THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
PERNYATAAN



Luien sampai kantornya dalam waktu lima belas menit. Gadis itu mempercepat langkahnya ketika memasuki perusahaan dua puluh tujuh lantai itu. Sampai sana, ia bersamaan dengan Gloria, Hugo dan Brandon.


"Pagi Nona Philips!" sapa Brandon.


"Jangan meledekku, Tuan Coveride!" tegur Luien tak suka.


"Apa maksudmu? Bukankah kau itu memang Philips?" tanya Brandon tak mengerti.


Luien diam. Semenjak ia diketahui siapa dirinya, membuat Luien lebih cepat tersinggung. Padahal tidak ada yang menyinggungnya.


"Ada apa denganmu, Luien. Kau biasanya tak seperti ini?" tanya Hugo.


Luien hanya diam saja. Hugo dan Brandon pun hanya bisa menghela napas.


"Mungkin ia biasa dihina, jadi dia kaget kalau ada yang bersikap. manis padanya," jelas Gloria..


Luien hanya diam saja. Padahal, mestinya ia lega karena sudah diakui dan tidak ada lagi yang menyindirnya.


Ketika sampai di lantai masing-masing. Semuanya kembali bekerja. Alex berada di ruangannya. Adrian bersama Vic tengah melakukan meet and great dengan semua pengusaha di kota C.


"Luien," panggil Alex.


"Saya, Tuan," sahut Luien, sambil melihat jadwal yang harus dilakukan oleh atasannya.


"Tuan, kita akan ada meeting dengan beberapa perusahaan juga makan siang dengan mereka, lalu setelahnya anda harus mendatangi pembangunan mall juga proyek peluasan bandara di distrik D," sahut gadis itu membaca kegiatan satu hari ini.


Alex menatap gadis yang kini ia tau jati dirinya. Keduanya saling tatap. Alex menarik Luien hingga duduk di pangkuannya.


"Kenapa kau bersembunyi?" tanyanya sambil memeluk erat gadis itu.


"Hanya ingin membuka kedok orang lain bagaimana memandangku, ketika miskin," jawab Luien.


Ia melingkarkan lengannya di lengan pria beriris hijau itu. Alex mencium bibir Luien. Gadis itu kini memejamkan matanya, mencoba belajar cara memagut benda berbicara itu dengan benar.


Mendapat balasan yang hati-hati. Membuat Alex makin rakus memagut hingga dalam.


Ciuman itu terhenti ketika Alex kehabisan pasokan udara. Hidung keduanya bersentuhan dengan napas keduanya menderu.


"Menikahlah denganku, sayang ... aku sangat mencintaimu," pinta Alex sedikit memohon.


"Mintalah pada Ayahku, Tuan. Karena aku adalah milik orang tuaku," ujar Luien juga meminta.


"Baiklah, aku akan melamarmu, mungkin dua atau tiga minggu lagi, princess," ujar Alex.


"Sekarang katakan padaku. Kita ke meet and great tersebut atau kita ke kamar sekarang sayang. Karena sungguh aku sangat menginginkanmu," ujar Alex dengan nada berat dan benar-benar sangat berhasrat.


Luien langsung berdiri dengan kasar. Alex terkejut..


"Apa kah hanya itu pikiran pria?" tanya gadis itu dingin.


"Sayang," panggil Alex tak mengerti.


"Apakah selalu begitu Tuan. Laki-laki akan meminta sesuatu sebelum ada ikatan?" tanya Luien sedih.


"Aku tau itu sudah biasa di jaman sekarang. Tapi, aku bukan penganut hal-hal bebas seperti itu," lanjutnya.


Alex tersadar jika ia salah. Pria itu langsung memeluk gadisnya dan meminta maaf.


"Maafkan aku sayang ... maafkan aku."


Luien sedih bukan main. Gadis itu sampai menangis. Pria itu merasa bersalah.


"Maaf ... maaf," pintanya berkali-kali.


"Baiklah, kita sekarang pergi ke meet and great ya," ajak Alex lalu mengurai pelukannya dan menghapus air mata Luien.


Gadis itu hanya mengangguk saja. Lalu, setelah membawa beberapa berkas yang diperlukan. Keduanya pun berangkat ke sebuah restauran mewah di pusat kota.


Sedang di lift lain. Gloria kaget ketika mendapati lift tak ada Luien. Gadis itu merasa janggal. Ia sudah tau jika Diana sudah tak lagi bekerja di perusahaan yang sama dengannya lagi. Mantan rivalnya itu sudah menjadi CEO di perusahaan ayahnya.


Hugo dan Brandon juga terkejut hanya mendapatkan Gloria dalam lift.


"Jangan tanya aku di mana Luien!" ujarnya.


Ketiganya pun akhirnya turun bersama. Gloria kini sudah tak takut lagi dengan guncangan. Walau terkadang ia masih memegang tangan Hugo atau pun Brandon jika ia tiba-tiba takut.


"Kau masih takut Glor?" tanya Brandon ketika tiba-tiba tangannya digenggam oleh Gloria.


Gadis itu mengangguk dengan wajah sedikit pucat. Hugo sangat iba dengan gadis itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi ketika, itu Glor? ceritakan lah," ujar Hugo.


Gloria hanya diam. Ia masih shock dengan guncangan apa lagi mendengar suara benturan. Ketika sampai lantai lobby baru lah ia melepas genggamannya. Hingga tiba-tiba listrik kembali turun dan membuat guncangan hebat pada lift.


Gloria yang melangkah kembali histeris. Hanya satu nama yang ia teriakan.


"Luien ... tolong aku!"


Gadis itu pun langsung tak sadarkan diri. Luien yang sudah sampai lobby dari tadi mendengar teriakan Gloria, langsung berbalik mendatangi mantan rivalnya.


Gloria dalam gendongan Hugo. Pria itu setengah panik begitu juga Luien. Alex langsung meminta semuanya tentang.


"Kita bawa dia langsung ke rumah sakit!" ajak Alex.


"Pakai mobilku!" ujar Brandon.


Mobil sport terbaru Brandon datang diantar oleh petugas Valet. Pria itu benar-benar menunjukkan keberhasilannya setelah bekerja selama beberapa bulan di perusahaan ini. Luien masuk terlebih dulu dan Hugo meletakkan Gloria yang tak sadarkan diri.


Alex menggunakan mobilnya sendiri. Hugo berada bersama Brandon. Semuanya melarikan mobil mereka dengan kecepatan tinggi.


Tak sampai sepuluh menit dua mobil mewah berhenti di depan lobby rumah sakit. Hugo langsung berteriak memanggil para medis.


Gloria langsung ditangani. Para medis berdatangan. Semua upaya dilakukan untuk menyadarkan Gloria. Hasilnya malah gadis itu berteriak-teriak.


"Tolong jangan sentuh aku!"


"Tidak!"


"Jangan!"


Bayangan tangan pria yang menjamah area sensitifnya membuat dia histeris. Para medis memberikan suntikan penenang.


Luien menelepon ayah dari mantan rivalnya. Ageele langsung datang bersama istrinya.


"Pasien kembali mengalami traumatik hebat. Sepertinya ia merasa dilecehkan seseorang, hingga membuat ia histeris dan ketakutan," ujar dokter menerangkan.


"Setelah semuanya stabil dan hukum sudah ditegakkan. Putri saya masih dalam trauma?" ujar Ageele tertegun.


Sedangkan sang istri langsung terpukul mendengar hal itu. Ia juga nyaris tak sadarkan diri jika saja Luien tak memberinya dukungan.


"Nyonya harus membantu Gloria dari ketakutannya, hanya Nyonya yang bisa!"


"Aku?" wanita itu menatap suaminya yang kemudian mengangguk setuju.


"Gloria sebentar lagi kami akan awasi dan kembangkan kesehatan jiwanya. Sepertinya, ia harus diberitahu jika dirinya tak kenapa-napa. Saya menjamin, pasien masih dalam keadaan suci atau perawan," jelas dokter lagi.


Semuanya mengangguk setuju. Tak lama Diana, Adrian dan Vic datang dengan wajah cemas. Ageele sangat terharu, putrinya banyak yang peduli.


Sedang di apartemen. Frank lagi-lagi menunggu gadis incarannya. Ia sudah menggenakan pakaian terbaiknya. Potongan rambut baru, dagu yang baru saja dicukur dan setelan kemeja putih dengan tiga kancing terbuka dan jas dipadu celana bahan warna abu-abu, diakhiri sepatu pantofel warna hitam senada dengan ikat pinggang Crocodile S6120.


"Arrghhh!" pekiknya kesal setelah jam demi jam ia lewati seperti orang gila.


bersambung.