
Dua minggu berjalan. Hari ini Vic sudah menyiapkan semuanya. Pria itu juga telah mengatakan keputusannya untuk menikahi Gloria. Hal itu ditanggapi antusias Tania. Wanita yang mengasuh pria itu dari usia merah. Besok hari ia dan suaminya akan melamar Gloria.
"Mama bahagia. Akhirnya kau mau menikah dan memilih Gloria dibanding dua wanita itu," sahutnya.
Vic tersenyum. Dua wanita sebelumnya memang lebih cantik dari Gloria bahkan keduanya sangat terkenal dan bertubuh seksi.
"Katakan pada Mommy, apa kau mencintai Gloria?" tanya Tania serius.
Vic terdiam. Ia tak tahu apakah dirinya mencintai gadis itu atau tidak. Tapi, yang pasti ia tak mau Gloria dimiliki oleh pria lain selain dirinya.
"Mungkin aku mencintainya. Aku sangat marah jika Gloria didekati pria lain," jawab Vic jujur.
Tania tersenyum. Memang Victor sangat berbeda dengan dua putranya yang lebih serius ketika menjalin hubungan. Sedang Vic tak terlalu serius bahkan terkesan hanya ingin bersenang-senang.
"Jangan mempermainkan wanita!" tekan Maxwell pada Vic.
Victor mengakuisisi perusahaannya dengan perusahaan Maxwell agar tak repot mengurusnya.
Alex kini membantu perusahaan mertuanya dan sekaligus mengemban tugas sebagai pangeran atau suami dari putri seorang raja.
"Kita kurang keturunan?" ujar Maxwell ketika merasa kerepotan mengurus perusahaan.
"Lalu?" tanya Tania malas.
"Kau ingin punya istri lagi dan punya anak?" sindir wanita itu.
"Hei, kenapa kau berpikiran ke sana?" tanya Maxwell tak suka.
"Jika aku ingin sudah kulakukan dari dulu!" lanjutnya dengan marah.
"Lalu maksudmu apa kita kekurangan keturunan?" tanya Tania meninggikan suaranya.
"Kenapa Mama dan Papa jadi berkelahi. Besok aku mau melamar seorang gadis!" seru Vic melerai perdebatan.
Tania kesal bukan main. Bukan maunya jika ia hanya memiliki tiga anak laki-laki. Victor sudah ia anggap anak karena ia lah yang menyusui pria itu ketika bayi sama dengan Adrian.
"Mommy mau punya anak lagi?" tanya Maxwell.
"Astaga, usiaku sudah lima puluh dua tahun!" elak Tania.
"Sayang," panggil Maxwell setengah memohon.
Tania kesal bukan main. Ia sudah tua untuk hamil lagi.
"Kita tunggu cucu lahir!" teriak wanita itu.
Maxwell mengejar istrinya. Pria itu langsung menggendong istrinya dan masuk ke kamar. Vic hanya bengong saja. Ia pun menghela napas panjang.
Adrian dan Diana datang. Mereka memastikan jika besok lamaran itu terjadi.
"Mana Mommy and Daddy?" tanya Adrian.
"Mereka mau buat anak lagi!' jawab Vic lalu duduk dan menutup matanya.
"Astaga, dua orang tua itu!" sengit Adrian tak percaya.
"Tuan, sebentar lagi makan siang sudah siap!" ujar kepala maid memberitahu.
"Baik, siapkan saja. Kemungkian Daddy dan Mommy akan terlambat makan,' sahut Adrian.
Kepala pelayan pun menunduk hormat. Diana duduk di sebelah suaminya. Kepalanya sedikit pusing. Vic melihat jika Diana sedikit pucat.
"Kau sepertinya tidak baik-baik saja?"
"Kepalaku sedikit pusing," ujar Diana mengaku.
"Kau tak bilang sedang tidak sehat padaku, sayang," celetuk Adrian.
"Kenapa mesti bilang. Kau harusnya lebih memperhatikannya Adrian!" sela Vic menyindir.
Adrian berdecak. Tapi, bukan ia tak memperhatikan istrinya. Karena tadi pagi Diana baik-baik saja.
"Nanti sore kita ke dokter ya," ajak Adrian mulai khawatir.
Diana mengangguk. Ia benar-benar pusing. Kepalanya seperti dihantam palu besar.
"Apa keduanya baik-baik saja?" tanya Vic.
"Mereka baik-baik saja, kau tak usah khawatir!" jawab Adrian.
"Apa Kak Alex dan Leuin akan ke sini juga nanti?" Adrian mengangguk.
"Nanti sore mereka datang dan membawa beberapa hadiah untuk calon pengantinnya," jawabnya.
Vic tersenyum. Ia sudah tak sabar mengganti waktu. Pria itu ingin menjadi seorang suami.
Lamaran Vic sampai di telinga Brigitta, artis ternama ibukota. Gadis itu sangat berang luar biasa karena Vic bukan melamarnya tetapi gadis lain.
"Siapa nama gadis itu. Apa dia seorang yang lebih terkenal dari pada aku?" tanyanya penuh kesombongan.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Vic hanya boleh menikahiku. Bukan gadis lain!" tekannya tak mau tahu.
Brigitta menelepon seseorang. Ia meminta untuk mencari tahu siapa gadis yang hendak diperistri oleh Victor.
"Halo ... cari tahu gadis yang akan dilamar oleh Victor Ignatius Dambaldore!" titahnya. "Aku mau laporannya sepuluh menit lengkap!"
"Baik, Nona. Asal kau bayar penuh sekarang juga!" sahut pria di seberang telepon.
"Jangan khawatir tentang bayaran, aku pasti akan melebihkannya!" janji gadis itu.
Sambungan terputus. Tak sampai sepuluh menit, apa yang ia inginkan sudah ia dapatkan.
"Gloria Northon Ageele, dua puluh empat tahun. Putri dari pasangan Ageele dan Samantha."
Gadis itu membaca profil gadis yang akan dilamar Vic. Brigitta sedikit menelan saliva. Ia sangat tau siapa Ageele itu. Pria dengan kekayaan nomor dua di kota. Keartisannya tak berarti di mata Ageele. Justru management mereka ingin sekali perusahaan Ageele menjadi sponsor utama film yang akan digarap oleh sutradaranya.
"Ck ... lawan ku cukup berat!" keluhnya.
"Di sini hobby gadis itu foya-foya dan suka sekali hura-hura. Sepertinya cocok jadi sahabatku," gumamnya lalu tersenyum sinis.
"Aku akan mendekatinya lalu ... wala ... suaminya akan menjadi milikku," kekehnya dengan seringai licik.
Sementara di mansion Gloria. Hunian itu kini tengah dihias. Para maid sibuk menyiapkan hidangan untuk menyambut para tamu yang datang. Gloria duduk di balkon kamarnya. Gadis itu masih tak percaya jika besok dirinya akan dilamar. Ageele mendatangi anak gadisnya.
"Sayang," panggilnya.
Gloria menoleh. Ia tersenyum kaku lalu kembali menatap taman yang ada di depannya. Ageele duduk di sebelah gadis itu.
"Ada apa. Kenapa kau melamun?" tanya pria itu.
Gloria menghela napas panjang. Semenjak kejadian ia ingin dijual oleh temannya. Gadis itu berhenti melakukan hal yang merugikan dirinya. Ia tak lagi berfoya-foya dan melakukan pesta semalaman. Terlebih kini ia mendengar jika Anneth dan Brenda dipenjara karena telah menghina Luien yang seorang putri mahkota.
"Aku hanya tak percaya, jika besok aku dilamar," ujar gadis itu.
"Vic tadi menelepon Daddy lagi, karena memastikan jika dirinya besok akan datang melamar," ujar Ageele kini memeluk anak gadisnya.
Gloria adalah anak semata wayangnya. Ia tak bisa memiliki anak karena memang ia hanya ingin satu putri saja dari istrinya.
"Daddy," panggil Gloria lalu menyurukkan tubuhnya ke pelukan sang ayah.
"Sayang," sahut Ageele lembut.
"Apa dia besok benar-benar datang?" tanya Gloria ragu.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya sayang. Jangan takut. Daddy akan menyiapkan jodoh untukmu, jika Vic besok melanggar sumpahnya!" tekan Ageele menjawab ketakutan putrinya.
"Dan aku akan mencoret pria itu dari daftar orang yang ingin kutemui walau urusan bisnis sekali pun!" tekan pria itu lagi.
Gloria memeluk ayahnya. Ia sangat beruntung kedua orang tuanya begitu memperdulikan dirinya.
"Aku akan menurutimu, Daddy," janji Gloria. "Aku akan menikah dengan pria pilihanmu, jika besok Vic tak jadi datang!"
bersambung.
jadi datang kan Vic?
next?