
Luien, Diana, Hugo, Brandon, Alex, Adrian dan Victor mendatangi restauran di mana Jessy meminta Gloria datang. Diana sengaja membawa ponsel rivalnya.
Jessy menelepon ponsel itu lagi. Diana mengangkatnya. Terdengar suara tak sabar di seberang telepon.
"Kenapa kau lama sekali!"
"Aku baru sampai. Kau di mana?" tanya Diana, ia lupa meniru suara Gloria.
"Hei, kenapa suara mu sedikit berbeda!?" tanya Jessy di seberang telepon.
"Ah, aku sedikit batuk!" jawab Diana gugup kini ia meniru suara rivalnya.
Sedang di rumah sakit Gloria tersadar. Ayahnya sudah ada di sana dengan raut sedih. Ia mengusap kepala putrinya. Gloria mengingat janji temunya pada Jessy, ia pun mencari ponselnya.
"Mana ponselku?" tanyanya.
"Mau apa kau mencari ponselmu?" tanya Ageele resah.
"Jessy ...."
"Apa yang kau pikirkan, Nak?!" tanya pria itu gusar.
"Kenapa kau mempercayai teman yang sudah mencelakaimu dua kali, bahkan mungkin ini bisa jadi tiga kali!' seru Ageele gusar.
"Daddy ... tau?" tanya Gloria.
"Ya, aku tau semuanya sayang ... Nak, bersyukurlah kau masih dilindungi oleh Luien dan sahabatnya juga teman-teman magangmu yang lain!" ujar Ageele lagi kini nyaris putus asa.
"Aku hanya ingin tau, mengapa Jessy melakukan itu padaku, Dad. Padahal dia sahabatku, aku selalu ada untuknya ketika ia sedih, ketika ia terpuruk," jawab Gloria dengan suara tercekat.
"Kau memang baik sayang. Tapi, dia memanfaatkan dirimu," sahut Ageele melembut.
"Lalu ponselku?"
"Diana mengambilnya. Luien dan semua temanmu menghampiri Jessy. Mereka akan menanyakan alasan temanmu itu," jawab Ageele.
Gloria menitikkan air mata. Bukan sahabat yang membantunya, malah rivalnya yang menolongnya.
"Aku akan mendatanginya lebih dulu," ujar Luien.
Gadis itu tau restauran ini adalah salah satu milik ayahnya. Jessy yang menunggu Gloria sangat heran melihat kedatangan Luein.
"Wah ... wah ... wah ... si miskin bisa masuk ke sini?" sindirnya menghina.
Deon yang tengah berbincang dengan beberapa kolega melihat kedatangan putrinya. Ia sempat mengernyit dan melihat ada Jessy di sana. Pria itu minta ijin pada koleganya. Menyuruh Ken melanjutkan pertemuan itu.
Perlahan pria itu mendekati keduanya. Di sana ia mendengar dengan jelas bagaimana Jessy menghina putrinya.
"Mana manager tempat ini. Gadis miskin sepertimu, hanya mengotori tempat mewah ini!" hina Jessy.
Deon mengepalkan tangannya, ia begitu marah. Walau selanjutnya ia merasa kesal pada putrinya yang melarang untuk mengungkap identitas Luien secepatnya.
"Cis ... yang kutunggu itu Tuan Putri. Bukan kacung seperti mu!' hardik Jessy lagi.
"Lama-lama tempat ini jadi kotor, melihatmu di sini!" lanjutnya.
Diana, Alex, Adrian dan lainnya hanya menunggu di tempat lain. Luien yang memintanya demikian. Jessy pergi meninggalkan restauran. Luien mengikutinya. Deon perlahan juga mengikuti dua gadis itu.
Mereka kini berada di halaman parkir yang ada di belakang restauran itu. Jessy yang diikuti oleh Luien sangat kesal.
"Mau apa kau gadis miskin!' bentaknya.
"Aku datang atas nama Gloria!" sahut Luein.
"Oh ... kau ingin menjual dirimu? Wah ... aku bisa langsung kaya nih!" seru Jessy gembira.
"Bilang dong dari tadi jika kau mau jual diri. Ya, walau aku perkirakan kau pasti berharga murah. Gadis miskin seperti mu,. hanya bisa membeli sepatu edisi lama," Jessy benar-benar merendahkan Luien.
Deon benar-benar geram bukan main pria itu masih menunggu apa yang diperbuat putrinya. Bahunya di tepuk. Ia sedikit terkejut.
"Diana?" gadis itu meletakkan telunjuknya di bibir.
"Mau apa kalian?" bisiknya bertanya.
"Menolong Luien. Tuan sendiri?" tanya Diana bingung.
Tentu saja, Diana belum tahu jika ayah sahabatnya itu telah mengakui Luien. Deon memutar akal agar tak ketahuan.
"Ini restauran milikku, jadi aku curiga dengan gerak-gerik dua gadis itu!' bisiknya memberi alasan.
Mereka bersembunyi di balik pilar besar. Tiba-tiba dari empat mobil berbeda keluar pria-pria bertubuh besar. Don Mortego ada di sana. Deon membelalakkan mata. Ia sangat tahu siapa itu Don Mortego.
"Tuan, dia gadis miskin ingin menjual tubuhnya. Aku tawarkan dia seharga seratus dolar. Bagaimana?" tawar Jessy merendahkan Luien.
Don menelan saliva kasar. Masalahnya ia tahu kekuatan gadis itu. Namun, kini ada banyak pengawalnya yang kuat dan bertubuh besar. Ia yakin jika mampu menundukkan gadis itu.
"Ringkus dia. Aku ingin menikmatinya segera!" titah Don gelap mata.
Satu bodyguard bernama Steve mendatangi Luien. Tangannya menjulur, hendak menyentuh gadis itu. Lalu ...
Set! Bug! Krak!
"Aarrgh!' pekik pria itu.
Tangan sang pria patah. Semua terkejut melihat kekuatan gadis bertubuh kecil itu. Bahkan Deon terperangah menatap anak gadisnya.
Melihat kekuatan Luien. Kini bukan satu lagi yang menghadap gadis itu. Tetapi tiga pria. Diana tak tahan ia pun berlari menerjang salah satu pria yang hendak menyerang sahabatnya.
Adrian sangat terkejut melihat Diana yang ternyata bisa bela diri. Hugo ikutan maju. Sedang Brandon datang dan hanya menghajar para bodyguard yang mendekatinya. Vic, Alex dan Adrian tak mau ketinggalan.
Don yang melihat seringai Alex ketakutan. Sedang Jessy mulai bingung. Don menarik gadis itu bersamanya dan langsung masuk mobil. Mereka berdua melarikan diri.
Para bodyguard yang sebanyak dua puluh lima orang itu nyaris kalah. Don yang ada di mobil menyeru anak buahnya untuk mendatangi tempat di mana orang-orangnya terjebak.
Deon yang melihat adanya mobil-mobil baru berdatangan. Langsung menelepon pria kepercayaannya.
"Ken .... bawa dua ratus orang untuk membereskan anak buah Don Mortego!" titahnya.
Matanya menatap anak gadisnya sedikit ngeri. Kekuatan gadis itu benar-benar diluar nalar. Kemudian ia pun tersenyum.
"Dia mewarisi kekuatan kakeknya Den Philips," gumamnya bangga.
Beberapa menit kemudian. Dua ratus orang suruhan Deon datang. Mereka merangsek dan membekuk anak buah Don. Luein dan lainnya pun ditarik mundur. Gadis itu masih memberi serangan terakhirnya ke kepala pria yang dua kali lipat besarnya dari tubuhnya hingga jatuh tak sadarkan diri.
"Ayo sayang!" Alex menyambar tubuh gadisnya dan membawanya pergi jauh.
Adrian, Hugo, Vic dan Brandon juga di suruh menyingkir oleh anak buah Deon Philips. Keempat pria itu pun mundur dan membiarkan mereka saling baku hantam..
Deon menghampiri mereka semua. Berlaga mengucap terima kasih karena telah mengusir para pelaku onar. Luien hanya menunduk takut-takut pada ayahnya yang menatapnya tajam.
'Bakalan dimarahin Mama lagi nih,' keluhnya dalam hati.
Waktu pun berputar. Benar saja dugaan gadis itu. Kini ia harus menunduk di bawah amarah ibunya.
"Apa yang kau lakukan, Nak?!' tanya wanita itu gusar.
"Kau tau siapa itu Don Mortego?!" sergahnya putus asa. "Dia itu mafia kelas kakap. Kau bisa terbunuh sia-sia jika berurusan dengannya!'
"Tidak ada yang bisa menyentuh putriku!" bantah Deon.
Ludwina diam. Suaminya marah dengan perkataannya. Ia sangat tahu bagaimana kekuatan sang suami.
"Aku pastikan pria itu tak bisa lagi berada di sini jika masih nekat. Ia akan kumasukan. dalam liang lahat hidup-hidup!" ancam Deon dengan mata berkilat sadis.
bersambung.
bah ... keluar sifat Iblis Deon.
next?