
Luien pulang ke apartemen miliknya. Wajahnya lelah. Tiba-tiba, ia didatangi oleh petugas kepolisian terkait adanya laporan dugaan kerjasama dengan Sandra pada kasus pembunuhan satu keluarga Xavier Thomas dan dugaan penculikan bayi putra dari mendiang Xavier Thomas.
Luien yang lelah akan berjanji datang keesokan harinya.
"Baik, Nona. Kami akan mendatangi anda lagi besok pagi. Harap kerjasamanya," ujar petugas.
Rodrigo benar-benar melakukan niatnya. Ia melaporkan Luien dalam kasus itu. Entah dapat dari mana data-data hingga laporannya diterima oleh kepolisian.
Karena hanya dimintai keterangan. Karena Rodrigo tak memiliki bukti yang cukup untuk menahan gadis itu dan masuk ke dalam sel tahanan.
Ke esokan harinya. Petugas kembali datang dan membuat semua penghuni apartemen khawatir.
"Luien, kau tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa Tuan Anton. Saya, baik-baik saja," jawab Luien.
Gadis itu pun mengikuti petugas polisi yang membawanya ke kantor untuk diintrogasi. Luien sudah mengatakan pada ayah juga atasannya. Ia memiliki alibi kuat dan rekaman kamera pengintai jika ia menemukan Edrico di dekat sini.
Gadis itu dikonfrontir dua belas pertanyaan. Semua ia jawab dengan tenang dan lugas. Tak lama Alex, Adrian dan Diana juga Vic datang untuk memberi keterangan. Alibi Luien kuat. Ia tak ada hubungannya dengan kasus pembunuhan keluarga Xavier Thomas.
"Saya akan melapor balik pada Tuan Rodrigo Thomas atas pencemaran nama baik dan tuduhan palsu juga barang bukti palsu," tekan Luein.
Deon yang mengetahui jika putrinya dilaporkan oleh Rodrigo bahkan entah dari mana karangan pria itu bisa mendapat berkas yang menyatakan keterlibatan anak gadisnya.
"Ken!" panggil pria itu.
Pria tampan yang selalu berada di sisi tuannya itu membungkuk hormat.
"Sepertinya kepolisian tidak bekerja secara becus ya. Tidak tuntas memeriksa dan menyelidiki kasus ini secara benar!" protesnya.
"Sepertinya, kita perlu membantu kepolisian agar mengetahui siapa dalang pembunuhnya," ujar Deon dengan seringai menyeramkan.
Sedang di rumah sakit, hari ini Frank diperbolehkan pulang. Ia sudah lebih baik dan apa yang ditakuti juga tak terjadi. Armira yang bersamanya juga senang, jika tetangganya itu tidak apa-apa.
"Kita pulang?" tanya Mira yang ditanggapi anggukan oleh Frank.
Keduanya pun melangkah ke luar rumah sakit. Frank membawa ransel berisi pakaiannya dan juga pakaian wanita yang merawatnya. Di depan lobby, Chen sudah menunggu mereka.
Frank terharu, baru kali ini ada orang sebaik Armira dan Chen.
"Masuklah, Mira," pinta Frank membukakan pintu mobil untuk wanita itu.
Mira masuk, barulah Frank. Di depan ada istri dari Chen. Tak lama, mobil itu meninggalkan rumah sakit.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Chen sambil sesekali melihat jalan raya.
"Aku baik-baik saja," jawab Frank.
"Syukurlah," ujar Chen.
Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai ke apartemen. Hanya Mira dan Frank yang turun. Sedangkan Chen dan istrinya tidak.
"Masuk lah dulu ke unitku, Frank," ajak Mira ketika sampai di depan pintu unitnya.
Pria itu pun masuk. Mira menyuruhnya untuk duduk. Frank mendaratkan bokongnya di sofa.
Suasana unit Mira sangatlah hangat. Warna putih dan biru menjadi paduan yang menenangkan mata yang memandang sekeliling. Ada pohon kecil di sudut ruangan. Hunian yang sangat sederhana.
"Minumlah dulu. Aku buatkan makanan," ujar Mira lagi.
"Tak usah repot-repot, Mira!" sahut Frank tak enak.
"Diamlah. Kau masih harus minum obat kan. Lihat ini jam berapa?"
"Kita pesan saja ya," ujar Frank lagi.
"Ini hanya memanggang ayam dan merebus kentang saja," ujar Mira sedikit berteriak.
Suasana yang nyaman membuat Frank jadi tertidur. Wanita itu tersenyum ketika melihatnya. Lima belas menit. Masakan sudah matang. Bau harum makanan membuat Frank terbangun dengan perut berbunyi.
"Makanlah," ujar Mira menyodorkan piring berisi kentang dan ayam panggang.
Dengan lahap, pria itu memakannya hingga tandas. Mira tertawa ketika melihat saus madu di sisi bibir Frank. Dengan penuh kasih sayang, ia membersihkan sisa itu dengan tisu.
"Kau makan seperti anak kecil saja," selorohnya.
Frank hanya tersenyum kikuk. Ia menatap Mira. lalu merebahkan kepalanya di pangkuan wanita itu. Mira membelai rambut Frank sayang.
"Mira ... jadikan aku anakmu, aku ingin disayang seperti ini setiap hari," pinta Frank.
"Baiklah. Besok kita ke pengadilan dan membuatmu menjadi putraku," sahut Mira.
Frank menegakkan badannya.
"Are you serious?" tanya Frank tak percaya.
"Ya, aku serius," jawab Mira yakin.
Frank memeluk dan. mencium pipi wanita itu. Mira tersenyum. Ia seperti mendapat putranya kembali.
Sedang di kepolisian tampak bingung dengan beberapa bukti baru yang ada di meja kerjanya.
"Jadi ada kemungkinan jika Rodrigo sendiri pelakunya?" tanya kepala polisi.
"Benar Pak. Diduga semua bukti yang ia berikan pada kita itu rekayasa semuanya," jawab salah satu perwira.
"Kurang ajar!" sentak komandan polisi.
"Siapa yang menangani kasus ini?" tanyanya.
"Inspektur Andrew, dan Jovan," jawab perwira itu.
"Keluarkan mereka dari kasus ini. Aku yakin jika mereka menerima suap. Cari bukti tentang itu. Kasus pembunuhan ini tidak ada perkembangan sama sekali, kita harus memakai jasa penyelidik handal dari Tuan Lazuard Deon Philips," ujarnya.
Perwira itu pun melaksanakan perintah komandannya. Lalu kepala polisi itu pun membawa berkas dan pergi ke kantor orang paling berkuasa di kota ini.
Sedang di tempat lain. Rodrigo marah-marah pada semua bawahannya. Kini ia berbalik dilaporkan pada pihak kepolisian. Luien tak bersalah, sedang ia akan dijerat dengan tuduhan dan barang bukti palsu.
"Apa kalian tak bisa kerja?" bentaknya.
"Cari putraku Bernard sekarang juga dan seret dia kalo perlu!" bentaknya memberi perintah.
Tiga orang membungkuk hormat dan langsung melakukan perintah atasannya.
Sedangkan di tempat Deon. Seorang komandan kepolisian membawa berkas permintaan bantuan penyelidikan.
"Tentu saja dengan senang hati, aku akan menolong pihak berwenang. Terlebih ini merusak nama putriku," sahut Deon.
"Putri anda? Maksudnya Luiena Elizabeth Philips itu, adalah putri anda?" tanya komandan polisi terkejut.
"Ya, dia adalah putriku," jawab Deon enteng.
Di apartemen milik Chen, tiga orang berpakaian hitam-hitam menggedor pintu unit milik Frank.
"Hai mau apa kalian menggedor-gedor pintu itu!" bentak Anton.
Anton adalah mantan pembunuh bayaran dan sniper aktif. Perawakan nya tinggi besar. Ketiga orang itu sedikit takut.
"Jangan ikut campur!" bentak salah satu pria itu.
"Sayang, ambilkan aku revolver!" pinta Anton tiba-tiba.
Satu senjata diacungkan kepada ketiganya yang langsung melarikan diri. Anton tertawa ketika menarik pelatuknya, senjata itu mengeluarkan busa.
"Sama mainan kok takut," ledeknya.
Sementara di tempat lain. Armira membelikan Frank satu unit telepon genggam. Uang yang ia dapatkan dari sumbangan gereja yang jarang ia pakai, karena nyaris semua kebutuhannya sudah disediakan oleh tetangga dan pemilik apartemen yang baik hati.
"Terima lah, Nak," ujar Mira.
Frank memeluk wanita itu dan memberi kecupan di kepalanya.
"Terima kasih, Mommy," ujarnya tulus.
Sepasang mata menatap dua insan itu dengan pandangan perih. Penyesalan menyeruak di dalam hatinya.
"Maafkan aku Bernard ... maafkan aku!"
bersambung.
dih ... siapa tuh?
next?