THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
RICO



"Mana Rico?" Wina mencari putra gembulnya itu.


Wanita itu baru menyusui putranya Hendrick. Rico memang bebas kemanapun bayi itu ingin. Beberapa pengawal menjaga bayi itu.


"Mana Prince?" tanya Wina pada salah satu pelayan.


"Tadi, bermain keluar, Yang Mulia Permaisuri!" sahut maid menjawab.


"Rico!" panggil Wina.


"Prince Rico ke tempat Prince Ken, Yang Mulia Permaisuri!" sahut beberapa pengawal.


"Bawa putraku ke sini. Ini sudah waktunya makan siang!" titah perempuan itu.


"Prince Rico bersama dayang Delia, Yang Mulia, mungkin sedang makan!' sahut pengawal.


"Aku bilang bawa Prince Rico kemari!" sentak permaisuri mulai marah.


Wina begitu khawatir. Tak biasanya Rico main terlalu jauh ke tempat Ken. Terlebih, wanita itu tau suaminya baru meliburkan pria itu.


"Ah, ibu macam apa aku ini!" sesal wanita itu.


Wina langsung mencari sendiri bayinya. Para pengawal sampai mengikuti perempuan itu dan mencari keberadaan Rico.


"Rico!" teriak Wina.


Sedang di tempat lain. Rico yang sedih karena tidak ada yang mengajaknya bermain. Bayi itu awalnya mengganggu para penjaga dan maid. Lalu, salah seorang maid perlahan membawanya ke tempat Ken.


"Ini tempat Prince Ken," ujar wanita itu.


"Bodel Ten!" teriak Rico dari luar.


Ken yang tengah menikmati kemesraan pada istrinya tentu tak menghiraukan bayi yang memanggilnya. Padahal Felicia sudah ingin menyelesaikan permainan mereka.


"Sayang ... ahh ... itu Rico memanggil," desah Felicia di tengah cumbuan suaminya.


Ken yang kepalang naik, tak begitu merespon panggilan saudaranya itu. Ia terus memuaskan diri dan mencumbu istrinya.


Karena tidak ada yang keluar ruangan. Rico sedih bukan main. Perutnya sudah lapar. Tak ada yang sayang sama dia.


"Pemua tat sayan Ico ... hiks ...!"


"Sama Bibi saja, yuk. Bibi sayang Rico," ujar Delia lalu menggendong bayi tampan itu.


Delia mengganti baju Rico dengan baju biasa. Matanya nyalang ketika melihat peluang yang ada. Ia sangat yakin tak ada yang akan mengenali bayi ini.


"Ico lapal!" teriak bayi itu mulai menangis.


"Hei ... jangan menangis. Nanti, Bibi kasih makan batu kalau kau menangis!" ancam Delia.


"Huwwaaaa!" Rico malah kencang nangisnya.


"Aarrghh ... diam!" bentak Delia keras.


Wanita itu mengambil satu roti dan menjejalkan pada mulut bayi itu. Rico menangis.


"Diam ya ... nanti, Bibi beliin burger!" janji wanita itu.


"Lapal ... hiks ... hiks!" ujar Rico kelaparan.


Delia tak berani pergi ke tempat para maid bersama Rico karena pasti mereka semua mengenali bayi itu.


"Kita harus pergi dan kau akan menghasilkan banyak uang," ujar Delia.


Wanita itu menggendong Rico dan membawanya. Para penjaga yang bertugas, tampak mengitari ruangan. Delia benar-benar harus tau waktunya. Pergantian penjagaan sangat cepat. Wanita itu harus mendekat erat Rico agar tak keluar suaranya. Sedang bayi itu mulai lemas dalam dekapan kuat perempuan itu.


"Hiks ... Mama ... Mama!"


Sementara di sebuah negara. Luien yang tengah bersama suaminya. Begitu sangat cemas. Ia tak mau membeli apa pun untuk oleh-oleh.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Alex heran.


"Aku ingin pulang," rengek wanita itu tiba-tiba.


"Rico ...," panggilnya.


"Di sana banyak yang menjaganya, sayang," ujar Alex menenangkan walau ia khawatir juga.


Sementara di istana Wina terus sibuk mencari putranya. Semua penjaga mengatakan tak ada yang melihat bayi itu.


"Apa di sini ada cctv!" teriak wanita itu.


Semua diam. Wanita itu langsung meminta di mana ruang panel keamanan berada.


"Maaf Yang Mulia Permaisuri. Anda dilarang memeriksa ruang keamanan tanpa persetujuan kepala keamanan!" tolak salah satu staf istana.


"Apa kau bilang?" Wina marah luar biasa.


Ia menarik kerah pria itu hingga, pria itu tercekik.


"Yang ... mulia!" sahut pria itu dengan suara tercekat.


"Putraku kemungkinan diculik di istana ini dan kau bilang aku tak boleh melihat ruang panel untuk menemukan putraku?!" tekan wanita itu.


Deon yang tengah mencari keberadaan istrinya tak mendapatkan istrinya dalam kamar. Putranya masih tidur dengan lelap.


"Kemana Permaisuri?" tanyanya.


"Mencari Prince Rico Yang Mulia Raja!" sahut maid.


"Aku pastikan akan kembali merombak dan mengganti siapa saja yang berkhianat!" tekan pria itu.


Deon lalu mencari istrinya dengan langkah lebar. Para pengawal sampai harus berlari menjajar langkah lebar pria itu.


Ia melihat keributan di sebuah ruangan. Ia melihat istrinya mencekik salah satu pengawal. Ia yakin ada yang tidak beres.


"Sayang," panggilnya.


"Dia tau di mana putraku tapi memilih menolak mengatakannya Raja!" teriak Wina murka.


Wajah Deon mengelam. Para pengawal menelan saliva kasar.


"Aku ingin periksa cctv agar langsung mengetahui di mana Rico berada. Dia menghalangiku!" jelas Wina marah.


Deon melangkah dan langsung membuka ruang panel. Dilihatnya penjaga yang sudah renta menjaga panel tersebut. Pria itu menoleh.


"Yang Mulia?" sambutnya heran.


"Pak Tua. Kau semestinya pensiun!" ujar Deon.


"Mestinya tapi, ruangan ini tak pernah terbuka selama sepuluh tahun terakhir. Aku di sini seperti disekap," ujar Pria tua itu.


"Panggil Ferdinand dan Marfo!" titah pria itu.


Dengan langkah berat beberapa staf memanggil dua pria itu. Ferdinand dan Marfo datang. Mereka kaget ada pria tua tersekap di ruang panel.


"Tak ada masalah pada sistem keamanan jadi ruang panel tak pernah dibuka," sesal Ferdinand.


Deon memeriksa semua layar mencari keberadaan Rico. Ia melihat ada wanita yang mendekap serat sebuah bungkusan kain besar. Ia yakin itu Rico.


"Berengsek!"


Deon lalu melangkah ke sebuah ruangan di mana Delia mendekap Rico yang sudah tak sadarkan diri. Para penjaga langsung berbadan tegap melihat kedatangan Raja mereka.


"Tangkap wanita itu!" titah raja.


Semua pengawal menatap Delia yang berjalan cepat. Mereka menangkapnya dan menarik dua tangan hingga Rico terlepas dari dekapan.


Bug!


Bungkusan terbuka. Rico sudah tak sadarkan. Wina menjerit melihat putranya.


"Putraku!"


Berapa murkanya Deon. Semua langsung bersimpuh. Sedang Wina langsung mengambil Rico yang tak sadarkan diri.


"Sayang ... bangun, Nak!" teriak wanita itu.


"Ferdinand!" teriak Deon.


"Bereskan mereka semua!" titahnya.


Ferdinand membungkuk hormat. Sedang Delia menangis sejadi-jadinya. Marfo memanggil dokter istana untuk menangani kesehatan Rico.


Victoria yang baru mengetahui cucunya nyaris diculik, langsung menangis. Sedang Ken yang baru selesai menikmati cinta tampak begitu menyesal.


"Hukum aku Tuan. Aku mengabaikan Tuan Rico," sesal pria itu.


"Sudah, tidak apa-apa. Kau memang sudah aku liburkan karena tugas yang bertumpuk," ujar Deon tak mempermasalahkan Ken.


Felicia juga bersimpuh di depan permaisuri nya.


"Tidak apa-apa, sayang. Aku ibunya. Semestinya aku yang menjaganya," ujar Wina menenangkan wanita itu.


"Rico kelaparan dan ia didekap terlalu kuat hingga oksigen tak masuk paru-parunya dengan benar," jelas dokter.


"Putraku ...," Wina sedih mendengar putranya kelaparan.


"Mulai saat ini. Aku yang akan mengurusmu, sayang. Aku tak akan menyerahkan pada siapapun!" tekad wanita itu dalam hati.


"Mama!" panggil Rico, bayi itu sadar.


"Baby ... ini Mama sayang," sahut Wina lalu menciumi Rico.


"Mama lapal," ujar bayi itu mengelus perutnya.


"Iya, sayang ... mau makan apa?" tanya Wina langsung.


"Mawu banat ... sis, entang, ayam ... banat!" pinta Rico.


Wina tertawa mendengar permintaan bayi itu. Wanita itu langsung memberikan apa yang putranya minta. Felicia ingin membantunya.


"Tidak usah sayang. Sebaiknya kalian pergilah berbulan madu. Mama juga ingin cucu dari sini," ujar Wina mengelus perut Felicia.


"Yang Mulia Permaisuri!" sebut wanita itu menunduk malu.


"Pergilah dan berikan berita bahagia itu secepatnya. Oke," ujar Wina lalu mengecup sayang kening Felicia.


Wanita itu mengangguk. Lalu pergi menyambangi suaminya yang juga disuruh pergi berbulan madu oleh rajanya.


bersambung.


wah nasib tuh maid gimana ya?


next?