
"Aku mau ... aku mau menikah denganmu," ujar gadis itu.
"Apa kau serius?" tanya Martin dengan raut wajah senang.
"Iya aku mau menikah denganmu ... jika sekarang ini hanya mimpi!" jawab Alicia lalu memandang rendah pada Martin.
Pria itu terdiam. Alicia berdiri menatap pria yang baru saja hendak menolongnya. Gadis itu menatap sinis padanya.
"Apa kau pernah berkaca untuk melamarku?" tanyanya dengan pandangan merendahkan.
"Alicia ...."
"Diam!" bentak gadis itu.
"Aku adalah bangsawan dengan kasta tertinggi. Bahkan derajatku sama dengan putri raja!" tekannya penuh kesombongan..
"Dan kau ... kau siapa?" tanya gadis itu dengan senyum miring.
Martin diam dan membiarkan Alicia menghinanya. Pria itu pun sudah mengambil sikap dan akan mengatakan itu pada ibunda ratunya.
"Apa kau lupa jika Yang Mulia Ibu Ratu sudah mencopot gelar kebangsawananmu. Kami sudah menemukan bukti jika hanya ibumu lah yang bangsawan bukan Tuan Wales!" ujar Martin memberitahu.
"Jangan mengelabuiku!" bentak Alicia tak percaya.
"Jika kau tak percaya. Datang ketika pembaptisan Yang Mulia Tuan Pangeran Hendric dua minggu ke depan!" ujar Martin lalu berdiri.
"Yang Mulia Raja yang akan mengesahkan pencopotan gelar bangsawan ayahmu!" lanjutnya.
Martin pun pergi. Alicia terdiam. Ia pun kesal bukan main Semua benda yang ada di atas meja, ia lempar. Bunyi pecahan kaca terdengar. Para maid berdatangan dan menenangkan gadis itu.
Hari ini Prince Hendric Johanes Philips akan dibaptis dan yang menjadi ibu baptisnya adalah ibu suri sendiri. Semua tamu diundang. Diana dan ibunya, Gloria dan kedua orang tuanya, Vic, Adrian, Alex. Tadinya Luien ingin mengundang Armira dan Chen. Tapi dua orang itu menolak hadir karena faktor kesehatan. Gloria menangis haru begitu juga Diana.
"Panggilan apa yang harus kuucapkan jika Luien datang?" tanya Gloria pada Diana.
"Kita harus memanggilnya Yang Mulia Tuan Putri," jawab Diana.
Gloria menganga, baru kali ini ia begitu menyesal telah menghina Luien dulunya. Bahkan setelah penghinaan itu, Luien masih membantunya.
"Dad ... Luien seorang Putri mahkota bukan?" tanya Gloria.
"Iya, mestinya ia kan menjadi calon ratu sementara dan akan melatih adiknya untuk menjadi raja," jawab Ageele.
Tempat duduk mereka memang khusus paling depan. Betapa bangganya Ageele bisa satu ruang dengan pemimpin tertinggi satu ruang.
Raja Deon tampak tersenyum gagah. Bayi Hendric juga tenang dalam gendongan ayahnya.
Sedang Rico, bayi itu tampak antusias melihat pastur yang membaptis saudaranya itu.
"Bodel ... polan itu piasa?" tanya Rico sambil menunjuk pastur.
Pastur berusia sembilan puluh delapan tahun itu melambaikan tangannya pada Rico. Bayi itu antusias dan turun dari gendongan Felicia.
"Sayang, jangan," larang wanita itu sambil mencium gemas pipi gembul Rico.
"Tidak apa, biar dia turun dan datang ke sini," ujar pastur dengan suara serak.
Rico turun dan berjalan dengan berani. Semua orang gemas melihat keberanian bayi yang baru dua tahun dua minggu lagi itu.
"Pamu piasa?" tanya bayi itu.
Pastur merengkuh kepala Rico dan menciumnya lembut.
"Panggil aku Bapa Xavier Benedictus," pinta pria renta itu.
"Papa?" sahut Rico memastikan.
"Bapa!"
"Papa!" ulang Rico sudah yakin jika ucapannya benar.
Pastur Xavier terkekeh.
"Apa dia sudah dibaptis?" tanyanya.
Entah keberanian dari mana, Rico mengambil cawan dan meminum air suci itu. Pastur membiarkannya. Ia terkekeh geli dan mencium pipi gembul, bahkan ketika Rico menuang corong cawan ke mulut pria tua itu, Xavier menerimanya dan meminum air suci itu.
"Kelak kau menjadi orang yang paling disegani dan dikagumi semua orang," doa terbaik dari pastur Xavier untuk Rico.
Bayi itu menguap lebar. Sepertinya ia mengantuk. Ken mendatangi dan menggendong bayi itu yang langsung terlelap di pelukannya.
Usai pembaptisan. Semua tamu menuju aula besar. Para staf dan perdana menteri juga dikumpulkan. Raja akan mengumumkan pergantian para perdana menteri.
Ken maju dengan atribut istana di tubuhnya. Sebagai kepala dan penasihat raja juga sebagai juru bicara. Pangkatnya tertinggi di antara semua perdana menteri.
"Terima kasih, selamat siang dan selamat datang untuk para perdana menteri, para bangsawan, Staf istana dan seluruh pegawainya. Selamat datang juga pada para pebisnis juga pada kolega dan masyarakat awam yang hadir dalam acara besar ini ... perkenankan saya Prince Ken Rafael Guzardi Philips akan menyampaikan beberapa hal ...."
Ken menjabarkan sistem kerja pemerintahan kerajaan baru. Bahkan pemangkasan jabatan perdana menteri sebesar 25% dari jumlah keseluruhan. Bahkan proyek Luien juga masuk program data kerja raja. Doughlas James mendengar sebagian program yang ia rasa familiar.
"Aku rasa aku pernah baca program itu. Tapi kapan ya?"
"Dan pihak otoritas istana akan membentuk tim penanganan kasus korupsi juga suap yang terjadi selama nyaris empat puluh tahun!" tegas Ken.
"Ada pun perdana menteri yang terlihat kasus korupsi adalah Tuan Horton Walles, Tuan Marfin Hude ...," Ken menyebut satu persatu nama perdana yang terlibat kasus korupsi.
"Dan terakhir baru saja ditemui koruptor baru yakni Tuan Doughlas James!"
Pria itu terkejut bukan main. Ia langsung berdiri. Semua menatapnya.
"Tidak ... itu tidak benar. itu fitnah!' elaknya bersikeras.
Pria itu makin panik ketika beberapa pria datang dengan seragam keamanan. Doughlas ditangkap di tempat. Jabatannya sebagai Dewan perdana menteri bidang pemberdayaan masyarakat akan terbang sebentar lagi..
"Semua pencuri istana dikumpulkan. Akan ada pencopotan gelar kebangsawanan yang dipimpin langsung oleh Yang Mulia Raja Lazuard!"
Delapan pria satu wanita di bawa dari berbagai penjuru ruang istana oleh beberapa petugas.
"Daddy!" pekik seorang gadis.
Horton menatap anak gadisnya. Ia pun hanya tertunduk lesu. Kesepuluh orang di dudukan secara bersimpuh. Kepala semuanya tertunduk.
Deon datang dan langsung di atas podium.
"Atas kelangsungan pemerintah istana dan kemakmuran rakyatnya. Saya selaku raja negara ini. Dengan kesadaran penuh mencopot gelar kalian dan menjadi masyarakat biasa!"
Horton yang didudukan paling depan dengan pakaian dan tanda kebangsaan menjadi simbol untuk pencoretan itu.
Alicia menutup mulutnya. Maka sah lah ia menjadi rakyat biasan. Ia menahan tangis. Di sana tak ada satu pun yang menghiburnya, ia sendirian
"Hari ini saya selaku Raja juga akan memperkenalkan putri kandung saya, yang selama ini membantu saya menyelidiki para penjaga!" sahut Deon.
Para penjahat negara dibiarkan di sana. Mereka akan melihat siapa Putri raja yang digadang-gadang jika ia akan menjadi putri mahkota.
"Sayang ... keluar lah!" pinta Deon.
Semua menatap arah di mana seseorang akan muncul. Hening seketika dan saling menatap satu sama lain ketika sosok gadis dengan pakaian dress sederhana berwarna biru langit setinggi lutut dengan rambut dikuncir kuda.
"Tidak mungkin!" teriak Alicia tak percaya.
Horton melotot begitu juga yang lain. Mereka sangat mengenali gadis yang kini berjalan mendatangi raja mereka. Para maid istana menunduk takut, satu bulan kemarin mereka menghina gadis itu karena pakaiannya yang bukan dari branded ternama.
Luien begitu cantik hari ini. Ia hanya memakai riasan tipis. Ia tersenyum begitu indah pada ayahnya.
"Ini dia Yang Mulia Tuan Putri Luiena Elizabeth Philips!"
Semua menekuk kakinya. Alicia merosot ke lantai. Horton kaku begitu juga Doughlas.
"Aku telah mendapat bukti siapa-siapa staf, maid atau pekerja istana yang menghina putriku!" saut Deon dingin dan menusuk.
""Aku harap dia datang dan minta ampun di sini!" titahnya.
bersambung.
nah ... ada yang ngaku nggak ya?
next?