
"Kau tau, Mira tadi menjual kalung pemberian mendiang suaminya untuk biaya rumah sakit Frank," ujar istri Anton memberitahu.
"Benarkah?" tanya Luien tak percaya.
"Iya, Tuan Chen sedang tak membawa uang dan katanya ia habis membayar uang sekolah anaknya, sedangkan kami juga banyak kebutuhan. Makanya Mira yang berinisiatif untuk membantu," jelas istri Anton.
Wanita itu masuk ke unitnya. Hal ini lah yang membuat Luien berat meninggalkan apartemen sederhana ini. Mereka saling peduli satu dengan lainnya.
Luien pun masuk unitnya. Merebahkan diri. Tak lama ponselnya berdering. Ibunya meneleponnya.
"Halo, Ma!" sahut Luien setelah mengangkat panggilan itu.
".......!"
"Nggak jadi, Ma. Aku nggak jadi pindah," ujar Luien.
".......?"
Luien pun menceritakan tentang kebaikan Mira yang menjual kalungnya menolong Frank yang dipupuk untuk melunasi biaya rumah sakit.
"Benarkah?" tanya Wina di seberang telepon.
"Ya, Ma," ujar Luien lagi.
Gadis itu menutup ponselnya. Semenjak Diana tak lagi bekerja di perusahaan Maxwell bersaudara dan dia merangkap jabatan. Luien jadi sedikit pulang larut dan tak lagi berinteraksi dengan tetangga-tetangga baiknya. Walau ada Frank yang menyebalkan.
"Apa aku beli kalung Mira aja ya, kasihan. Itu peninggalan suaminya," gumam Luien.
Sementara di mansion Rodrigo, pria itu berkali-kali menelepon ponsel putranya tapi tak diangkat.
"Kemana bocah sialan itu!" bentaknya.
Rodrigo sangat heran. Semua berkas untuk mengambil hak asuh Edrico ditolak pengadilan.
"Edrico sudah menjadi anak angkat dan itu sudah sah!" jelas petugas.
"Saya akan menuntut orang tua angkat dari Edrico!" ujarnya.
"Silahkan, saja Tuan!" ujar petugas.
Kini ia ingin mengajak Bernard untuk mengantarkannya ke kepolisian setempat untuk melaporkan orang tua asuh Rico dengan tuduhan penculikan dan bekerjasama dengan pembunuhan adik sepupunya itu.
"Kemana Bernard. Tidak pernah dia tak menjawab telepon dariku dan ponselnya mati," ujarnya bingung.
Akhirnya, Rodrigo akan datang bersama pengacaranya untuk melaporkan orang tua angkat Rico.
"Orang tua angkatnya bernama Philips. Tapi Philips siapa?"
Minimnya info yang ia dapatkan membuatnya pusing. Sedangkan Bernard belum memberikan perkembangan dalam pendekatannya yang membeli perusahaan milik mendiang Xavier Thomas itu.
"Atau jangan-jangan orang tua angkat Rico adalah gadis itu?" terkanya.
"Kalau begitu, akan kulaporkan Luiena Elizabeth Philips!" lanjutnya kemudian ia menyeringai.
Sementara di tempat lain. Tampak sosok dengan rambut sedikit beruban tengah membaca laporan yang ia terima dari asisten pribadinya.
"Jadi kau menyuruh preman untuk merampok Bernard Thomas?" tanyanya.
"Benar Tuan!" jawab Ken.
"Lalu?"
"Bernard dibawa ke rumah sakit dan biayanya dibayar oleh Armira dengan menjual kalung pemberian mendiang suaminya," jelas Ken.
Tentu saja pria itu tau apa yang terjadi jika berurusan dengan nona mudanya. Semua anak buah dan mata-mata menyebar untuk memberi informasi akurat. Deon tertegun mendengar kebaikan Armira.
"Apa kau tau siapa Armira, Ken?" tanya Deon.
"Armira adalah seorang imigran dari kota D. Beliau datang dua puluh lima tahun yang lalu bersama putranya bernama Betrand Jhonson setelah kematian suaminya akibat kecelakaan. Armira langsung menyewa Apartemen milik Edward Chen hingga sekarang. Putranya sudah dua puluh tahun tak pernah kembali dari kota C!" jelas Ken lagi.
"Mana kalung yang ia jual?" tanya Deon lagi.
"Indah sekali kalungnya," pujinya ketika melihat kalung berliontin permata berwarna merah.
"Aku ingin menemui Armira, Ken," ujar Deon lalu berdiri.
Ken membungkuk hormat. Pria itu mengikuti langkah atasannya. Mereka akan menyambangi Mira di rumah sakit. Tentu dengan menyamar. Deon ingin membalas kebaikan perempuan itu, dengan caranya sendiri.
Sedang di tempat Alex. Pria itu menyambangi mansion di mana Adrian dan Vic berada. Pria itu akan tinggal di sana selama satu bulan ke depan. Ayah dan ibunya datang, ia telah meminta kedua orang tuanya untuk melamar Luein.
"Kak!" sambut Adrian dan Vic bersamaan.
Wajah ceria Alex membuat iri Adrian dan Vic. Masalahnya mereka belum memastikan jika gadis yang mereka sukai akan menjadi istri.
"Kenapa kau cepat sekali menikah?" tanya Adrian sedikit protes pada kakaknya.
"Oh ... usiaku sudah mau tiga puluh, kenapa tidak ingin segera menikah. Terlebih yang kunikahi adalah seorang Philips," ujar Alex setengah meledek kedua adiknya itu.
Adrian dan Vic mencibir. Terlebih Adrian. Ia masih ragu dengan perasaannya pada Diana. Entah, cinta atau sekedar napsu saja. Terlebih gadis itu sudah menjadi seorang CEO perusahaan lumayan besar.
Sedang Vic juga bingung. Pria itu belum memiliki hubungan khusus dengan gadis manapun. Sedang dengan Gloria. Gadis itu seperti enggan menjalin hubungan dengannya.
"Tolong lebih serius lah. Sebelum Mama kembali menjodohkan kalian," ujar Alex mengingatkan.
Keduanya hanya bisa mendengkus pasrah. Adrian masih ingin berpetualang dengan banyak gadis begitu juga Vic.
"Jangan sampai kalian kehilangan gadis terbaik yang sekarang kalian dekati!" tekan Alex lagi.
"Diana dan Gloria adalah gadis yang cantik dengan kualitas terbaik. Terlebih mereka adalah anak-anak orang kaya. Aku yakin, banyak pria tampan di luar sana berebutan ingin bersamanya," jelas Alex lagi kini mulai menakut-nakuti kedua adiknya itu.
Adrian memejamkan matanya. Ia melihat Diana bersanding dengan pria lain. Seketika hatinya memanas. Pria itu akhirnya mengikuti apa kata kakak laki-lakinya itu.
"Sepertinya kau benar, Kak," putusnya.
Sementara itu di tempat lain. Tampak Deon tengah menyamar menjadi orang miskin ya g sedang duduk melamun ruang tunggu di lorong rumah sakit.
Pria itu sengaja duduk di depan ruangan tempat Frank atau Bernard dirawat.
Armira yang baru saja membeli makanan untuknya dan Frank. Pria itu menolak makanan rumah sakit. Wanita berusia delapan puluh tahun itu menatap pria yang sedang menatap dengan pandangan menerawang.
"Selamat sore, Nak," sapa wanita itu.
Deon menatap Mira dengan tatapan sendu. Wanita itu duduk di sebelah pria yang melamun itu.
"Terkadang hidup itu memang sulit. Tetapi Tuhan sudah memberi jalan, hanya saja kita tak menyadarinya."
Tiba-tiba Armira memberi nasihat pada Deon. Pria itu tercenung. Otaknya pun berpikir keras. Jawaban apa yang Tuhan berikan untuknya, tetapi ia tak menyadari itu.
"Apa kau sudah makan?" tanya wanita itu.
Deon menggeleng. Armira memberi makanan untuknya.
"Makanlah, kebetulan aku membeli lebih," ujarnya lalu meninggalkan Deon dan masuk ke ruangan ekonomi di mana Frank dirawat.
Deon mengintip. Tampak, Mira menyuapi Frank penuh kesabaran dengan makanan yang dia beli tadi. Mira memilih memakan makanan rumah sakit yang mestinya untuk Frank.
"Nggak enak kan?" tanya Frank sambil meledek wanita itu.
Mira tersenyum. Ia pun menjawab dengan kata-kata bijak.
"Terkadang, banyak orang saling bunuh hanya untuk makan-makanan yang tidak enak ini."
Frank terdiam. Kata-kata Mira begitu dalam. Ia membunuh dua anak kecil tak berdosa untuk satu harta yang sampai sekarang tak ia dapatkan. Air matanya tiba-tiba mengalir. Mira yang melihatnya langsung mengusap titik bening itu.
"Kenapa, ada apa?" tanyanya.
Frank hanya menggeleng. Armira memeluk pria itu dengan penuh kasih sayang. Pelukan yang telah lama dirindukan Frank.
Sedang Deon merasa teremas hatinya mendengar perkataan wanita baik itu.
bersambung