THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
KELAHIRAN BAYI-BAYI



Luien sudah berada di ruangan bersalin. Ia sudah kontraksi per dua puluh menit.


Alex menangis mendengar rintihan kesakitan dari mulut istrinya. Luien memintanya untuk mengelus perutnya. Wina ikut menangis dan menenangkan putrinya.


Deon berwajah cemas. Ia tak konsentrasi dengan semua pekerjaannya.


"Yang Mulia, tolong tenangkan diri," ujar Ken menenangkan tuan sekaligus orang tua angkatnya.


Ken sudah memberikan satu cucu cantik untuk Deon dan Wina. Ketika itu Deon juga berwajah sama seperti sekarang. Ia begitu gelisah sebelum bayi itu keluar dengan selamat.


"Padahal aku sudah mendengar dan menyaksikan Felicia melahirkan. Tapi kenapa aku masih ketakutan Ken?" tanya Deon takut.


"Pa, doakan Luien baik-baik saja. Minta pada Tuhan," ujar Ken menenangkan.


Deon menghela napas panjang. Di mejanya banyak sekali berkas terbengkalai. Ia ingin sekali membakar semuanya. Tapi, jika ia lakukan itu akan berimbas pada semua pekerjaan.


"Kita kerjakan lagi!" titah Deon setelah menenangkan pikirannya.


Ken membungkuk hormat. Dua pria itu kembali tenggelam dalam pekerjaan mereka. Memang ada banyak bagian yang bisa membantu pekerjaan Deon. Tapi sebagai raja. Pria itu harus mengetahui semua pergerakan.


Berita putri raja akan melahirkan sudah jadi trending topik di seluruh negara. Bahkan Diana yang kini tengah menggendong putranya juga sangat cemas.


"Sayang, apa ada kabar dari kakak?" tanya wanita itu.


"Belum sayang," jawab Adrian juga merasa resah.


Adrian dan Vic juga Gloria kini dalam ruangan yang sama. Seperti janjinya. Diana mengembalikan perusahaan pada ayahnya. Adam Cloum pun kembali memimpin perusahaannya. Ia sudah menikahi kembali ibu dari putrinya.


"Glo duduklah. Aku sesak melihatmu berdiri!" pinta Diana.


Gloria juga sedang mengandung lima bulan. Wanita itu memiliki jumlah bayi yang sama dengan Luien. Tentu perutnya jadi lebih besar dari ukuran seharusnya.


"Tapi pinggangku sakit jika terus-menerus berdiri!" kilah Gloria.


Diana mencebik. Ia sangat iri dengan mantan rivalnya yang langsung memiliki anak kembar lima.


"Kau serakah sekali!" cicit Diana.


"Ck ... kau kira ini tidak berat?" cibir Gloria kesal pada mantan rivalnya itu.


"Kau lihat Luien kemarin, padahal janinnya ada tiga. Aku sampai takut jika bayi itu bergerak dan melintasi perutnya!" ingat Gloria saat Luien hamil kemarin.


"Ini ada lima. Sebesar apa ya?" tanyanya bergidik.


"Jangan pikirkan yang tidak-tidak sayang!" peringat Vic.


"Aarggh!" pekik Gloria tiba-tiba.


Semua langsung khawatir. Terutama Victor. Pria itu lalu memberi tempat duduk Adrian pada istrinya.


"Dia bergerak!" teriak Glor ketika duduk.


Terlihat jelas perut Gloria seperti ada mendorong. Semua menatap takjub. Diana mencium perut wanita itu.


Pergerakan itu pun berhenti. Gloria menghela napas lega. Vic pun mengusap titik peluh di keningnya. Ia juga lega.


"Dua tahun lagi, aku pasti punya anak lebih dari satu!" tekad Adrian yang membuat Diana kesal.


"Kau pikir hamil itu enak apa!"


Adrian mengecup bibir sang istri.


"Aku ingin punya banyak anak sayang," pinta pria itu.


"Laura baru berusia tiga bulan, sayang," sahut Diana kesal.


Bunyi telepon berdering. Adrian buru-buru mengangkatnya. Ternyata ibunya menelepon jika Luien sedang bersiap melahirkan.


"Astaga Mam. Telepon jika bayinya sudah keluar!" teriak Adrian.


"Kau berani meneriaki ibumu!" teriak Tania di seberang telepon.


Adrian buru-buru minta maaf sebelum ibunya akan pergi dari rumah sakit dan menuju mansion untuk menghukumnya.


"Kau ini!" dumal Diana kesal.


Sementara Luien sudah pembukaan sempurna. Wanita itu bersikeras melahirkan normal. Semua bayinya juga sangat baik.


"Aarrghh!" teriak nya.


Luien merasakan sakit luar biasa. Mulut rahimnya terasa panas. Pinggangnya seperti mau patah. Dokter menurunkan bokongnya.


"Jangan naikkan agar tak robek, Yang Mulia!"


Butuh waktu dua puluh menit bayi pertama lahir. Tangisan kencang memenuhi ruangan.


"Selamat Pangeran. Yang pertama putra!" teriak dokter memberitahu.


Luien terharu. Ia menatap bayi merah di tangan para medis yang membersihkan bayi itu.


Alex diminta untuk membuka baju di dada Luien. Bayi diletakkan di sana dan langsung menemukan inti hidupnya. Bayi tampan itu menghisap kuat sampai Luien meringis.


"Aah ... sayang ... pelan-pelan."


Sepuluh menit kemudian bayi lahir lalu lahir kembali selang lima menit.


"Ketiganya laki-laki," ujar Alex dengan nada penuh kebanggaan.


Tim kedokteran mencatat kelahiran kembar tiga berjenis kelamin sama.


"Ini pertama kalinya. Biasanya perempuan jauh lebih kuat di antara bayi kembar. Tapi sepertinya, kromosom x y lebih kuat pada semua janin!" jelas dokter semringah.


"Saya tak masalah dengan jenis kelamin bayi-bayi saya, Dok. Yang penting mereka semua sehat begitu juga ibunya," sahut Alex bijak.


Dokter menjelaskan keadaan ketiga pangeran kecil itu. Semua sehat dan tak kurang dari satu apapun begitu juga sang ibu.


Tania berpelukan dengan Wina. Mereka menangis haru mendapatkan cucu lebih dari satu.


"Terima kasih Tuhan!"


Deon juga memeluk Ken ketika mendengar persalinan putrinya lancar dan semuanya sehat.


Maxwell menatap haru pada bidak kaca yang memperlihatkan tiga cucunya. Bayi itu kembali dibawa ke ruang ibunya. Maxwell mengikuti dorongan boks bayi itu.


"Halo sayang," panggil Luien ketika ketiga bayi berada di sisinya.


Wanita itu menciumi ketiga bayinya. Alex ikut menciumi. Deon datang dengan wajah gembira.


Semua menyingkir memberi jalan. Deon menggendong salah satu bayi putrinya.


"Oh ... kalian tampan sekali," pujinya lalu menciumi bayi dalam gendongannya.


Pria itu menggendong cucunya satu persatu lalu menciumnya. Ia benar-benar bahagia. Dirinya menjadi seorang kakek.


"Pana pistel!" teriak seorang bayi dari luar.


Rico marah-marah pada semua pelayan bahkan pada Ken. Sedang Ricky juga sudah mulai ribut dengan mengoceh tak jelas. Kedua bayi pintar itu hadir di ruangan.


"Wah ... banat sepali babyna!" ujarnya takjub.


Luein gemas. Ia menciumi Rico dan Ricky.


"Pistel!" panggil Hendrick dan lalu meng-hap hidung kakaknya.


Luien tertawa lirih. Bayi-bayinya sudah berada dalam boks. Luien telah menyusuinya tadi.


Para pengasuh membawa dua perusuh itu keluar setelah mereka puas menciumi tiga bayi kakak perempuannya.


"Ah, mereka tambah rusuh, keduanya pintar membuatku kesal dan tak bisa berkata banyak," keluh Wina.


Semua terkekeh mendengarnya. Tania memeluk besannya itu.


"Yang Mulia Ratu Ludwina. Aku sangat beruntung memiliki besan sepertimu," ujar wanita itu bangga.


"Aku juga sangat beruntung," balas Wina juga penuh rasa bangga.


"Sudah kau siapkan nama?" tanya Deon masih setia menatap tiga bayi itu dengan pandangan takjub.


"Sudah Daddy. Namanya Wiliam, Henry dan Alexander," jawab Alex bangga.


Deon mengangguk setuju begitu juga Maxwell. Ia sangat bangga karena mendapatkan empat turunan langsung.


"Ken, bersiaplah menjadi ayah baptis mereka!" pinta Deon.


Ken membungkukkan tubuhnya. Ia begitu tersanjung atas penghormatan itu.


Rakyat membuat pesta besar untuk menyambut tiga pangeran. Berita kelahiran telah tersebar. Diana terharu mendengar sahabatnya sudah melahirkan secara normal ketiga bayinya. Gloria pun ikut bahagia.


Tamat..


ah ... akhirnya tamat juga.


makasih Readers atas dukungannya.