
Hari magang berakhir. Semua mahasiswa dan mahasiswi melaporkan hasil magang mereka. Minggu ke dua akan diadakan sidang skripsi. Untuk magang. Baik Luien, Diana, Gloria, Hugo dan Brandon lulus dengan nilai sempurna yakni A.
Gloria yang diberi kemudahan karena faktor kesehatan, tentu merasa senang. Kini dirinya dikawal oleh beberapa pengawal wanita. Walau gadis itu bersikeras jika ia tak akan ada yang mengganggunya lagi.
"Aku akan baik-baik saja, ayah!" tolaknya ketika ada tiga pengawal wanita bersamanya.
"Sayang. Ayah mohon, aku tau banyak sahabat yang menyayangimu, seperti Luien dan Diana, tetapi, kau tak bisa mengandalkan mereka," jelas Ageele memaksa.
Akhirnya Gloria pasrah, membiarkan tiga pengawal mengikutinya.
Kini, ia berjalan menuju ruang kelasnya. Gloria bertemu dengan Luein dan Diana.
"Hai ... dua ratu miskin. Lihatlah, aku bawa pengawal," ujarnya sombong.
"Ya ... bagus itu. Jadi aku tak perlu pusing untuk memperhatikanmu," celetuk Diana menjawab.
"Tentu saja, kau tak perlu repot-repot. Toh, aku tak memintamu!" sergah Gloria marah.
"Ck ... menyesal aku melihatmu, mestinya kubiarkan saja kau dijual sama sahabat baikmu itu!" bentak Diana.
"Diana!" tegur Luien.
"Dasar manusia tak tau terima kasih!" bentak Diana meninggalkan Gloria. "Semoga pengawalmu menjaga lebih baik dari aku!"
Gloria menitikkan air mata. Sungguh, ia tak tahu kenapa mulutnya tak bisa akur dengan Luien dan Diana.
"Sudah, abaikan apa ucapannya ya. Tapi jujur. Jika kemarin ia tak memperhatikan dirimu. Aku juga tak akan tau jika kau dalam kesulitan," jelas Luein.
Gloria menghapus air matanya kasar. Ia mengikuti Luien hingga masuk kelas mereka. Melihat Luien berjalan bersama dengan Gloria, membuat Diana kesal bukan main.
"Sini kau Luien. Jangan dekati dia!' sahutnya sambil menarik lengan Luien agar duduk dekatnya.
Gloria duduk di bangkunya, ia menatap tiga bangku kosong sebelah dan belakangnya. Di sana Anneth, Jessy dan Brenda duduk. Ketiga gadis itu dikeluarkan dari kampus karena kasus yang menimpanya kemarin.
Dosen pembimbing masuk. Pria berusia lima puluh tahun itu memberikan ucapan selamat pada seluruh peserta magang karena mereka lulus dengan nilai baik.
"Bapak berharap, ilmu yang kalian serap selama magang, bisa membantu kalian dalam dunia kerja," ujarnya penuh kebanggaan.
Semua bertepuk tangan meriah. Bahkan ucapan semangat diberikan pada Gloria yang sedang tidak baik kondisinya. Semua berdiri memberinya dukungan kecuali Diana. Gloria sedih melihatnya.
"Untuk sidang skripsi kalian. Bersiaplah!" ucap Dosen menyudahi kericuhan.
"Untuk, Hugo, Brandon, Luien, Diana dan Gloria. Kalian kembali menghadap dewan peningkatan siswa ya," ujar Dosen memberi tahu.
Kelimanya mengangguk. Tidak ada mata kuliah hari ini. Namun, mereka wajib hadir untuk memenuhi absensi.
Kini lima orang sudah ada di bagian pengembangan siswa. Mereka ditawari pekerjaan langsung dari tempat mereka magang.
Brandon dan Hugo langsung menerima pekerjaan itu. Brandon memang diminta untuk bekerja di tempat lain oleh orang tuanya. Ia adalah anak laki-laki ke enam, semua saudaranya laki-laki. Ia mengalah tak mendapat bagian jabatan penting di perusahaan ayahnya. Memilih mandiri dan bekerja di perusahaan baru.
Hugo yang memang tulang punggung keluarga, sangat antusias menerima tawaran pekerjaan itu. Dari gaji dan bonusnya kemarin, ia bisa membenahi rumah dan mencukupi kehidupan ia bersama ibu dan dua adiknya yang butuh banyak biaya.
Sedang Diana juga akan memikirkan untuk bekerja di perusahaan Maxwell bersaudara itu. Gadis itu butuh banyak ilmu untuk mengembangkan perusahaan. Sedang perusahaan miliknya masih dikendalikan Petrus, asisten pribadi ayahnya. Luien juga menerima, ia perlu wawasan lebih dalam membangun perusahaan. Sedang Gloria akan memikirkannya karena kesehatan yang ia hadapi sekarang.
Luien pulang ke rumah dengan hati senang. Mobilnya belum selesai diperbaiki. Gadis itu enggan mengambil mobil Porsche. Ia masih belum mau menunjukkan identitas dirinya.
"Sayang, kau sebentar lagi akan lulus, Daddy ingin kau bekerja di perusahaan menggantikanku!" pinta Deon.
"Daddy, aku mau setahun kerja di perusahaan lain dulu, boleh?" pinta Luein kini.
Deon diam. Ia menatap putrinya. Tetapi, kemudian mengangguk ketika melihat tatapan memohon dari sang putri. Luien memberi pelukan untuk ayahnya itu.
"Makasih Dad. You're the best," ujarnya lalu memberi kecupan di pipi pria itu.
Tiba-tiba.
"Huueek!" Wina mual.
"Mama!"
"Sayang!"
"Aah!'
Wina merosot ke lantai. Deon langsung menahan laju tubuh istrinya. Luein sampai menangis, tangisannya sampai mengundang tangisan Edrico. Gadis itu pun mengendong bayi itu dan menenangkannya. Matilda datang dengan wajah panik. Deon memintanya untuk memanggil dokter. Tak lama dokter pun datang memeriksa wanita itu.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Deon dengan nada khawatir.
"Selamat Tuan, istri anda hamil, di perkirakan usia kandungannya enam minggu," jawab dokter semringah.
"Apa?"
Baik, Deon, Luein bahkan Wina sendiri terkejut dengan berita itu. Sedang Edrico tampak antusias mendengarnya, padahal mungkin ia tak mengerti apa yang terjadi.
"Jika belum yakin, Tuan bisa memeriksanya ke dokter kandungan," jelas dokter, "ini resep, isinya vitamin dan penambah tenaga."
Deon menerima resep itu lalu memberikan pada Matilda. Wanita itu tahu apa yang harus ia lakukan. Wanita itu mengantar dokter hingga ke mobilnya. Lalu memberi resep pada suaminya.
"Mama ... aku akan punya adik lagi!' seru Luien bahagia.
Edrico yang ada digendongannya juga langsung menggerak-gerakkan tangannya sambil memekik senang. Wina hanya terbengong. Ia memang masih mendapat siklusnya tiap bulan dan mengira ia sudah menopause karena tak mendapatkan lagi satu bulan lalu. Ternyata ia tengah hamil.
"Sayang, jangan pikir macam-macam ya," pinta Deon.
Wina hanya mengangguk lalu menepuk kasur dengan tangannya meminta Luien dan Rico berada di sana. Gadis itu pun meletakkan Rico di sebelah ibunya, lalu ia juga menyusul. Deon pun ikut membaringkan tubuhnya di belakang sang istri.
"Kita akan kedatangan anggota baru lagi," ujarnya lalu mencium pipi Wina lembut.
Keempat manusia beda usia itu saling bercengkrama di ranjang. Gelak tawa Rico mewarnai percakapan itu.
Sedang di tempat lain. Sosok yang mukanya babak belur, kini meringkuk dalam jeruji besi. Don menjadi pesakitan hukuman seumur hidup ia jalani, sedangkan Sergio Van Roots disita seluruh kekayaan dan kewenangannya bernegara.
"Aku bersumpah akan membalaskan dendam ini!" teriak Don. "Philips!"
"Berisik kau!" bentak salah satu napi yang ada di sana.
"Diam kau!" bentak Don.
Pria yang dibentak pun mengambil sesuatu dari balik kasur. Ia mendekati Don dengan pandangan menyeringai. Lalu.
Set!
"Aarrghh!"
Don roboh dengan perut bersimbah darah. Para napi lain menggotongnya lalu membaringkannya di ranjang.
Penjaga yang lewat melihat Don tengah tertidur, membiarkannya. Hingga beberapa hari kemudian baru lah terungkap jika pria itu tewas ditikam oleh salah satu napi di sana.
bersambung.
wah ...
next?