THE REAL PRINCES

THE REAL PRINCES
KEJUTAN 2



"Hari ini saya Lazuard Deon Philips mengumumkan kehamilan istri saya yang sudah menginjak tiga bulan!" ujar Deon memperlihatkan sang istri yang memang tengah mengandung.


Semua kamera membidik perut Ludwina. Memang belum kelihatan karena masih berusia muda.


"Tuan, siapa gadis cantik yang bersembunyi di belakang Nyonya Philips?" tanya salah satu wartawan.


Deon menoleh ke belakang. Matanya menatap tajam pada putrinya yang masih saja mau bersembunyi. Pria itu menjulurkan tangan, meminta sang putri agar keluar dari persembunyian.


Mau tak mau gadis itu pun mengamit tangan sang ayah. Deon langsung menariknya. Wajah cantik nampak lelah karena baru pulang kerja.


"Perkenalkan ini adalah putri saya Lueina Elizabeth Philips, dialah yang menjadi ahli waris saya sekarang!"


Semua mata memandangnya. Diana tersenyum lebar ketika melihat tayangan di televisi rumah sakit. Kini ia berada di ruang perawatan ibunya. Adrian sudah pulang dari tadi.


"Akhirnya, kau kembali Luien," gumamnya lirih.


"Pasti dia bahagia sekali berkumpul dengan ayah dan ibu, bahkan sekarang akan ada calon adik yang akan meramaikan keluarga Philips," ujar Veronica dengan penuh haru.


Diana mengangguk. Ia setuju dengan perkataan ibunya. Sedang Gloria kini kedatangan dua gadis yang tertunduk, Anneth dan Brenda. Gloria memang tak suka melihat berita di televisi.


"Mau apa kalian datang?" tanya gadis itu sinis.


"Maafkan, aku Glor ... aku-aku terpaksa melakukannya, kau tau tas itu harganya sangat mahal ... jadi ...."


Plak! Satu tamparan keras di dapat oleh Anneth. Gloria sangat tak menyangka dirinya bisa bersahabat yang ingin menjualnya.


"Kau pikir aku ini apa, hah?!" teriak Gloria dengan suara bergetar.


Anneth mengusap pipinya, ia menangis begitu juga Brenda.


"Kalau kau mau benar tas itu kenapa kau tak jual saja dirimu!?" bentak Gloria.


Para pelayan begitu geram dengan dua tamu majikannya itu. Nona mereka memang sombong dan acuh pada mereka. Tetapi, semua maid sangat menyayangi Gloria.


"Oh, aku tau, kalian memang tak punya harga, alias gratisan!" maki gadis itu kasar.


"Maafkan kami Glor, kami gelap mata ... kami ...."


"Keluar kalian dari mansionku!" usir Gloria.


"Aku lebih baik berteman dengan dua ratu miskin, Diana dan Luien. Mereka jauh lebih menghargai dan menyayangiku dari pada kalian!" putus gadis itu.


"Glor ...."


"Sekuriti!" pekik Gloria.


Dua pria bertubuh tegap mendatangi nona mereka. Gloria hanya memberi kode dengan gerakan tangannya. Anneth dan Brenda diseret keluar.


"Glor ... jangan seperti ini! Kau akan menyesal jika tak mau berteman dengan kami!" teriak Brenda.


"Aku yang menyesal karena berteman dengan kalian!" teriak Gloria.


Gloria menangis. Ayah sedang membawa istrinya konseling. Sang istri tengah mengalami guncangan kejiwaan ketika mendengar Gloria diculik dan kini masih trauma. Tadinya Ageele juga mengajaknya. Tetapi gadis itu menolak.


"Aku sudah bisa mengatasinya, Dad," begitu alasannya setiap Ageele memintanya mengunjungi psikiater.


"Nona," panggil Lola, salah satu maid.


Gloria memeluk maid itu dan menangis. Lola juga memeluk dan memberikan ketenangan pada Nonanya.


"Semua akan baik-baik saja, Nona, percaya lah!"


Tubuh Gloria seketika bergetar hebat. Ada satu perkataan ketiga mantan sahabatnya itu ketika ia diculik.


Gloria memang pingsan, tetapi pendengarannya masih begitu baik.


"Ah, kau harus menambah bayaran untuk ini, Tuan Mortego," ujar Jessy waktu itu.


"Tenang saja, aku akan kirimkan tas itu langsung untuk kalian bertiga," janji pria itu.


"Tapi, kau yakinkan jika dia masih perawan?" tanya pria itu.


"Tentu, apa kau ingin membuktikannya sekarang?" tawar Jessy.


Gloria begitu ketakutan setengah mati. Entah bagaimana caranya. Mereka bertukar posisi. Don sudah ingin menjamah area sensitif Gloria hingga terjadi tabrakan itu.


"Mereka jahat, Lola ... hiks ... hiks ... sangat jahat!" ujar Gloria sambil terisak-isak.


Sedang di tempat lain. Sosok wanita tersenyum, melihat layar tab yang ada di tangannya.


Sementara di mansion Philips, wartawan jadi sangat heboh mengetahui jika ternyata keluarga Philips masih memiliki ahli waris lainnya.


"Tuan, berarti Nona Lueina adalah saudara kembarnya Tuan muda Louis?"


"Ya, benar. Kami secara tak sengaja melupakan putri kami, tetapi sekarang saya nyatakan jika dialah the real princess dari keluarga Philips!" tekan Deon.


"Nona tolong katakan sesuatu!" pinta salah satu wartawan.


"Terima kasih," ujar Luien pendek.


Deon hanya menggeleng kepala. Luien ternyata masih ingin bersembunyi lebih lama. Bahkan, gadis itu sudah memakai kaca mata hitam.


Waktu berlalu. Konferensi pers sudah berakhir setengah jam yang lalu. Luien kini berhadapan dengan ayahnya yang begitu kecewa pada sang putri yang masih bersembunyi.


"Nak, apa lagi yang kamu cari?" tanya pria itu gusar.


"Tidak ada Dad," jawab gadis itu lemah.


"Daddy tak mau tau. Hanya satu tahun kau bekerja mencari ilmu di Perusahaan Maxwell bersaudara!" tekan Deon lagi.


"Iya, Dad."


Luien pasrah dengan keputusan ayahnya. Pria itu akhirnya menghela napas panjang. Ia memeluk, anak gadisnya erat.


"Tinggallah di sini, sayang," pinta Deon kini.


"Jauh, Dad" rengek gadis itu.


Deon terkekeh. Ia memang juga harus berangkat jauh lebih pagi, jika ada meeting di perusahaannya.


"Kalau begitu tinggallah di apartemen milikmu!" ujar Deon kini.


"Ayah, belum mendatangi pemilik apartemen ku, mereka adalah pasangan malaikat," sahut Luien.


"Ya, aku kenal dengan pasangan itu. Mereka memang sangat baik bahkan dua anak perempuannya juga sangat baik," ujar Deon.


"Daddy, mau bertemu dengan Armira atau pasangan suami istri ...."


"Aku sudah mengenal mereka semua, sayang," potong Deon.


Luien mengerucutkan bibirnya. Tidak ada yang terlewat oleh pria itu, kecuali.


"Aku juga tahu kau masih ikutan balapan liar itu," sahut Deon.


"Ih, terakhir kemarin aku kalah dengan Alex ...."


Luien mengecilkan suaranya ketika kalimat terakhir. Deon terkekeh. Pria itu akan sangat setuju jika Luien bersama pria itu.


"Apa dia masih mengingat taruhannya?" tanya Deon.


Luien mengangguk dengan muka sebal. Wina jadi terkikik geli.


"Lusa adalah ulang tahun mu," ingat wanita itu.


"Mama akan menyiapkan pesta besar yang akan membuat semua gadis di kota ini iri," lanjutnya.


"Ma ... jangan berlebihan please," pinta gadis itu.


"Tidak ada penolakan sayang," sahut Wina tegas.


Luien hanya pasrah. Gadis itu kini bermain dengan Rico, bayi itu kini sudah mulai belajar berjalan.


Sedang di tempat lain. Rodrigo tampak terkejut mendengar informasi jika perusahaan mendiang kemenakannya itu sudah dibeli oleh seorang gadis. Pria itu mencari tau identitas gadis itu.


"Lueina Elizabeth Philips?" ujarnya bertanya ketika ia mendengar nama yang diberitahu oleh koleganya.


"Jadi dia seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun?" tanyanya memastikan.


"Iya, benar," jawab koleganya.


"Berarti, sekarang giliran Bernard yang bekerja," gumamnya tersenyum sinis.


bersambung.


Ah oh ...


next?