-kali ia melihat benda bulat atas lemari rias. Hingga pukul 22.15, sosok yang ia tunggu tak datang juga.


bersambung.


selamat menunggu Bernard!


next?