THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
PERGINYA SANG IBU RATU



Hari berjalan seperti biasanya. Deon makin memperkuat jajaran istana dengan pria-pria pilihan dan petugas yang benar-benar kompeten. Banyak para bangsawan yang terpilih menjadi bagian pemerintahan. Mereka semua masih muda dan sangat loyal pada kerajaan.


"Yang Mulia Raja, divisi pembangunan dan pemuda telah dibentuk. Divisi Pengembangan masyarakat juga. Divisi olah raga dan kesehatan juga sudah. Apa lagi yang belum?" tanya Ferdinand.


"Masalah seni dan pementasan, Budaya serta lintas masyarakat juga belum terbentuk. Kita gunakan yang ada dulu," jawab Deon.


Pria itu mengenakan baju kebesarannya. Para bangsawan duduk di kursi dengan susunan melingkar. Ada Luien dan suaminya di sana. Mereka juga ikut andil dalam perkembangan kerajaan.


"Dukes Lucillia Vermont datang!"


Lucillia adalah putri dari Duke Edward Vermont. Ia datang mewakili ayahnya. Padahal rapat sudah mulai satu jam yang lalu.


"Siapa yang memerintahkan datang ketika rapat?" tanya Deon pada petugas pembicara.


Petugas itu menelan saliva kasar. Ia lupa jika tak ada satu pun yang boleh masuk ketika rapat mulai. Terlebih Lucillia datang satu jam ketika rapat berlangsung.


Lucillia terpaksa menunggu hingga rapat selesai baru lah ia datang dengan penuh kemarahan.


"Aku adalah seorang bangsawan ternama. Kenapa tak ada yang menghargai ku?" sentaknya.


"Siapa yang berani menentang perintahku!" sergah Deon murka.


"Aku tak peduli siapa pun yang datang. Jika dia tak mengindahkan waktu. Aku pastikan dia tak akan bisa ikut satu pun programku!" lanjutnya penuh arogansi.


Lucillia terdiam, ia menekuk kakinya dan menunduk hormat pada rajanya. Ia tak menyangka jika Victoria tak lagi berkuasa. Mengira gelar bangsawan ayahnya masih memegang kuat di pemerintahan. Tapi, gelar itu tak ada artinya di mata sang raja kini.


"Yang Mulia. Maafkan kelancangan saya. Saya adalah putri dari Edward Vermont. Lucillia Vermont!"


Gadis itu memperkenalkan diri. Ia melirik rajanya yang tampan. Dulu kakak tertuanya nyaris jadi istri dari Deon. Tapi ayahanda Deon memilih Ludwina yang penurut menjadi menantu. Keluarga Thompson memang bangsawan paling memiliki kekuasaan di kerajaan.


"Untuk apa kau datang. Mana ayahmu?" tanya raja datar.


"Hamba datang atas undangan perbentukan divisi pemerintahan. Ayah saya tidak begitu sehat Yang Mulia Raja!"


"Pembentukan divisi kerajaan sudah 80% rampung. Jika kau memiliki program, silahkan kau ajukan besok dan papar kan di depan audience!" titah Deon.


"Baik Yang Mulia!"


Lucillia pun berlalu dari hadapan rajanya. Gadis berusia tiga puluh tahun itu memang belum menikah. Kedudukannya yang tinggi membuat ia memilih siapa yang pantas bersamanya. Kini, ia mendapat pria yang ia rasa pantas untuknya.


"Aku akan membuka sampul perjodohan pada Yang Mulia Raja. Istri dua bukanlah hal yang biasa bagi Raja. Aku akan ajukan diri sebagai Ratu negeri ini!" gumamnya pongah.


"Yang Mulia Permaisuri Ludwina Thompson dan Yang Mulia Pangeran Hendrick juga Prince Edrico tiba!" seru Kasim.


Deon langsung berdiri dan menyambut ratu dan dua putranya. Kecantikan Ludwina memang tak ada yang bisa menandingi. Dari dulu, semua keturunan Thompson memang yang terbaik. Bahkan beberapa di antaranya memegang jabatan penting di kerajaan ini.


"Permaisuri," sambut Deon dengan wajah semringah.


"Hormat hamba Yang Mulia Raja!" Wina menekuk kakinya. Rico mengikuti ibunya.


Bayi itu menatap Luein yang melambaikan tangannya. Rico langsung berlari ke arahnya.


"Bistel!" panggilnya.


Luien mengangkat tubuh gembul bayi itu lalu menciuminya hingga tergelak. Alex juga gemas dengannya. Suara tawa Rico memancing senyum semua orang. Lucillia tampak kaget dengan dua anak laki-laki yang disebut pangeran itu.


Rasa penasarannya timbul. Ia bertanya pada orang di sebelahnya.


"Apa dua anak tadi adalah putra mahkota?" tanyanya.


"Benar, dua anak tadi salah satunya putra mahkota," jawab orang itu.


Lucillia pun diam. Ia tak mengenal siapa pun. Bahkan anak-anak raja. Ayahnya tak memberitahunya apa pun.


"Sepertinya, aku harus memiliki strategi lain untuk bisa menjadi Ratu," gumamnya sangat pelan.


Waktu makan siang pun tiba. Raja membawa ratu dan pangeran pergi dari sana. Diikuti Luien, Alex, Ken dan Felicia. Lucillia mengenal Felicia. Ia belum tahu jika Felicia sudah bergelar princess.


"Kenapa Felicia ikut rombongan Raja?" tanyanya.


"Kau seperti orang baru di kerajaan Lucillia!" sindir salah satu bangsawan.


Lucillia hanya diam. Ia akan melakukannya nanti. Walau, ia tak peduli. Ia hanya ingin membuat rencana sendiri. Membuka amplop perjodohan yang dulu sempat diajukan pada keluarganya. Ia mau jadi ratu istana ini.


Sementara di ruangan lain Victoria tampak makin buruk kesehatannya. Semua dokter menangani kesehatan mantan ratu negeri ini.


"Kesadarannya mulai menurun perdana menteri!" lapor ketua dokter yang menangani kesehatan Ibu Ratu.


"Kita katakan ini pada Yang Mulia Raja!"


Beberapa staf kerajaan pun pergi ke aula makan. Mereka berbisik pada staf lain untuk mengabarkan kondisi ibu ratu.


Ferdinand membisikkan berita itu pada rajanya. Deon mengangguk. Pria itu mengajak semuanya untuk menjenguk ibu ratu.


"Apa dia sudah datang?" tanya Victoria lemah.


"Yang Mulia Raja hadir bersama Yang Mulia Permaisuri, Ibu Ratu!"


"Deon!" panggilnya.


"Ibu Ratu!"


Deon duduk di sisi ranjang. Menggenggam erat tangan Victoria. Wanita itu menatap lemah pria di sisinya.


"Deon ... aku akan pergi sebentar lagi ...."


"Kau akan baik-baik saja Ibu," Victoria menggeleng.


"Tolong jaga negeri ini. Pimpin lah dengan adil," pinta wanita itu.


"Nenet Latu!" panggil Rico sedih.


Luien menahan laju bayi itu agar tak menaiki ranjang sang ratu.


"Hei bayi gembul ... kemarikan dia. Aku ingin menciumnya!" pinta Victoria.


Luein mendekat. Rico dikecup sayang oleh ibu ratu begitu juga Luien. Alex pun tak ketinggalan dicium oleh Victoria.


"Permaisuri!" panggilnya.


"Hamba Yang Mulia Ibu Ratu," sahut Wina.


"Aku kukuhkan kamu sebagai satu-satunya Ratu di negeri ini. Aku berikan plakat tertinggi untuk membantu memimpin negeri ini bersama Yang Mulia Raja!"


"Yang Mulia ....."


"Aku pergi, Nak. Jaga negeri ini baik-baik," ujar wanita renta itu.


Perlahan detak monitor pun bergerak cepat hingga berbunyi. Semua dokter melakukan penanganan cepat. Lalu gerak lurus terlihat di monitor berikut bunyi panjang tanda jantung berhenti.


Dokter menggeleng lalu mencatat kematian mantan pemimpin negeri ini.


Bendera istana berkibar setengah tiang, tanda berkabung. Sang Ibu Ratu telah berpulang ke haribaan Tuhan Yang Maha Kuasa.


"Telah berpulang ke rumah Bapa di surga dengan tenang Ibu negara kita Ibu Ratu Victoria Aurora Philips pukul 13.11. Rest in peace Victoria Aurora Philips, jenasah akan dikebumikan besok pagi. Hari ini bagi masyarakat yang ingin mendoakan mendiang Ratu agar mendatangi rumah duka di istana dekat aula xx!"


Ferdinand menutup buku. Semua kepala tertunduk. Rico menangis di depan peti. Bayi itu tenggelam di pelukan Alex. Luien juga menangis.


Wina memandikan ibu ratunya. Ia yang mendandani Victoria dengan gaun pengantinnya. Deon yang mengangkat tubuh wanita itu masuk ke dalam petinya. Semua kepala tertunduk menatap jenazah itu.


Peti itu di panjang di aula utama. Para penjaga memegang senjata menjaga peti itu. Semua rakyat yang hendak masuk harus diperiksa sedemikian rupa. Satu persatu para bangsawan datang memberi penghormatan terakhir. Para pelayat berdatangan. Pemerintah dari berbagai negara datang untuk mengucap bela sungkawa.


Esok hari, peti diangkat menggunakan kereta khusus. Para rakyat tumpah ruah ke jalan. Mereka melempar bunga pada peti yang di tarik oleh pasukan berkuda.


Pastur memimpin pemakaman. Peti di turunkan dengan iringan simbol kerajaan. Semua rakyat berduka atas berpulangnya sang ratu mahkota.


bersambung.


Rest In Peace Victoria!


next?